“Adventures do occur, but not punctually. Life rarely give us what we want, at the moment that we consider appropriate.” (E. M. Forster – A Passage to India)
Meskipun beberapa tahun belakangan ini saya sering bepergian, namun saya tidak pernah melakukannya seorang diri. Dan bepergian bersama orang yang saya kenal, telah menciptakan ruang kenyamanan tersendiri. Setidaknya saya tidak merasa kesepian.
Namun, tiba-tiba saya merasa bosan. Saya membutuhkan sebuah tantangan baru. Dan saya berpikir untuk melakukan solo traveling. Sebenarnya keinginan itu sudah timbul sejak lama. Tapi segudang kekhawatiran seringkali menghantui pikiran saya.
“Apakah perjalanan saya akan sama menyenangkannya jika saya lakukan seorang diri? Bagaimana saya mengatasi kegugupan di tempat asing? Bagaimana saya menikmatinya? Bagaimana jika terjadi sesuatu yang bersifat emergency? Atau, apakah saya akan merasa kesepian selama solo traveling?”
Setelah beberapa saat, saya berpikir bahwa saya tidak akan pernah tahu jawaban dari semua pertanyaan itu. Kecuali, jika saya mencobanya.
Maka setelah sedikit berjuang untuk mendapatkan ijin cuti yang agak panjang dari kantor, saya berkesempatan untuk mencoba solo traveling. Dan saya memilih India, sebagai tantangan pembuka.
Land of Adventures
Dari semua negara di Asia yang ingin saya kunjungi, maka India menempati posisi paling tinggi. Banyak yang bertanya dan berkomentar: “kenapa bukan negara lain yang lebih modern? India khan kumuh, kereta nya parah, orang-orang berjejalan, tingkat kriminalitas tinggi! Mau lihat apa di India?” dan segudang kalimat sejenisnya.
Tapi entahlah, di mata saya India itu eksotis. Dari buku-buku dan media lainnya yang menjadi referensi saya, India terlihat penuh warna, kaya sejarah, sekaligus menyimpan banyak kejutan. Meskipun saya juga tahu ada banyak masalah, yang bisa menjadi tantangan besar selama menjelajah negeri itu.
Belum lagi, pada bulan-bulan menjelang keberangkatan, saya membaca beberapa berita kriminalitas yang tengah disorot hangat di New Delhi. Ditambah beberapa cerita tentang scam yang merajalela di sana. Jujur, saya sempat gentar. Tapi panggilan itu terlalu kuat. Dan hal-hal kurang menyenangkan yang saya dengar tentang India, justru membuat saya merasa semakin tertantang.
Kemudian saya mengambil peta. Menetapkan sebuah jalur panjang di bagian utara Hindustan. Membentang dari sisi timur ke belahan barat, dan tak lupa menusuk jantung Rajasthan. Kolkata – Varanasi – Agra – Udaipur – Delhi – Amritsar. Jalur sepanjang 2630 km yang akan saya susuri selama 17 hari.
Adrenaline saya mengalir deras membayangkan perjumpaan dengan India, dan segudang pertanyaan yang menunggu untuk ditemukan jawabannya.
Jaago Yatri Jaago!
Berpindah dari satu kota ke kota lain di atas anak benua seluas India, tentunya bukan hal sepele. Saya harus memutuskan untuk mengambil moda transportasi paling efisien, terjamin kehandalannya, aman, serta terjangkau harganya. Dan India memiliki jawaban yang sempurna untuk itu. Menggunakan kereta!
Sistem kereta api India adalah termasuk yang terbesar di dunia. Dengan total panjang rel mencapai 115.000 km dan melayani kurang lebih 23 juta penumpang per hari. Wow, saya sempat terkesima dengan jumlah penumpang yang akan menjadi saingan saya!
Gambaran akan deretan gerbong yang dijejali penumpang hingga ke atap-atapnya sempat membayangi hari-hari riset perjalanan ini. Namun, setelah itu saya tahu, bahwa kereta api India, tidaklah seburuk itu. Jika kita cukup beruntung!
Maka saya memulai petualangan yang sesungguhnya, jauh-jauh hari sebelum saya menapaki tanah kelahiran epos-epos legendaris itu. Melalui perburuan tiket kereta api yang cukup menguras emosi. Bayangkan, untuk dapat membeli tiket kereta secara online saya harus membuat akun khusus, dan harus memiliki sebuah nomor kontak lokal India. Bagaimana mungkin?
Berhari-hari saya mencari cara agar bisa memecahkan masalah tersebut, hingga akhirnya saya menemukan solusinya. Ternyata saya cukup menyetorkan copy passport saja, ke seorang pejabat berwenang di jawatan kereta api India. Lalu ia mengirimkan sebuah kode untuk pembuatan akun yang saya butuhkan. Baru kemudian saya mendapatkan login name dengan sebuah kode rahasia pribadi.
