Nepal (5): Goodbye Nagarkot, Hello Bhaktapur!

Saya terbangun di pagi berikutnya dengan perasaan bersyukur karena tidak membeku ataupun terkena hypothermia. Walaupun wajah saya, sebagai satu-satunya bagian yang terbuka, seperti mati rasa. Aliran air panas pada waktu berwudhu kemudian sedikit membantu saya menghangatkan diri setelahnya.

Saya sempat membuka jendela, dan mencoba menikmati pemandangan Nagarkot di waktu fajar. Semuanya putih! Tertutup kabut. Hanya terlihat samar deretan pohon-pohon pinus, dan semak belukar di kaki bukit. Juga sebuah bangunan yang memiliki teras kecil terbuka pada puncaknya.

Mana dimana Cafe du Mont nya?

Bukit Mahankal masih diselimuti kabut tebal, ketika kami keluar dari hotel dan berusaha jalan kaki menikmati pagi. Rencananya pagi itu kami akan sarapan di Cafe du Mont, yang terletak tidak jauh dari hotel tempat kami menginap.

05B

Kabut di pungggung bukit Mahankal.

Cafe du Mont ini adalah sebuah restaurant yang menjadi bagian dari Peaceful Cottage. Menurut review yang saya baca di internet, dan dari gambar yang dipasang oleh Peaceful Cottage di website mereka, restaurant ini merupakan tempat yang cocok untuk bisa menikmati keindahan bentangan Himalaya sambil sarapan pagi.

Sebenarnya Nagarkot memiliki view point lain yang menjadi tempat utama untuk menikmati Himalaya. Tapi berhubung tempatnya agak jauh, maka kami memilih Cafe du Mont untuk itu. Lumayan khan, jaraknya lebih dekat, dan bisa disambi sarapan pagi?

Kurang lebihnya, seperti inilah suasana Cafe du Mont, dengan latar belakang Himalaya nya yang megah. Pasti sedap kalau sarapan di sini, dengan pemandangan seperti itu.

slide1

Teras Cafe du Mont dengan latar belakang Himalaya (source: Peaceful Cottage website).

Agak sulit untuk menemukan tempat ini, karena ketika saya merisetnya di google maps, lokasinya berada pada bagian bukit yang tidak memiliki penanda jalan. Cuma berupa point di tengah bukit yang penuh pepohonan.

Maka dengan sedikit mengandalkan visual-memory dan insting, saya berusaha mencari Cafe du Mont. Sementara travelmate saya menurut saja, karena memang dia belum sempat melihatnya di google maps. Dan akhirnya ketemu!

Ternyata bangunan yang saya lihat dari jendela kamar tadi pagi, adalah Cafe du Mont. Saya mengenalinya, dari bentuk teras terbuka pada puncaknya, yang rupanya digunakan untuk pengamatan 360 derajat.

Memang agak tricky, karena Cafe du Mont tidak terletak di pinggir jalan, melainkan agak sedikit masuk dari jalanan utama. Atau, memang kami tidak menemukan pintu masuk utamanya.

Matahari sempat muncul dan menggeser kabut, ketika kami sampai di Cafe du Mont.

05C

Saya, menikmati pagi yang beku di Nagarkot.

Roti Tibet dan Menanti Himalaya

Pagi itu kami memilih Tibetan Bread with Honey sebagai pembuka sarapan, dan pegawai Cafe du Mont menyarankan Ginger Tea with Honey sebagai minuman penyertanya. Konon berkhasiat untuk menjaga kesehatan tenggorokan di kala cuaca dingin seperti itu.

Roti khas Tibet yang disajikan pagi itu, rasanya agak mirip dengan donat. Bentuknya pipih lebar hampir memenuhi piring sajinya, dan teksturnya padat. Rasanya sedikit bergula, sehingga menjadi semakin manis ketika dimakan bersama madu. Tidak terlalu istimewa, tapi cukuplah untuk memuaskan rasa penasaran saya terhadap apapun yang berbau Tibet. Ya sekarang makan rotinya, siapa tahu besok-besok ke Tibet sungguhan. Amiin.

05A

Tibetan Bread with Honey dan Chilli Sauce yang epic itu.

Kabut dan matahari pagi itu sepertinya agak galau. Karena bisa tiba-tiba muncul bergantian. Matahari yang terang dan kabut menipis, kemudian kabut menebal dan membuat suasana menjadi gelap kembali. Begitu terus, berganti-ganti.

Kami sampai memesan makanan tambahan untuk sarapan, demi menanti Himalaya. Sepiring omelette, disajikan untuk berdua.

Saya agak terkejut ketika meminta chilli sauce untuk pelengkap omelette nya. Penampakan dan rasa chilli sauce di Nepal ini, sangat aneh buat saya. Warnanya hijau gelap kecoklatan, kental, dan berbau cuka. Rasanya campuran antara masam yang menggigit, dan pedas yang membakar. Pantas saja pelayan restaurant tadi seperti agak-agak kurang percaya ketika saya memesannya. Mungkin, memang chilli sauce Nepal ini tidak cocok untuk sarapan pagi. Indonesian chilli sauce is the best lah!

05D

Seperti inilah suasana teras Cafe du Mont di pagi itu.

Pada akhirnya matahari bersinar cukup terang dan kabut semakin menipis, tapi ternyata Himalaya tak juga tampak. Pegawai restaurant yang ramah, bercerita pada kami bahwa memang dalam dua hari belakangan itu lembah Kathmandu ditutupi kabut debu yang membuat jarak pandang berkurang. Jika saja kami datang tiga hari lebih awal, mungkin kami bisa menikmati apa yang kami nanti pagi itu.

