Khoo Kongsi: Kisah Aula Naga Gunung

Percaya atau tidak, jika sebuah perjalanan itu adalah miniatur kehidupan? Ketika sesuatu terlepas dari kita, terkadang hal lain telah siap menanti sebagai penggantinya. Dan meskipun awalnya sama sekali tak direncanakan, terkadang hal pengganti tersebut dapat meninggalkan jejak yang tak kalah dalam.

Seperti perjumpaan tak sengaja saya dengan Khoo Kongsi. Awalnya ia sama sekali tak ada dalam itinerary perjalanan. Justru Cheong Fatt Tze Mansion yang terkenal ekstravaganza dan berwarna biru benhur lah yang menjadi incaran. Namun, kelelahan akibat perjalanan spartan dari Jakarta, Melaka, hingga George Town di Pulau Penang, membuat takdir membelokkan saya menjumpa rumah marga nan grande di semenanjung Malaysia ini.

Khoo Kongsi: Satu di Antara Lima

Khoo Kongsi merupakan salah satu persatuan marga (kongsi) keturunan Tionghoa yang berjaya di semenanjung Malaysia. Sejarah keberadaan mereka dapat ditelusuri hingga 650 tahun ke belakang. Bersama dengan kongsi Cheah, Yeoh, Lim, dan Tang mereka dikenal sebagai Lima Marga Besar (Goh Tai Seh) yang menjadi tulang punggung komunitas Hokkian di masa-masa awal Pulau Penang berdiri.

lambang-khoo-kongsi-george-town-penang-malaysia

Lambang Khoo Khongsi.

Agak rumit jika harus menjelaskan lebih lanjut tentang urusan marga Khoo ini. Karena Khoo Kongsi dan sub marganya tidak mewakili seluruh warga keturunan Tionghoa yang bermarga Khoo. Hanya mereka yang bernenek moyang dari desa Sin Aun, distrik Sam Toh, negara bagian Hai Teng, perfektur Chiang Chew, dan propinsi Hokkian di Tiongkok saja yang dapat dianggap sebagai keturunannya.

anggota-leong-san-tong-khoo-kongsi-george-town-penang-malaysia-yang-berprestasi

Beberapa nama anggota Khoo Kongsi beserta titel dan prestasinya, di ruang penghormatan leluhur Khoo Kongsi.

Pada abad ke 17, marga Khoo yang dimaksud di atas merupakan salah satu marga pedagang paling sukses di Selat Malaka dan Pulau Penang. Bahkan hingga kini, marga Khoo tersebut tetap menyumbangkan prestasi yang membanggakan, meskipun tak melulu melalui perdagangan. Beberapa di antara mereka juga sukses di bidang lain, termasuk dalam masalah ilmu pengetahuan.

Kisah Jatuh Bangun Leong San Tong

Di tahun 1835 para anggota Khoo Kongsi berpikir untuk perlunya membangun sebuah rumah marga demi mempersatukan dan menjaga kejayaan mereka, serta untuk menghormati leluhur mereka di Sin Aun, Hokkian. Sedikit demi sedikit mereka menggalang dana, yang digunakan untuk mendirikan sebuah bangunan bersama di tahun 1851. Yang kemudian diberi nama Leong San Tong, yang berarti Aula Naga Gunung.

bangunan-leong-san-tong-khoo-kongsi-bergaya-fujian-selatan-george-town-penang-malaysia-bartzap-dot-com

Leong San Tong, bangunan utama Khoo Kongsi.

Rumah marga tersebut dibangun menyerupai kompleks pedesaan. Dilengkapi dengan organisasi pemerintahannya sendiri, yang mengurusi masalah pendidikan, keuangan, kesejahteraan, serta masalah sosial. Pada tahun 1894, para pengurus Khoo Kongsi berinisiatif untuk memperindah rumah marga mereka yang mulai kurang terawat. Khusus untuk itu, mereka menurunkan langsung para maestro seni bangunan dari Fujian Selatan.