Secara online, tiket kereta api India hanya bisa dibeli minimal 90 hari sebelum jadwal keberangkatan, dan itupun tidak boleh telat barang sebentar. Karena dalam waktu cepat, tiketnya habis terjual. Belum lagi mereka memiliki aturan kelas gerbong, pemilihan jenis bangku dan tempat tidur, serta kode-kode jenis tiket yang ‘cukup’ menjebak jika kita tidak jeli.
Tiket yang terbeli, belum tentu bisa langsung dipakai. Selain tiket berkode CNF (confirmed), yang sudah pasti keberangkatannya. Mereka juga memiliki tiket berkode WL (wait-listed) dan RAC (reservation against cancelation). Kode-kode itu membuat saya harus berhati-hati ketika melakukan pemesanan, sementara saya harus bergerak cepat agar tidak kehabisan.
Perusahaan Kereta Api India (IRCTC) menekankan agar setiap traveler jeli dalam melakukan pemesanan, dan memperhatikan setiap persyaratan yang terdapat dalam tiket mereka. Sedikit kesalahan, maka bisa berarti tiket kita terbuang. Untuk itu, mereka sampai harus menuliskan jargon yang sangat terkenal dan dicantumkan pada tiket-tiket yang dijual secara online: Jaago Yatri Jaago! (Wake up Traveler Wake up!)
Untungnya pengurusan e-Tourist Visa (eTV) India di Indonesia tidaklah rumit. Sehingga pada awal musim semi di bulan February 2015, saya dapat berangkat ke India. Dan inilah kisah singkat saya.
Kolkata: British of India
Pada tengah malam 11 Februry 2015, saya dengan lancar dapat melewati pos Imigrasi di Bandara Netaji Subhas Candra Boshe, Kolkata.
Pelajaran yang saya temui pertama kali adalah: Solo traveling, tidak berarti sendiri dan kesepian!
Seorang pemuda berwajah oriental a la boyband Korea namun bernama Jawa yang saya kenal secara tak sengaja di KLIA2, menemani saya malam itu. Namanya Hermanto. Bersamanya, saya menembus pekatnya malam Kolkata, di atas taksi kuning Ambassador yang unik. Setelah sebelumnya kami melewati ‘drama’ penyambutan a la India di bandara.
Kolkata yang tua, terasa sangat kontras dengan bandaranya yang beratap tinggi dan berdesain modern. Tumpukan bangunan persegi berjejalan di mana-mana. Kumuh dan berdebu, menguarkan aroma sungai-sungai yang airnya tak lagi laju mengalir. Gedung-gedung baru berusaha memberi aksen di antara dominasi bangunan bergaya kolonial. Kolkata yang senyap namun meneriakkan keriuhan, malam itu hanya diisi dengan lolongan anjing jalanan.
Saya tak punya waktu banyak di Kolkata. Keesokan harinya, bersama Herman dan Alana -seorang traveler wanita asal Australia yang saya kenal di guesthouse-, saya menyusuri kota itu, untuk mencari SIMCard India, mencicipi kathi roll, dan merekam sudut-sudut peninggalan kolonial Inggris.
Impresif! Kolkata berbeda di siang hari. Meskipun kota itu riuh, padat, dan terkesan tua, namun ia terasa ramah. Saya merasa aman berada di dalamnya, berjalan di antara kepadatan manusia yang menyela gedung-gedung bergaya kolonial Inggris. Sistem kereta bawah tanahnya, meskipun terkesan tua, terlihat bersih dan tertib.
Varanasi: City of Lights
Pada pagi selanjutnya saya tiba di Varanasi seorang diri, berpisah dari Hermanto yang memilih Dharamsala sebagai titik selanjutnya. Kota itu terasa berpuluh kali lebih padat daripada Kolkata. Luas jalanannya yang tak seberapa, lebih dipenuhi lautan manusia daripada kendaraan. Wajar, karena ribuan peziarah mengalir setiap harinya. Berduyun-duyun menuju sungai Gangga untuk melakukan mandi suci. Melepas doa, memanjatkan puja untuk melebur karma.

(kiri): ritual mandi suci di salah satu ghat Varanasi. (kanan): saya menikmati Varanasi, dari atas perahu di sungai Gangga.
Kota itu tak pernah tidur, pun tak pernah mati. Lonceng-lonceng berdentang pada sepanjang Gangga, yang dibatasi sodetan Varuna dan Assi, sejak fajar merekah hingga malam tertelan sinar kembali.
Bagi pejalan yang terobsesi pada India, Varanasi memberi wajah yang diimpikan. Istana serta kuil pemujaan berdiri selang berganti, tanpa jeda pada sisi Gangga. Kau mencari bangunan bergaya apa? Semua ada di sana.
Lagi dan lagi pada setiap senja, ribuan orang memenuhi ghat (tepian sungai yang bertangga) untuk menyaksikan Gangga Aarti. Dimana mantra-mantra yang dirapalkan para pandit dalam balutan kain merah kunyit, memenuhi udara yang sesak oleh asap dupa. Tak peduli pada dinginnya musim semi, kami selalu kembali.
Sementara kuil-kuil perabuan tak mengalami henti, bersama api yang melesakkan raga menuju keabadian. Kota itu ibarat gambaran Samsara. Lahir, hidup, mati dan kemudian lahir kembali.
