tampak-depan-museum-jenderal-nasution

Kisah Patriot dari Rumah Jenderal Nasution

1 Oktober 1965, pukul 04.00 dini hari. Jenderal Nasution dan isterinya –Johanna Sunarti– terjaga, karena nyamuk yang mengganggu tidur mereka dan sang putri bungsu –Ade Irma Suryani-. Pada saat bersamaan sang isteri mendengar pintu depan dibuka paksa. Melalui celah pintu kamar yang dibuka sedikit, ia melihat belasan Pasukan Cakrabirawa memasuki selasar rumah dengan senjata laras panjang.

Cakrabirawa!”, ujarnya lirih kepada sang suami.

Cakra?”, tanya sang Jenderal mengkonfirmasi.

Jenderal Nasution yang kebingungan akan kedatangan pasukan pengawal Presiden tersebut, kemudian berusaha mengintip dengan membuka pintu, yang segera disambut dengan hamburan peluru.

diorama-pasukan-cakrabirawa-berusaha-menculik-jenderal-nasution

Adegan pasukan Cakrabirawa yang berusaha menculik Jenderal Nasution, pada subuh 1 Oktober 1965.

Sang Jenderal tersungkur dan langsung tiarap di lantai. Sementara istrinya, dengan tubuhnya berusaha menahan dan mengunci pintu yang terus digedor, serta dihujani tembakan dari luar.

Mendengar kegaduhan di pagi buta itu, ibu dan adik sang Jenderal yang berada di kamar sebelah segera masuk ke kamar melalui pintu penghubung. Ade Irma diserahkan ke gendongan adik sang Jenderal. Namun dalam situasi hujan tembakan tersebut, tiga buah peluru justru menghantam punggung putri bungsu mereka itu.

Setelah berhasil dibujuk oleh istri dan ibunya, sang Jenderal akhirnya bersedia menyelamatkan diri melalui tembok di samping kamarnya menuju Kedutaan Irak yang menjadi tetangganya.

diorama-jenderal-nasution-berusaha-meloloskan-diri

Jenderal Nasution berusaha menyelamatkan diri setelah dibujuk oleh istri dan ibunya.

Sementara di pondok pasukan penjaga, Letnan Satu Czi Pierre Tendean yang merupakan ajudan Jenderal Nasution, segera terbangun dan mengambil senjata begitu mendengar kegaduhan di rumah utama. Namun, langkahnya terhenti oleh pasukan Cakrabirawa yang telah mengepung tempat itu. Karena situasi gelap dan kesalahpahaman, pasukan Cakrabirawa justru mengira jika ajudannya adalah sang Jenderal itu sendiri, sehingga kemudian mereka menggiringnya ke kendaraan penculikan.

Di ruang makan, istri sang jenderal berusaha menghubungi Mayor Jenderal Umar Wirahadikusumah yang saat itu menjabat sebagai  Komandan Garnisun Jakarta Raya (sekarang setara dengan Pangdam Jaya). Namun usahanya gagal, karena sambungan telepon telah diputus oleh pasukan yang menyerbu rumah mereka.

diorama-ibu-nasution-dan-pasukan-cakrabirawa

Ibu Johana Nasution menghadapi kepungan pasukan Cakrabirawa sembari menggendong putri bungsunya yang terluka parah.

“Mana Nasution?!”, tanya pasukan yang mengepung istri sang Jenderal.

“PAK NASUTION!”, bentaknya kepada pasukan yang menanyakan suaminya tanpa rasa hormat, “Beliau di Bandung, sudah 3 hari di Bandung! Kalian datang kesini, hanya untuk membunuh anah saya!”

Tak lama kemudian, lengkingan peluit panjang dari komandan operasi mengudara sebagai tanda jika sasaran telah tertangkap, dan mengakhiri drama horor di rumah tersebut. Sebagaimana kemudian sejarah bangsa ini mencatat, Jenderal Nasution akhirnya berhasil selamat dari usaha penculikan pada pagi itu. Sementara ajudannya gugur sebagai tameng dirinya, yang disusul oleh putri bungsunya enam hari kemudian.

letnan-satu-pierre-tendean-dan-ade-irma-suryani-nasution-berfoto-bersama

Letnan Satu Czi Pierre Tendean dan Ade Irma Suryani Nasution, yang berfoto bersama sekitar seminggu sebelum kejadian pagi berdarah 1 Oktober 1965.

Museum Sasmitaloka Jenderal Besar Abdul Haris Nasution

Rentetan kejadian yang terjadi pada subuh 1 Oktober 1965 tersebut segera menguasai benak, begitu saya memasuki halaman Museum Sasmitaloka Jenderal Besar Abdul Haris Nasution, yang diresmikan pada tanggal 3 Oktober 2008.

Museum itu dahulunya merupakan rumah pribadi beliau, yang telah ditempatinya sejak menjabat sebagai Wakil Panglima Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di tahun 1947, mendampingi Jenderal Besar Soedirman. Dengan luas area mencapai 2000 meter persegi, rumah itu terasa besar dan pantas untuk beliau yang memiliki jabatan cukup tinggi di masanya.

