Opor Pak Pangat: Menyoal Penasaran Pada Kuliner Cepu

Sejak tahun 2010 saya kerap berkunjung ke Cepu, sebuah kecamatan di Kabupaten Blora yang dikenal sebagai kota minyak di Jawa Tengah. Boleh dikata, saya mengunjunginya hampir setiap tahun. Bukan untuk tujuan wisata, melainkan demi training dan sertifikasi personel laboratorium di Pusat Pendidikan dan Latihan – Minyak dan Gas Bumi (Pusdiklat MIGAS).

Demi mengurangi kebosanan para peserta, biasanya sesekali panitia training mengajak kami untuk makan di luar. Sebagai selingan di samping masakan-masakan harian yang mereka sediakan. Dan dari tahun ke tahun pilihannya hanyalah Sate Kambing Ayu atau Ikan Bakar Padangan di perbatasan Bojonegoro.

Bertahun-tahun menikmati pilihan yang sama, tentu kami bosan. Hingga akhirnya tahun ini kami mencoba kuliner lain, yang dari infonya saja sudah menggelitik rasa penasaran. Yaitu: Opor Pak Pangat. Yang untuk menikmatinya kami harus pesan sehari sebelumnya, dan tak bisa tambah di tempat.

Warung Tersohor dari Desa Ngloram

“Kalau mau makan opor Pak Pangat, kita harus pesan sekarang mas. Ndak bisa ujug-ujug besok langsung datang dan makan. Pasti ndak bakal dilayani.”

Perkataan mas Muslih -salah seorang panitia training– sehari sebelumnya itu, terus terngiang di telinga saya. Sepanjang perjalanan menuju warung opor tersebut, rasa penasaran terus mencambuki benak. Apa yang membuat opor itu menjadi sangat istimewa? Sehingga untuk menikmatinya pun kami harus memesan di muka. Bahkan konon, jika ingin menyantapnya di akhir pekan, calon pembelinya pun harus memesan tiga hari sebelumnya.

Warung Opor Pak Pangat terletak di Desa Ngloram. Sekitar 9 km di sebelah barat daya pusat kota kecamatan Cepu. Tak jauh dari Bandara Ngloram, yang telah berhenti beroperasi sejak tahun 1984. Tak banyak pemandangan yang menarik sepanjang perjalanan menuju warung opor yang tersohor itu. Hanya rumah-rumah penduduk, serta area persawahan luas yang mendominasi.

Dibutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk mencapai warung tersebut dari pusat kota. Kesan jauh dan terpencil segera terasa begitu tiba, karena letaknya yang berada di antara area persawahan. Namun anehnya, deretan mobil tampak antri di sekitarnya,

Kejutan pertama yang saya dapatkan adalah, sebuah tulisan peringatan yang membuat perut berontak kecewa. Satu kata yang dicetak kapital pada pilar warung, tak jauh dari pintu masuknya. HABIS!

“Tenang mas, plang ‘habis’ nya memang dipasang setiap hari kok. Pesanan kita sudah aman.”, untungnya supir yang mengantarkan kami segera menenangkan.

Warung Opor Pak Pangat berupa bangunan khas Jawa Tengah yang terbuat dari kayu. Berbentuk joglo, dan beratap genting tanah liat. Lantainya tak dilapisi oleh sebingkai tegel sekalipun. Hanya batu bata merah bercampur tanah yang tergelar mulai dari teras, bagian dalam, hingga dapurnya. Sangat bersahaja. Sungguhpun begitu, ketika sampai di sana, kami tak bisa langsung mendapatkan tempat untuk bersantap.

“Maaf mas, masuk waiting list ya. Belum ada tempat yang kosong.”, sekali lagi warung itu memberikan kejutan.

Citarasa Opor Dalam Semangkuk Besar

Selayaknya masakan lain, saya membayangkan jika hidangan yang kami pesan akan disajikan per porsi pada setiap piring. Namun, yang dihadirkan saat itu adalah semangkuk besar opor ayam bagi kami berempat. Serta bertumpuk-tumpuk lontong utuh yang masih rapi tergulung daun di atas nampan. Jadi memang seperti itulah Opor Pak Pangat disajikan.