Agra: Jewel of the Mughal
Saya memasuki Agra tiga hari kemudian. Saya mengingat, pagi yang dingin merambah kulit ketika kereta malam yang saya tumpangi melewati sisi Red Fort yang gagah, sebelum memasuki kota. Bersama kenalan tiga orang pria Spanyol yang tiada henti berselisih dalam hal apapun, saya menjumpa Agra.
Red Fort Agra adalah citadel yang mengagumkan. Dindingnya terbuat dari batu pasir bersemu merah, dihiasi dengan detail rumit bernuansa Persia. Mengesankan perpaduan kekuatan dan kecantikan sekaligus. Bangunan-bangunan marmer tersebar di dalamnya. Mereka penuh, dari pangkal pondasi ditelan bumi, hingga langit-langit yang memayungi ruangan. Sementara taman-tamannya dipenuhi oleh rumput yang tertata rapi dan bunga-bunga yang bermekaran. Semua berwarna pekat, pada awal musim semi.
Akhirnya saya menjumpa Taj Mahal, menyentuhnya dengan jemari saya sendiri. Bangunan pualam nan megah yang menyihir jutaan orang sejak bertahun silam. Tempat dimana Shah Jahan Sang Penguasa Mughal beristirahat bersama kekasih tercintanya, Mumtaz Mahal. Perjumpaan itu setara dengan kesulitan yang harus saya lewati, melalui antrian panjang pengunjung yang disela guide-guide yang menjebak, serta beberapa pos pemeriksaan yang super ketat, dimana notes dan pena pun tak bisa lolos ke dalam areanya.
Namun Agra sendiri bukanlah kota yang cantik. Tanpa Taj Mahal, Red Fort dan beberapa bangunan monumental yang tersisa, mungkin ia hanyalah tipikal kota-kota di India yang terlupakan. Riuh, berdebu dan diseraki sampah.
Keramahan kawan lokal bernama Siddarth -yang saya kenal melalui couchsurfing– dan gadisnya dari negara bagian Meghalaya, menjadikan kunjungan saya di Agra lebih berwarna.
Udaipur: Venice of the East
Kota di negara bagian Rajasthan ini ditahbiskan sebagai Kota Paling Romantis di seantero India. Danau adalah bagian dari wajah kotanya, dengan ghat-ghat yang berbeda jauh dari apa yang ada di Varanasi. Danau Pichola dan Fateh Sagar adalah dua di antaranya. Dimana saya menikmati fajar dan senja yang indah di sisinya. Menatap matahari yang terbit dan tenggelam dalam jingga, dari balik perbukitan Rajasthan yang tandus mengepung.

(kiri) Istana Kota Udaipur di sisi Danau Pichola, dilihat dari Ambrai Ghat. (kanan) Senja di sisi danau Pichola.
Di sana, istana para Rajputana tersebar dimana-mana. Dibangun di dalam kota, di atas bukit hingga di tengah danau. Konon, dahulu istana-istana itu dipenuhi oleh emas, perak, serta batu mulia.
Istana Kota Udaipur adalah salah satu yang terindah. Berpondasi serupa kapal raksasa, dan dipenuhi pencapaian arsitektur pada setiap sudutnya. Bayangkanlah salah satunya. Sebuah ruangan yang dipenuhi seni kaca warna warni dari lantai sampai langit-langitnya, sehingga untuk menerangi ruangan itu hanya dibutuhkan sebuah lilin saja. Karena pendaran lilin, akan memantul dari satu sisi ke sisi lainnya mengikuti hukum fisika.
Sementara sebuah istana bernama Sajjan Garh memiliki keistimewaan lainnya. Pada saat malam menjelang, istana yang dibangun pada puncak bukit itu, akan tampak ibarat bangunan yang mengapung pada pekatnya langit Rajasthan.
Saya merasa penduduk Udaipur jauh lebih ramah. Para pedagang dan pebisnis pariwisata tidaklah seagresif saudara-saudara mereka di Varanasi.
Di kota ini, saya menerima kebaikan seorang dokter muda, yang di sela-sela kesibukannya mau mengenalkan sudut-sudut lain Udaipur. Termasuk bagian dalam kliniknya yang menerima ratusan pengunjung setiap hari. Ditambah sebuah traktiran makan malam, untuk menikmati kelezatan Rajasthani Thali set yang membuat perut saya penuh sampai pagi. Ah, bhahut shukriya bhaiya! (Terimakasih banyak saudara!)
Delhi: The Capital City
Saya hampir melewatkan Delhi, karena berpikir ia hanyalah kota besar yang riuh, dimana manusia berjejalan mengadu nasib. Namun ternyata Delhi lebih dari itu. Di dalamnya terdapat ratusan peninggalan bersejarah yang tak kalah agung dan indahnya.
