tips-trekking-di-musim-hujan-bartzap-dotcom

Trekking di Musim Hujan

Seorang rekan blogger dari Filipina pernah menyatakan betapa beruntungnya saya yang tinggal di Jawa Barat -khususnya kota Bogor-, karena dikelilingi oleh lima Taman Nasional, yaitu: TN Gunung Gede Pangrango, TN Gunung Salak Halimun, TN Gunung Ciremai, TN Kepulauan Seribu dan TN Ujung Kulon. Yang beberapa di antaranya termasuk ke dalam Situs Warisan Dunia (TN Ujung Kulon), dan Cagar Biosfer (TN Gunung Gede Pangrango) yang diakui oleh UNESCO.

Intinya, dengan sedikit usaha, saya sudah bisa sampai dan menikmati alam bebas yang berada di dalam perlindungan nasional dan dunia. Terutama untuk melakukan kegiatan alam yang murah meriah seperti trekking di pegunungan, dan hutan belantara. Seperti yang saya lakukan dalam dua minggu terakhir ini, sebagai persiapan sebelum keberangkatan saya kembali ke Himalaya, untuk mencapai Everest Base Camp (EBC) pada bulan April 2017 mendatang.

curug-cibeureum-tngpp-tips-trekking-di-musim-hujan-bartzap-dotcom

Di Curug Cibeureum, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Cibodas.

Namun, trekking pada musim penghujan yang panjang -seperti tahun ini- memerlukan beberapa perhatian khusus. Yang pada dasarnya harus diterapkan demi kenyamanan dan keselamatan trekker itu sendiri.

Pakaian: Bagaimana dan Harus Pakai Apa?

Pakaian yang nyaman adalah modal dasar untuk menjalani trekking yang menyenangkan. Karena itu merupakan material yang melekat langsung pada tubuh trekker, dan akan dibawa kemanapun diri melangkah.

Pada dasarnya, hal terpenting yang harus diingat dalam pemilihan pakaian untuk trekking adalah: hindari penggunaan katun atau bahan yang porsi katunnya dominan!

Karena secara material, katun bersifat menyerap air, lambat kering, dan merupakan insulator yang buruk pada kondisi basah. Bahkan ketika basah, katun justru menjadi material yang dapat menyerap panas tubuh, sehingga dapat menaikkan risiko terjadinya hypothermia.

ultra-lightdown-tips-trekking-di-musim-hujan-bartzap-dotcom

Ultralight Down Jacket, cocok dijadikan lapisan penyekat yang hangat namun ringkas untuk dibawa.

Pakaian dengan bahan dasar sintetik semacam polar fleece, ataupun wool alami, jauh lebih cocok bagi kegiatan trekking. Serta penggunaan teknik layering atau pelapisan dalam berpakaian akan membantu dalam menjaga kestabilan suhu trekker di kala hujan.

  • Lapisan Dasar: Dry Fit Underwear merupakan investasi yang bagus bagi seorang trekker baik di musim panas maupun musim penghujan/dingin. Begitupun bagi mereka yang sering bepergian dalam jangka panjang. Karena, dry fit underwear umumnya ringkas, nyaman digunakan, cepat kering, dan mampu menjaga suhu tubuh lebih stabil. Pada kondisi suhu udara yang lebih ekstrim, penggunaan long-john mungkin juga diperlukan.
  • Lapisan Luar: Prinsip yang sama juga diterapkan untuk pemilihan baju dan celana bagian luar. Yang ketika hujan tetap mampu menjaga kestabilan suhu tubuh trekker, mudah kering jika basah, dan tetap sejuk ketika cuaca panas kembali.
  • Lapisan Penyekat/Penghangat: Sweater berbahan merino wool, ataupun ultralight down jacket dengan isian bulu angsa, cocok bagi pelapis selanjutnya, yang dapat menjaga suhu tubuh tetap hangat ketika udara menjadi dingin. Penambahan windbreaker jacket juga bisa dilakukan seandainya diperlukan. Sedangkan kaus kaki berbahan merino wool, dapat dipakai untuk menjaga kehangatan pada area kaki.
  • Lapisan Anti Air: Jas hujan khusus kegiatan luar, baik yang berbetuk poncho maupun two pieces (atasan dan bawahan terpisah) adalah hal wajib selanjutnya, demi menjaga lapisan-lapisan sebelumnya tetap sekering mungkin. Hindari penggunaan jas hujan biasa, yang pada umumnya tidak dirancang untuk penggunaan yang lebih berat (heavy duty), dimana materialnya tipis dan mudah robek.

