Category Archives: Travelogue

tenzing-hillary-lukla-airport-bartzap-dotcom

Tenzing-Hillary Lukla: Memacu Adrenalin Pada Bandara Paling Berbahaya di Dunia

Ini satu rahasia! Meskipun saya senang bepergian ke tempat-tempat yang jauh, sesungguhnya saya tak begitu suka terbang.  Namun, terbang adalah sesuatu yang tak mungkin saya hindari. Jangankan untuk melanglang buana, pekerjaan saya pun mengharuskan untuk terbang secara rutin. Setidaknya, sebulan dua kali saya harus terbang dengan menggunakan pesawat dan helikopter sekaligus. Tak terbang, maka tak gajian. Continue reading

Masjid Menara Kudus: Dari Palestina ke Tanah Jawa

Jika saya harus menilai, dari seluruh masjid yang pernah saya kenali, maka Masjid Menara Kudus adalah yang paling istimewa. Karena kompleks masjid serta makan Sunan Kudus (Raden Ja’far Shadiq) itu menjadi tempat saya menghabiskan masa kecil hingga awal remaja. Kebetulan rumah keluarga kami berbagi dinding dengan benteng bata kuno yang membatasi kompleks masjid. Sehingga, selain sebagai tempat beribadah, area masjid itu juga menjadi taman bermain saya sejak kecil. Continue reading

[+Video] 20 Jam di Annapurna Base Camp Himalaya

14 April 2016, pukul satu siang. HaruHanya itu yang memenuhi hati. Ketika akhirnya saya mencapai papan ucapan selamat datang di Annapurna Base Camp, pada ketinggian 4130 meter di atas permukaan laut.

Rasanya segala lelah terbayar sudah. Solo trekking selama lima hari dengan rute Nayapul – Ghandruk – Chhomrong – Dovan – Machhapuchhare Base Camp (MBC) – Annapurna Base Camp (ABC), akhirnya berhasil saya selesaikan. Kini ia telah menjelma, dari mimpi menjadi kenyataan. Continue reading

Khoo Kongsi: Kisah Aula Naga Gunung

Percaya atau tidak, jika sebuah perjalanan itu adalah miniatur kehidupan? Ketika sesuatu terlepas dari kita, terkadang hal lain telah siap menanti sebagai penggantinya. Dan meskipun awalnya sama sekali tak direncanakan, terkadang hal pengganti tersebut dapat meninggalkan jejak yang tak kalah dalam.

Seperti perjumpaan tak sengaja saya dengan Khoo Kongsi. Awalnya ia sama sekali tak ada dalam itinerary perjalanan. Justru Cheong Fatt Tze Mansion yang terkenal ekstravaganza dan berwarna biru benhur lah yang menjadi incaran. Namun, kelelahan akibat perjalanan spartan dari Jakarta, Melaka, hingga George Town di Pulau Penang, membuat takdir membelokkan saya menjumpa rumah marga nan grande di semenanjung Malaysia ini. Continue reading

Mengenang Penang

Hari masih terlalu dini ketika bus yang membawa saya tiba di Butterworth. Bayangan akan benteng gagah kota Melaka pun rasanya belum sirna dari mimpi. Namun dalam waktu singkat saya harus mengumpulkan kesadaran dari lelap, demi melanjutkan perjalanan menyeberangi selat Melaka menuju George Town.

Tanpa petunjuk yang jelas dan hanya mengandalkan aliran penumpang lain, saya melangkah menuju pelabuhan. Rupanya kami adalah rombongan pertama yang akan menyeberang pada fajar itu, karena pintu pelabuhan Sultan Abdul Halim yang mengarah ke ferry pun masih tertutup. Kantuk yang belum hilang sedari tadi segera melahirkan sebuah tekad. Sampai hotel, harus lanjut tidur dulu! Bersama penumpang lain serta angin laut yang lembab dan bergaram, saya menanti ferry pertama menuju pelabuhan Raja Tun Uda di Pulau Penang. Continue reading

Sehari di Fortaleza de Malaca

Saya menghabiskan hampir seluruh waktu perjalanan antara Kuala Lumpur International Airport dan Melaka Sentral di alam mimpi. Sebagai ganti akan tidur yang tak selesa akibat menginap di bandara pada malam sebelumnya. Meskipun memahami resikonya, saya sengaja mengambilnya sebagai tambahan bagi pengalaman dalam menjelajahi dunia. Setidaknya, kini saya tahu jika bermalam di bandara  adalah sebuah seni tersendiri.

Saya benar-benar meniatkan untuk mengambil istirahat yang berkualitas di dalam bus. Karena tak ingin kelelahan merusak kunjungan yang sudah lama saya impikan. Latar belakang sejarah yang panjang, serta jejak berbagai bangsa yang memulas wajah Malaka, menjadikannya sebagai salah satu kota yang ingin saya kunjungi di kawasan ASEAN.

Continue reading

Kisah Patriot dari Rumah Jenderal Nasution

1 Oktober 1965, pukul 04.00 dini hari. Jenderal Nasution dan isterinya –Johanna Sunarti– terjaga, karena nyamuk yang mengganggu tidur mereka dan sang putri bungsu –Ade Irma Suryani-. Pada saat bersamaan sang isteri mendengar pintu depan dibuka paksa. Melalui celah pintu kamar yang dibuka sedikit, ia melihat belasan Pasukan Cakrabirawa memasuki selasar rumah dengan senjata laras panjang.

Cakrabirawa!”, ujarnya lirih kepada sang suami.

Cakra?”, tanya sang Jenderal mengkonfirmasi.

Jenderal Nasution yang kebingungan akan kedatangan pasukan pengawal Presiden tersebut, kemudian berusaha mengintip dengan membuka pintu, yang segera disambut dengan hamburan peluru.

diorama-pasukan-cakrabirawa-berusaha-menculik-jenderal-nasution

Adegan pasukan Cakrabirawa yang berusaha menculik Jenderal Nasution, pada subuh 1 Oktober 1965.

Continue reading