Di kota ini saya di-host oleh seorang pemuda lokal yang membuka rumahnya untuk saya inapi selama dua hari. Keluarganya menyambut saya dengan ramah, begitu pula dengan rekan-rekannya yang tinggal tak jauh dari situ. Dua malam berturut-turut, bersama mereka saya menghadiri resepsi a la India nan meriah. Limpahan kuliner dan acara menari menjadi menu yang paling saya nikmati.
Mausoleum Kaisar Humayun adalah salah satu yang menyita perhatian saya. Meskipun bukan dibangun dari pualam putih bersih seperti milik cucu dan cucu menantunya di Agra. Namun makam sang kaisar ini tak kalah indahnya. Berbahan batu pasir berwarna merah, bangunan ini menempati sebidang tanah yang dirancang ibarat taman firdaus. Paradaeza namanya. Sebuah konsep taman yang dibagi atas kanal-kanal air yang berpotongan membentuk persegi. Konon, konsep yang sama juga diterapkan pada Istana Alhambra di Andalusia, Spanyol.
Hal lain yang menarik perhatian saya adalah sistem kereta commuter line di New Delhi, yang ternyata cukup baik. Dengan armada yang baru, bersih, serta tertib. Tak kalah dengan kota-kota besar lainnya. Serta barang tentu, beberapa kali lebih modern daripada Kolkata.
Amritsar: Golden Temple and the Border Gate
Jika harus mengambil satu bangunan untuk menjadi ikon kota Amritsar, maka Golden Temple adalah jawabannya. Kuil yang dibangun pada tengah-tengah Pool of Nectar ini, adalah merupakan bangunan paling suci bagi penganut Sikh di seluruh dunia. Dilapis oleh emas yang menyala-nyala, kuil ini setahun sekali dibilas dengan susu murni untuk pensuciannya.
Dan dari semua bangunan suci di seluruh India, maka Golden Temple ini adalah yang paling bersih. Benar-benar bersih. Bahkan kolamnya yang dipakai ritual mandi suci pun sangat bersih. Berwarna hijau toska, dengan ikan-ikan emas yang hidup pada sisi-sisinya.
Yang lebih mengesankan adalah kebersihan ini bukan dijaga oleh petugas khusus yang mereka pekerjakan, melainkan oleh para sukarelawan yang bekerja pada kuil itu. Mereka tak hanya bertugas menjaga kebersihan, namun juga memasak, mencuci, menyiapkan makanan dan melayani para pengunjung yang menyambangi kuil itu.
Saya bergabung kembali dengan Hermanto di kota itu. Kami saling bertukar cerita tentang pengalaman masing-masing, di sela-sela ekplorasi kami di Amritsar. Bersamanya saya sempat bergabung dengan pengunjung lainnya untuk mencoba makan bersama di aula makan Golden Temple.
Kami juga menyempatkan diri mengunjungi Wagah-Attari Border. Dimana pintu gerbang perbatasan antara India dan Pakistan berada. Pada setiap sore, setiap harinya, sebuah upacara penurunan bendera yang sangat epik diadakan di sana.
Pasukan Republik India dan Republik Islam Pakistan, saling berlomba menampilkan parade terbaiknya. Beregu-regu pasukan bertungkai jenjang berbaris dalam cara yang janggal. Dalam derap kencang, disertai langkah tendangan ke udara. Kabarnya, setiap kali hubungan diplomatik antar kedua negara itu sedang berada pada titik yang kurang baik, maka gerakan parade kedua pasukan itu akan terasa lebih agresif.

Pengunjung yang memadati sisi India, pada Wagah – Attari Border, untuk menyaksikan upacara penurunan bendera yang unik dari dua Negara.

Saya dan Hermanto di Golden Temple. Kami berdua lebih sering dikira sebagai traveler asal Jepang, China atau Korea daripada Indonesia.
Perfect Strangers
Setelah dua minggu lebih menyusuri India, saya belajar bahwa ternyata solo traveling membuka kesempatan bagi saya untuk mengenal lebih banyak orang-orang baru. Orang-orang asing, yang bersama waktu kemudian menjadi teman dan saudara, atau menorehkan pelajaran tersendiri.
Beragam cara mereka datang menyemarakkan perjalanan saya. Mulai dari secara tak sengaja berkenalan di bandara, di guesthouse, di stasiun, di kereta, melalui rekomendasi traveler lainnya, hingga yang menjadi host saya melalui jejaring couchsurfing. Mulai dari sesama traveler hingga warga lokal.
Secara khusus, saya sangat terkesan dengan keramahan kawan-kawan lokal yang saya kenal selama dua minggu menjelajah dari pesisir timur hingga bagian barat India.
Saya ingat bagaimana dr. Narendra mempersilakan saya untuk untuk beristirahat di rumah dinasnya dari tengah hari hingga senja, sembari menunggu jadwal kereta selanjutnya. Lalu Mohit yang rela bangun pagi-pagi buta dan menembus pekatnya Delhi untuk menjemput saya di stasiun kereta, serta ibunya yang selalu menyediakan masakan nan sedap selama saya tinggal di rumah mereka.