Alas Kaki: Sepatu atau Sandal?

Sepatu yang sesuai adalah hal terpenting selanjutnya yang harus diperhatikan. Apalagi jika ada kemungkinan kegiatan tersebut dilakukan pada kondisi basah dan hujan. Berikut ini adalah hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemilihannya:

  • Jenis: Gunakan sepatu yang memang didesain khusus untuk trekking. Yang cukup kuat dalam menanggung beban tubuh dan bawaan, serta sesuai dengan medan yang dilalui. Pastikan sol nya mempunyai daya cengkeram yang baik, dan stabil pada medan-medan licin.
  • Pelapis: Carilah sepatu yang tahan air namun tetap memiliki sirkulasi udara yang baik. Misalnya yang memiliki bahan pelapis luar dari Gore-Tex.
  • Ukuran: Pastikan tidak kekecilan, terutama setelah penggunaan kaus kaki. Dan untuk menghindari terjadinya lecet serta ketidaknyamanan, pilihlah sepatu yang lebih besar satu ukuran. Misal, jika biasa menggunakan sepatu ukuran 40-41, maka pilihlah ukuran 42-43 untuk sepatu trekking.
sepatu-trekking-tips-trekking-di-musim-hujan-bartzap-dotcom

Sepatu khusus trekking akan lebih optimum dalam melindungi kaki, dibandingkan sepatu biasa.

Sepatu trekking yang tepat, biasanya didesain untuk melindungi otot kaki, termasuk dari kemungkinan terkilir ketika berada pada permukaan yang tidak rata. Serta menjaga area persendian dari tekanan yang berlebihan. Penggunaan gaiter juga dapat ditambahkan untuk melindungi masuknya air ke dalam sepatu, ataupun dari serangan lintah.

Selain itu, meskipun lebih terbuka, sandal gunung juga bisa dijadikan sebagai alternatif alas kaki untuk trekking di musim hujan. Namun, sandal gunung tidak sesuai untuk trekking dalam jangka waktu yang panjang dan bermalam.

Tas: Antara Dry Bag, Backpack, dan Carrier

Tas yang digunakan ketika trekking di musim hujan tentu harus disesuaikan dengan beban yang dibawa, baik dari segi ukuran maupun jenisnya. Namun, poin penting yang harus diperhatikan adalah tas tersebut memiliki mekanisme perlindungan terhadap air.

Untuk trekking singkat yang tidak lebih dari satu hari, dry bag ukuran 5 hingga 10 liter bisa digunakan. Sedangkan untuk trekking yang memakan waktu lebih lama, dan pada kondisi hujan yang lebih sering, maka backpack ataupun carrier yang dilengkapi dengan cover anti air jauh lebih cocok.

Serta jangan lupa untuk menyimpan gawai dan alat dokumentasi digital pada tas khusus yang memiliki perlindungan serupa.

Perhatikan Detail Lokasi dan Info Cuaca

Umumnya belantara yang tua dan rimbun, jauh lebih aman dijadikan sebagai jalur trekking di musim hujan, dibandingkan dengan lereng-lereng terbuka, terlebih yang banyak diisi oleh bebatuan yang tak stabil.

telaga-biru-tngpp-tips-trekking-di-musim-hujan-bartzap-dotcom

Namun, untuk lebih detailnya sebaiknya trekker bertanya pada pos-pos jagawana lokal yang lebih menguasai medan setempat. Begitupun dengan info prakiraan cuaca dan hal-hal khusus yang berlaku di lokasi tersebut. Misalnya seperti: daerah yang boleh dilalui, binatang buas yang mungkin ada, ataupun wilayah terlarang yang sama sekali tak boleh dimasuki.