Tak ada peringatan khusus apapun ketika saya meminta ijin dari penjaga untuk melihat-lihat isi rumah, seperti misalnya larangan untuk memotret bagian dalam kamar yang pernah saya alami ketika mengunjungi Museum Sasmitaloka Jenderal Ahmad Yani tahun lalu.

patung-dada-jenderal-nasution-bartzap

Patung dada Jenderal Besar Dr. A. H. Nasution di ruang penyambutan museum.

Sebuah patung dada Jenderal Nasution diletakkan pada ruang foyer yang menjadi area penyambutan. Dikelilingi oleh berbagai macam cindera mata, buku-buku, dan foto-foto yang menggambarkan kehidupan sang Jenderal. Bahkan, saya juga menemukan sebuah foto mendiang mantan Presiden Filipina, Ferdinand Marcos, di salah satu sisi ruangan.

Meskipun dari ruang penyambutan terdapat tiga pintu yang terhubung dengan ruang lainnya, hanya ada satu pintu yang dibuka untuk mengarahkan pengunjung yang datang. Yaitu yang menuju ke dalam ruang kerja beliau. Dimana terdapat sebuah patung utuh sang Jenderal berukuran asli, dalam posisi sedang menulis di atas meja kerjanya.

diorama-jenderal-nasution-sedang-bekerja-bartzap

Dioram Jenderal Nasution yang sedang bekerja di ruang kerjanya.

Selasar tengah rumah, yang berada tepat di samping ruang kerja tersebut, menjadi area selanjutnya yang dapat dikunjungi. Saya agak terkejut ketika memasukinya, karena terdapat tiga buah patung utuh  pasukan Cakrabirawa yang lengkap dengan senjatanya dalam posisi siap tempur dan sedang menggedor pintu.

Tiba-tiba bulu kuduk saya meremang, karena merasakan aura kengerian dari peristiwa yang terjadi di rumah itu pada tahun 1965. Patung-patung tersebut merupakan diorama dari peristiwa kelam yang mewarnai sejarah rumah itu, ketika pasukan Cakrabirawa berusaha menculik sang Jenderal dari kamar tidurnya.

diorama-pengepungan-ibu-nasution-oleh-cakrabirawa

diorama-penculikan-pierre-tendean-di-museum-nasution

Adegan penangkapan Letnan Satu Czi Pierre Tendean oleh pasukan Cakrabirawa.

Diorama-diorama lainnya yang menggambarkan peristiwa naas di rumah tersebut adalah  adegan yang menggambarkan usaha Jenderal Nasution untuk meloloskan diri ke tetangga sebelah dengan melompati tembok, dan adegan Ibu Johanna Nasution yang sedang berhadapan dengan pasukan Cakrabirawa di ruang makan sembari menggendong Ade Irma Suryani yang terluka dan bersimbah darah. Ditambah dengan adegan penangkapan Letnan Satu Czi Pierre Tendean di area pondokan penjaga, tepat di samping rumah utama.

jejak-peluru-dan-retakan-di-pintu-kamar-jenderal-nasution

Jejak peluru dan retakan akibat dobrakan di pintu kamar Jenderal Nasution.

Retakan pada daun pintu berbahan kayu jati dari kamar tidur Jenderal Nasution, dan beberapa lubang tembusan peluru di permukaannya, serta jejak peluru lain yang berada pada bagian atas dinding kamar menambahkan aroma kengerian yang saya rasakan. Namun begitu, saya tak menemukan perasaan aneh seperti yang saya rasakan di Museum Jenderal Ahmad Yani. Tapi karena sedikit ragu, saya tak terlalu banyak mendokumentasikan detail koleksi yang berada di kamar sang jenderal.

Sebelum pulang saya sempat mengkonfirmasikan keraguan saya kepada penjaga, yang ternyata jawabannya sesuai dengan perkiraan saya.

Pak, di sini tidak ada larangan memotret di dalam kamar seperti di rumah Jenderal Yani ya?”, tanya saya.

Oh iya mas, di sini tidak ada larangan seperti itu. Kalau di rumah Jenderal Yani memang agak beda. Karena ada unsur-unsur kejawen yang dianut oleh keluarga mereka, sehingga terdapat beberapa larangan tertentu.

memorabilia-ade-irma-suryani-nasution

Memorabilia Ade Irma Suryani dan Jenderal Nasution.

memorabilia-ade-irma-suryani-nasution-di-kamarnya

Jenderal Tanpa Pasukan, Politikus Tanpa Partai

Kebanyakan dari kita tentu akan mengasosiakan nama beliau sebagai satu-satunya jenderal yang dapat menyintas dari sejarah kelam tahun 1965. Namun, sesungguhnya Jenderal Besar Abdul Haris Nasution -yang kemudian lebih akrab disapa sebagai Pak Nas– telah memiliki peranan yang cukup penting bagi bangsa Indonesia sejak masa perang kemerdekaan, bahkan hingga masa-masa Orde Baru berjaya.