Namun sayangnya, di tahun 1901 kompleks tersebut terbakar. Setelah sebelumnya bangunan utamanya disambar oleh petir yang membara. Warga keturunan Tionghoa percaya, jika hal tersebut terjadi akibat kemiripan bangunan Leong San Tong dengan istana kaisar di Tiongkok, sehingga memicu kemarahan para dewa.

detail-leong-san-tong-khoo-kongsi-george-town-penang-malaysia

Detail di depan Paviliun Persembahyangan Leong San Tong.

dupa-di-leong-san-tong-khoo-kongsi-george-town-penang-malaysia

Di tahun berikutnya, Leong San Tong dibangun ulang dari reruntuhannya, meskipun skalanya diperkecil. Dan setelah memakan waktu selama empat tahun, akhirnya di tahun 1906  ia dapat berdiri kembali sebagai representasi kejayaan marga Khoo di Semenanjung Malaysia.

Keberadaan bangunan tersebut sempat terganggu oleh Perang Dunia Kedua di awal abad ke 20. Dimana sebagian dari kompleks Leong San Tong pernah rusak akibat bombardir bala tentara Kekaisaran Jepang yang berusaha menguasai George Town. Untungnya, ia dapat direkonstruksi, dan kembali berdiri di tahun 1958.

Bertandang ke Aula Naga Gunung

Saya sempat sedikit kesulitan ketika harus mencari letak pasti Leong San Tong Khoo Kongsi -atau biasa disebut Khoo Kongsi saja- di antara belantara bangunan George Town. Dari deskripsi sejarahnya, saya membayangkan jika Khoo Kongsi akan mudah terlihat dari sisi jalan, seperti layaknya Cheong Fatt Tze Mansion. Ternyata saya salah.

penunjuk-khoo-kongsi-di-jalan-cannon-street-george-town-penang-malaysia

Khoo Kongsi memang tersembunyi. Ia terbentengi oleh ruko-ruko dan perumahan warga yang amat rapat. Untuk mengaksesnya terdapat tiga jalan terpisah. Pintu masuk utamanya terletak di Jalan Cannon, sedangkan pintu masuk sampingnya di Jalan Armenian, dan pintu belakangnya terdapat di Jalan Beach. Belakangan saya baru tahu, bahwa jangankan saya yang merupakan orang asing di George Town, ternyata banyak penduduk kota itu pun yang tak mengetahui letak Khoo Kongsi.

jalan-cannon-street-george-town-penang-khoo-kongsi-malaysia

Kesibukan di Jalan Cannon, George Town, Pulang Penang.

denah-leong-san-tong-khoo-kongsi-george-town-penang-malaysia

Denah Leong San Tong Khoo Kongsi. (sumber: khookongsi.com.my)

Sebagai sebuah kompleks, Khoo Kongsi terdiri atas beberapa bagian, yaitu: bangunan Leong San Tong, panggung opera, aula pertemuan dan perkantoran, kompleks delapan rumah, kompleks enam belas rumah, kompleks enam belas rumah di Jalan Aceh, dan Cannon Square.

Bentuk Khoo Kongsi yang terlindungi oleh rumah dan ruko-ruko di sekitarnya ternyata memang disengaja. Agar ketika bahaya mengancam, kompleks tersebut dapat ditutup aksesnya dengan mudah. Bentuk pertahanan Khoo Kongsi mengadopsi filosofi wei yang berarti tertutup, dan bao yang berarti benteng, yang berasal dari suku Hakka di Tiongkok.

jalan-cannon-street-george-town-penang-khoo-kongsi-malaysia-3

Pintu masuk utama Khoo Kongsi di Jalan Cannon.

kompleks-enam-belas-rumah-leong-san-tong-khoo-kongsi-george-town-penang-malaysia

Deretan komples enam belas rumah selepas pintu masuk Khoo Kongsi di Jalan Cannon.

Deretan enam belas rumah bergaya Tiongkok, langsung menyambut siapapun yang memasuki Khoo Kongsi dari Jalan Cannon. Pada bagian ujung lorong masuknya, terdapat konter tiket yang menyediakan segala brosur dan juga keterangan singkat mengenainya. Sebuah sticker yang harus ditempelkan di baju serta sebuah kartu pos, menjadi satu paket dari tiket yang saya beli di siang itu.

sticker-pengunjung-leong-san-tong-khoo-kongsi-george-town-penang-malaysia

Sticker penanda kunjungan yang ditempel di baju, akan diberikan sebagai bagian dari paket tiket masuk Khoo Kongsi.

