tips-trekking-di-musim-hujan-bartzap-dotcom

Trekking di Musim Hujan

Seorang rekan blogger dari Filipina pernah menyatakan betapa beruntungnya saya yang tinggal di Jawa Barat -khususnya kota Bogor-, karena dikelilingi oleh lima Taman Nasional, yaitu: TN Gunung Gede Pangrango, TN Gunung Salak Halimun, TN Gunung Ciremai, TN Kepulauan Seribu dan TN Ujung Kulon. Yang beberapa di antaranya termasuk ke dalam Situs Warisan Dunia (TN Ujung Kulon), dan Cagar Biosfer (TN Gunung Gede Pangrango) yang diakui oleh UNESCO.

Intinya, dengan sedikit usaha, saya sudah bisa sampai dan menikmati alam bebas yang berada di dalam perlindungan nasional dan dunia. Terutama untuk melakukan kegiatan alam yang murah meriah seperti trekking di pegunungan, dan hutan belantara. Seperti yang saya lakukan dalam dua minggu terakhir ini, sebagai persiapan sebelum keberangkatan saya kembali ke Himalaya, untuk mencapai Everest Base Camp (EBC) pada bulan April 2017 mendatang. Continue reading

20-jam-di-annapurna-base-camp-himalaya

[+Video] 20 Jam di Annapurna Base Camp Himalaya

14 April 2016, pukul satu siang. HaruHanya itu yang memenuhi hati. Ketika akhirnya saya mencapai papan ucapan selamat datang di Annapurna Base Camp, pada ketinggian 4130 meter di atas permukaan laut.

Rasanya segala lelah terbayar sudah. Solo trekking selama lima hari dengan rute Nayapul – Ghandruk – Chhomrong – Dovan – Machhapuchhare Base Camp (MBC) – Annapurna Base Camp (ABC), akhirnya berhasil saya selesaikan. Kini ia telah menjelma, dari mimpi menjadi kenyataan. Continue reading

leong-san-tong-khoo-kongsi-george-town-penang-malaysia-bartzap-dot-com

Khoo Kongsi: Kisah Aula Naga Gunung

Percaya atau tidak, jika sebuah perjalanan itu adalah miniatur kehidupan? Ketika sesuatu terlepas dari kita, terkadang hal lain telah siap menanti sebagai penggantinya. Dan meskipun awalnya sama sekali tak direncanakan, terkadang hal pengganti tersebut dapat meninggalkan jejak yang tak kalah dalam.

Seperti perjumpaan tak sengaja saya dengan Khoo Kongsi. Awalnya ia sama sekali tak ada dalam itinerary perjalanan. Justru Cheong Fatt Tze Mansion yang terkenal ekstravaganza dan berwarna biru benhur lah yang menjadi incaran. Namun, kelelahan akibat perjalanan spartan dari Jakarta, Melaka, hingga George Town di Pulau Penang, membuat takdir membelokkan saya menjumpa rumah marga nan grande di semenanjung Malaysia ini. Continue reading

mengenang-penang-george-town-malaysia-bartzap-com

Mengenang Penang

Hari masih terlalu dini ketika bus yang membawa saya tiba di Butterworth. Bayangan akan benteng gagah kota Melaka pun rasanya belum sirna dari mimpi. Namun dalam waktu singkat saya harus mengumpulkan kesadaran dari lelap, demi melanjutkan perjalanan menyeberangi selat Melaka menuju George Town.

Tanpa petunjuk yang jelas dan hanya mengandalkan aliran penumpang lain, saya melangkah menuju pelabuhan. Rupanya kami adalah rombongan pertama yang akan menyeberang pada fajar itu, karena pintu pelabuhan Sultan Abdul Halim yang mengarah ke ferry pun masih tertutup. Kantuk yang belum hilang sedari tadi segera melahirkan sebuah tekad. Sampai hotel, harus lanjut tidur dulu! Bersama penumpang lain serta angin laut yang lembab dan bergaram, saya menanti ferry pertama menuju pelabuhan Raja Tun Uda di Pulau Penang. Continue reading

sehari-di-fortaleza-de-malaca-malaka-malaysia-bartzap

Sehari di Fortaleza de Malaca

Saya menghabiskan hampir seluruh waktu perjalanan antara Kuala Lumpur International Airport dan Melaka Sentral di alam mimpi. Sebagai ganti akan tidur yang tak selesa akibat menginap di bandara pada malam sebelumnya. Meskipun memahami resikonya, saya sengaja mengambilnya sebagai tambahan bagi pengalaman dalam menjelajahi dunia. Setidaknya, kini saya tahu jika bermalam di bandara  adalah sebuah seni tersendiri.

Saya benar-benar meniatkan untuk mengambil istirahat yang berkualitas di dalam bus. Karena tak ingin kelelahan merusak kunjungan yang sudah lama saya impikan. Latar belakang sejarah yang panjang, serta jejak berbagai bangsa yang memulas wajah Malaka, menjadikannya sebagai salah satu kota yang ingin saya kunjungi di kawasan ASEAN.

Continue reading

tampak-depan-museum-jenderal-nasution

Kisah Patriot dari Rumah Jenderal Nasution

1 Oktober 1965, pukul 04.00 dini hari. Jenderal Nasution dan isterinya –Johanna Sunarti– terjaga, karena nyamuk yang mengganggu tidur mereka dan sang putri bungsu –Ade Irma Suryani-. Pada saat bersamaan sang isteri mendengar pintu depan dibuka paksa. Melalui celah pintu kamar yang dibuka sedikit, ia melihat belasan Pasukan Cakrabirawa memasuki selasar rumah dengan senjata laras panjang.

Cakrabirawa!”, ujarnya lirih kepada sang suami.

Cakra?”, tanya sang Jenderal mengkonfirmasi.

Jenderal Nasution yang kebingungan akan kedatangan pasukan pengawal Presiden tersebut, kemudian berusaha mengintip dengan membuka pintu, yang segera disambut dengan hamburan peluru.

diorama-pasukan-cakrabirawa-berusaha-menculik-jenderal-nasution

Adegan pasukan Cakrabirawa yang berusaha menculik Jenderal Nasution, pada subuh 1 Oktober 1965.

Continue reading

manfaat-booking-hotel-dan-tiket-menggunakan-ota

Manfaat Booking Hotel dan Tiket Menggunakan OTA

Saya teringat ketika pertama kali mempersiapkan perjalanan ke luar negeri secara mandiri beberapa tahun lalu. Salah satu langkah persiapan yang paling menguji kesabaran adalah memesan hotel. Karena prosesnya yang panjang dan berbelit-belit.

Waktu itu saya bermaksud memesan sebuah kamar di area Sukhumvit, Bangkok. Untuk mendapatkan preview dari kamar dan fasilitas hotel yang saya taksir, saya harus mengunjungi websitenya terlebih dahulu. Dan untuk memastikan ketersediaan kamarnya, saya harus mengirimkan email ke bagian pemasaran hotelnya, sekaligus menanyakan harga pasti pada tanggal yang saya inginkan. Bahkan proses bookingnya pun, saya lakukan melalui email. Sebagai tanda jadi, saya juga harus membagikan data nomor kartu kredit beserta angka CCV nya -yang sangat rahasia- kepada mereka, serta mengisi sebuah formulir khusus. Ribetlah pokoknya. Continue reading