Nepal (11): The Monkey Temple

Saya mengerjapkan mata dari balik selimut yang menutup hampir seluruh tubuh. Menatap ke arah kaca jendela yang buram oleh peluh air di awal fajar. Di luar sana, jingga mentari yang masih lemah membias halus dalam kabut, menghadirkan siluet persegi dan kubus-kubus bata. Suprabhat. Namaste Kathmandu!

IMG_4084

Udara kamar di Himalayan Travellers Inn jauh lebih manusiawi dibandingkan penginapan-penginapan kami sebelumnya. Semalam, tanpa perjuangan melawan beku saya dapat tidur lelap tanpa terganggu. Dan pagi itu saya memutuskan untuk mandi, demi menghangatkan diri di bawah kucuran air panas.

City Trekking over Kathmandu

Kami menghabiskan sarapan di taman terbuka, sembari mengagumi kepulan uap pekat yang menyeruak setiap kali napas terhembus dan berbicara. Begitu pula uap yang membubung dari cangkir-cangkir teh madu jahe yang kami pesan. Untuk kami yang terbiasa hidup di kehangatan udara tropis, ini adalah hiburan langka. Norak ya?

Hari itu agenda kami padat. Hampir sepanjang hari akan dihabiskan mengeksplor spot-spot wajib bagi para first-timer di Kathmandu. Karena esok hari, bus paling pagi akan membawa kami ke Pokhara.

IMG_4165

Objek pertama yang akan kami kunjungi adalah Swayambhunath, sebuah stupa Buddha Bermata Ketiga lainnya yang dibangun di lembah Kathmandu. Keistimewaannya adalah ia terletak pada sebuah puncak bukit, yang dari atasnya para pengunjung dapat mengamati serakan kepadatan kota nan eksotis.

Dengan berbekal ingatan visual dari googlemaps yang saya lihat pada waktu meriset perjalanan ini, peta sederhana, dan penanda -yang kami harap akan mudah ditemui di sepanjang jalan-, kami memutuskan untuk berjalan  kaki demi mencapai stupa istimewa itu.

Untitled

Jalur trekking dari Thamel ke Swayambhunath.

Keriuhan kota segera menyambut, begitu kami keluar dari jalan kecil yang menjadi pelindung penginapan. Kendaraan-kendaraan yang beberapa diantaranya dipenuhi aksara Devanagari berlomba-lomba menyusur aspal yang tak lagi rata.

Terselip di antaranya mobil-mobil dan motor desain terbaru, yang tak seberapa jumlahnya, turut bersaing dalam keriuhan itu. Serta salakkan klakson sesekali bersahutan, melengkapi kesibukan pagi.

Kami menyusuri trotoar yang cukup untuk berjalan beriringan. Dan sesekali lebih menepi ketika trotoar hilang disapu pinggiran jalan, yang berganti menjadi tumpukan puing, kaki lima, ataupun pelebaran jalan seketika yang digunakan oleh kendaraan menyalip satu dan lainnya.

Bangunan yang kami lalui berselang-seling dalam gaya. Mulai dari gedung-gedung terbaru yang tak seberapa tinggi, arsitektural Newari berbata merah yang diakseni kayu berukir, hingga bangunan dengan cat dan semen terkupas yang menyeruakkan bata-bata pembentuk dari balik kulitnya.

DSC_0038.jpg

Wajah lain Kathmandu yang lebih dalam kami lewati. Di antaranya adalah rumah-rumah kumuh yang berdesakkan di sisi sungai Vishnumati yang berair coklat dan tak tampak laju mengalir.

Dari atas jembatan yang melintasinya, saya melihat beberapa ekor burung elang melayang anggun dalam bentangan sayapnya yang kokoh membelah udara. Di Jakarta, mungkin elang itu sudah menjadi sasaran tembak para pemburu amatir yang kehabisan target buru, atau disergap oleh para kolektor fauna.

Beberapa penanda dwi bahasa menuntun kami ke arah stupa istimewa. Dalam bayangan saya, seharusnya kuil itu mudah teramati karena letaknya yang tinggi dan dikelilingi bukit penuh tanaman hijau. Namun ternyata, tumpukan bangunan Kathmandu lebih menguasai bidang pandang. Sehingga, dengan segenap percaya kami mengikuti kemana penanda itu mengarah.