Setelah melewati panggung opera, akhirnya saya berhasil menemui bangunan utama Khoo Kongsi. Leong San Tong yang bergaya Fujian Selatan terlihat megah di atas Cannon Square yang berlandaskan batu granit. Dua buah patung naga dan sebuah tugu belanga mengisi bagian tengah alun-alun yang memisahkan Aula Naga Gunung dengan panggung opera yang berhadapan langsung dengannya.

Tiba-tiba saya tak lagi merasa sedang berada di Malaysia. Imajinasi saya terjebak pada satu tempat dan masa lalu di Tiongkok sana. Suara halus gesekan daun Dedalu Tangis atau Gandarusa (Salix babylonica) dan Bambu Jepang (Pseudosasa japonica) yang ditiup angin, semakin menguatkan sensasi mesin waktu yang saya alami saat itu.

detail-leong-san-tong-khoo-kongsi-george-town-penang-malaysia-3

Sudut-sudut Leong San Tong.

interior-leong-san-tong-khoo-kongsi-george-town-penang-malaysia

panggung-opera-di-cannon-square-leong-san-tong-khoo-kongsi-george-town-penang-malaysia

Panggung opera di Cannon Square, yang berhadapan langsung dengan Leong San Tong.

Leong San Tong memang lebih mirip dengan sebuah istana. Atapnya dipenuhi oleh mustaka-mustaka keramik penuh warna. Paviliun persembahyangan menjadi bagian utama dan pembuka dari Aula Naga Gunung tersebut. Empat buat tangga dan sebuah tapal batu yang disebut sebagai Stone of Royal Way menambah keagungan dari penampakannya. Konon tampilan paviliun persembahyangan yang bertangga pada bagian depannya adalah kurang lazim bagi bangunan Fujian Selatan. Dan sesungguhnya, tampilan itu merupakan perpaduan antara gaya Fujian Selatan dengan bangunan lokal Melayu.

desain-dasar-leong-san-tong-khoo-kongsi-george-town-penang-malaysia

Leong San Tong (kanan) merupakan perpaduan antara bentuk bangunan lokal (kiri) dengan bangunan bergaya Fujian Selatan (tengah).

detail-leong-san-tong-khoo-kongsi-george-town-penang-malaysia-2

Detail-detail Leong San Tong.

mural-di-leong-san-tong-khoo-kongsi-bergaya-fujian-selatan-george-town-penang-malaysia-bartzap-dot-com

Salah satu dinding Leong San Tong yang penuh dengan mural.

detail-leong-san-tong-khoo-kongsi-george-town-penang-malaysia-4

Detail-detail ukiran kayu, lampion, mural, pahatan batu, hingga penghias atap Leong San Tong benar-benar menunjukkan betapa Khoo Kongsi adalah sebuah marga yang pantas untuk diperhitungkan di masanya. Sulit bagi saya untuk mendeskripsikannya satu per satu, karena setiap warna serta bentuk yang diterapkan pada bangunan tersebut memiliki nilai filosofi yang tinggi.

Leong San Tong juga menyimpan kisah panjang sejarah perjuangan marga Khoo di tanah perantauan, yang dengan detail diceritakan oleh koleksi-koleksi yang tersimpan pada museum di bagian dasar bangunannya. Selain itu juga terdapat ruang pamer interaktif yang dilengkapi dengan mini teater yang menceritakan tentang proses pembangunan, rekonstruksi, dan perawatan kompleks Khoo Kongsi.

koleksi-museum-leong-san-tong-khoo-kongsi-george-town-penang-malaysia

jalan-cannon-street-george-town-penang-khoo-kongsi-malaysia-4

Dokumentasi perawatan detail-detail Leong San Tong.

bartzap-leong-san-tong-khoo-kongsi-george-town-penang-malaysia

pengunjung-leong-san-tong-khoo-kongsi-george-town-penang-malaysia

bartzap-leong-san-tong-khoo-kongsi-george-town-penang-malaysia-2

Setelah berkeliling dan mempelajarinya, saya merasa jika Leong San Tong bukanlah hanya sebuah rumah marga. Ia juga merupakan karya seni bernilai tinggi dan warisan budaya yang teramat penting bagi George Town. Tanpa Khoo Kongsi, tentu kota itu akan terasa berbeda.