Potongan ayam yang telah dipesan sebelumnya, diletakkan jadi satu dan dihidangkan dalam satu wadah besar, bagi satu kelompok pemesanan. Pembeli dipersilakan untuk memotong sendiri lontong yang diinginkan. Kurang lebihnya sesuai selera, mereka boleh menambah jika mau. Tapi sayang, itu tak berlaku bagi potongan ayamnya. Karena memang hanya disajikan sesuai jumlah yang telah dipesan.

Opor Pak Pangat berbeda dari opor yang biasa saya temukan. Alih-alih berkuah santan pucat, ia justru berkuah santan semu kemerahan, serta menguarkan aroma rempah yang mengundang selera. Disertai taburan bawang goreng, dan beberapa cabai rawit utuh yang mengisi kuahnya.

Ketika mencicipi kuahnya pertamakali, saya berusaha menggali memori rasa yang ada. Dan sepertinya kuah opor Pak Pangat memiliki citarasa yang hampir serupa dengan Lontong Cap Go Meh. Perpaduan antara rasa manis, gurih, serta samar pedas yang menguasai lidah.

Ayam kampung berpotongan besar yang menjadi pengisi utama opor itu juga terasa tepat lunaknya. Hampir tak saya temukan sisi-sisi alot yang berlebihan. Bahkan beberapa bagian tulangnya pun terhancurkan dengan renyah. Resapan bumbu yang mengisi dagingnya, kembali terekstrak dalam setiap kunyahan. Sungguh memanjakan lidah.

Siang itu saya makan bersimbah peluh, karena panas yang mengambang di udara, pedas rawit yang pecah di lidah, serta kelezatan gurih opor yang menggoda.

Kisah di Balik Dapur

Selain menuntaskan rasa penasaran terhadap opor Pak Pangat, saya juga diundang untuk menilik rahasia kesedapannya. Tak jauh berbeda dari bagian lain bangunan itu, dapurnya pun sangat sederhana. Tipikal pawon tradisional khas jawa tengahan, yang berlantai tanah dan beratap tinggi. Dimana kepulan asap dari tungku-tungku kayu bakar membumbung jauh dan meninggalkan jejak jelaga.

Pada atap tungku tampak kuali-kuali besar berlomba menggelegakkan kuah opor yang beraroma gurih. Dan sesekali para juru masak masih saja menambahkan kayu bakar pada kumpulan lain yang telah nyala membara. Dapur itu masih tampak sibuk. Meski katanya kerja mereka tak lagi lama. Jam operasi warung itu memang singkat, karena selepas waktu makan siang biasanya sudah tak ada lagi menu yang tersisa di sana.

Dalam sehari warung opor Pak Pangat hanya mengolah 60 ekor ayam dan 400 buah lontong. Yang semuanya telah dipesan oleh pelanggan sejak sebelumnya. Tak lebih dan tak kurang. Itulah sebabnya warung itu tak melayani pemesanan di tempat, ataupun permintaan tambah. Jika merasa porsinya tak bakal cukup, pembeli harus memesannya sejak awal. Bahkan kalau perlu mereka bisa meminta ayam berpotongan khusus alias jumbo. Siapa cepat, dia dapat.

Selain penggunaan cabai dan serai yang membuat opornya terasa khas, rahasia lain dari pengolahan di dapur itu adalah bahan bakar yang mereka gunakan. Bukan kayu sembarang kayu bakar, melainkan kayu jati.

Kini kesedapan opor Pak Pangat tak hanya ‘melegenda’ di tanah asalnya. Karena dalam beberapa kesempatan, merekapun sering diminta untuk mengirimkan opornya hingga ke ibukota. Jika tak percaya, kalian harus datang sendiri, dan mencobanya!


Lontong Opor Pak Pangat (Kapuan)
Desa Ngloram, Cepu, Blora, Jawa Tengah, 58315, Indonesia.
Nomor Kontak Pemesanan: 0815-7568-4348/0813-9151-8212
Jam Operasi: 08.00 – 13.00

Protected by Copyscape Online Plagiarism Software

Advertisements

Posted by

a Globetrotter | a Certified Diver: PADI Advance Diver and AIDA** Pool Freediver | a Photography Enthusiast | a Laboratory Technician.