Setelah melewati jalanan yang lebih kecil, tanpa alas aspal, dan menghamburkan debu setiap kali kendaraan melaluinya, penanda lain menuntun kami hingga mencapai pelataran luas dengan gerbang yang dipenuhi oleh lampu-lampu persembahan pada kaki-kakinya. Pun beberapa sadhu, pengemis, biksu, peziarah, hingga turis berada di sana. Pasti ini tempatnya, tak salah lagi.

IMG_3576

Kini di depan kami terbentang ratusan anak tangga yang mendaki bukit, dan dilingkupi pepohonan peneduh nan rindang.

Itulah dia, tangga menuju Swayambhunath!

Vajra and The Gilded Stupa of Swayambhu

Stupa bermata ketiga itu terletak pada puncak bukit. Ada dua jalan untuk mencapainya: yang pertama melalui undakan tangga di sebelah timur, dan yang kedua melalui pintu masuk di barat daya yang dapat dicapai dengan mobil. Tapi undakan tangganya merupakan jalur paling favorit, kecuali jika pengunjung memiliki masalah dengan kaki dan persendian.

Kebetulan kami sampai di bagian timur bukit, sehingga mau tak mau tangga itu adalah satu-satunya jalur yang harus kami tempuh.

Undakan tangga yang jumlahnya 365 buah itu dibuka dengan apitan patung-patung Buddha, serta relief yang menggambarkan kehidupan masa lalunya. Termasuk relief Maya Devi, ibunda Siddharta Gautama, yang sedang menggenggam cabang pohon ketika melahirkannya.

IMG_3580

Undakan-undakan awal terasa sangat landai, dan diselingi lantai batu selebar 2 hingga 1.5 meter setiap lima undakan. Namun seiring dengan curamnya bukit, maka undakannya pun semakin menanjak tajam.

Menjelang bagian tangga teratas, tepat sebelum ticket booth, terdapat lima pasang arca hewan yang mengapit undakan, yaitu: Garuda, Burung Merak, Kuda, Gajah, dan Singa. Menurut kepercayaan, hewan-hewan ini merupakan wahana atau kendaraan Dhyani Buddha.

DSC_0061

Vajra raksasa di depan undakan Swayambhunath.

Sebuah Vajra raksasa keemasan menyambut kami, begitu berhasil menyelesaikan pendakian singkat undakan demi undakan tadi. Ia adalah senjata yang digunakan sebagai objek ritual untuk melambangkan kekuatan intan yang tak terhancurkan, dan halilintar yang tak terkalahkan.

Dikisahkan dalam Swayambhu Purana, dahulunya lembah Kathmandu adalah sebuah danau yang ditumbuhi oleh teratai. Lalu oleh Manjushri -sang Boddhisattva Kebijaksanaan dan Ilmu Pengetahuan- danau tersebut dikeringkan, dan teratai pada danau itu menjelma menjadi bukit, sementara puncak bunganya berubah menjadi Swayambhunath, stupa bermata ketiga dengan puncak emasnya. Dari legenda itulah nama Swayambhu berasal, yang artinya adalah terbentuk dengan sendirinya.

Swayambhu Purana sendiri merupakan sebuah kitab suci umat Buddha yang menceritakan terbentuk dan berkembangnya lembah Kathmandu. Selain itu, kitab tersebut juga mencatatkan informasi tentang Buddha pertama dan kedua dalam Buddhisme.

DSC_0033

Sementara menurut tarikh Nepal Gopalarajavamsavali (Gopu) dicatatkan bahwa Swayambhunath ditemukan oleh Raja Vrsadeva pada sekitar abad kelima Masehi. Ini diperkuat dengan ditemukannya prasasti batu yang menyatakan bahwa Raja Manadeva -cicit dari Raja Vrsadeva– memerintahkan pemugaran stupa tersebut pada tahun 640 Masehi.

Kabarnya pada abad ketiga sebelum Masehi, Kaisar Ashoka pernah mengunjungi situs tersebut, dan membangun sebuah kuil, yang diruntuhkan di kemudian hari.

Meskipun stupa ini merupakan kuil Buddha, namun umat Hindu Nepal juga mensucikannya. Bahkan penguasa lembah Kathmandu, Raja Pratap Malla lah yang tercatat memerintahkan pembangunan undakan batu di bagian timur stupa tersebut pada abad ketujuh belas Masehi.

