Sebagai orang yang lahir di Yogyakarta dan jatuh cinta pada kota tersebut, maka menyantap gudeg menjadi agenda yang tidak boleh saya lewatkan setiap kali mengunjunginya. Bayangan akan kesedapan hidangan tersebut menjadi salah satu pengikat erat yang membuat saya ingin mengunjungi Yogyakarta lagi dan lagi.
Gudeg bukan hanya sekedar masakan, melainkan juga simbol yang mempersatukan banyak kalangan, karena ia bisa dinikmati mulai dari warung-warung kaki lima hingga resto-resto besar yang tertata rapi. Dan mungkin juga, masakan ini menjadi salah satu menu yang dihidangkan di atas meja makan Sultan Yogyakarta.
Namun begitu, sering terbersit dalam benak saya, rasa penasaran: seperti apakah sejatinya hidangan para Sultan dan keluarga Kesultanan Yogyakarta?
Atau, apakah ada menu-menu khusus yang dihidangkan di Bangsal Andrawina Istana?
Bale Raos: Royal Cuisine Restaurant
Secara tidak sengaja, akhirnya saya menemukan jawabannya ketika melakukan #RoadTrip #deJava yang saya jalani bersama tiga blogger lainnya –Bama, Badai, dan James-, pada pertengahan Ramadhan di tahun 2015 ini. Info yang kami dapat, menyebutkan bahwa sebuah resto bernama Bale Raos konon menghidangkan menu-menu khusus yang menjadi favorit para Sultan Yogyakarta, mulai dari Sri Sultan HB VII hingga Sri Sultan HB X.
Resto tersebut terletak pada bagian selatan Keraton Kesultanan Yogyakarta, tidak jauh dari Pasar Ngasem.
Sebuah pelataran parkir luas berbenteng tembok putih yang tampak masih bagian dari istana, langsung menyambut para tamu yang akan bersantap di Bale Raos. Gerbang resto Bale Raos sendiri terletak di bagian barat pelataran parkir, dengan penanda yang cukup jelas, berhiaskan lambang Kesultanan Yogyakarta, dan beberapa kuncup teratai sebagai ornamennya.
Dua buah taman berbentuk sangkar besar berisi tumbuhan dan beberapa unggas hias serta pergola menjadi pembuka jalan menuju bagian utama Bale Raos.
Resto tersebut terdiri dari dua area makan semi terbuka berbentuk pendopo yang saling berhadapan, dan sebuah area makan dalam bangunan tertutup yang terletak di tengah. Kesemuanya bercorak joglo, dengan didominasi warna hijau tua, sebagai lambang kesultanan Islam.
Meja-meja berbentuk persegi dan memanjang, tertata rapi lengkap dengan peralatan makan serta serbet-serbet putihnya yang bersih. Terlihat beberapa figur pasangan mempelai Jawa dan Krobongan penanda kesuburan pada salah satu bagian joglo. Sementara alunan gending Jawa terdengar sayup-sayup melalui pengeras suara.
Awalnya kami merasa grogi dengan pengaturan resto tersebut yang terkesan formal, namun sambutan pelayan yang ramah segera mencairkan suasana tersebut.
Seperti halnya yang terjadi di banyak tempat makan selama bulan Ramadhan di Indonesia, sore itu Bale Raos menawarkan paket buffet yang menurut kami cukup murah. Rp 60.000/kepala, all you can eat! Namun, setelah kami melihat menu yang dihidangkan di meja buffet, akhirnya kami memutuskan untuk mengambil paket a la carte saja, karena dengan begitu kami bisa lebih bebas dalam mengeksplor menu yang mereka sediakan.
Dari Beer hingga Burung Muda
Saya yang sudah terbiasa dengan beragam masakan Jawa, sore itu merasa seperti tersesat begitu membuka buku menunya. Nama-nama masakan yang ditawarkan -meskipun beberapa dalam bahasa Jawa yang bisa saya pahami- terasa sangat baru. Bahkan beberapa, mengundang senyum kecil bagi saya.
