hotel-adhistana-yogyakarta-persembunyian-di-prawirotaman-bartzap-dotcom-yogyakarta

Adhisthana: Persembunyian di Prawirotaman

Sebagai kota kelahiran, Yogyakarta selalu membuat saya ingin kembali. Meskipun kenangan masa lalu tentangnya terlalu samar, namun mengunjunginya selalu melahirkan suatu rasa tersendiri. Dan sepertinya, satu lirik lawas dari KLA Project, sangat pas untuk mewakili perasaan saya. Selalu ada setangkup rasa haru dalam rindu, pada kota itu. Continue reading

yuk-membuat-video-perjalanan-dengan-smartphone-short-travel-videography-2-0-rasuna-creative-center-hotel-aston-rasuna-jakarta-bartzap-dotcom

Yuk, Membuat Video Perjalanan dengan Smartphone!

Dokumentasi perjalanan, adalah sebuah hal penting yang harus dibuat. Bukan saja demi menyimpan kenangan, tetapi juga untuk mencatat detail-detail yang nantinya bisa dibagikan lagi kepada orang lain. Bahkan pada masa ini, dokumentasi perjalanan juga berfungsi sebagai sarana penjaga eksistensi dalam pergaulan. Terutama ketika dibagikan melalui media sosial.

Pada masa lalu, dokumentasi perjalanan hanya dirupakan dalam bentuk tulisan dan sketsa gambar. Yang kemudian berkembang lagi dengan ditemukannya teknik fotografi. Dan semakin maju, ketika gambar bergerak atau videografi disempurnakan. Continue reading

masjid-menara-kudus-dari-palestina-ke-tanah-jawa-sunan-kudus-bartzap-dotcom

Masjid Menara Kudus: Dari Palestina ke Tanah Jawa

Jika saya harus menilai, dari seluruh masjid yang pernah saya kenali, maka Masjid Menara Kudus adalah yang paling istimewa. Karena kompleks masjid serta makan Sunan Kudus (Raden Ja’far Shadiq) itu menjadi tempat saya menghabiskan masa kecil hingga awal remaja. Kebetulan rumah keluarga kami berbagi dinding dengan benteng bata kuno yang membatasi kompleks masjid. Sehingga, selain sebagai tempat beribadah, area masjid itu juga menjadi taman bermain saya sejak kecil. Continue reading

tips-trekking-di-musim-hujan-bartzap-dotcom

Trekking di Musim Hujan

Seorang rekan blogger dari Filipina pernah menyatakan betapa beruntungnya saya yang tinggal di Jawa Barat -khususnya kota Bogor-, karena dikelilingi oleh lima Taman Nasional, yaitu: TN Gunung Gede Pangrango, TN Gunung Salak Halimun, TN Gunung Ciremai, TN Kepulauan Seribu dan TN Ujung Kulon. Yang beberapa di antaranya termasuk ke dalam Situs Warisan Dunia (TN Ujung Kulon), dan Cagar Biosfer (TN Gunung Gede Pangrango) yang diakui oleh UNESCO.

Intinya, dengan sedikit usaha, saya sudah bisa sampai dan menikmati alam bebas yang berada di dalam perlindungan nasional dan dunia. Terutama untuk melakukan kegiatan alam yang murah meriah seperti trekking di pegunungan, dan hutan belantara. Seperti yang saya lakukan dalam dua minggu terakhir ini, sebagai persiapan sebelum keberangkatan saya kembali ke Himalaya, untuk mencapai Everest Base Camp (EBC) pada bulan April 2017 mendatang. Continue reading

20-jam-di-annapurna-base-camp-himalaya

[+Video] 20 Jam di Annapurna Base Camp Himalaya

14 April 2016, pukul satu siang. HaruHanya itu yang memenuhi hati. Ketika akhirnya saya mencapai papan ucapan selamat datang di Annapurna Base Camp, pada ketinggian 4130 meter di atas permukaan laut.

Rasanya segala lelah terbayar sudah. Solo trekking selama lima hari dengan rute Nayapul – Ghandruk – Chhomrong – Dovan – Machhapuchhare Base Camp (MBC) – Annapurna Base Camp (ABC), akhirnya berhasil saya selesaikan. Kini ia telah menjelma, dari mimpi menjadi kenyataan. Continue reading

leong-san-tong-khoo-kongsi-george-town-penang-malaysia-bartzap-dot-com

Khoo Kongsi: Kisah Aula Naga Gunung

Percaya atau tidak, jika sebuah perjalanan itu adalah miniatur kehidupan? Ketika sesuatu terlepas dari kita, terkadang hal lain telah siap menanti sebagai penggantinya. Dan meskipun awalnya sama sekali tak direncanakan, terkadang hal pengganti tersebut dapat meninggalkan jejak yang tak kalah dalam.

Seperti perjumpaan tak sengaja saya dengan Khoo Kongsi. Awalnya ia sama sekali tak ada dalam itinerary perjalanan. Justru Cheong Fatt Tze Mansion yang terkenal ekstravaganza dan berwarna biru benhur lah yang menjadi incaran. Namun, kelelahan akibat perjalanan spartan dari Jakarta, Melaka, hingga George Town di Pulau Penang, membuat takdir membelokkan saya menjumpa rumah marga nan grande di semenanjung Malaysia ini. Continue reading

mengenang-penang-george-town-malaysia-bartzap-com

Mengenang Penang

Hari masih terlalu dini ketika bus yang membawa saya tiba di Butterworth. Bayangan akan benteng gagah kota Melaka pun rasanya belum sirna dari mimpi. Namun dalam waktu singkat saya harus mengumpulkan kesadaran dari lelap, demi melanjutkan perjalanan menyeberangi selat Melaka menuju George Town.

Tanpa petunjuk yang jelas dan hanya mengandalkan aliran penumpang lain, saya melangkah menuju pelabuhan. Rupanya kami adalah rombongan pertama yang akan menyeberang pada fajar itu, karena pintu pelabuhan Sultan Abdul Halim yang mengarah ke ferry pun masih tertutup. Kantuk yang belum hilang sedari tadi segera melahirkan sebuah tekad. Sampai hotel, harus lanjut tidur dulu! Bersama penumpang lain serta angin laut yang lembab dan bergaram, saya menanti ferry pertama menuju pelabuhan Raja Tun Uda di Pulau Penang. Continue reading