105 thoughts on “Opor Pak Pangat: Menyoal Penasaran Pada Kuliner Cepu

    1. Iya, emang rejekinya nambah. Pas lihat saya lagi motret-motret makanan dan sudut-sudut warungnya, eh ditawarin main ke dapurnya juga. Tapi emang saya penasaran juga sih sebenarnya 😀

      Like

  1. awal baca dan lihat gambarnya jadi pengen bikin opor ayam. Niatnya mau cari2 resep di internet dan berharap bisa mirip2 sama buatan warung Pak Pangat. Tapi pas liat bahan bakarnya berupa kayu jati, aku pingsan. hahaha…

    Liked by 1 person

    1. Hahaha itu dia kak. Kalau aku langsung elus dada, jati mahal-mahal eh sama mereka dipakai buat masak opor. Dan ternyata itu salah satu rahasianya. Mungkin, kalau dimasaknya pakai kompor gas, rasanya beda jauh 😀

      Like

    1. Betul Yan. Penasaranku tertuntaskan akhirnya. Soalnya udah lama dengar kisah tentang warung opor satu ini. Dan sekarang, aku pengen lagi makan opornya hahahaha. Nulisnya sambil ngeces ini … 😀

      Like

    1. Nah di situ lah letak rejekinya. Panitia trainingnya udah antisipasi sejak awal, mereka pesankan dua porsi untuk masing-masing orang hahaha.
      Iya betul Tim, karena di dapur lah mereka ‘meletakkan’ rahasianya.

      Like

    1. Ah iya betul, dulu dapur (kakak) simbah di Kudus juga gitu. Masaknya masih pakai tungku, dan pawon nya tradisional. Hasil masakannya lebih sedap.

      O iya maaf tadi lupa nyantumin nomor teleponnya. Sekarang sudah aku pasang infonya mbak, di bagian paling akhir artikelnya ya. Suwun koreksinya 🙂

      Like

  2. Tadi pas scroll down, liat foto porsi opor ayamnya, dikira itu porsi per orang. Hahaha.. Gede parah! Ternyata porsi bersama kita bisa ya. Hehe..

    Dan… Waw! Baru tau ada opor ayam yang harus dipesan sehari sebelumnya (bahkan ga ngelayanin tambah porsi). Untuk rasa dan pengalaman makan di sana, 1-10, berapa Kak? 😄

    Liked by 1 person

    1. Hahaha aku juga awalnya ngiranya begitu. Pas datang pertama kali, aku pikir itu mangkok besar untuk seorang. Shock. Takut gak habis, eh gak taunya rame-rame. Tapi aku makan dua potong sih. Untung panitia training nya paham, jadi dipesanin dua porsi 😀

      Tapi sempat kaget juga, pas tau kalau potongan yang aku makan itu ukuran standard. Dan pas di dapurnya aku lihat potongan ayam yang jumbo nya. Lebih besar 😀

      Nambah gak boleh sih emang kang Iyos, tapi kalau mesan lebih boleh, asal masih ada stock nya.

      Untuk rasa aku kasih angka 8.5
      Untuk pengalaman dan keunikan aku kasih angka 8.0

      Pokoknya layak untuk dicoba. Dan ternyata -aku baru tahu- di sekitaran daerah itu menyimpan kisah sejarah dari masa akhir Kerajaan Demak lho. Termasuk kisah konspirasi, yang kemudian melahirkan Kerajaan Mataram Islam.

      Like

    1. Di Cepu sendiri sih emang legend mas, meskipun beberapa temanku yang keturunan sana banyak yang belum tahu.

      Wah pokoknya kalau mas Fajrin ada kesempatan lewat daerah situ, harus cobain deh 🙂

      Liked by 1 person

    1. Betul. Dan di situlah letak keunikannya, justru mereka tak mau stock nya ditambah, karena mereka sudah kewalahan cari pemasok ayamnya. Kalau nambah pekerja sih bisa disesuaikan lah ya, toh pemasukannya juga bertambah.

      Tapi di situlah uniknya dan mungkin itu yang mereka percayai sebagai pemancing pelanggan. Bisa jadi kalau misalnya stock ditambah atau buka cabang, justru mereka khawatir gak bisa jaga mutunya.