Untungnya, buku menu yang disediakan cukup informatif, dengan deskripsi serta foto yang menggugah selera dan rasa penasaran yang lebih dalam.
Saya memulai dengan memesan Beer Jawa, sebuah minuman yang saya percaya cocok sebagai pelepas dahaga setelah seharian berpuasa, dan Songgo Buwono yang menemaninya sebagai menu pembuka.
Meskipun menyandang nama beer, namun aslinya minuman ini tidak mengandung alkohol. Melainkan diramu dari rempah-rempah yang terdiri dari Sereh, Kulit Kayu Secang, Mesoyi, Kayu Manis, Kapulaga, Jeruk Nipis, Cengkeh, Jahe dan gula batu. Konon, minuman ini sengaja diciptakan oleh Sri Sultan HB VIII sebagai jawaban atas kebiasaan bangsa barat meminum beer pada masa kolonial. Hanya saja bedanya, Beer Jawa ini berkhasiat menyehatkan tubuh, alih-alih memabukkan.
Diekstrak secara tradisional dan dikocok dengan metoda seperti layaknya bartender mempersiapkan minuman, maka hasil akhirnya terciptalah sebuah minuman yang warnanya mirip dengan beer, lengkap dengan selapis buih yang menutup bagian atasnya.
Sementara Songgo Buwono adalah makanan pembuka yang terdiri dari adonan roti mirip kue sus, berisi ragout daging sapi dan potongan telur pindang, dilengkapi dengan saus kuning telur, serta dihidangkan dengan acar ketimun, irisan tomat dan selada segar.
Sebagai menu makan utama, pertama-tama saya memilih masakan yang menjadi favorit Sri Sultan HB IX, yaitu Bebek Suwar Suwir. Yang ternyata, diciptakan sendiri oleh beliau. Sultan yang juga gemar memasak tersebut, menciptakan menu berbahan dasar bebek ini, ketika beliau mengikuti sebuah lomba memasak pada saat sedang berkuliah di negeri Belanda.
Daging bebek dimasak dengan kedondong, melalui sebuah teknik khusus. Sehingga kemudian terciptalah steak daging bebek yang lembut dan harum, yang dihidangkan dengan nanas dan saus kedondong parut yang segar.
Lalu saya memilih Urip-Urip Gulung, yang tampilannya eksotis namun dihidangkan dalam tatanan yang kontemporer. Sebuah menu yang terdiri dari fillet ikan lele yang digulung, lalu dipanggang dengan ramuan khusus dan disajikan dengan saus mangut kental. Perpaduan antara daging ikan yang terasapi dan saus mangutnya benar-benar sedap dan pas.
Malam itu, kami bersepakat memesan menu yang berbeda-beda sehingga bisa saling bertukar untuk mencicipi menu lainnya.
Saya mengingat kelezatan menu bernama Sanggar. Dimana irisan daging lembu yang empuk berbalut rempah, dipanggang dan dilabur santan kelapa kental, untuk kemudian dihidangkan bersama penusuk bambunya yang menyisakan aroma asap.
Lalu juga ada Singgang Ayam, yang sekilas tampilannya sangatlah mirip dengan sate ayam pada umumnya. Namun, bumbu rempah yang melapisinya benar-benar belum pernah saya temukan pada sate ayam manapun di Indonesia. Rempahnya kuat, sedap dan bertahan di lidah.
Uniknya, dalam khasanah kuliner Minang, mereka juga mengenal menu Singgang Ayam. Hanya saja bedanya, penyajiannya lebih mirip dengan ayam panggang.
Sebagai penutup saya memesan Rondo Kepomo. Semacam puding telur -mirip chawan mushi– bertekstur lembut, berwarna kecoklatan dengan rasa yang manis dan beraroma karamel, yang kemungkinan dihasilkan dari gula kelapa yang digunakan. Puding ini disajikan dalam gelas kecil, dengan topping whipped cream dan buah cherry. Ekletik. Rasa Jawa dengan tampilan Eropa.
