IMG_4107

Arjuna Homestay Pemuteran: a Sanctuary in the Alley

Keberadaan situs biorock terluas di dunia, karang-karang dangkal, posisinya yang lebih dekat ke surga snorkeling dan penyelaman Taman Nasional Bali Barat -juga Lovina-, serta suasananya yang lebih tenang, menjadi beberapa alasan yang membuat Pemuteran layak untuk diperhitungkan.

Ibarat harta karun ajaib, Bali adalah sebuah destinasi wisata di Indonesia yang tak ada habis-habisnya meskipun digali berulangkali. Selalu ada saja hal-hal menarik yang baru, atau belum tersentuh di pulau yang dihunjami ribuan pura ini. Bahkan setelah berpuluh-puluh tahun melalui masa booming kunjungan wisata, masih ada sisi-sisi pulau ini yang tetap alami dan menarik minat wisatawan untuk berkunjung. Salah satunya adalah Pemuteran.

Continue reading

Underwear for Traveling: an Essential Guide

Jika dilakukan survey terhadap sekelompok traveler, tentang benda apakah yang paling esensial untuk diperhatikan ketika traveling. Maka kemungkinan hanya sedikit saja yang memasukkan underwear -baik baju ataupun celana- ke dalam jawabannya. Entah kenapa, benda yang sebenarnya paling penting ini justru sering kali diabaikan? Continue reading

IMG_0716-2

Mendaki Madya Jawadwipawa

Napas saya menderu, menahan beban udara dingin yang mendesak paru-paru. Namun, masih ada satu bukit lagi, yang harus saya daki sebelum matahari menerjang batas horison. Satu bukit lagi! Dan dari kaki bukit saya melihat Bama melambaikan tangannya, memberi tanda jika ia sudah sampai pada tempat yang harus kami tuju. Puncak Gunung Prau.

Saya lupa detail terakhir pendakian itu, selain menerabas ranting-ranting beku dan belukar yang meninggalkan gatal pada lengan terbuka. Hingga akhirnya saya sampai di sana. Pada puncak madya Jawadwipa. Memandang berlapis-lapis awan ditimpa sinar surya pertama, yang membentuk samudra mega. Dan melahirkan siluet pulau-pulau imaji dari kemuncak para ancala. Sindoro, Sumbing, Merapi, Merbabu, Pakuwaja, dan beberapa yang saya tak kenal namanya. Continue reading

IMG_4188

Solo Trekking to Annapurna

“Karena hanya impianlah, yang membuat kita selalu terjaga dalam kehidupan.”

23 Desember 2013. Senja hari. Kami tercenung. Pada ia yang gagah ibarat benteng raksasa. Menjulang melebihi gemunung kebiruan, dan membentang ibarat naga terlelap. Rautnya keras dalam hitam, bersama lekuk-lekuk usia yang tajam. Bermahkotakan salju berpendar keemasan,  ditimpa semburat senja nan jingga. Ialah aalaya, tempat kediaman abadi, bagi sang hima (salju).

Saya berkaca-kaca, membayangkan keagungan Tuhan yang dengan kuasa-Nya telah menggulung samudra, hingga menjadi raja tertinggi dari segala daratan. Himalaya!

DSC_0177

Puncak-puncak range Annapurna Pegunungan Himalaya, pada senja itu. Dilihat dari desa Sarangkot. Desember 2013.

Continue reading

IMG_0271

Spring Across India: An Overland Journey

“Adventures do occur, but not punctually. Life rarely give us what we want, at the moment that we consider appropriate.” (E. M. Forster – A Passage to India)

Meskipun beberapa tahun belakangan ini saya sering bepergian, namun saya tidak pernah melakukannya seorang diri. Dan bepergian bersama orang yang saya kenal, telah menciptakan ruang kenyamanan tersendiri. Setidaknya saya tidak merasa kesepian.

Namun, tiba-tiba saya merasa bosan. Saya membutuhkan sebuah tantangan baru. Dan saya berpikir untuk melakukan solo traveling. Sebenarnya keinginan itu sudah timbul sejak lama. Tapi segudang kekhawatiran seringkali menghantui pikiran saya.

Continue reading

2015-02-14-13.58

Kembali Menulis. Mulai dari Mana?

Menulis adalah hadiah untuk diri sendiri. (Henry Miller)

17 September 2015. Pukul 10.30 pagi. Sebuah pesan singkat masuk ke dalam inbox Facebook saya, berselang beberapa menit setelah saya membagikan tautan artikel terbaru yang berjudul Au Revoir, Bhaktapur!

“Bro, gw salut sama lo, rajin banget nulis. Eh elo pernah ikutan workshop menulis gak? Gw pengen banget ngasah skill menulis gw. Gimana caranya bisa konsisten nulis di sela-sela rasa malas dan kesibukan bro?”, begitu isi pesannya.

Continue reading

IMG_2337

NetizenVaganza di Rumah Kreatif Bangsa

Konon, pondasi sebuah bangunan bukanlah batu atau tonggak yang dipancangkan. Melainkan filosofi. Yaitu nilai yang melandasi sebuah pemikiran. Ia merupakan inti tak kasatmata, yang juga menjadi jiwa bagi tumpukan material yang terbangun dalam bentukan tiga dimensi.

Kreatif! Hati saya menyerukannya, ketika pertama kali melihat bangunan berkubah setengah bola dengan atap bersisik trapesium berwarna putih cerah menyembul di antara desakan pencakar langit ibukota, di Jalan Gatot Subroto.

Continue reading