Taksi mungil yang membawa kami menuruni area perbukitan Swayambhunath melaju gesit di dalam labirin Kathmandu yang berliku. Bergerak menusuk keriuhan dalam jalanan sempit yang diapit tembok-tembok bata tua mengangkasa. Inisiatif sang supir yang membawa kami memotong jalan melalui daerah penduduk yang padat justru saya syukuri, karena dengannya saya bisa melihat wajah Kathmandu yang renta namun menawan. Entahlah, rasanya itu semua eksotik. Di atas jalan yang beralas kubus-kubus batu dan bata, semua berpadu. Tua, muda, pria, wanita, warga biasa hingga para sadhu. Continue reading
Nepal (12): The Ancient Metropolis and The Living Goddes
74 Replies