Terlahir dari keluarga muslim yang taat, beliau pada awalnya merupakan seorang pengajar, dan memulai karirnya di bidang militer dengan bergabung ke dalam kesatuan militer Hindia Belanda, Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL). Tapi, seiring dengan invasi Jepang ke Indonesia, beliau membantu tentara Pembela Tanah Air (PETA) bentukan Jepang, meskipun tidak masuk sebagai anggota.

jenderal-abdul-haris-nasution-dalam-pakaian-dinas-bartzap

Jenderal Nasution dalam pakaian dinasnya, semasa masih aktif dalam dunia militer.

Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, Pak Nas muda memilih bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) demi melanjutkan karirnya di bidang militer. Beliau terhitung pernah bertugas sebagai Panglima Regional Divisi Siliwangi yang memimpin longmarch ke Jawa Tengah, setelah Jawa Barat jatuh kembali ke tangan Belanda akibat Perjanjian Renville.

Bakat kepemimpinan di medan perang serta kecerdasannya dalam mengelola pasukan, membuat karirnya melaju dengan pesat, sehingga pada tahun 1948 beliau diangkat sebagai Wakil Panglima TKR. Yang berarti beliau menjadi orang nomor dua di dalam dinas ketentaraan Indonesia, setelah Jenderal Soedirman. Bersama atasannya tersebut beliau mengatur ulang struktur organisasi ketentaraan Indonesia.

Ketika Jenderal Soedirman wafat dan digantikan oleh TB Simatupang, Pak Nasution yang telah berpangkat Kolonel menduduki posisi sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pada tahun 1950. Dua tahun kemudian, mereka berniat melakukan restrukturisasi dan reorganisasi ABRI, agar menjadi kekuatan yang lebih modern dan profesional, meskipun jumlahnya harus dikurangi. Namun, rencana tersebut justru menyeret mereka pada konflik internal dengan Kolonel Bambang Soempeno, yang merupakan petinggi ketentaraan Indonesia berlatar belakang PETA.

Kericuhan dalam ketentaraan Indonesia tersebut, pada akhirnya justru semakin panas dengan turut campurnya DPR melalui opini-opini yang mereka lontarkan. Kolonel Nasution yang merasa kurang suka dengan turut campur pihak sipil, kemudian -atas persetujuan Letnan Jenderal TB Simpatupang– melakukan show off, dengan memobilisasi pasukan serta demonstran sipil untuk mengepung dan mengarahkan moncong meriam ke Istana Negara, pada tanggal 17 Oktober 1952. Mereka menuntut agar DPR dibubarkan.

Peristiwa itu pada akhirnya justru menyebabkan dicopotnya jabatan Kolonel Nasution dan Letnan Jenderal TB Simatupang, serta pelepasan mereka dari ikatan dinas militer. Selama tiga tahun kemudian, Pak Nas hanya menjalani hidupnya sebagai warga sipil. Namun, justru pada tahun-tahun tersebut ia berhasil membuat sebuah buku yang di kemudian hari menjadi sebuah panduan perang yang bukan saja diadopsi oleh militer Indonesia, melainkan juga diakui oleh dunia.

Konon buku berjudul Fundamentals of Guerilla Warfare tersebut digunakan oleh pasukan Vietnam, yang secara signifikan berhasil mempecundangi Amerika pada perang Vietnam di medio tahun 60an.

relief-sejarah-hidup-jenderal-nasution

Relief kisah hidup Jenderal Nasution yang berada di samping rumah utama. Menyimpan rekam jejak kehidupan sang Jenderal sejak lahir, hingga wafat.

Rupanya bakat dan kecerdasan Pak Nasution tetap diperhitungkan oleh Presiden Soekarno, terbukti pada tanggal 27 Oktober 1955 beliau ditarik kembali ke dinas kemiliteran untuk menempati posisi lamanya sebagai Kepala Staf Angkatan Darat.

Namun karena sikapnya yang agak keras, Presiden Soekarno pun memiliki sedikit “kekhawatiran” terhadapnya, sehingga akhirnya Jenderal Nasution diberikan jabatan baru sebagai Menteri Koordinasi Pertahanan dan  Kepala Staf ABRI, yang berarti tidak memiliki kekuasaan dalam menggerakkan pasukan, melainkan hanya bertanggung jawab terhadap tugas-tugas administratif saja. Sementara jabatan lamanya kemudian diisi oleh Letnan Jenderal Ahmad Yani.

Posisi itulah yang pada akhirnya membuat beliau tidak memiliki kekuasaan apapun dalam mengatur pasukan Angkatan Darat paska kejadian 1 Oktober 1965, meskipun ia merupakan tentara paling senior pada saat tersebut. Justru Mayor Jenderal Soeharto lah yang kemudian memegang kendali atas semua itu.

jenderal-abdul-haris-nasution-dan-letnan-jenderal-soeharto

Jenderal Nasution dan Letnan Jenderal Soeharto, semasa masih bekerjasama di dinas militer.