      Di lain pihak, ada yang suka mikir kalau itu tuh “prasyarat” supaya tetap laku hahaha

      Liked by 1 person

      1. Hahaha biasalah ya suka ada selentingan begini begitu. Kalau aku sih bismillah aja 😀

        Iya Hen, ayam kampung. Dan kayanya memang ayam kampung lebih cocok dan enak untuk masakan tradisional. Lebih gurih 🙂

        Liked by 1 person

  3. Tahunya Cepu itu tempat karyawan Pertamina disekolahin lagi alias ditraining biar naik pangkat hahaha, muridku juga ada yang sekolah migas di Cepu setingkat kuliah. Baru tahu ada tempat makan segitu ribetnya. Kalau dari penampakannya opor ini mirip lontong Padang kemerahan gitu warnanya, biasanya pucat, yang bikin ngelus dada itu kayu jati yang muahal abis malah dijadiin kayu bakar hiks, terbayang-bayang lagi bakar duit. Opor model kayak gitu pernah sih ibuku masak saat lebaran. Btw ada opor versi Sumsel juga dengan menambahkan nanas saat memasak opor jadi rasanya nggak eneg malah menyegarkan. Semoga keturunan selanjutnya dari Opor pak Pangat ini tetap melestarikan resepnya. Oh iya kalo order sehari sebelumnya itu bisa lewat telpon atau musti datang ke sana juga?

    Liked by 1 person

    1. Wah unik dan jadi pengen nyobain tuh, opor pakai nanas. Itu dijual umum Na, atau cuma masakan rumahan?

      Untuk pemesanan bisa telpon dulu, nomornya ada di akhir artikelku. Kalau sudah dipastikan dapat, baru besoknya tinggal datang. Kalau untuk makan di akhir pekan, malah kadang calon pembeli memesan sejak 3 hari sebelumnya.

      Aamiin aamiin semoga tetap jaya ya, supaya dirimu bisa coba juga kalau main ke Cepu 🙂

      Liked by 1 person

      1. Opor pake nanas itu masakan rumahan, di Palembang dan daerah di Sumsel setahuku nggak ada yang jualan opor. Opor masih jadi menu untuk lebaran atau acara-acara tertentu yang dimasak oleh ibu di rumah. Btw Cepu ini bisa dicapai dengan naik kereta api ya?

        Liked by 1 person

      2. Ooo gitu, hmm cobain ah nanti di rumah. Siapa tahu cocok 🙂

        Betul banget, Cepu ini bisa dicapai dengan naik kereta api dari beberapa kota di Jawa via jalur pantura. Dari beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Malang bisa. Kalau dari Yogyakarta atau Solo gak bisa naik kereta, tapi lebih mudah naik mobil atau motor.

        Liked by 1 person

      3. Haha emang aku suka masak, sesekali. Itu juga masakan yang aku suka aja. Sisanya sih cuma sebagai bagian dari ‘survival-skill’ aja 😀

        Menu andalanku adalah Tom Yam Goong! 😉

        Liked by 1 person

  4. Menyenangkan bisa menilik langsung dapurnya mas. Tungku, Kayu Bakar, dan dilihat dari dapurnya masih benar-benar sederhana.
    Oya, banyak orang mengira cepu itu kabupaten loh mas, karena sering diucapkan waktu sekloah, heheheheh.

    Liked by 1 person

    1. Iya Rullah, aku jadi ingat dapur (kakaknya) simbah di Kudus dulu, masih pakai semprong buat niup2 kompornya. Pas aku nyoba, malah keselek asap 😀

      Betuuul, Cepu itu juga seperti Cikampek yang dikira kabupaten, padahal cuma kecamatan dan bagian dari Karawang 😀

      Like

      1. Wah kebetulan banget, aku lagi pengen punya baju warok reog! Celananya bagus, hitam trus ada aksen merah darah di belahannya.

        Cumbri, mauuuu ,,, emang kapan mau ke sana lagi? Hmm abis aku turun dari Everest aja ya ke sananya 🙂

        Liked by 1 person

  5. Wah, Favorit aku banget nih. Pernah dulu ke sana sekitar tahun 2010-2011 sewaktu ada job di Cepu. Alhamdulillah, waktu itu bisa pesan on the spot, ga kaya sekarang yg harus pesan 3 hari sblm nya. Duh, jadi ngilerrr :mrgreen:

    Liked by 1 person

    1. Tapi aku malah baru tahu kemarin lho soal warung opor satu ini, padahal udah rutin ke Cepu tiap tahun. Berarti baru akhir-akhir ini aja ya harus pesan in advance?