Dan saya sempat pula mencicipi Manuk Nom, yang dipesan oleh Badai. Berdasarkan namanya yang bila disulihbahasakan ke Bahasa Indonesia berarti Burung Muda, jujur awalnya saya kaget ketika melihat wujudnya. Sungguh di luar bayangan. Alih-alih berupa daging burung, hidangan penutup ini justru berbahan dasar tape ketan hijau.
Dimana tape ketan yang telah dicampur dengan telur, gula pasir, santan dan tepung terigu ini diolah dengan cara dikukus untuk mematangkannya. Sebagai pelengkap, kemudian Manuk Nom disajikan dengan emping melinjo yang telah digoreng. Manis dan mengejutkan, untuk yang pertama kali menyantapnya.
Jangan terintimidasi dengan melihat letak lokasi, sejarah menu, serta siapa pemilik restoran ini. Karena, meskipun menunya merupakan favorit para Sultan, dan sebagian kepemilikan sahamnya dikuasai oleh keluarga Keraton Yogyakarta. Harga makanan yang ditawarkan di Bale Raos sangatlah terjangkau. Dengan kisaran dari Rp 7.500,- hingga Rp 60.000,- per porsi, dan harga rata-rata menunya adalah Rp 30.000,-
Waktu yang singkat dan kapasitas perut yang terbatas, mungkin akan menjadi beberapa faktor yang menghalangi untuk mencicipi puluhan menu yang tersisa. Namun begitu, bersantap di Bale Raos akan memberikan pengalaman tersendiri yang tak terlupakan tentang Yogyakarta. Yang juga akan mengingatkan kita, bahwa setelah sekian lama kota ini eksis, tetap selalu ada bagian-bagiannya yang masih menunggu untuk digali.
Bale Raos
Jl. Magangan Kulon no. 1, Yogyakarta 55132, Indonesia.
Telp. 0274 415550, 0274 2623035, 081804033274.
Jam Operasi: 10.00 – 22.00



















Oke fix! Ngiler saya :O
LikeLiked by 1 person
Aku juga ngiler liat pantai Pacitan. Kapan-kapan tak dolan mrono. Kancani yoooo :-)
LikeLiked by 1 person
Hehehe, insya Allah kalau waktunya pas pasti tak temenin mas :D
LikeLiked by 1 person
Bicara tentang gudeg di Yogyakarta, saya masih belum menemukan rasa yang pas dilidah karena menurut saya rasa gudeg terlalu manis hingga rasanya sampe ke ubun-ubun karena super manis. Adakah referensi gudeg di Yogyakarta yang ala Jawa Timur?
LikeLiked by 1 person
Wah, kalau pas nya Gudeg di lidah diukur dari manis dan tidaknya agak susah ya. Karena memang khas nya Gudeg Jogja itu manis.
Paling yang bisa saya rekomendasikan adalah mencoba Gudeg Pawon di Jalan Janthuran. Dimana mereka menambahkan cabe rawit segar berukuran agak besar ke dalam sambal kreceknya. Dan buat saya yang termasuk penyuka masakan pedas, hal itu cukup membantu :-)
LikeLike
Waduh kayaknya komentar saya yang tadi hilang :hehe. Baiklah, izin komen lagi ya Mas :hehe.
Menu-menunya keren, kayak semakin menyatukan keluarga Keraton dengan rakyat di sana melalui menu-menu yang dulunya eksklusif tapi kini bisa dinikmati semua orang, istilahnya “manunggaling kawula Gusti”, bukan sih :hehe. Penyajian yang rapi dan berkelas membuat restoran ini punya wibawa dan nilai jual yang besar di sana, tapi harganya terjangkau banget jadi saya bisa bangetlah kayaknya ke sana apabila tandang ke Yogya lagi :hoho. Sip, sip :)).