DSC_0013

Saya jadi teringat, pada sebuah kalimat yang diucapkan oleh Roshan ketika memandu saya di Bhaktapur: “Di Nepal, umat Hindu dapat beribadah di kuil Buddha, meskipun tidak sebaliknya. Karena pada dasarnya, orang tua Siddharta adalah juga beragama Hindu.”

Jika dilihat dari bentuk dasarnya, meskipun dalam skala lebih kecil, Swayambhunath memiliki kemiripan dengan Boudhanath. Begitupun secara filosofis, termasuk tiga belas tingkatan pada stupanya yang melambangkan tingkatan pencerahan. Dan juga dengan adanya lima Dhyani Buddha yang ditempatkan pada lima tempat mengelilingi stupa. Dan konon bagian tengah stupanya yang disebut Harmika, dilapisi oleh 20 kg emas.

DSC_0042.jpg

Detail salah satu torana, pada dasar puncak stupa.

Selain kemiripan itu, Swayambhunath memiliki lima torana pentagonal yang terpasang pada empat sisi stupa, dengan imaji yang terukir pada permukaan emasnya. Dalam Hinduisme, torana merupakan hiasan pada bagian pintu masuk rumah yang berfungsi untuk menarik hati Dewi Lakshmi, sang penguasa kemakmuran. Sementara dalam Buddhisme, torana adalah pintu gerbang keramat pada arsitektural mereka.

The Monkey Temple and Over Hill View Point

Swayambunath juga dikenal sebagai kuil kera, karena banyaknya kera yang disucikan, yang hidup berkeliaran di sekitarnya. Dalam Swayambhu Purana diceritakan dahulu ketika menemukan daerah itu Manjushri berambut pendek. Namun, kemudian ia memanjangkannya hingga banyak kutu yang bersarang pada kulit kepalanya. Dipercaya jika kemudian kutu-kutu tersebut berubah menjadi kera.

DSC_0014

DSC_0018

DSC_0048

DSC_0046

Puluhan atau mungkin ratusan kera jenis Rhesus Macaque (Macaca mulatta) terlihat hidup berkeliaran di sana. Seolah telah terbiasa, mereka tidak terlalu mempedulikan kehadiran manusia atau hewan lain di sekitarnya. Mereka  bermain, berlari, bersaing memperebutkan makanan, hingga memanjat ke puncak-puncak bangunan suci yang tersebar di pelataran Swayambhu.

IMG_4110

Sebagai mana layaknya kuil Buddha bergaya Tibet, di sekeliling stupa Swayambhu terdapat roda-roda doa yang diukiri oleh mantra Om Mani Padme Hum. Para peziarah, yang umumnya merupakan orang-orang keturunan Tibet, terlihat melakukan kora sembari memutar roda-roda bermantra tersebut. Sementara kami para turis, tenggelam dalam keasikan mengamati mereka dan detail-detail yang memenuhi pelataran kuil.

DSC_0017

Kompleks Swayambhunath sendiri merupakan salah satu contoh sinkretisme atau juga mungkin harmonisasi antara dua agama besar yang tumbuh berkembang di lembah Kathmandu, yaitu Hinduisme dan Buddhisme.

IMG_4103

DSC_0035.jpg

Kuil Harathi beraliran Hindu, di kompleks Swayambhunath.

Karena selain stupa Swayambhu dan vajra nya yang berlapis emas, yang mewakili agama Buddha. Pada areal kompleks itu juga terdapat bangunan lain yang disucikan oleh umat Hindu, di antaranya adalah dua kuil Hindu bergaya Sikhara yang dibangun oleh Raja Pratap Malla pada tahu 1646 Masehi. Dan juga kuil Harati, yang biasanya dikunjungi oleh para orang tua demi meminta perlindungan bagi anak-anak mereka dari serangan pagebluk.

Sebagai salah satu kompleks kuil paling terkenal di lembah Kathmandu, tentu berbagai macam pedagang souvenir menjadi bagian yang juga tak terpisahkan dari keseharian Swayambhu. Hanya saja, menurut saya para pedagang di sini -bahkan mungkin di seluruh Nepal- bukan type yang agresif dan pemaksa. Sehingga kami sebagai turis, merasa nyaman selama mengeksplor kompleks Swayambhu.