Tips: Trekking Ketika atau Setelah Hujan

Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan ketika trekking di tengah hujan maupun setelahnya:

  • Pastikan agar tubuh tetap sekering mungkin dan suhu selalu terjaga, terutama ketika hujan berlangsung di area trekking yang jauh dari tempat berlindung. Penggunaan jas hujan dan lapisan penghangat yang tepat, menjadi kunci utama poin ini.
  • Selalu waspada pada area pijakan, ketika hujan sedang berlangsung ataupun sesudahnya. Karena terkadang bagian licin tidak selalu tampak kasat mata.
  • Jika tak mungkin dihindari, lalui secepat mungkin, area yang berada di atas atau di bawah lerengan terbuka. Apalagi jika area tersebut memang dikenal sebagai daerah rawan longsor.
  • Berhati-hati ketika akan menyeberang atau beristirahat di aliran sungai, karena banjir bandang bisa saja tiba-tiba muncul akibat hujan lokal yang terjadi di bagian hulu.
  • Jika hujan disertai oleh angin kencang, waspadai pepohonan tinggi yang terlihat rapuh dan mungkin saja roboh.
curug-goa-lumut-tmana-nasional-gunung-halimun-tips-trekking-di-musim-hujan-bartzap-dotcom

Bermain air sejenak memang menyenangkan. Tetapi di musim hujan, harus lebih waspada.

***

Meskipun tampak agak berbahaya, sesungguhnya trekking di musim hujan tetap bisa menjadi kegiatan yang aman dan menyenangkan. Selama trekker benar-benar disiplin, memperhatikan peralatan yang dibawa, serta aturan-aturan yang ada.

vegetasi-hutan-hujan-tips-trekking-di-musim-hujan-bartzap-dotcom

Sepengalaman saya, selain menantang, trekking di kala hujan juga menghadirkan sensasi yang berbeda. Terutama ketika tanah dan pepohonan menguarkan aroma alaminya yang terekstrak oleh guyuran hujan seketika.

Tak percaya?
Kalau begitu, kalian harus coba!

Protected by Copyscape Online Plagiarism Software

54 thoughts on “Trekking di Musim Hujan

  1. Alid Abdul

    Warbiyasak tipsnya Om Bart. Aku sudah lama nggak nanjak hehe. Memang benar aroma tanah dan tumbuhan ketika hujan akan mengeluarkan aroma yang berbeda. Iya saya pernah kehujanan dua jam di Gunung Penanggungan. Banyak keplesetnya, pulang-pulang pijet wkwkw

    Liked by 1 person

    Reply
    1. BaRTZap Post author

      Ayolah nanjak lagi. Apa perlu aku samperin ke Jatim buat nanjak bareng?

      Iya, dan entah kenapa aroma alami akibat guyuran hujan pertama itu selalu enak buat disesap. Menenangkan. Asal gak hujan angin aja sih hehehehe🙂

      Gunung Penanggungan itu dua jam naik turun apa gimana?

      Btw, di kotamu ada gunung atau daerah yang asik buat dipakai trekking gak? Share dong🙂

      Like

      Reply
      1. Alid Abdul

        Yah klo pp sih bisa 8 jam wakakaka. Pendek tapi melelahkan. Di tempatku ada Arjuno tp gapaham ada jalurnya atau tidak. Beberapa kali sempet nemu foto di sosmed ada yg nanjak tp begitu ditanyain kayak rahasia-rahasia gitu. Huvt. Bukan jalurnya pendikian umum jadi gak berani uji nyali 😖

        Liked by 1 person

      2. BaRTZap Post author

        Wah, kaya nya seru tuh. Asal ada jalur yang relatif aman sih aku pengen coba juga.

        Hahaha suka gitu ya, dirahasiain tapi sekaligus dipamerin. Hmm kadang ada bagusnya juga sih, biar gak cepat rusak diserbu trekker dadakan😀

        Coba, nanti kita tanyain sama Rifqy Papan Pelangi. Siapa tau dia punya info yang lebih valid.

        Like

      1. BaRTZap Post author

        Wah, menarik nih. Mandala alami. Kayanya masih sedikit yang bahas soal naik gunung untuk ngulik situs-situs purbakalanya.

        Gara, kamu bisa jadi blogger spesialis di bidang ini deh.

        Like

    1. BaRTZap Post author

      Low season lah ya di atas sana🙂

      Yang pasti gak kalah menyenangkan juga untuk trekking di ‘wayah rendeng’ begini. Selama gak ada larangan atau penutupan jalur sih, harus dicoba.

      Like

      Reply
      1. BaRTZap Post author

        Ooo gitu. Ya siapa tau nanti kalau aku ke Sumsel kita bisa lah trekking bareng. Mumpung banyak kenalan blogger lainnya juga di sana. Asal pada suka aja jalan-jalan di alam gitu.