LikeLiked by 1 person
Hehehe dalam konteks yang agak terpisah mungkin bisa ya pakai istilah itu, walaupun sebenarnya jauuuuh banget ,,, karena Gusti dalam istilah itu lebih diarahkan ke Gusti Pangeran yang berarti Tuhan. Tapi rak popo :-)
Tujuan dibuatnya resto ini memang pada dasarnya dimaksudkan agar rakyat kebanyakan bisa lebih mengenal budaya kesultanan, termasuk warisan kuliner nya. Jadi mungkin itu yang membuat harganya menjadi cukup terjangkau.
Siiip, monggo kapan-kapan dicoba Gar. Ditunggu juga review nya :-)
LikeLiked by 1 person
Aah, demikian :hehe. Terima kasih atas informasinya, Mas. Iya, melestarikan warisan kuliner itu dengan menyebarkannya ke orang banyak ya :hihi.
Siap, sekali lagi terima kasih banyak! :)).
LikeLiked by 1 person
Sama-sama Gara :-)
LikeLiked by 1 person
Foto2nya ciamik! Pasti pake fix lens deh! :)
Bale Raos memang patut dapet rekomendasi. Tapi kapan-kapan musti coba paket all-you-can-eat, kalo kurang kenyang baru coba yang ala carte (lah ini doyan atau rakus). Btw manuk nom ini alih-alih burung muda tapi tampilannya lebih mirip Miki Mos, hahaha :D
LikeLiked by 1 person
Ah apalah arti foto-fotoku dibanding foto-foto kak Badai, apapun lensanya selalu ok hasilnya ;-)
Sudah kudugaaa. Pasti waktu itu dirimu pengen paket all-you-can-eat, tapi malu karena kami semua langsung melipir ke area a la carte. Ya khaaaan? Tapi boleh juga sih, sekedar buat perbandingan aja.
Hahaha, mungkin cetakannya dan ukuran empingnya kebesaran kak. Jadi lebih mirip telinga Miki daripada sayap burung terkepak :-D
LikeLike
wah bikin laper..Songgo Buwono sepertinya menarik banget, apa ada resepnya ndak ya?
LikeLiked by 1 person
Ada banget mbak resepnya di internet. Aku tadi sempat lihat-lihat hehehe …. Monggo dicoba, bikin Songgo Buwono a la mbak Indah 😊
LikeLike
Tulisan dan review yang bagus banget Kak Bart. Fotonya..duhh berasa ikutan makan di sana. Harganya ternyata lebih murah dari yg kusangka..tampilan sajiannya aristokrat. Kuliah 5taun gak tahu resto ini smpe balik2 maen ke sana. Mgkn pernah inget ini diliput di acr tv. Fix klo reuni sm temen kuliah harus ke sini.
LikeLiked by 1 person
Terimakasih Nit. Naaaah kalau begitu harus coba yaaa, dan kutunggu review personal darimu 😊👍
LikeLiked by 1 person
Glek! Kelihatannya enak banget, Kak, terutama Sanggar dan Urip-urip Gulungnya. Kalo mau ke sana harus booking dulu nggak?
Yuk, ikutan! -> GIVEAWAY: Hemat Ongkos dengan Uber http://wp.me/p39Fhn-ps #senjamoktika
LikeLike
Yup, enak-enak semua. Kemarin sih aku gak booking dulu, langsung datang aja. Tapi untuk jaga-jaga, bisa coba kontak dulu ke nomor yg aku kasih di atas.
LikeLike
waaah, oke. baiklah. terima kasih untuk infonya, Kak! ^^
LikeLike
Aish mesti nyobain nich kalo ke jogja, kapan lalu dah hampir aja kesini tapi tutup. Sanggar kayak nya menarik
LikeLiked by 1 person
Harus mas, Sanggar itu sedap.
LikeLike