IMG_4111

DSC_0039

DSC_0011

DSC_0027

Setelah berkeliling mengamati detail pada kompleks kuil, kami memutuskan untuk beristirahat pada viewpoint yang berada di bagian timur stupa. Di tempat itu kami mengamati Kathmandu dari ketinggian, yang rapat oleh bangunan persegi dan kubus-kubus bertumpuk. Kepadatan kota nan eksotis itu terlihat samar di balik kabut debu, yang telah menguasai udara selama beberapa minggu.

Kami mencoba menebak, dimana kira-kira letak Kathmandu Durbar Square. Karena kesanalah kami akan menuju setelah itu, untuk melihat salah satu metropolis kuno dan seorang dewi yang tetap hidup serta dipuja hingga abad ke duapuluh satu ini. Basantapur dan Kumari!

IMG_4100


Kompleks Swayambhunath termasuk salah satu yang mengalami kerusakan akibat gempa pada 25 April 2015 yang menimpa Nepal. Meskipun stupa utama Swayambhu dapat menyintas dari bencana tersebut, namun beberapa bangunan di sekitarnya mengalami kerusakan yang cukup serius. Dan tulisan ini merupakan dokumentasi dari kompleks tersebut, jauh sebelum bencana itu menimpanya.

Protected by Copyscape Online Plagiarism Software

Advertisements

56 thoughts on “Nepal (11): The Monkey Temple

    1. BaRTZap Post author

      Terimakasih Qy, dan maaf ya selalu terlewat untuk reply komentarmu, gak muncul di notifikasi soalnya. Untung aja aku iseng-iseng cek komentar manual di postingan hehehe 🙂

      Swayambunath sekarang kabarnya sudah mulai diperbaiki, walaupun kemungkinan tidak semuanya dapat kembali seperti sediakala. Insya Allah kalau aku balik lagi kesana mampir deh, biar bisa kasih live report 🙂

      Like

      Reply
      1. Rifqy Faiza Rahman

        Nah itu berarti masih bermasalah nih notifikasinya, saya ndak paham hahaha. Saya sendiri pun, lebih memilih mengecek manual di laman comments, bukan dari notifikasi, gak tahu lebih lega aja gitu, aneh ya 😀

        Wah, ditunggu nih kabar kunjungan selanjutnya 🙂

        Like

  1. iyoskusuma

    Lucu banget anak monyetnya ya. Udah akrab sama manusia pula ^^

    Dulu berapa lama di Nepal, Mas Bart? Sendirian kah? Asa seru wisata budaya sendirian di tempat yang bener-bener asing. Menggiurkan!

    Like

    Reply
    1. BaRTZap Post author

      Di Nepal waktu itu sembilan hari mas, belum puas, soalnya belum sempat trekking di Himalaya. But soon, I will 😉

      Waktu ke Nepal ini berdua, awalnya rencana sendirian, tapi tiba-tiba ada yang mau ikut ,,, kebetulan udah biasa jalan sama dia dan cocok. Jadi yaaa, jadilah.

      Sendiri atau bareng-bareng, jalan di Nepal menyenangkan mas. Negeri yang eksotis, harga-harga murah, orangnya ramah, makanannya enak-enak dan porsinya luar biasaaaa 😀

      Liked by 1 person

      Reply
  2. Gara

    Di Indonesia, sufiks -natha nantinya akan berkembang juga dan menjadi “Jagatnatha” yang artinya “pelindung jagad raya”, kalau saya tak salah. Dan lima pasang hewan itu sangat menarik, sebab di Hindu kan hewan-hewan itu adalah wahana para dewa, termasuk tapi tidak terbatas pada Wisnu dengan garudanya, Durga dengan singanya, Indra dengan gajahnya (airawata), kalau kuda tergantung bagaimana penggambarannya, bisa Bayu atau Surya, dan merak untuk saktinya Brahma. Penasaran dengan bagaimana penggambarannya di sana.
    Dari cerita bahwa umat Hindu boleh bersembahyang di tempat Budha (meski tidak sebaliknya), says pikir Siddharta Gautama berhasil sebagai seorang awatara :haha. Ia turun untuk memperbaiki ajaran agama yang eksklusif di masa itu, dan kini semua orang di sana bisa beribadah dengan tenang :hehe. Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa kan yah :)).

    Liked by 1 person

    Reply
    1. BaRTZap Post author

      Ooo jadi Swayambhunath itu kurang lebihnya: Pelindung Jagat Raya yang Terlahir dengan Sendirinya. Gitu ya Gara? Wah, makasih ya info tambahannya.