Pada tahun-tahun berikutnya, sejarah akhirnya mengantarkan Jenderal Soeharto ke atas tampuk kekuasaan kepresidenan dengan Jenderal Nasution sebagai Ketua MPRS. Namun, setelah berada pada kursi presiden, Soeharto justru melihat Jenderal Nasution sebagai sosok pesaing yang harus disingkirkan. Secara bertahap Presiden Soeharto mulai membatasi gerak Jenderal Nasution. Dan pada puncaknya ia memberhentikan Jenderal Nasution dari dinas kemiliteran di tahun 1971. Dua tahun lebih awal dari masa pensiun yang seharusnya.

Dalam masa Orde Baru, Pak Nas memposisikan dirinya sebagai politisi oposisi yang berusaha untuk meluruskan rezim Soeharto. Bersama dengan beberapa tokoh politik lainnya, beliau menggalang sebuah petisi yang kemudian dikenal sebagai Petisi 50. Dimana isinya merupakan himbauan agar Presiden berhenti untuk menafsirkan Pancasila demi kepentingannya sendiri, serta seruan agar ABRI bersikap netral dalam dunia politik.

relief-sejarah-hidup-jenderal-nasution-bartzap

Beberapa detail relief kisah hidup Jenderal Nasution.

Namun, hal tersebut justru menggiring tekanan baru dalam hidupnya. Pemerintah memberlakukan larangan perjalanan serta tindakan yang mempersulit nafkah kehidupan sehari-hari Pak Nas dan seluruh tokoh politisi penandatangan petisi tersebut.

Dikisahkan pada masa-masa itu, pemerintah pernah mempersulit pasokan air minum yang masuk ke dalam rumah Pak Nas. Sehingga demi mengatasinya, beliau terpaksa menggali sumur baru di halaman belakang rumahnya. Tak hanya itu, beliau juga dilarang untuk tampil berbicara di depan umum dan menghadiri banyak acara, termasuk beberapa undangan pribadi.

Namun, tekanan-tekanan tersebut mulai surut ketika memasuki tahun 90an, dimana Presiden Soeharto mulai mengundang Pak Nas ke Istana Negara, sebagai bagian dari rekonsiliasi politik. Dan pada 5 Oktober 1997 -bersama dengan Presiden Soeharto-, Pak Nas dilantik sebagai Jenderal Besar berbintang lima, yang menjadikan posisi mereka setara dengan Jenderal Besar Soedirman.

*****

Secara pribadi selain tegas Jenderal Besar Abdul Haris Nasution juga dikenal sebagai sosok cerdas yang taat beribadah dan sederhana. Ia termasuk jenderal yang tidak bermewah-mewah dalam kehidupannya. Bahkan, rumahnya pun hampir tak tersentuh oleh perbaikan berarti yang mengikuti perkembangan jaman. Selain memang pada masa hidupnya ia sempat mengalami tekanan politik dan ekonomi.

Kisah dan sosok beliau memberi pelajaran kepada kita semua, bahwa dalam kondisi apapun kita tetap harus berusaha untuk memberikan manfaat yang besar bagi lingkungan sekitar, terlebih bangsa, dan negara. Tak peduli jika itu semua harus ditebus dengan harga yang mahal. Dan hanya Tuhanlah yang menjadi satu-satunya kekuatan supreme yang pantas ditakuti dan ditaati.


penghargaan-jenderal-nasution

Museum Sasmitaloka Jenderal Besar TNI Dr. A.H. Nasution
Jl. Teuku Umar No.40
Menteng – Jakarta Pusat
Jakarta 10350

Protected by Copyscape Online Plagiarism Software

94 thoughts on “Kisah Patriot dari Rumah Jenderal Nasution

    1. BaRTZap Post author

      Iya, tapi diorama serem lho Lia. Apalagi kalau melihat jejak peluru dan kekerasan yang masih tersisa di rumah itu.

      Wah makasih Lia, aku pikir dirimu gak terlalu suka. O iya, di seri Nepal banyak cerita sejarahnya juga. Silakan dibaca-baca.

      Sekali lagi, makasih udah sempatkan mampir 😊

      Like

      Reply
      1. Lia Harahap

        Aku memang ga suka pelajaran sejarah. Terlalu berat buatku. Hehehehe. Dan jujur aku ga ingat betul sejarah pahlawan revolusi. Tapi cara dirimu nulis bikin betah bacanya.

        Iyaaa dioramanya seremm. Aku kaget pas gambar diorama pertama yang pasukan mau masuk ke kamar itu. Hehehe.

        Liked by 1 person

      2. BaRTZap Post author

        Hehehe dan jujur juga, waktu masih sekolah aku juga gak suka pelajaran sejarah. Justru setelah lulus dan kerja, baru deh suka. Ditambah dengan hobby jalan-jalan. Bisa belajar sejarah langsung di tempatnya. Ternyata seru.

        Gak tau kenapa ya, pelajaran sejarah di sekolah itu membosankan. Padahal sebenarnya itu hal yg menarik. Bagus nih kalau diteliti dan ditulis.