Pada akhirnya saya menyimpulkan, bahwa bagi warga keturunan Tionghoa, penghormatan terhadap leluhur adalah sebuah hal yang esensial. Para anggota marga terikat dan bersatu bersama dalam sebuah sistem yang berlangsung secara turun temurun. Itu sebabnya, keberadaan Leong San Tong menjadi teramat penting bagi Khoo Kongsi. Kejayaan rumah marga tersebut adalah bagian dari eksistensi mereka. Sehingga seberat apapun kondisi jaman yang sedang dihadapi, mereka akan berusaha untuk tetap menjaganya.

*****

TRIVIA:

Pada tahun 1999 kompleks Khoo Kongsi pernah dijadikan salah satu lokasi syuting film Anna and The King yang dibintangi oleh Jodie Foster dan Chow Yun Fat.

anna-and-the-king

Beberapa adegan dari film arahan sutradara Andy Tennant yang menceritakan tentang interaksi antara Anna Leonowens -seorang guru privat Kerajaan Siam berkebangsaan Inggris– dengan Raja Mongkut (Rama IV) dan Pangeran Chulalongkorn (kelak Rama V) itu seharusnya berlokasi di Grand Palace, Bangkok. Namun, akibat penolakan yang dilakukan oleh pemerintah Kerajaan Thailand, maka tim produksi terpaksa mencari tempat lain yang dapat menyerupainya.

Protected by Copyscape Online Plagiarism Software

Advertisements

65 thoughts on “Khoo Kongsi: Kisah Aula Naga Gunung

  1. Alid Abdul

    Waktu ke Penang dulu aku skip tempat ini, tapi begitu baca tulisan ini jadi menyesal kenapa saya harus skip huhuhu. Justru saya menyesal bertandang ke rumah biru yang grande tersebut. Udah tiketnya mahal tapi menurut saya nothing bhuahaha.

    Btw foto-fotonya sekarang pakai tone agak-agak gloomy yaaaa…

    Liked by 1 person

    Reply
    1. BaRTZap Post author

      Serius Lid, kalau rumah grande biru benhur itu biasa aja? Justru awalnya aku ke Khoo Kongsi untuk menghibur diri karena gagal ke rumah satu itu.

      Hehehe iya nih, untuk yg seri Malaysia ini, aku lagi senang pakai tone-tone film lawas. Biar seragam aja. Justru aku penasaran sama tone foto-fotomu belakangan ini Lid. Warnanya tuh surreal gimanaaa gitu 😊

      Like

      Reply
  2. sarah

    Ternyata sejarahnya panjang ya. Kalo menurutku hampir mirip ya kayak sejarah orang Batak #ups,yangorangbatakjanganmarah
    Tempatnya kerenlah, ada buku tua juga ya..? Semoga bisa jalan kesini nih, penasaran sama dekor tiangnya

    Liked by 1 person

    Reply
    1. BaRTZap Post author

      O iyaaa? Di bagian mana kemiripannya? Boleh dong diceritain 🙂

      Amiin amiin, aku doain semoga kesampaian bisa ke Penang segera yaaa. Aku jamin dirimu bakal suka semua bagian detailnya Khoo Kongsi ini deh.

      Like

      Reply
  3. adelinatampubolon

    Baru mau comment kalau film The King and I itu kan berlatar belakang negeri Thailand ternyata sudah terjawab ditulisan bawah, hehehe.. suka bangat baca tulisanmu cerita sejarah Khoo Kongsi dengan bangunannya, juga foto2nya keren Bart.

    Liked by 1 person

    Reply
    1. BaRTZap Post author

      Yup, memang agak politis sih alasannya. Sampai-sampai pada waktu itu lokasi asli setting Grand Palace nya dirahasiakan. Dan pada akhirnya film Anna and The King itu tetap dilarang tayang dan beredar di Thailand.