      Nah itu, aku juga sempat penasaran sebenarnya lima hewan itu wahana para Dhyani Buddha atau dewa-dewa Hindu. Mengingat undakan tersebut dibangun oleh Raja Pratap Malla yang beragama Hindua.

      Aku rasa kamu harus berkunjung ke Nepal atau India deh Gara. Pasti dirimu akan bikin tulisan dari sudut pandang yang jauh lebih dalam dan luas, karena lebih paham 🙂

      Jadi itukah jawabannya Gar? Kalau gak salah kita pernah bahas ini juga ya. Tentang umat Hindu yang bisa bersembahyang di tempat ibadah umat Buddha. Maksudnya awatara gimana ya Gar? Pencerahannya dong, please ,,, 🙂

      Liked by 1 person

      Reply
      1. Gara

        Tanpa jagad raya Mas, soalnya pelindung jagad raya kan jadinya jagatnatha :hehe. Dan swayambhu itu salah satu atribut Brahman (Tuhan) dalam Hindu, unik juga melihat sebuah bangunan Budha menggunakan kata itu (terlepas dari mitosnya) :hehe.

        Dalam Bhagawad Gita, Wisnu berjanji untuk turun ke dunia apabila dunia ini sudah terlalu hancur/terlalu out of order. Perwujudan Wisnu turun ke dunia itu dinamakan Awatara, dan menurut beberapa purana, ada 10 awatara yang akan turun ke dunia. Termasuk di dalamnya Rama (7th), Kresna (8th), dan yang paling baru, Budha (9th). Tapi penganut Budha sendiri cenderung menolak paham ini, meski kami sebagai Hindu sih percaya :hehe.

        Liked by 1 person

      2. BaRTZap Post author

        O iya maafkan, natha nya saja ya yang artinya pelindung. Aku pikir itu dipendekkan lagi dari Jagadnatha.

        Mungkin penamaan Swayambhu ini hadir karena menggunakan akar bahasa yang sama, dan kebetulan nama ini juga dikenal di dalam Hinduisme. Tapi ini analisaku, dalam batas pengetahuanku yang masih acak ya hehehe …

        Oooo itu ceritanya, jadi di dalam purana sendiri sudah dinyatakan ya? Itu juga mungkin jawabannya mengapa umat Hindu dapat bersembahyang di kuil umat Buddha ya?

        Menyoal tentang awatara, aku jadi penasaran ,,, yang kesepuluhnya siapakah?

        Liked by 1 person

      3. Gara

        Boleh jadi, mereka memang berasal dari urat bahasa yang sama, kan.
        Menurut saya demikian. Buddha hadir untuk, menurut Hindu, “meluruskan ajaran agama yang keliru”, dalam hal ini sistem kasta dan eksklusivitas Weda bagi kaum brahmana. Oleh karenanya Hindu yang bertemu Buddha jarang yang bertentangan, mereka akan berasimilasi seperti di Indonesia, Kamboja, dan setelah saya membaca postinganmu, Nepal juga demikian. Cuma bentuk asimilasinya saja yang berbeda-beda.
        Namanya Kalki Awatara. Digambarkan sebagai ksatria berpedang dengan kuda putih.

        Like

      4. BaRTZap Post author

        Noted. Makasih banyaaak banget Gara untuk tambahan info dan ilmunya. Selalu senang kalau dirimu berkunjung dan komen dengan cara begini. Jadi makin lengkap materiku 🙂

        Liked by 1 person

    1. BaRTZap Post author

      Puas dan gak puas. Pengennya lebih lama lagi kalau bisa. Banyak yang aku skip juga, padahal udah sepuluh harian traveling nya. Patan kelewat nih ,,, kesana lagi yuk 😉

      Like

      Reply
  3. senangsenangyuks

    Apik banget ulasannya sama foto-fotonya, walau baca sampai akhir, kalo diujiankan aku pasti gak ingat lagi. Bisa kebayang ih naikkin tangga sebanyak itu, yang 200an aja kaya di Batu Caves aku udah gempor.
    Jadi tambah pengen ke Nepal. *mupeng banget*