        Kapan-kapan kita jalan bareng ke museum Lia. Kayaknya seru deh.

        Like

      3. Lia Harahap

        Nah, aku tuh kayaknya tipe yang cepet bosen di kelas. Kalo dibawa jalan-jalan tuh jadi gampang ingetnya.

        Mauuuu. Kalo ada kesempatan ajak ke museum ya. Tapi ceritain sejarahnya juga hehehehe.

        Liked by 1 person

      4. BaRTZap Post author

        Siap! Aku mau deh balik ke museum Jenderal Ahmad Yani dan Jenderal Nasution, nanti sambil aku jelasin sedikit sejarahnya. Ayo jalan bareng. Dita males mandi kayanya pengen juga tuh.

        Like

    1. BaRTZap Post author

      Sudah pasti serem Zi kalau lagi enak-enak istirahat tiba-tiba diserbu pasukan bersenjata.

      Yang pasti sih mereka (pasukan Cakrabirawa) cuma menjalankan tugas, bekerja atas perintah komandan.

      Liked by 1 person

      Reply
      1. BaRTZap Post author

        Setahuku yg rumahnya dijadikan museum cuma Jendral Nasution dan Jendral Ahmad Yani. Sedangkan untuk pahlawan revolusi lainnya, mereka dimuseumkan kisahnya di Museum Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya Zi.

        Liked by 1 person

    1. BaRTZap Post author

      Siap ko. Nanti kita kontakan japri ya. Btw udah pernah pada main ke Museum Nasional belum? Atau sesekali anak-anak diajak main ke Bogor lah, nanti aku guide muter-muter 🙂

      Like

      Reply
  1. rizzaumami

    Mengundang kembali sejarah pas masih sekolah, dulu cuma dibaca, sekarang bisa merasakan. Tidak salah jika zaman dulu banyak jenderal yang mempunyai nama besar karena memang benar-benar berjuang.

    Liked by 1 person

    Reply
    1. BaRTZap Post author

      Mungkin karena jarak mereka terhadap perang kemerdekaan juga belum terlalu jauh Za, jadinya mereka masih tinggi rasa patriotik nya. Tapi bukan berarti yang sekarang berkurang ya, cuma mungkin memang medan juangnya yang sudah berbeda.

      Liked by 1 person

      Reply
  2. sarah

    Nggak kebayang kalo ngalamin kejadian seperti itu. Pas keliling pasti merindinglah ya, kebayang situasi saat itu. Aku suka yang berbau sejarah, cuma kalo yang serem-serem (kekerasan, berdarah-darah, perkelahian) begini agak keder juga liatnya (walaupun cuma patung). Tapi nyesel juga, dulu ke Jakarta kenapa nggak mampir kesini ya (setidaknya nggak sendirian, ada 3 teman bisa diajak keliling museumnya).

    Liked by 1 person

    Reply
    1. BaRTZap Post author

      Pastinya itu akan jadi trauma seumur hidup, setidaknya ya butuh waktu untuk menyembuhkannya.

      Nah nanti kalau ke Jakarta coba disempatkan untuk main ke sini. Menarik kok 🙂

      Like

      Reply
    1. BaRTZap Post author

      Secara bentuk rumah sih menurutku emang enak Tim. Luas pula, terus beberapa bagian lantainya mengingatkanku sama rumah kakekku di Kudus 🙂

      Yuk kapan-kapan kita jalan bareng.

      Like

      Reply
      1. BaRTZap Post author

        Dan kayaknya banyak hal unik yang bisa diulik di sekitaran Menteng. Mengingat daerah itu sudah dibangun sejak jaman kolonial Belanda.

        Like

  3. Halim Santoso

    Kalau baca sejarah tentang korban atau yang dikorbankan dalam peristiwa G30S-PKI itu banyak abu-abunya hehehe. Tapi tetap kepingin kunjungi museum ini karena motif tegelnya di diorama ruang kerja kok kelihatan antik banget! Dari awal baca malah fokus kaca patri jendela yang bikin ngiler pingin merabanya. 😀

    Liked by 1 person

    Reply
    1. BaRTZap Post author

      Betul banget Lim. Tapi kalau menurutku, semakin kita telaah, wilayah abu-abu itu semakin berkurang. Memang kita harus banyak menelitinya sendiri sih.

      Bangeeeettt, sebenarnya aku motret beberapa detail rumahnya sih. Seperti motif tegelnya, kaca patrinya, bentuk teralisnya, dan juga aku suka tata ruang rumah itu. Kayaknya kalau punya rumah, pengen tata ruangnya kaya itu. Enak alirannya. Cuma karena beberapa pertimbangan tertentu, aku gak pasang foto detail-detail ruangan itu. Takut gak tepat sasaran.

      Yang pasti aku punya foto kaki di atas tegel rumah Jenderal Nasution ini. Motifnya mengingatkanku pada rumah kakekku di Kudus -yang sayangnya sudah dijual dan dipugar- 😦

      Liked by 1 person

      Reply
    1. BaRTZap Post author

      Yes, they are. It is one of some museums which tell about the darkest history of Indonesia.