      Terimakasih sudah mampir baca dan tinggalkan komen ya Lin 🙂

      Liked by 1 person

      Reply
  4. Bama

    Aku kayaknya ambil ratusan foto deh di Khoo Kongsi, soalnya detail ornamennya bagus dan rumit banget. Lokasinya yang nyempil dan gak keliatan dari jalan bikin tempat ini jadi unik banget sih, dan seru aja masuk ke jalan kecil itu tiba-tiba jreeng, muncul aula utama Khoo Kongsi. Sayangnya gak sempet ke sana pas malem juga, padahal kayaknya lampu-lampu bikin aulanya semakin megah ya.

    Liked by 1 person

    Reply
    1. BaRTZap Post author

      Iya betul banget, apalagi kalau bisa naik sampai ke atapnya ya. Sayangnya gak bisa hahaha 🙂

      Betul banget Bam, efek lampu-lampunya membuat Khoo Kongsi makin megah dan mewah. Tapi kalau masih sebatas senja aja sih, Khoo Kongsi memang bagus. Cuma kalau sudah malam, gak tau deh, agak kurang pede aku masuk ke dalamnya. Btw, aku pengen bisa nonton pagelaran opera Tiongkok, kayaknya menarik. Sayangnya, di Khoo Kongsi ini pagelarannya cuma di waktu-waktu tertentu aja.

      Like

      Reply
      1. Bama

        Hah? kenapa kurang pede Bart? Harus pake dresscode khusus kah atau gimana? Naaaah, ngomong-ngomong soal pagelaran, pas aku di Penang itu sebenernya ada di satu malam diadain pagelaran di Khoo Kongsi. Tapi sayangnya aku taunya telat. Baru besoknya atau dua hari setelahnya kalo gak salah aku taunya.

        Liked by 1 person

      2. BaRTZap Post author

        Wakakaka baru liat aja aku udah serem, apalagi megang. Gimana kalau Anabelle kita jodohin aja sama Chucky? Siapa tahu dengan begitu mereka akan adem 😀

        Like

  5. Hendi Setiyanto

    salut, bagaimana orang-orang pada jaman dahulu sudah sedemikian pemikirannya terutama dalam membangun suatu komunitas, melestarikan marga demi eksistensi dan juga penghormatan terhadap leluhur mereka. sejarah dan budaya tionghoa tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan sehari-hari orang-orang di Nusantara, entah itu nilai positif atau bukan untuk kondisi saat ini, mereka telah ada sejak jaman dahulu guna memperkaya sejarah suatu bangsa

    Liked by 1 person

    Reply
    1. BaRTZap Post author

      Yup, mungkin juga karena dasar kebudayaan mereka seperti itu. Harus menghormati leluhur sedemikian rupa. Menurutku, rata-rata bangsa di Asia seperti itu sih. Cuma bentuk pengejawantahannya yang berbeda-beda.

      Makasih sudah mampir ya Hen 🙂

      Liked by 1 person

      Reply
  6. Ulu

    Wow foto-foto kamu sekarang tonenya beda, Bart. Kayak pake analog. Bagus moodnya berasa jaman dulu.

    Btw di sana komunitas Tionghoa dgn etnis lain akur gak? Sekarang susah banget nyari tempat kayak Khoo Kongsi di Bandung. Tapi wajar sih karena etnis tionghoa di Bandung (gunung) gak sebanyak di pesisir yg emang pelabuhan tempat mereka pertama mendarat. Bagus ya di Penang, kerawat sejarah fisiknya. Apalagi ini sejarah etnis tionghoa. Di Cirebon aja saya gak akan nemu yg kayak gini, mereka cenderung tertutup & gak mau diusik. Di Penang malah boleh dimasukin turis. Ah euy iri 😀

    Like

    Reply
    1. BaRTZap Post author

      Makasih Ulu, ini emang disengaja soalnya bahasannya agak tempo dulu, jadi tone nya aku bikin yg kaya gini. Personally, aku suka karena memang mirip tampilan hasil kamera analog.

      Sejauh yang aku tau sih, mereka akur-akur saja. Penang itu sebenarnya mayoritasnya adalah keturunan Tionghoa, tapi secara sejarah pulau ini memang multi etnik. Bahkan kita bisa menemukan bangunan sinagog Yahudi juga, selain klenteng, masjid, kuil Hindu dan gereja. Dan Inggris dulu mengatur tempat tinggal mereka secara terpisah berdasarkan etnis. Jadi ada pecinan, little India, kaum muslim, daerah Yahudi maupun Armenian.