Begitu juga Tarun, yang menyediakan waktu setengah hari untuk menemani saya menyaksikan kemegahan Qutb Minar dan Baoli yang tersembunyi di tengah hutan kawasan Mehrauli di Delhi. Tak lupa keluarga Kanu dan Raj yang berbaik hati membagikan makan malam yang sedap di dalam kereta, serta menjadi kawan seperjalanan dari Varanasi menuju Agra.
Solo Traveling di India? Siapa takut?
Pada hari-hari awal, saya merasa nervous setiap kali berada pada keramaian di India. Limpahan manusia di sana sungguh luar biasa, terutama pada fasilitas-fasilitas umum semacam stasiun kereta dan pasar. Namun, setelah beberapa hari saya dapat menyesuaikan diri. Dan dengan tenang menyusuri sudut-sudut kota seorang diri. Saya rasa, dalam kondisi seperti itu, sikap diri yang positif lah yang menjadi penentu. Selama saya berpikir positif, semuanya berjalan baik-baik saja.
Jumlah penduduk, kemajemukan, kondisi perekonomian dan politik, memang cenderung membuat India menjadi negara yang menantang untuk dijelajahi seorang diri. Namun, selama kita cukup berhati-hati, menggunakan common-sense dan cermat, India bisa menjadi tempat yang asyik untuk dijelajahi.
India is good for your traveler’s soul!
ps: versi detail dari perjalanan ini, akan saya tuliskan dalam travelogue berseri terpisah, segera.
Artikel ini diikutsertakan pada lomba Cross|Over Writing Competition. Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat pada tautan www.neversaymaybe.co.id





























Tanah hindustan..wah seneng bs kenal dgn mu mas.bc artikelnya tentang jln jln..hihii pengen..
LikeLiked by 1 person
Sama-sama mas, senang bisa kenal dirimu juga … Ayo jalan-jalan 😊
LikeLiked by 1 person
Caranya jln jln lowbudget gmn y mas *kepo :)
LikeLiked by 1 person
Caranya … Hmmm agak bingung juga kalau ditanya caranya gimana. Mungkin pakai prinsip efisiensi aja. Misalnya gak perlu hotel mahal-mahal kalau hanya dipakai untuk transit dan istirahat saat malam. Lalu ambil kereta malam, untuk menghemat budget transportasi dan hotel sekaligus. Cari tempat makan warga lokal, biasanya lebih murah dan harganya lebih otentik. Survey dan atur rute untuk jalan. Hmmm walaupun pada dasarnya couchsurfing bukan dimaksudkan untuk menghemat biaya akomodasi, tapi pada dasarnya ini adalah salah satu keuntungannya.
Tapi terlepas dari itu semua, India memang salah satu destinasi yg menawarkan potensi untuk traveling murah. Selama gak aneh-aneh, misalnya ambil paketan nginep di hotel yg dulunya adalah istana raja hehehe
LikeLike
Subhanallah, perjalanan yang keren banget Bart. Merasuk ke India seorang diri untuk beretemu kawan-kawan baru. Benar kata teman saya Langkah Jauh yg saat ini berada di Komodo bahwa sebenarnya solo traveling itu gak ada….
LikeLiked by 1 person
Alhamdulillah ni, terlepas dari kekurangan dan kelebihan India.
Yup, aku setuju juga tuh. Sebenarnya solo traveling itu gak ada, yg ada kita cuma berangkat sendiri dari titik awal perjalanan. Selalu ada saja orang-orang baik di jalan yg dengan tulus membantu dan bersahabat dengan kita.
LikeLike
Aku pingin banget bisa ke india dan nepal #Bismillah tapi aku ngak mau solo travelling, mau nya rame2 bareng dayang2 hahaha
LikeLiked by 1 person
Amiiin amiin, semoga tercapai cita-citamu mas. Hmmm aku mau deh jadi dayang-dayangnya, asal semua ongkos, jajan dan akomodasi ditanggung! Hahahaha #ngarep
LikeLike
Akhirnya tulisan tentang India muncul juga hehehe. Keliling India seperti rutemu jadi my wildest dream, sayangnya muncul ketakutan sebelum beranjak beli tiket, ujungnya mlipir ke tujuan lain. Takut nggak bisa berkomunikasi dengan baik, takut nyasar ehh kalo yang ini justru malah takut keasyikan nyasar dink hehehe. Baca ini jadi semakin kekeuh tahun depan kudu diniatin ke India! :-D
LikeLiked by 1 person
Iya, akhirnya. Dan setelah itu aku nyadar kalau aku sekarang jadi punya tanggungan 2 serial travelogue hahaha.
Jangan takut Lim, kamu pasti bisa. Aku percaya kamu pasti bisa. Tenang aja, selama di India aja aku sering ketemu turis2 yang gak bisa bahasa Inggris dan India ,,, tapi kayaknya mereka survive2 aja tuh.
Amiiin amiiin, aku doain tercapai niatmu Lim 😊
LikeLike
Saya juga penasaran dengan India. Tertantang dengan segala fakta-fakta negatif maupun positifnya. Mantap sekali perjalanan overland indianya ini Mas!