      In the early morning of October 1st’ 1965, there were 7 generals who were planned to be kidnapped (and later be killed). Fortunately, General Nasution succeed to survive, though his youngest daughter was shot (and died 6 days later). And his adjutant was brought by the abductor-troopers, and was killed with other 6 generals. Their bodies were buried in an abandon well, and were found 5 days later.

      Liked by 1 person

      Reply
      1. BaRTZap Post author

        Already Sree. Though many people doubted that they were the true culprits. And then those incidents, triggered the mass slaughter of communist party members and sympathizers.

        Like

  4. ekahei

    Pas baca tiba-tiba aku teringat pada cerita guru sejarah tentang kisah jenderal Nasution yang waktu itu aku abaikan begitu saja… dan, foto-foto di tulisan ini seperti punya cerita sendiri. Jadi pengin mampirrrr suatu hari nanti. Amin 🙂

    Liked by 1 person

    Reply
  5. omnduut

    Paca tulisan di paragraf-paragraf awal langsung kebayang situasi yang ada pada malam itu. Aku baru tahu ternyata Ade Irma sempat dirawat sebelum akhirnya meninggal ya mas Bart. Trus aku penasaran sama larangan motret yang disangkut pautkan dengan kejawen, kira2 apa sebabnya mas?

    Liked by 1 person

    Reply
    1. BaRTZap Post author

      Memang selama ini kirain gimana Yan? Dikira langsung meninggal? Tapi kalau dipikir-pikir kuat juga sih ya. Tertembak tiga peluru tapi masih bisa bertahan sekitar 5 harian.

      Sebabnya? Hmmm, aku juga kurang tau Yan. Soalnya pas kesana gak ada pihak keluarga mereka, jadi tidak ada penjelasan pasti. Cuma petugas penjaga rumahnya aja yang dipesanin untuk memberi peringatan seperti itu. Tapi memang sih, rasanya beda deh kalau sedang ada di rumah Pak Yani.

      Like

      Reply
      1. BaRTZap Post author

        Betul. Beda yang gitu deh. Merinding hahaha. Cuma kalau dipikir-pikir agak nekad juga waktu itu, aku eksplor rumahnya sendirian. Untungnya gak terlalu besar ukurannya. Dan aku sempat bikin kaget pengunjung lain. Well, aku kaget juga sih hahahaha …

        Like

  6. Gara

    Iya, namanya sejarah G30S memang masih banyak banget abu-abunya. Dan sekarang kebanyakan jawaban dari semua misteri itu terkubur bersama dengan jasad orang-orang yang mengalami langsung kejadian ini–rasanya agak pesimis kebenaran bisa dibuka ke khalayak ramai dan cocok dengan semua yang sudah terjadi. Untuk setiap teori, pasti saja ada kejadian yang kontradiktif. Lama-lama kita bikin teori sendiri saja kali ya, hehe.
    Dulu pernah bareng dengan suatu grup mengunjungi museum ini. Sebelum masuk ke museum ini kami diwanti-wanti oleh sang pemandu dari grup itu untuk tidak bertanya yang “aneh-aneh”, apalagi mempertanyakan penjelasan sang pemandu resmi dari museum itu. Tapi janggalnya memang agak banyak, kalau yang saya lihat. Hehe.
    Ikut dong kalau mau jalan-jalan kemari lagi :)).

    Liked by 1 person

    Reply
    1. BaRTZap Post author

      Betul Gara, aku juga berpikiran seperti itu. Dengan semakin berjalannya waktu, maka saksi mata yang bisa kita mintai informasi dan konfirmasi pun semakin berkurang. Sementara di antara mereka pun sangat sedikit yang meninggalkan catatan dan bisa dijadikan pegangan. Paling-paling kita hanya bisa bergerak dengan menggunakan informasi-informasi lawas, yang harus dicocokkan ulang supaya semakin sedikit kontradiksi dan kontroversi nya.

      Jangan nanya yang ‘aneh-aneh’ itu gimana maksudnya?

      Yuk yuk, aku mau deh kesitu lagi rame-rame. Dan kayaknya ada yang minat minta ditemenin juga nih ke situ 🙂

      Like

      Reply
      1. Gara

        Jangan mengajukan pertanyaan yang seolah-olah meragukan kejadian G30S sebagai kudeta yang dilakukan PKI, Mas. Kan sempat tuh ada beberapa teori yang meragukan peran PKI dalam kejadian itu, dan malah mensinyalir perpecahan itu lahir dari dalam TNI sendiri, dengan menyebut seolah-olah PKI menjadi kambing hitam. Nah, kami tidak disarankan bertanya soal hal itu pada penjaga museum, bahkan jika kita tidak meminta pandangan resmi, sekadar pendapat pribadi.