Goodbye Nagarkot, Hello Bhaktapur!

Kami memutuskan untuk kembali ke hotel, setelah satu jam lebih menunggu kemunculan Himalaya. Karena hari itu kami berencana untuk meninggalkan Nagarkot dan mengeksplor kota tua Bhaktapur.

Satu-satunya alasan kami memilih Nagarkot sebagai persinggahan pertama, memang demi sarapan pagi sambil menikmati Himalaya. Tapi mungkin, itu bukan hari keberuntungan kami.

Dan terbukti nantinya, satu-satunya waktu keberuntungan kami berjumpa dengan Himalaya dari sembilan hari perjalanan itu adalah ketika di Pokhara. Namun begitu, kami tidak menyesal menghabiskan waktu di Nagarkot. Dan insya Allah, saya ingin singgah di Nagarkot, jika kembali mengunjungi Nepal.

05F

Saya bersama Razeen ~pengelola Hotel at The End of The Universe~, sebum pergi ke Bhaktapur.

Saya sempat menikmati beberapa cangkir masala tea di restaurant hotel, sebelum berpisah dengan Nagarkot. Berbincang-bincang dengan pegawai hotel yang ternyata pernah bekerja di Timur Tengah, dan mempunyai teman-teman yang berasal dari Indonesia.

Mobil jemputan kami hari itu, kurang lebih sama dengan mobil yang membawa kami sehari sebelumnya. Dan menjadi semakin sesak, karena salah seorang pemilik hotel, ikut bersama kami dalam kendaraan itu. Ternyata, keluarga mereka, tinggal di kota tua Bhaktapur.

05E

Bhaktapur Durbar Square.

Setelah kurang lebih empat puluh lima menit perjalanan, kami sampai di gerbang Bhaktapur. Kota tua itu sangat membangkitkan semangat petualangan, dengan penampakannya yang benar-benar kuno. Rasanya seperti terlempar ratusan tahun ke belakang. Bhaktapur, kami datang mengunjungimu! Baca lanjutan kisah perjalanan ini, di sini.

Protected by Copyscape Online Plagiarism Software

Advertisements

23 thoughts on “Nepal (5): Goodbye Nagarkot, Hello Bhaktapur!

  1. Pingback: Nepal (4): Overnight at The End of The Universe | BARTZAP.COM

  2. Gara

    Kompleks bangunan tuanya bersih banget dan sangat menakjubkan (sampai speechless ini Maas :haha). Dan entah kenapa, mereka membuat saya teringat pada kompleks bangunan suci di Pura Ulun Danu Batur. Kali ini saya yang merasa deja vu, padahal saya belum pernah mengunjungi Nepal sebelumnya :haha. Mungkin hanya kebetulan saja :)).

    Hm, pemandangan Himalaya di foto itu tampak sangat spektakuler. Tapi mungkin belum rezeki ya Mas, namun akhirnya rezeki itu tak lari ke mana, kan? :haha. Dan sambal itu awalnya saya kira pasta kacang hijau… ternyata pasta cabai :haha. Betapa makanan bisa disajikan dalam berbagai variasi!

    Liked by 1 person

    Reply
    1. BaRTZap Post author

      Betul, mengingat kalau di India apalagi Varanasi sudah pasti kotor dan kotoran pun dimana-mana. Hmmm mungkin itu isyarat suatu saat dirimu akan mengunjungi negara kerajaan Hindu terakhir di dunia itu Gara 🙂

      Iya betul, rejekinya baru dikasih pas di Pokhara. Cuma satu senja dan satu fajar, sisanya kabut dimana-mana. Dan chilli sauce nya itu bikin kapok 😀

      Liked by 1 person

      Reply
      1. Gara

        Amin, semoga suatu hari nanti ada kesempatan buat ke sana :hehe.
        Satu senja dan satu fajar, namun itu saya rasa sangat lengkap :)).
        Kayaknya chilli sauce itu makanan yang tak akan dicoba lagi kalau Mas kebetulan tandang ke sana :hoho.

        Like

    1. BaRTZap Post author

      Kalau cuacanya cerah sudah pasti sarapan di sini asyik banget mas, pemandangannya juara.

      Nagarkot biasanya selain digunakan untuk aklimatisasi sebelum pendakian ke tempat yang lebih tinggi juga disinggahi oleh para wisatawan yang ingin melakukan trekking di sekitarnya. Lumayan lah pemandangannya, dan jarak dari Kathmandu pun tidak terlalu jauh. Recommended for first timer 🙂

      Like

      Reply
      1. BaRTZap Post author

        Benar banget mas, bisa trekking-trekking di sini, dengan jalur yang menyenangkan. Misalnya mengambil jalur ke kuil Changgu Narayan yang legendaris.

        Fyi, untuk penerbangan ke Nepal bulan Maret April 2016 lagi murah lho. Kmarin cek-cek dengan Malindo bisa dapat 4 juta rupiahan aja pp 😉 *tebar racun*

        Mangga dilanjut, semoga betah yaaa 🙂

        Like

      2. iyoskusuma

        Hahahaha. Iya, berencana mengikuti jejakmu ke sana. *salim sama idola*

        Rencananya taun depan kok, masih lama. Udah liat tiket pun, sekitar segituan untuk Mei 2017. Hehe. Nanti pasti saya banyak tanya.

        Liked by 1 person

      3. BaRTZap Post author

        Hahaha ,,, yang ada aku yang ngefans sama gaya penulisanmu mas 🙂

        Siiiip, mangga tanya-tanya, insya Allah aku siap berbagi info 🙂

        Like

  3. Pingback: 9 Hal yang Bisa Dilakukan di Nepal | BARTZAP.COM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s