LikeLiked by 1 person
Itu dia yang seru Qy, membuktikan sendiri apa yang selama ini kita lihat, dan mencoba menghadapi tantangan-tantangan di sana. Aku yakin dirimu pasti bisa dan bakal enjoy juga di India. Makasih ya Qy ;-)
LikeLiked by 1 person
Amin Mas :)
Oiya ini lomba apaan baru tahu saya. Dan deadlinenya ternyata besok huhuhu :(
LikeLiked by 1 person
Amiin.
Lomba yang hadiahnya menarik hati Qy hahaha, tapi aku ini ikutannya nothing to lose ,,, menang syukur Alhamdulillah, kalau gak menang ya paling gak bikin postingan yang sudah lama aku simpan.
Aku juga baru tau lombanya beberapa hari lalu, karena gak sengaja buka postingannya mas Fahmi Anhar. Coba ikutkan saja beberapa postingannya yang kira-kira memenuhi persyaratannya Qy, mumpung masih ada waktu semalam :-)
LikeLike
Hahaha, tentu hadiah itu menjadi motivasi Mas, wajar kok hehe. Sudah dapat hikmahnya paling tidak kan, bisa menuliskan cerita yang mungkin kalau dibuat bersambung kayak pas ke Nepal bisa seru banget nih. Good luck Mas :)
LikeLike
Pasti. Dan kalau dirimu yang udah sering jadi pelanggan juara lomba nulis, pasti deh gak kesulitan.
Yup, betul banget. Itu salah satu hikmahnya. Makasih ya Qy :-)
LikeLike
Walah mas. Saya sebenarnya bukan pemburu lomba hahaha. Dan belum tentu juga, semua punya kesempatan yang sama kok :)
LikeLike
golden temple nya keren banget kalo malam hari ya mas..*terpukau*
LikeLiked by 1 person
Banget, kilau keemasannya kontras dengan malam yang gelap :-)
LikeLike
Woww keren Bartz!
Ditunggu versi detailnya ya ;-)
LikeLiked by 1 person
Terimakasih Tim, siiip ,,, doain gak males ya nulisnya hehe :-)
LikeLike
Tulisannya jadi membuat aku tertarik ke India, tapi sepertinya gak sendiri deh. :)
LikeLiked by 1 person
Alhamdulillah :-) … Sendiri atau ada temennya, India udah pasti seru dan memberikan pengalaman yang berbeda … Semoga bisa ke India segera ya :-)
LikeLike
Huaaa Indiaaaaa, pengen bgt kesini tp takut kalau sendirian
LikeLiked by 1 person
Iya sih kalau traveler wanita aku saranin jangan sendirian, kecuali benar-benar berhati baja dan bela diri. Ajakkin Matt mbak :-)
LikeLike
Matt kurang tertarik ke India huhu. Aku pengen bgt kesana. Harus liat2 kalau ada yg nyari temen buat pergi kayaknya
LikeLiked by 1 person
Ooo gitu, yah sayang banget. Nah mungkin bisa jadi bahan postingan tuh mbak, siapa tau ada yang merespon :-)
LikeLike
Hahaha iya sih nanti2 deh 😊
LikeLiked by 1 person
Wah, India… negeri yang jauh, sangat jauh, tapi orang-orangnya di sana bisa jadi satu keluarga karena ikatan sejarah yang kita punya dengan mereka sejak awal mula sangat kuat, hampir-hampir sama kuatnya dengan ikatan darah :hehe. Saya tertarik juga dengan India, dengan tempat-tempat epos-epos itu terjadi. Siapa tahu ketemu Kurukshetra, Hastinapura, Indraprasta, atau kebetulan ketemu Chiranjivi juga boleh sih (eh yang terakhir jangan, berat konsekuensinya :hehe). Pokoknya situs arkeologinya deh :)) :amin.
Cerita ini keren dan sangat inspiratif Mas, memang kalau solo traveling itu tidak akan pernah merasa sendiri, jadi jangan takut pergi sendiri yak :hehe (terus baru ingat kalau jalan-jalan terakhir saya sendiri adalah ke MTP :haha). Tapi keren Mas, bisa libur 17 hari, ngomong-ngomong ambil cuti tahunan berapa hari tuh :hehe?
LikeLiked by 1 person
Kalau situs arkeologi kayaknya dimana-mana ada Gara. Dirimu bakal suka deh kalau misalnya ke Hampi di Karnataka.
Alhamdulillah kalau bisa menginspirasi. Hmmm jatah cuti tahunanku lumayan juga sih 21 hari, dan normalnya per bulan aku libur dua minggu. Jadi aku tinggal combine aja deh. Kemarin pas ke India, aku libur dua minggu trus ambil jatah cuti seminggu, jadi total 21 hari :-)
LikeLiked by 1 person
Oh iya, per bulan libur 2 minggu, lumayan banget Mas :hehe.