        Liked by 1 person

      2. BaRTZap Post author

        Serba salah ya Gar jadinya? Ya memang sih kita gak bilang bahwa PKI benar juga, cuma memang tidak dipungkiri ada ‘sesuatu yg lain’ yang memicu tragedi tersebut. Itulah sebabnya, banyak dari kita yang pada akhirnya menjadi skeptis bahwa masalah ini nantinya akan menjadi jelas. Tapi setidaknya, semangat untuk membongkar tirainya harus tetap kita jaga.

        Like

      3. Gara

        Intinya “merawat ingatan” dan “menolak lupa” ya Mas. Saya setuju, paling tidak setelah doktrinasi itu tidak ada lagi, akan ada kesempatan untuk membuka apa-apa yang masih bisa disingkap, hehe.
        Iya, pada akhirnya tidak ada yang bertanya soal apa pun di rumah itu. Kami hanya mendengarkan ceritanya sebagaimana adanya, seolah-olah sudah ada naskah yang disiapkan untuk memandu pengunjung. Serba salah memang, tapi kami sedang ada di rumah orang, jadi adab si empunya rumah tentulah jadi yang harus kita hormati.

        Liked by 1 person

      4. BaRTZap Post author

        Setuju Gara, dan itulah tantangannya. Setidaknya, nanti kalau kita harus cerita kepada generasi selanjutnya kita punya ‘catatan pinggir’ yang dapat disisipkan.

        Liked by 1 person

    1. BaRTZap Post author

      Wah itu bakal panjang banget, dan risetnya harus agak mendalam. Secara pencak silat di Indonesia itu banyak banget cabang dan perguruannya.

      Hahahaha salam RAHSA! 😀

      Like

      Reply
  7. senangsenangyuks

    Wah, aseli mas sepanjang sejarah hidup saya, baru kali ini baca hal yang berbau sejarah secara tuntas. Bagus banget penjelasannya, beda yah sama guru Sejarah waktu sekolah dulu (maap bapak2 dan ibu guruku sekalian).
    Dan ada aja ternyata hal-hal kejawen yah di jederal juga. kirain hanya…
    btw, aku setiap baca kisah Ade Irma Nasution selalu sedih.

    Liked by 1 person

    Reply
    1. BaRTZap Post author

      Kok kayanya rata-rata kita pada gitu ya? Pas sekolah pada males sama pelajaran sejarah, eh sekarang malah suka, atau setidaknya merasa tertarik pada akhirnya.

      Iya, memang kisah Ade Irma sangat tragis. Kisah Kapten Anumerta Pierre Tendean juga lho. Kalau gak salah, seharusnya beliau akan pulang ke Semarang beberapa hari setelah hari kejadian, untuk menghadiri ulang tahun ibunya. Dan dikabarkan juga beliau sebenarnya sedang dalam persiapan menuju pelaminan. Tapi nasib berkata lain.

      Like

      Reply
  8. bersapedahan

    saya pernah ke museum Ahmad Yani dan kesini … museum Jend Nasution ini menurut saya bener2 keren …. auranya sangat berasa, kita terbawa ke masa saat cakrabirawa datang …. bener2 mencekam … sekaligus sedih dengan berpulangnya ananda Ade Irma, apalagi waktu baca puisi mengenai Ade Irma di selembar kertas buram …. rasanya bagaimana gitu …

    Liked by 1 person

    Reply
  9. ulu

    Pak Nas orangnya sholeh banget. Kalau Bung Hatta jadi tentara, saya bayangin figurnya kayak Pak Nas ini hehehehe 😀

    Sewaktu Bandung Lautan Api tahun 1946, Pak Nas ini termasuk yg ambil peran mengijinkan Bandung dibakar drpada diambil Belanda dan Inggris.

    FYI, ini nyambung ke tulisan sebelumnya sih. Saya baru ingat pernah baca buku apa gitu ya, lupa. Waktu Ahmad Yani dan para jendral ditangkep, kan selama beberapa hari kabar mereka gak ada yg tahu. Nah istri Pak Ahmad Yani ini suatu hari masuk kamar, siang-siang. Di kamar tiba2 ada sosok Pak Ahmad Yani, beliau pamit dan bilang ke istrinya titip anak-anak. Sejak itu istrinya tahu Ahmad Yani sudah wafat. Duh saya ngetik ini sambil cirambay…

    Liked by 1 person

    Reply
    1. BaRTZap Post author

      Iya banget, mereka tipikal tokoh yang shaleh dan cerdas. Banyak yang mengakuinya.

      Soal itu juga betul, karena memang Pak Nas bertugas di divisi Siliwangi. Beliau termasuk yang memimpin divisi tersebut melakukan ke longmarch ke Jawa Tengah, dan kemudian membantu penumpasan pemberontakan PKI di Madiun.

      Wah soal itu malah aku baru dengar ceritanya. Antara mistis dan sedih ya mendengarnya? Dan yang aku salut kepada keluarga mereka semua adalah ketabahannya dalam melalui hidup setelah kejadian berdarah itu. Pasti tidak mudah.

