Tag Archives: Traveling to Nepal

tenzing-hillary-lukla-airport-bartzap-dotcom

Tenzing-Hillary Lukla: Memacu Adrenalin Pada Bandara Paling Berbahaya di Dunia

Ini satu rahasia! Meskipun saya senang bepergian ke tempat-tempat yang jauh, sesungguhnya saya tak begitu suka terbang.  Namun, terbang adalah sesuatu yang tak mungkin saya hindari. Jangankan untuk melanglang buana, pekerjaan saya pun mengharuskan untuk terbang secara rutin. Setidaknya, sebulan dua kali saya harus terbang dengan menggunakan pesawat dan helikopter sekaligus. Tak terbang, maka tak gajian. Continue reading

[+Video] 20 Jam di Annapurna Base Camp Himalaya

14 April 2016, pukul satu siang. HaruHanya itu yang memenuhi hati. Ketika akhirnya saya mencapai papan ucapan selamat datang di Annapurna Base Camp, pada ketinggian 4130 meter di atas permukaan laut.

Rasanya segala lelah terbayar sudah. Solo trekking selama lima hari dengan rute Nayapul – Ghandruk – Chhomrong – Dovan – Machhapuchhare Base Camp (MBC) – Annapurna Base Camp (ABC), akhirnya berhasil saya selesaikan. Kini ia telah menjelma, dari mimpi menjadi kenyataan. Continue reading

9-hal-yang-bisa-dilakukan-di-nepal-bartzap-dotcom

9 Hal yang Bisa Dilakukan di Nepal

“Ke Nepal, ngapain? Memang ada apa di sana?”, itu adalah pertanyaan yang paling sering saya dengar setiap kali seseorang tahu saya pernah mengunjungi negeri itu.

Walaupun Nepal saat ini bukanlah negara yang sulit untuk dicapai, tapi bagi kebanyakan orang sepertinya ia masih merupakan sebuah negeri antah berantah. Letaknya yang berada di antara dua negara berkebudayaan agung –China dan India– menjadikan Nepal sebagai area kecil yang agak terlupakan. Namun, sesungguhnya banyak hal yang bisa dinikmati dan dilakukan di sana. Bahkan, sebagian di antaranya sangat unik dan spesifik. Hanya ada di Nepal!

Continue reading

Nepal (17): Cremation – Scenes of Life and Death at Pashupatinath

Segala yang bermula akan memiliki akhir. Begitu pula dengan perjalanan kami. Setelah sembilan hari di Nepal, akhirnya kami harus segera berpisah dengan negeri di kaki Himalaya itu. Entah kebetulan atau tidak, tapi yang tersisa dari itinerary kami adalah Kuil Pashupatinath, yang terkenal dengan upacara perabuannya. Selama 24 jam dalam sehari, kuil tersebut menjadi tempat persinggahan terakhir bagi mereka yang mati. Sebelum akhirnya meluruh menjadi abu. Kembali pada ketiadaan, ketika sisa raga dilarung pada sungai Bhagmati.

Continue reading

Nepal (16): A Story of Gurkha Warriors and Peace Pagoda

Pagi terakhir kami di Pokhara, tak seperti hari sebelumnya. Matahari terhalang oleh awan yang rata menutup langit, sementara kabut tebal bergerak lambat di atas kota. Udara terasa lebih dingin, bahkan ketika kami keluar dari hotel jam 10 pagi. Hampir setiap orang yang berlalu lalang di jalan, terpaksa menambahkan lapisan pakaian, demi menghalau beku yang mengambang di udara.

Selayaknya kota wisata, Pokhara tetap ramai oleh para pejalan, termasuk wisatawan lokal yang menikmati hari libur mereka. Dan kepadatan manusia semakin terasa ketika kami mendekati area sekitar dermaga, dimana ratusan masyarakat lokal hendak berziarah ke Kuil Tal Barahi yang berada di tengah danau Phewa. Continue reading

Solo Trekking to Annapurna

“Karena hanya impianlah, yang membuat kita selalu terjaga dalam kehidupan.”

23 Desember 2013. Senja hari. Kami tercenung. Pada ia yang gagah ibarat benteng raksasa. Menjulang melebihi gemunung kebiruan, dan membentang ibarat naga terlelap. Rautnya keras dalam hitam, bersama lekuk-lekuk usia yang tajam. Bermahkotakan salju berpendar keemasan,  ditimpa semburat senja nan jingga. Ialah aalaya, tempat kediaman abadi, bagi sang hima (salju).

Saya berkaca-kaca, membayangkan keagungan Tuhan yang dengan kuasa-Nya telah menggulung samudra, hingga menjadi raja tertinggi dari segala daratan. Himalaya!

DSC_0177

Puncak-puncak range Annapurna Pegunungan Himalaya, pada senja itu. Dilihat dari desa Sarangkot. Desember 2013.

Continue reading

Nepal (10): The Third Eye

Kini kami melaju di atas aspal yang mulus -untuk ukuran Nepal-. Jalan Raya Araniko yang menghubungkan Bhaktapur dan Kathmandu menyajikan pemandangan yang telah hilang dari mata kami sejak dua hari silam. Kumpulan bangunan kubus bertumpuk di sisi jalan dan di kejauhan, yang semuanya tersaput debu.

Jarak antara Bhaktapur dan Kathmandu tidaklah jauh, hanya berkisar lima belas kilometer. Dalam waktu sekitar empat puluh lima menit saja, kami mulai memasuki ibukota Nepal. Badan jalan mulai menyempit, dengan bangunan yang semakin padat di sisinya. Kerapatan kendaraan, lalu lalang manusia dan keriuhan suara klakson mendominasi kota. Semua tampak lebih sibuk, menghempaskan debu-debu ke udara. Continue reading