      O iya, menurutku memang Penang ini dikelola dengan baik dan serius pariwisatanya. Aku jelasin agak lebih detail sih di artikel sebelumnya (Mengengan Penang). Mangga kalau mau mampir.

      Jadi kapan kita ke Penang?

      Like

      Reply
    1. BaRTZap Post author

      Sebenarnya itu semua tonenya sama kok mas, cuma memang pas di dupa rasanya beda 😊

      O iya, aula persembahyangan di Leong San Tong ini buka tipe2 klenteng yang selalu ramai gitu. Jadi gak usah khawatir. Pas aku ke sana juga sepi banget, sampai parno sendiri jadinya, karena suasananya temaram dan bau dupa dimana-mana.

      Liked by 1 person

      Reply
    1. BaRTZap Post author

      Aku pas kesitu juga lagi panas-panasnya, makanya lebih banyak motret di dalam, soalnya ada AC nya hahahaha.

      Mungkin karena Cheong Fatt Tze banyak peminatnya, jadi pas kalau dikasih guide dan jadwal tur. Aku pas ke Khoo Kongsi sepi bangeeet, cuma aku sama temenku dan beberapa glintir turis lainnya aja. Gak sampai 6 orang kami di sana selama 1 jam lebih.

      Like

      Reply
  7. Pink Traveler

    Baart gila ya kenapa aku baru baca ini sekarang, aku masuk k lorong ini tapi gak ke kuil ini krn ada penjaganya cowok india pake seragam trus bayar lg jadi aku agak takut soalnya sepi tempat ini. Btw film Anna and The King nya Jodie Foster itu film kesukaan aku sampe skrg aku gak lupa berkesan banget, gila… gila coba kalau kamu tulis dr dulu, haduh aku harus balik lg ke Penang, pengen gue sambit pake pempek saking gemesnya 🙂

    Liked by 1 person

    Reply
    1. BaRTZap Post author

      Hahahaha buruan sambit pempeknyaaaa. Apa perlu aku kasih alamat lengkap? Biar nyambitnya gak salah alamat. 😀

      Iya deh, kayanya kamu harus balik lagi ke Penang. Nanggung banget, itu berarti dirimu udah sampai di belakang panggung operanya. Di sebelah sana sudah menanti Leong San Tong di Cannon Square nya hehehe. Emang kapan sih terakhir ke Penang dirimu?

      Like

      Reply
      1. Pink Traveler

        Pas bulan puasa thn 2016 sekitar akhir Juli, gimana gak nyesek tau baca ini, aku tuh nge fans banget sm Jodie Foster n film Anna and The King, dateng sendiri ke Palembang tar ku traktir makan pempek sampe kekenyangan 🙂

        Liked by 1 person

      2. BaRTZap Post author

        Ooo gitu, pantesan kayanya nyesek banget. Soalnya aku ke sana itu Oktober 2014, tapi baru nulisnya sekarang hehehe.

        O iya, sudah pernah nonton versi klasiknya belum? Yang judulnya The King and I. Aku sih suka versi klasiknya.

        Asiiik, benar yaaa, kalau ke Palembang ditraktir pempek. Pokoknya yang unik 🙂 *malah request*

        Like

      3. Pink Traveler

        Beneran cuss dtg ke Palembang yuk jgn lupa ngasih kabar, aku gelarin carpet pink hahaha. Aku malah baru tahu ada versi film klasiknya, ntar aku browsing dulu nyari streamingnya, aku kira Bart sukanya film india doank 🙂

        Liked by 1 person

      4. BaRTZap Post author

        Hahaha mentang-mentang Pink Traveler, karpetnya pun warna pink.

        Adaaaa, ada beberapa versi malah. Selain itu ada versi drama panggungnya. Khan aslinya kisah itu diangkat dari bukunya Anna Leonowens. Meskipun oleh pihak kerajaan Thailand dianggap terlalu mengada-ada, karena dalam bukunya Anna memposisikan dirinya amat penting di masa pemerintahan Raja Mongkut. Sementara di dalam catatan harian Raja Mongkut, Anna cuma disinggung sekali saja dan dalam tulisan yang tak seberapa panjang.