      Like

      Reply
  10. Hendi Setiyanto

    Merinding juga melihat kejadian ini apalagi saat masih anak-anak dulu pernah beberapa kali menonton film g30spki dan paling hafal dengan kejadian penembakan terhadap Ade Irma ini. Pasti di lokasi museumnya pengunjung bakalan ikutan trenyuh dan terhanyut dengan kejadian ini.

    Liked by 1 person

    Reply
      1. Hendi Setiyanto

        Bahkan saat berkunjung ke monumen jogja kembali dan museum dirgantara, entah kenapa serasa ikut menyelami waktu kejadian yang telah berlalu, antara trenyuh dan serasa barang-barang peninggalan tersebut seakan berbicara. Mungkin lebih asyik ke museum dengan orang yang minimal minat lah karena bakalan puas mengelilinginya

        Liked by 1 person

      2. BaRTZap Post author

        Eh kok sama sih Hen? Kadang aku juga merasa gitu, kalau misalnya ada di museum apalagi semacam Museum Jenderal Nasution dan Jenderal Yani, atau museum dengan memorabilia yang personal, rasanya barang-barang tersebut seperti berbagi cerita secara langsung denganku. Terlebih kalau benda-benda itu bisa kita sentuh juga.

        Setujuuu, kalau jalan ke museum bareng orang yg gak minat malah capek. Karena seringkali mereka minta buru-buru udahan. Jadi mood kita terganggu juga khan? 😀

        Liked by 1 person

    1. BaRTZap Post author

      Betul, sama Gung. Semoga sejarah kelam itu bisa menjadi pelajaran ya buat kita semua, agar tidak terjebak dalam kesalahan yang sama.

      Terimakasih sudah membaca dan tinggalkan komentar yang Gung 🙂

      Like

      Reply
    1. BaRTZap Post author

      Secara pribadi aku mulai memisahkan beberapa hal dalam kejadian ini mas. Meskipun, aku juga tidak setuju terhadap PKI, dan menganggap bahwa itu adalah paham yang harus diwaspadai, serta berharap tidak lagi muncul di Indonesia.

      Sama mas, aku juga penasaran hahaha 😀

      Like

      Reply
  11. Wadiyo

    Banyak cerita-cerita sejarah yang dibumbui dengan cerita antah berantah yang belum tahu kebenarannya dan itu sangat disayangkan.

    Memang sejarah seringkali ditulis sesuai persepsi dengan siapa yang berkuasa saat itu.
    terima kasih dan salam kenal

    Liked by 1 person

    Reply
  12. Keke Naima

    Jadi inget masa kecil yang setiap tanggal 30 September ada film G30SPKI dan saya gak pernah berani nonton hingga tuntas. Sampai sekarang pun gak berani. Tapi tulisan ini saya baca hingga tuntas. Mungkin karena cara menyampaikannya, ya. Antara merinding tapi penasaran yang jelas gak membosankan. *coba pelajaran sejarah zaman masih sekolah gak membosankan hehehe.*

    Tapi kalau saya disuruh ke museumnya, yakin banget gak bakal berani. Lihat foto di sini aja, dioramanya bikin merinding. Dulu juga pernah ada karyawisata ke Lobang Buaya, sayanya takut 😀

    Liked by 1 person

    Reply
  13. Emakmbolang

    Merindinh, trus teringat film yang diputer di bioskop, ditonton setiap tahun oleh semua,murid.

    Skr msh iya apa tidak? Sudah nggak kayaknya.

    Teringat satu kalimat , apa ya lupa ” darah itu …… Jendral.

    Liked by 1 person

    Reply
    1. BaRTZap Post author

      Sekarang udah gak diputar lagi mbak. Kebayang dulu kita merinding, tapi tiap malam 30 September pasti pada rame-rame nonton film itu.

      “Darah itu merah Jenderal!”

      Like

      Reply
  14. Pink Traveler

    kok bisa panjang dan detil sekali cerita tentang jenderal ahmad yani di tulisannya, ini perlu persiapan berapa lama kak? klo ke museum di indonesia suka merasa merinding horor gitu, mgkn karena kurang perawatan tempatnya. yg aku inget kisah ahmad yani ini ya di film G30 SPKI yg ditonton tiap tahun nggak pernah bosan jaman dr kecil dulu sebelum dilarang tayang soalnya filmnya menegangkan

    Liked by 1 person

    Reply
    1. BaRTZap Post author

      Untuk membuat tulisan biasanya aku mengumpulkan banyak data, baik di lokasi maupun mencari data tambahan. Biar pembaca mendapatkan tambahan informasi juga, selain reportase atau info jalan-jalannya itu sendiri.

      Btw, ini kisah Jenderal Nasution sih. Kalau kisah Jenderal Ahmad Yani, tulisannya yang lain lagi.

      Like

      Reply
    1. BaRTZap Post author

      Hallo mbak Lia. Museum Prasasti sudah pernah, tapi belum mengulas dalam. Kayaknya sih pengen ke sana lagi. Untuk sejarah Soe Hok Gie saya harus banyak baca-baca lagi nih 🙂

      Like

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s