      Kalau ke Cepu lagi harus coba Ayam Bakar Mak Gogok mas, katanya sih serupa juga bikin penasarannya. Proses pemasakannya juga unik 🙂

      Hahahaha jadi kapan ke Cepu lagi?

      Like

      1. Saya kerja di Makassar, kampung halaman sekitar 400 km lah dari kota. Opor kayak gini biasa dibikin Ibu kalau anak2nya balik ke kampung. Lah saya gak curhat, kan ya. hahahha

        Liked by 1 person

      2. Hahaha gak papa curhat sambil bayangin opor di rumah.

        Jadi penasaran, kalau opornya Sulsel kira-kira sama gak ya? Atau punya kekhasan sendiri?

        Like

  6. Kalau dimasak pakai kayu bakar emang beda Mas Bart. Tapi gimana, di rumahku yang ndeso pun sekarang gampangan cari gas daripada kayu buat masal. Btw ini ngga pas dibaca saat lapar. Bikin makin lapar.

    Liked by 1 person

    1. Mungkin kalau dimasak pakai kayu bakar itu, panasnya lebih rendah dan butuh waktu agak lama. Jadi slow cooking gitu. Beda dengan gas, yang panasnya lebih tinggi. Dan kayaknya masakan yang diolah dengan teknik slow cooking itu enak-enak deh hehehe …

      Aku sendiri udah lama gak masak pakai kayu bakar. Lha wong camping aja bawa gas hahahaha. Tapi kangen sih masak dengan teknik-teknik sederhana macam itu>

      Hahaha maaf ya kalau sampai memancing lapar. Hmm sambil makan deh bacanya, biar makin lahap 😀

      Like

    1. Sedap banget Khai, membuat rindu lah membicarakannya juga. Nah itu diaaa, jati dibakar-bakar di sana. Tapi memang ranting-ranting ukuran sedang sih yang digunakan.

      Hmmm opor itu apa ya? Agak susah mencari persamaannya di masakan Melayu atau Malaysia. Aku pernah coba beberapa masakan Malaysia, tapi belum pernah menemukan yang rasanya seperti opor. Ini tandanya Khai harus main ke Indonesia untuk mencoba.

      Kalau hari raya Aidil Fitri biasanya di rumah saya (dan di rumah-rumah Indonesia) kami selalu masak opor ayam 🙂

      Like

      1. Hehehe harusss ke sana. InsyaAllah Agustus ini aku, isteri, adik ipar serta mertuaku akan buat short trip 3 hari ke Jakarta. Mertua ku tak pernah ke luar negara, jadi insyaAllah mau bawa liburan ke sana.

        Harus coba ni opor ayam. Memang gak tau opor tu kayaknya gi mana. hehehe

        Liked by 1 person

  7. Subhanallah. Kalau memang sudah rejeki ya tidak seorang pun akan menyangka. Di desa terpencil dan tidak punya daya tarik wisata apapun warung lontong bisa menyamai resto resto kelas atas di ibukota. Harus reservasi. Membayangkan Pak pangat mengolah 60 ekor dan 400 lontong setiap hari, terbayanglah keuntungan yang beliau petik. Insya Allah semoga tetap Laris manis dan warung beliau dibesarkan lagi agar bisa bisa menampung pelanggan lebih banyak lagi. Tapi apa memang syaratnya harus tetap ya, maksudnya luasnya harus tetap segitu dan ayam serta lontong jumlahnya juga sama agar rezekinya berlimpah seperti sekarang?

    Liked by 1 person

    1. Betul uni, di situ kita jadi belajar soal jalan rejeki ya? Kalau misalnya pintu rejeki sudah dibukakan, meskipun letaknya jauh atau terpencilpun pasti pelanggan akan datang berduyun-duyun. Begitu pula sebaliknya.

      Nah itu dia. Aku juga sempat bertanya-tanya dalam hati *lupa mengkonfirmasi* apakah angka 60 dan 400 itu sudah menjadi syarat supaya tetap laris? Tapi yang aku tahu sih, mereka sejauh ini masih menolak untuk membuka cabang dan membesarkan volume jualan karena demi menjaga kualitas dan mereka sendiri merasa kewalahan untuk mencari pemasok ayamnya. Konon, ayam-ayam itu supplier nya dari Jawa Timur.