        Hahaha aku suka hampir segala jenis film, kecuali film ‘gore’ yaaa ,,, ampun kalau itu sih, bikin eneg 😀

        Liked by 1 person

      5. Pink Traveler

        Namanya jg film harus pake bumbu2 dramatis biar bagus. You are so detailed person, klo aku jadi anak buahmu di kantor atau jd mahasiswamu klo kamu dosen, habislah aku dibantai disuruh ngulang kerjaan sm baca yg banyak biar rada pinteran dikit untung kamu profesinya di laut ya hahaha

        Liked by 1 person

  8. Iwan Tantomi

    Hal paling seru dalam perjalanan, bahkan paling berkesan, memang menemukan tempat nggak terduga macam Khoo Kongsi ini ya, mas.

    Instingmu emang liar, mampu nemuin yang nyempil² 😁

    but it’s a fucking cool experience. 👍

    Liked by 1 person

    Reply
  9. kaki jalans | Khai

    Bart terima kasih atas sejarahnya. Aku juga gak tahu sejarahnya sangat tapi aku suka architecturenya. Sama macam kamu, aku juga jumpa Khoo Kongsi secara gak sengaja sambil jalan-jalan sekitar Armenian Street.

    Ah, terus rindu ke penang. Nasib baik hujung minggu ini ke sana lagi. Haha.

    Liked by 1 person

    Reply
    1. BaRTZap Post author

      Masuk aja, memang dibuka untuk umum kok kalau Leong San Tong ini. Bukan kuil yang dikhususkan untuk beribadah seperti yang lainnya 🙂

      Welcome banget pastinya. Lha wong mbayar hahahaha

      Like

      Reply
  10. Rifqy Faiza Rahman

    Sama seperti Mas Alid, Mas Bart ini juga punya kekhasan dalam menempatkan tone foto-foto di tulisan-tulisannya 🙂

    Soal marga, rumit ya, saya pun agak kesulitan mengejanya. Tapi itu unik, sebuah identitas. Dan saya sepakat dengan miniatur kehidupan dalam perjalanan 🙂

    Liked by 1 person

    Reply
    1. BaRTZap Post author

      Makasih Qy. Kebetulan aku suka tone-tone nya film analog, dan kebetulan pas juga dengan postingan ini. Kalau nggak pas, juga kadang aku gak atur tone nya.

      Menyoal ejaan, aku jadi teringat kalau aku sering mikir, betapa ejaan yang mudah untuk suatu bangsa bisa menjadi sulit bagi bangsa lain. Seperti misalnya aku terkadang harus membaca pelan kalau mengeja nama-nama Thailand, soalnya panjang dan agak aneh.

      Like

      Reply
  11. ferdicullen

    Hello mas bart, lama gak berkunjung ke blog nya mas bart tapi tetap blog ini ngangenin hehehe. Sama halnya dengan para komentator lainya aku juga malah gak sempat kemari pada saat berkunjung ke Penang, Gak tau juga ya kenapa, tapi setelah membaca tulisan ini wow worth it banget untuk berkunjung ke mari, kayaknya harus ulang lagi nih trip to penang terima kasih mas Bart

    Liked by 1 person

    Reply
    1. BaRTZap Post author

      Hai Fer, makasih sudah sempatkan mampir.

      Kalau dari Medan enak ya ke Penang kayaknya gak terlalu jauh, bisa naik kapal atau ferry nampaknya. Iya, kalau ke Penang lagi, coba deh mampir ke Khoo Kongsi sekalian main di sekitaran Lebuh Armenia.

      Like

      Reply
  12. evrinasp

    Itu gimana cara bisa menggali informasi sedalam itu Bart. lengkap sekali runutan sejarahnya Khoo Kongsi ini, gak kebayang kalau traveling smabil ngulik sejarah mendetail juga, tapi seru sih ya

    Liked by 1 person

    Reply
    1. BaRTZap Post author

      Hehe bingung juga aku kalau ditanya kaya gitu. Biasanya sih aku kumpulin data yg banyak, mulai dari brosur, wawancara dan keterangan yang ada di lokasi. Cuma wawancara itu termasuk yg jarang.

      Seru sih kalau buatku, jadi jalan-jalan sekaligus dapat ilmu.

      Like

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s