    Liked by 1 person

    Reply
  4. Galih Mulya Nugraha

    Wah seru ya ceritanya. Kemarin waktu saya kesana yang terlihat rusak salah satu dari Hindu Temple Sikhara itu yang ambruk dan beberapa bangunan kecil lainnya. Beruntung Stupa Swayambhunath tidak rusak seperti saudaranya Stupa Boudhanath. Suasana dan pemandangan dari atas melihat ke seluruh lembah Kathmandu itu yang sangat menakjubkan. Sambil lihat matahari terbenam dari atas. Saya juga sedikit menulis ceritanya yang ternyata Kathmandu mirip dengan kota Bandung, sama-sama terbentuk dari Danau Purba.
    galihmulya.blogspot.com

    Like

    Reply
    1. BaRTZap Post author

      Nah kalau yang Kathmandu aku harus baca-baca dulu lagi, memang danau purba ataukah cuma legenda aja. Iya aku sempat lihat juga di postinganmu mas, tentang perbaikan Boudhanath. Btw, foto-fotomu keren-keren 🙂

      Like

      Reply
  5. Jefry Dewangga

    Wah keren tuh bisa ke Nepal mas, nggak sekalian muncak ke Himalaya? Hehehehe, emang asyik jadi blog traveller ada banyak dan lebih banyak cerita yang dapat dibagikan. Btw mas masih di Nepal ya? Di tunggu cerita perjalanan yang lainnya mas. ^_^

    Liked by 1 person

    Reply
    1. BaRTZap Post author

      Kemarin itu gak sempat muncak mas, initial visit aja. Insya Allah, kunjungan selanjutnya mau trekking ke Himalaya. Tapi kalau sampai muncak sih kayaknya nggak, modalnya belum kuat hehe.

      Ini udah di Indonesia lagi kok mas. Makasih kunjungan dan komen nya ya 🙂

      Liked by 1 person

      Reply
      1. Jefry Dewangga

        Sama-sama mas, owalah cuman berkunjung doang toh. Tapi keren lah bisa nyampe Nepal mas. Iya kemarin iseng2 lihat harga untuk muncak ke Himalaya sekitar $11,000. Bener bener mahal… :3 Alhamdulillah deh kalau udah nyampe Indonesia lagi.

        Liked by 1 person

      2. BaRTZap Post author

        Kalau untuk muncak memang mahal. Tapi kalau mau sampai base camp nya aja sih masih relatif terjangkau lah.

        By the way kok blog nya gak bisa dibuka ya mas? Padahal mau berkunjung juga hehe

        Liked by 1 person

      3. BaRTZap Post author

        Aku coba bukanya semalam sih. Nanti coba tak buka lagi ya.

        Yup bener banget. Kmarin temanku ke Everest Base Camp selama 2 mingguan, cuma habis 17 jutaan, all in dengan tiket, hotel, makan, porter, guide, perijinan dan lain-lain. Jauh banget khan dibandingkan harga summit nya? 😊

        Liked by 1 person

      4. Jefry Dewangga

        Hehehehe iya mas, mantap deh. Eh btw mas jadi blog traveler gitu biasanya sendiri apa bareng2? Menurutku jadi blog traveler pekerjaan yang asyik, ya walaupun bukan pekerjaan utama sih. Soalnya blog yang dikelola jadi lebih ekspresif dan selalu ada ajah cerita yang dapat dibagikan.

        Liked by 1 person

      5. BaRTZap Post author

        Maksudnya jalan-jalannya apa kelola blog nya? Kalau jalan-jalannya kadang aku sama temen, kadang sendiri. Dan belakangan lebih suka sendiri, karena bisa explore lebih banyak bareng orang lokal.

        Sementara blog ini aku kelola sendiri, dan belum jadi pekerjaan sih. Aku masih punya kerjaan utama, yang jauuuuuuuh banget hubungannya sama dunia blog dan traveling 😁

        Liked by 1 person

      6. Jefry Dewangga

        Iya maksud saya jalan-jalannya mas, ya gpp sih traveler sebagai pekerjaan sampingan. Kemarin aku lihat di trans tv ada sepasang blog traveler menjadi pemandu acara tersebut. Kan hebat tuh, siapa tahu mas juga nanti bisa jadi salah satunya.

        Emang kalau travel sendiri bisa lebih puas dan berlama-lama, kalau bareng2 kan ada sedikit rasa “sungkan” sama temen, mungkin dia udah pengen move apa masih pengen di tempat. 😀 Sukses selalu mas pekerjaan dan ngeblognya.

        Liked by 1 person

  6. Pingback: 9 Hal yang Bisa Dilakukan di Nepal | BARTZAP.COM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s