        Tapi seru deh pasti kalau rame-rame🙂

        Liked by 1 person

  2. Emakmbolang

    aku sik sering gawe sandal jepit asal nggak pas musim hujan. lebih santai dan relax meski sering putus, hahaha. klo pilihan sandal atau sepatu trekking? lebih suka sepatu, kaki ketutup dan nggak gatel gatel.

    Liked by 1 person

    Reply
    1. BaRTZap Post author

      Hahaha aku jadi inget, pertama kali naik Gunung Gede di tahun 96, salah satu temanku trekking nya pakai sandal jepit. Alhasil, yaaaa putus di tengah jalan.

      Karena gak ada yang bawa sandal dan sepatu serep, serta kasian liat dia nyeker. Akhirnya, kami kasih dia kaos kaki.

      Turun via Gunung Putri pakai kaos kaki. Begitu nyampe Cipanas, kaos kakinya udah hancur berantakan hahaha.

      Pokoknya, jangaaaan sekali-kali naik gunung pakai sandal jepit. Bukannya asik, malah jadi sengsara.

      Like

      Reply
  3. Gara

    Jadi malu tadi langsung mengajak Mas Alid buat langsung menanjak Penanggungan, padahal mendaki itu butuh persiapan dan peralatan yang mumpuni juga. Sepertinya nilai investasi yang dibutuhkan tidak sedikit ya, tapi namanya demi keselamatan, ketimbang kenapa-napa di atas gunung kan jadi berabe juga yah, hehe. Tapi fotonya keren-keren banget Mas.
    Eh apa kapan-kapan kita cari situs di Bogor saja kali ya? Saya pernah lihat tengara menuju sebuah punden berundak tapi buat mencapainya mesti trekking 4km…

    Liked by 1 person

    Reply
    1. BaRTZap Post author

      Hahaha gak papa Gara. Awalnya khan ajakan dulu, kalau diseriusin, baru deh dipikirin peralatan dan persiapan lainnya.

      Yuuuuk, justru itu yang aku tunggu. Gak sekedar trekking, tapi juga sekaligus ‘mencari jejak’. Sesuai dengan nama blogmu khan? Hehehe.

      Like

      Reply
  4. Bawangijo

    Belom pernah trekking di gunung beneran, lemah pisik saya mah takut nyusahin orang haha
    Aku pernah hiking/walking singkat pas hujan salju, treknya gak keliatan jadi bingung mau ke mana, tapi seru

    Liked by 1 person

    Reply
    1. BaRTZap Post author

      Harus coba kalau gitu kapan-kapan, gak usah yang terlalu tinggi. Seperti jalur trekking ke Curug Cibeurem di TNGGP ini, gak terlalu sulit. Nanjak di awal aja, selebihnya santai.

      O iya ya, di salju begitu kalau kita trekking di depan. Kalau di belakang khan tinggal ngikutin jejaknya aja🙂

      Like

      Reply
  5. Pink Traveler

    Di Sumsel ada Pagaralam dengan gunung Dempo dan bukit Serelo (bukit berbentuk jempol tangan). Btw aku penasaran sih sm underwear dry fit itu ada gak buat cewek, kayaknya kalo ke mall belum nemu deh. Sepatu trekking kayaknya susah dicari ya, apa belinya di toko khusus peralatan trekking? Soalnya klo mampir ke toko Eiger gak lihat sepatu trekking klo sendal banyak. Kalo trekking musim hujan yg jadi pikiranku dimana pipisnya soalnya klo udara dingin bawaanya bakal sering ekskresi

    Liked by 1 person

    Reply
      1. BaRTZap Post author

        Ini artinya, kamu harus coba! Baru nanti tentukan, suka naik gunung atau nggak hehehe.
        Tapi trekking gak harus selalu naik gunung sih.

        Like

    1. BaRTZap Post author

      Sip, aku catat ya tambahannya, bukit Serelo.

      Dry fit underwear buat cewek? Ada kok, banyaaak. Malah jangan-jangan lebih banyak buat cewek, variasinya. Kalau misalnya agak sulit nemu di mall, coba di olshop-olshop besar di internet Na. Banyak kok, hampir setiap brand menyediakan. Mulai dari Nike, Under Armour dan sebagainya. Mungkin, namanya bukan dry fit. Tapi kalau bingung, bisa dilihat juga dari deksripsi material penyusunnya.