      Like

  8. Yaaa ampunnn aku ngiler lihat gambar opornya. Bulan depan daku ada rencana eksplor Blora nih, mudah-mudahan ketemu tempat hits ini. Langsung kucatet alamatnya, kudu bulatin tekad buat di sana. Hahaha. Opor Pak Pangat, I’m coming! 😀

    Liked by 1 person

    1. Cocok tuh Lim, yaa agak jauhan lagi sih kalau dari pusat kota Blora nya, tapi masih lebih dekat daripada Bogor lah hahahaha.

      Harus cobain Lim, tapi jangan lupa pesan dulu yaaa, daripada dikacangin 🙂

      Ditunggu ulasan a la Jejak BOcahiLANG nyaaa 😉

      Liked by 1 person

  9. Dari penampilan dan warnanya sekilas memang mirip Lontong Cap Go Meh ya. Selalu menyenangkan deh liat masakan tradisional yang dimasak di pawon ala Jawa gini, kesan rustic-nya jadi lebih kental. Btw selama kamu di sana keliatannya pengunjungnya kebanyakan orang dari luar kota atau ada warga setempat juga Bart?

    Liked by 1 person

    1. Dan aromanya lebih sedap juga Bam. Hmm pas di sana khan weekday, kebanyakan sih orang-orang lokal atau setidaknya mereka bekerja di lokalan situ (pegawai kantoran, pemerintahan, dan sektor migas), sisanya orang-orang training, dan ada beberapa yang dari luar kota juga.

      Harus cobain deh Bam kapan-kapan, sekaligus ulik sejarahnya Cepu. Menarik lho. Ternyata dulu itu adalah pusat Kadipaten Jipang Panolan, yang menggoyang kestabilan Kesultanan Demak.

      Like

  10. kalo denger cepu, yang ada di otakku pertama gas gas dan gas
    dan ternyata ada kuliner yang tersembunyi. Tapi kalo opor rata2 ditiap kota punya khas sendiri-sendiri ya. Kalo yang cepu ini apa sama dengan kebanyakan opor pas lebaran ya?

    Liked by 1 person

  11. belum pernah saya ke cepu. kota cepu lebih populer karena migas-nya ya ….
    lihat foto2nya bikn ngiler .. haha … apalagi kalau setiap hari selalu habis .. gilee dehhh. Kalo ke Cepu, tempat ini wajib kudu .. haha

    Liked by 1 person

    1. Wajib mas. Dan kayanya sepedahan di Cepu asik juga, gak terlalu ramai, dan banyak objek-objek yang menarik sebenarnya. Bukan melulu tentang migas.

      Jangan lupa mampir makan opor di Pak Pangat 🙂

      Like

  12. Sumpah. Saya mendadak lapar Baca ulasan opor ayam nya. Ngga perlu liat gambar, hanya baca tulisan kamu aja saya bisa membayangkan betapa gurih Dan lezatnya opor ayam itu. Ini efek Baca di tengah malam, sekarang saya jadi pengen makan opor. Hahaha

    Liked by 1 person

  13. Omg, ini kenapa menggoda sekaliiii :D. Kalo nanti mudik ke solo, aku mau masukin acara mampir ke cepu ah.. Penasaran bgt ama opornya.. Dari foto sih udh sukses bikin aku kriuk laper mas 😀

    Like

    1. O iya kebetulan banget, Cepu dan Solo khan gak jauh-jauh banget. Sekitar 2-3 perjalanan ya?
      Sekalian lewat bisa icip-icip. Tapi jangan lupa kontak dan pesan via telpon dulu ya. Soalnya kalau ‘go show’ gak bakal dilayani.
      Ditunggu ulasan pengalamannyaaaa 🙂

      Like

  14. asal tau saja ya mas, klo opor itu makanan kesukaan saya, postingan ini bikin saya mupeng..enaknya lagi klo makannya pake krupuk udang..demen banget kalo opor itu ada campuran ebinya sama krecek..hmmm jadi pengen cepet cepet lebaran hahaha

    Liked by 1 person

    1. Kalau begitu berarti mas Dhanang harus cobain opor satu ini. Kebetulan gak jauh juga khan dari Solo 🙂

      Sabaaaar mas, lebaran sekitar sebulan lagi 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s