Tag Archives: Travelogue

DSC_0204-1

Nepal (10): The Third Eye

Kini kami melaju di atas aspal yang mulus -untuk ukuran Nepal-. Jalan Raya Araniko yang menghubungkan Bhaktapur dan Kathmandu menyajikan pemandangan yang telah hilang dari mata kami sejak dua hari silam. Kumpulan bangunan kubus bertumpuk di sisi jalan dan di kejauhan, yang semuanya tersaput debu.

Jarak antara Bhaktapur dan Kathmandu tidaklah jauh, hanya berkisar lima belas kilometer. Dalam waktu sekitar empat puluh lima menit saja, kami mulai memasuki ibukota Nepal. Badan jalan mulai menyempit, dengan bangunan yang semakin padat di sisinya. Kerapatan kendaraan, lalu lalang manusia dan keriuhan suara klakson mendominasi kota. Semua tampak lebih sibuk, menghempaskan debu-debu ke udara. Continue reading

IMG_4021

Nepal (9): Au Revoir, Bhaktapur!

Saya membayangkan malam yang lebih hangat di Bhaktapur, mengingat letaknya yang berada pada dataran yang lebih rendah dibandingkan Nagarkot. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Malam itu, dingin yang merayapi Bhaktapur sungguh terasa menyiksa. Saya yang tak terbiasa berada pada cuaca sebeku itu, menjadi sulit tidur dibuatnya. Semuanya dingin. Termasuk ranjang, bantal dan selimut tebal yang menggunduk.

Continue reading

IMG_3383

Nepal (8): Dusk in the City of Newar

Sore telah jatuh, dan bayangan mulai menghilang dari ujung kaki-kaki kami. Demi mengejar waktu sebelum gelap senja menjebak, Roshan segera membawa kami ke Dattatreya Square. Sebuah pusat kota lainnya, dimana Kuil Dattatreya berada.

Dibangun pada tahun 1427 M atas perintah Raja Newar kala itu -Yaksha Malla-, kuil ini berbentuk pagoda bertingkat dua. Memiliki satu teras dengan tiki jhyas (kisi-kisi) yang menjorok keluar pada tingkat duanya. Pada bagian depan, ia dijaga oleh sepasang patung pegulat Rajput -Jaimal dan Phatta-. Tangga masuknya tak begitu tinggi, hanya sekitar sembilan undakan saja. Sementara satu patung Garuda yang bersimpuh dengan tangan mengapurancang, dibangun pada kolom batu yang menghadap ke pintu masuknya. Continue reading

DSC_0150

Nepal (7): Bloody Beauty

Kami menghabiskan waktu makan siang yang cukup menyenangkan di Café Nyatapola. Dari teras pada lantai duanya, kami bersantap sambil mengamati kesibukan di Taumadhi Square. Sebuah sisi yang terbuka langsung pada matahari, kami pilih untuk sedikit menghangatkan tubuh. Sementara alunan Kutumba yang riang dari toko souvenir di selasar jalan, menjadi pengiring yang pas di siang itu.

IMG_3275

Jalanan di antara Taumadhi Square dan Pottery Square, diambil dari atas Café Nyatapola. Dalam cuaca bagus, Himalaya bisa terlihat di kejauhan.

Continue reading

06-City-of-Devotees

Nepal (6): City of Devotees

25 April 2015 pukul 11:56 NST (Nepal Standard Time), gempa berkekuatan 7.8 hingga 8.1 skala Richter mengguncang Nepal. Kota Tua Bhaktapur, yang diakui sebagai salah satu warisan budaya dunia oleh UNESCO, menjadi tempat yang menerima dampak paling parah. Dalam gempa yang berlangsung selama dua puluh detik tersebut, ribuan jiwa tercerabut dari hidupnya. Sekitar 116 bangunan bersejarahnya roboh menjadi puing, dimana 67 di antaranya hancur lebur dan 49  sisanya rusak berat.

61609757_BHAKTAPUR_3282976b

Reruntuhan Vatsala Durga di Bhaktapur Durbar Square, paska gempa 25 April 2015 (source: http://www.telegraph.co.uk)

Beberapa bangunan yang terlihat pada foto-foto dan catatan perjalanan saya di Desember 2013 dalam travelogue ini, bisa jadi merupakan dokumentasi terakhir dari kemegahan kuno Bhaktapur. Dimana kekayaan kulturnya berpadu dengan keindahan kuil-kuil; karya seni logam, kayu dan batu. Yang selama berabad-abad berhasil menyintas waktu. Continue reading

05-Goodbye-Nagarkot-Hello-Bhaktapur

Nepal (5): Goodbye Nagarkot, Hello Bhaktapur!

Saya terbangun di pagi berikutnya dengan perasaan bersyukur karena tidak membeku ataupun terkena hypothermia. Walaupun wajah saya, sebagai satu-satunya bagian yang terbuka, seperti mati rasa. Aliran air panas pada waktu berwudhu kemudian sedikit membantu saya menghangatkan diri setelahnya.

Saya sempat membuka jendela, dan mencoba menikmati pemandangan Nagarkot di waktu fajar. Semuanya putih! Tertutup kabut. Hanya terlihat samar deretan pohon-pohon pinus, dan semak belukar di kaki bukit. Juga sebuah bangunan yang memiliki teras kecil terbuka pada puncaknya. Continue reading

04-Overnight-at-The-End-of-The-Universe

Nepal (4): Overnight at The End of The Universe

Sedari awal, kami memang merencanakan untuk menginap pertama kali di Nagarkot, begitu sampai di Nepal. Bukan di Kathmandu. Dengan alasan, agar pergerakan perjalanan kami bisa lebih efisien. Dari timur ke tengah, lanjut ke barat, lalu ke tengah, sebelum akhirnya kembali ke Indonesia.

Menurut rencana, rute perjalanan kami adalah seperti ini: Nagarkot – Kota Tua Bhaktapur – Kathmandu – Pokhara – Kathmandu. Dan kemudian kembali terbang ke Jakarta.

Nagarkot sendiri merupakan sebuah desa, yang berjarak sekitar 30 km dari Bandara Tribhuvan di Kathmandu. Terletak pada ketinggian 2195 meter di atas permukaan laut, dengan kontur yang berbukit-bukit dan menjadi bagian dari distrik Bhaktapur.

Kathmandu to Nagarkot

Rute dari Bandara Tribhuvan Kathmandu menuju Nagarkot (google maps).

Desa ini banyak direkomendasikan bagi para traveler yang ingin menghabiskan waktu untuk aklimatisasi sebelum atau sesudah melakukan trekking ke Everest Base Camp (EBC). Selain juga merupakan tempat melarikan diri dari kesumpekan Kathmandu yang lebih metropolis. Nagarkot memiliki view point yang bagus untuk menikmati keindahan Pegunungan Himalaya dari kejauhan. Sekitar delapan dari tiga belas range Himalaya bisa diamati dari Nagarkot. Yaitu: Annapurna, Manaslu, Ganesh Himal, Langtang, Jugal, Rolwaling, Mahalangur (range Everest) dan Numbur. Himalaya Namaskar dari sini? Cocok! :-)

Continue reading