      Untuk sepatu trekking di E*ger aku rasa tergantung stock di tokonya. Kalau di Bogor sih ada. Cuma aku belinya di toko peralatan outdoor lain, soalnya aku beli brand lain.

      Nah! Kalau lagi kegiatan di alam, ya urusan kaya gitu juga di alam. Cuma, harus Tanya dulu sama jagawana setempat, kebiasaan di situ bagaimana. Jangan sampai nanti kita ‘nandain’ di wilayah kekuasaan harimau, terus terendus sama mereka, eh malah dikejar-kejar. Amit-amiiit😀

      Tapi aku pernah liat ya, alat khusus untuk penampung urin bagi trekker wanita kalau mau naik gunung gitu. Baca aja sih sekilas, pas lagi nyiapin itinerary Himalaya.

      Liked by 1 person

      Reply
    1. BaRTZap Post author

      Tips ini bisa dipakai juga untuk daerah bersalju lho kak.

      Nah, waktu itu aku beli Ultralight Down Jacket nya menjelang spring, dapat diskon lumayan. Sampai 300 ribu kortingannya. Aku sih rekomendasiin UNIQLO, karena ultralight down jacket nya benar-benar ultralight. Setelah dilipat, besarnya cuma dua kali kepalan tangan, dan benar-benar ringan. Plus udah dicoba di atas Himalaya, tetap hangat meskipun di bawah nol🙂

      Bukan buzzernya, tapi pengakuan customer yang puas🙂

      Like

      Reply
  6. Matius Teguh Nugroho

    Sejak pengalaman mendaki Gunung Merbabu saat musim hujan, aku sebisa mungkin menghindari kegiatan pendakian saat musim hujan,tapi juga nggak di tengah puncak kemarau hehe. Selain supaya bisa dapat pemandangan kece tanpa terhalang awan mendung (meskipun ternyata pemandangan di Merbabu saat sampai puncak masih cukup cerah), aku agak males dengan medan tanah basah atau lumpur yang menanjak / menurun. Selain itu, pakai ponco itu juga menghambat pergerakan.

    Sepatuku nggak khusus sepatu gunung, tapi syukurnya daya cengkeramnya baik sehingga tetap aman digunakan untuk memanjat batu sekalipun. Baju-baju di dalam backpack 60L, selain aku lapisi rain cover, juga aku masukkan ke dalam kantung plastik untuk mencegah air rembes😀

    Liked by 1 person

    Reply
    1. BaRTZap Post author

      Ya memang trekking atau pendakian di musim hujan itu pilihan sih Gi. Yang penting, dilakukan selama jalur trekkingnya masih dibuka alias tidak ada larangan resmi. Gak tau sih, kalau aku malah agak demen ‘kecek’. Seru aja hahaha

      O iya, soal kantung plastik masuk ke dalam rucksack, kaya kita sama. Aku juga lakukan itu, bahkan ketika traveling biasa, karena juga akan mempermudah dalam mengeluarkan barang-barang lainnya.

      Liked by 1 person

      Reply
    1. BaRTZap Post author

      Terimakasih Khai🙂

      Wah ternyata masih ada keturunan Jawa Timur juga ya Khai? Leluhurmu Jawa Timur nya dari kota mana, dan kapan terakhir kali berkunjung ke Jawa? Ayo sini, main-main ke Indonesia.

      Like

      Reply
  7. sarah

    Tips yang manteb sekali. Aku belum pernah trekking sih, tapi Kalo blusukan keluar masuk hutan udah sering. cuma liat lokasi tanah tok tok. Pas habis hujan pulak, terus masuk lokasi tanahnya gambut lagi . Bener bener pengalaman yang susah dilupakan. Pengin sih trekking, tapi kayaknya musti modal banyak, selain healthy ya.

    Liked by 1 person

    Reply
    1. BaRTZap Post author

      Makasih Sarah.
      Kayaknya blusukan keluar masuk hutan itu udah termasuk trekking juga, gak mesti nanjak gunung kok. Aku malah penasaran, lahan gambut itu bentuknya kaya apa. Soalnya belum pernah lihat langsung🙂

      O iya, pada dasarnya trekking itu gak perlu modal banyak sih. Kalau bukan musim penghujan, kita bisa trekking lebih santai. Yang penting tetap disesuaikan saja peralatannya, gak harus mahal, tapi tetap harus tepat guna🙂

      Like

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s