LikeLiked by 1 person
Dan bête seandainya gak kemana-mana Gar :-D
LikeLiked by 1 person
India memang menarik banget, dari kota-kota itu, kayaknya emang Udaipur paling nyaman dan rapi ya? Saya ingin balik ke India baca tulisanmu..masih belum kesampaian ke Ladakh sama Varanasi :D :D Semoga menang yaaa..tulisannya keren abis!!
LikeLiked by 1 person
So far sih memang iya, Udaipur paling mendingan. Orang-orangnya ramah, suasananya santai, makanannya enak. Tapi kok aku malah pengen balik ke Kolkata ya? Belum puas soalnya pas eksplor kota itu.
Ah aku juga pengen banget ke Ladakh. Pokoknya negara bagian Kashmir dan Himachal Pradesh deh :-)
Semoga mbak Indah bisa segera ke Ladakh dan Varanasi yaaa.
Amiin amiin, terimakasih mbak :-)
LikeLike
Gak sabar nunggu kelanjutan cerita dan foto dari masing-masing tempat, Bart. Ada seorang blogger bilang orang-orang India adalah yang paling ramah yang pernah dia temui, nomor dua orang-orang Indonesia. First solo trip langsung ke India, hebat!
LikeLiked by 1 person
Siap Bam, semoga akunya juga rajin buat nulisnya. Doakan :-)
Nah, kalau soal itu aku malah baru dengar. Temanku dari Filipina bilang justru yang paling ramah itu orang Indonesia, lalu orang Myanmar di nomor dua.
Makasih Bam, sudah sempatkan mampir di sela-sela ‘napak tilas jalur rempah’mu :-)
LikeLike
sirik liatnya kaaaaaak, Varanasi itu salah satu bucket list aku yang entah kapan bisa tercoret huhuhu T_T
LikeLiked by 1 person
Semoga bisa segera coret Varanasi ya Dit :-)
LikeLike
Haaaa kerennya tulisan ini. *langsung ciut ikutan lombanya*
Liat foto-fotonya jadi makin kangen India. Huhuhu
LikeLike
Ah Yayan suka begitu, tulisan kamu juga keren kok.
Btw waktu itu ke India nya kemana aja Yan? Jangan bilang udah sampai ke Kashmir dan Ladakh yaa, bakal mupeng abis aku :-)
LikeLike
Tenang tenaaang gak sampe Ladakh kok cuma sampe Kashmir aja hahaha.
LikeLiked by 1 person
Aaaargh tidaaak, dia sudah sampai Kashmir. Pengen banget ke daerah itu, selain karena memang kabarnya indah, juga daerahnya yang rawan konflik jadi lebih menantang … Udah pernah ditulis belum Yan? Mau baca :-)
LikeLike
Barusaaan saja ditulis secuil mengenai Kashmir mas haha, buat ikutan lomba ini juga *sumpetin muka* tulisan lain menyusul segera :)
LikeLiked by 1 person
Siiip, ditunggu yaaa :-)
LikeLike
Apa kubilang, menang kaaaaan :) mas Bartttt selamaaaaat ^_^
LikeLiked by 1 person
Alhamdulillaaaah ,,, eh lihat dimana sih pengumumannya? Aku baru buka PC nih :-) *panik*
LikeLike
Ceki email segera kakaaaak :)
LikeLiked by 1 person
Iya, ini barusan cek email. Lumayaaan dapat GoPro 4. Makasih ya udah dikabarin duluan Yan :-)
LikeLike
AKHIRNYA keluar juga ringkasan perjalanannyaaaaaa! :D
Dan langsung diikutsertakan lomba dan MENANG! Alhamdulillah.. moga berkah dan dapet hadiah utama!
*nunggu poto2 pideo2 pake GoPro*
LikeLike
Terimakasiiiih kak Badai. Siapa dulu dong mentornya? *salim*
LikeLike
Selamat Kak Bart buat tulisannya yang menang. Bagus tulisan dan ceritanya. Banyak kata dengan pas dan sukses banget menampilkan eksotisme India, memacu adrenalin para traveler, juga menggambarkan kehangatan serta kearifan budaya lokal. Bisa bikin novel berlatar belakang travel adventure nih. Jenis novel yang aku suka :). Btw aku juga lagi menyiapkan diri solo trip Turki setelah ajak sana-sini blom ada yang nyamtol hahaha..tips dari kak Bart dan pengalamannya di atas bikin berani dan malah tambah bebas mau menentukan rute..bikin itinnya udah asyik sendiri :-D
LikeLiked by 1 person
Hai Nit, terimakasih ya sudah berkunjung. Dan aku suka banget dengan sumbangan ide “travel adventure”, walaupun mungkin hampir sebagian perjalanan dimaknai sebagai petualangan bagi pelakunya.
O iya ya, kalau gak salah Nita pernah ngomongin soal trip ke Turki itu. Kalau aku boleh saran sih, seandainya mau solo traveling, yang penting Nita sudah paham ‘potensi’ bahaya yang kemungkinan ada, jadi seandainya nanti menemui sudah bisa mengantisipasi. Aku sih berdoa semoga lancar ya trip mu, tanpa ketemu yang aneh-aneh.
Yup, bikin itinerary itu sudah merupakan satu petulangan tersendiri. Itu aja udah seru, apalagi perjalanannya khan? :-)
LikeLiked by 1 person
Apa? 17 hari? Jatah cutiku setahun bahkan hanya 12 hari, dipotong cuti bersama :|
India sudah ada lama dalam daftar impian. Sejak SMP, sudah doyan menikmati film-film industri Bollywood yang selalu dibumbui alunan musik menghentak. Rasanya pengen merasakan langsung bagaimana menari dan menyanyi ala orang India, tabur-taburan bubuk warna di Festival Holi.
Tapi, sama kayak kamu, bang. Banyaknya cerita tentang kebersihan dan kriminalitas India cukup membuat langkah gentar. Selamat ya, sudah keluar dari zona nyaman :)
I feel you, bagaimana menemukan teman-teman baru selama perjalanan. Pas trip 3 negara kemarin, aku juga semuanya pake couchsurfing, cuma di hostel semalem. Ditunggu ya cerita berserinya :)
LikeLiked by 1 person
Sok atuuuh ke India, kalau bisa pas musim kawinan atau pas ada perayaan-perayaan macam Holi dan sebagainya. Kawinan a la India seru bro, banyak joged dan makan :-D
Nah seru ya couchsurfing? Aku aja ketagihan. Selama ini aku seringnya jadi host, dan di India itu pertama kalinya aku jadi surfer. Menarik dan menyenangkan.
Siip, aku juga lagi baca nih tulisanmu soal Supertrip ke 3 Negara. Makasih dah sempatkan mampir ya Gie :-)
LikeLike
Yes, India is already on my list. Kapan kesampaian? Biar hati yang menentukan :D
Iyaaa pengen joged-joged kayak di film-film. CS indeed seru banget! Berkat mereka, waktu sebentar di satu kota / negara pun jadi berasa lama karena seperti live like a local.
LikeLiked by 1 person
Aku doain biar segera tercapai ya Gie. Sekalian cobain cs-an di sana :-)
LikeLike
Amin amin. Makasih, bang. Iya, apalagi muka gue muka-muka dravida, bisa dikira orang lokal :D
LikeLiked by 1 person
Hahaha aku gak bilang lho ya? Malah gak kepikiran. Ada-ada aja Gie :-D
LikeLike
Hahaha. Gue orangnya tahu diri, bang. Tenang aja :D
LikeLike
Nggak ah, kamu jawa banget :-)
LikeLike
Oh gitu ya? Yah, gagal nyamar deh.
LikeLike
:-D
LikeLike
Wuahhhh keren banget! Saya jadi ingin mencoba solo travelling :D
India eksotis banget…
Salam kenal ya, Mas dan selamat ya mendapat Kamera Go Pro hehehe
LikeLiked by 1 person
Boleh boleh, selamat mencoba solo traveling, yang penting tetap hati-hati dan jadi pejalan yang cerdas. Insya Allah gak akan ada masalah di jalan :-)
Salam kenal juga. Makasih yaaaa :-)
LikeLike
Yeayyy…selamat ya kamu menang. Tulisannya keren memang layak jadi juara :D *Aku langsung follownya blog nih.
LikeLiked by 1 person
Makasiiih … sering-sering mampir ya :-)
LikeLike
Iaaan. Tulisannya kerens bangeeeutt bepi bacanya sampe berulang ulang heuheu soalna secara ngefans berat sm bintang filemna dari serial Mahabharata tea apalagi dirimu jalan2 kesananya pas di Indonesia demam Bolywood ,haddeeeh jadi makin penasaran pengen berkunjung ke sana juga,didoain menang lagi untuk babak selanjutnya aamiiin :)
LikeLiked by 1 person
Wah terimakasih tante, sering-sering mampir yaaa. Nanti ada tulisan detailnya berseri. Siap-siap aja makin mupeng :-)
Amiin amiin amiin, makasih yaaa :-)
LikeLike
Diantos sangaaaadd edisi detailna,kalo dibikin buku okehh juga tuuh ..
LikeLike
Pingback: Solo Trekking to Annapurna | BARTZAP.COM
kalau cwek sendiri aman gk ke india?
LikeLiked by 1 person
Nah itu, kalau aku bilang sih relative. Aman-aman aja, asal tetap waspada, dan melakukan langkah-langkah pengamanan yang pas. Saranku sih untuk cewek sebaiknya bukan menjadikan India sebagai destinasi wisata pertamakali. Paling tidak sudah pernah jalan ke beberapa tempat lainnya lah …
LikeLike
klo yg lainnya seringlah cuma aku cewek sendirian. klo boleh tw u kenana dulu brp ahri
LikeLike
salah edng 17 hari ya? klo 9 hari mungkin gk kolkata-agra-rajashtan balik lg kolkata??
LikeLike
Tergantung berapa harinya di masing-masing kota, dan kalau misalnya bolak-baliknya pakai pesawat mungkin bisa. Segitiga Delhi-Agra-Jaipur adalah jalur yang terkenal untuk first timer.
LikeLike