Saya membayangkan malam yang lebih hangat di Bhaktapur, mengingat letaknya yang berada pada dataran yang lebih rendah dibandingkan Nagarkot. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Malam itu, dingin yang merayapi Bhaktapur sungguh terasa menyiksa. Saya yang tak terbiasa berada pada cuaca sebeku itu, menjadi sulit tidur dibuatnya. Semuanya dingin. Termasuk ranjang, bantal dan selimut tebal yang menggunduk.
Penghangat ruangan? Lupakan! Itu adalah sebuah kemewahan tersendiri di Nepal. Mengingat negara itu miskin sumberdaya. Untuk kebutuhan listrik dasar semacam penerangan lampu saja mereka menghemat-hemat. Bahkan saklar-saklar lampu dipisahkan antara siang dan malam. Dimana mereka juga memanfaatkan tenaga surya pada siang hari. Apalagi penghangat ruangan yang memakan daya cukup besar. Satu-satunya hal yang bisa diandalkan adalah, adanya aliran air panas pada keran-keran air.
Entah dapat ide darimana, tiba-tiba saya melepaskan kap lampu hias pada dinding yang ada. Dan saya genggam pijaran bola lampunya.
“Ah, surgaaa!”, batin saya.
Bayangkan seberapa dinginnya malam itu, sehingga bola lampu pijar pun tak terasa panas lagi di genggaman. Aliran hangat yang menjalari tangan menghadirkan kenyaman tersendiri yang susah saya ungkapkan dengan kata-kata. Setelah beberapa saat menghangatkan diri, akhirnya saya menjumpa mimpi.
Pagi di Bhaktapur
Kami membuka pagi dengan sarapan di atas rooftop. Menyenangkan, karena bisa makan sembari menjemur diri pada keriaan sinar matahari pagi. Braful -kemenakan pemilik guesthouse– membuatkan omelette, roti panggang serta teh hangat untuk kami berdua. Sederhana, namun enak.
Itu adalah hari terakhir kami di Bhaktapur, sebelum berpindah kembali menjumpa Kathmandu. Sambil menunggu tengah hari untuk check-out, kami berencana untuk mengeksplor kota tua itu, termasuk mengunjungi National Art Gallery yang kemarin terlewati.
Keriuhan Bhaktapur langsung terasa begitu kami melewati selasar Pottery Square. Aroma dupa dan sesaji menguar ke udara di tengah keriuhan manusia yang berlalu lalang. Toko-toko souvenir hingga tukang cukur pinggir jalanpun sudah menerima pelanggan sepagi itu. Ah iya, pantas saja, itu hari Sabtu.
Dari lantai dasar tertinggi Kuil Nyatapola kami mengamati detakan kota tua itu. Taumadhi Square yang sibuk. Antrian para pemuja yang menunggu giliran di Kuil Bhairav. Sebaris Bhikuni dalam pakaian warna kunyit. Hingga turis-turis rajin yang sudah mulai menjelajah kota.
National Art Gallery dan Kisah Kelam Dinasti Shah
Kami sempat tersasar dan berputar-putar di antara labirin Bhaktapur, ketika akan menuju National Art Gallery. Untungnya beberapa siswa sekolah membantu kami untuk menunjukkan arah. O iya, di Nepal adalah jauh lebih mudah menanyakan arah atau sesuatu kepada anak sekolah. Karena rata-rata mereka memiliki kemampuan bahasa Inggris yang cukup baik. Bahkan saya sempat mengobrol dengan anak pemilik guesthouse yang baru menginjak kelas 4 sekolah dasar. Ia bercerita tentang kegiatan sekolahnya hari itu, dimana ia akan mengunjungi Kebun Raya di Kathmandu untuk mengerjakan tugas biologi nya.
National Art Gallery sendiri terletak di Bhaktapur Durbar Square, tepat di samping Gerbang Emas. Pintu masuknya diapit sepasang patung singa, jantan dan betina. Dan juga arca perwujudan Hanuman dalam kepercayaan tantra, yaitu Hanuman Bhairab yang bertangan empat. Serta sebuah arca Narasingha.
Saya teringat sebuah kisah menarik dari Roshan, sehari sebelumnya. Diceritakan ada seorang raja lalim bernama Hiranyakasipu yang amat membenci Wisnu. Berkat restu Shiwa ia menjadi kuat dan tak terkalahkan. Raja itu tak dapat dibunuh pada waktu pagi, siang atau malam. Tak dapat dibunuh oleh dewa, manusia ataupun hewan . Tak dapat dibunuh di darat, air maupun udara. Serta tak dapat dibunuh oleh senjata apapun.
Setelah berkali-kali bereinkarnasi, akhirnya Wisnu menitis sebagai awatara yang berwujud manusia berkepala singa, yaitu Narasingha. Dengan kecerdikannya, Narasingha berhasil membunuh Hiranyakasipu dengan cara merobek-robek perutnya menggunakan kuku, di atas pangkuannya.
Kisah ini juga saya dengar pada ruang arca museum Ullen Sentalu Yogyakarta. Hanya saja penampakan arca Narasingha milik Nepal jauh lebih menyeramkan, daripada arca karya seniman Indonesia.
National Art Gallery di Bhaktapur menyimpan benda-benda seni berharga, yang berkaitan dengan kekayaan budaya Nepal. Koleksinya beragam, mulai dari karya seni logam yang terbuat dari bahan perunggu, kuningan, kayu hingga batu. Berlembar-lembar gulungan lukisan tantra yang didominasi oleh bermacam-macam penggambaran Bhairawa, dan juga manuskrip dari daun palem.
Dalam gallery ini juga terdapat gambar raja-raja Nepal dari Dinasti Shah yang pernah berkuasa, kecuali raja terakhir Gyanendra yang diturunkan dari tahtanya pada tahun 2008. Sejarah dinasti ini tak kurang tragisnya. Setelah berkuasa secara turun temurun selama 200 tahun, dinasti ini berakhir dengan dibubarkannya Kerajaan Nepal melalui kesepakatan rakyat.
Tujuh tahun sebelum kerajaan dibubarkan, tepatnya pada 1 Juni 2001, sebuah pembantaian yang menelan korban seluruh anggota keluarga inti kerajaan terjadi di Istana Narayanhiti Kathmandu. Kepastian kejadian itu sendiri hingga kini masih diselubungi misteri. Berita resmi yang beredar adalah Putra Mahkota Kerajaan Nepal, Pangeran Dipendra, menghabisi seluruh anggota keluarganya dengan senapan otomatis.
Peristiwa itu menewaskan Raja Birendra, Ratu Aishwarya, Pangeran Nirajan, Putri Shruti dan beberapa bangsawan lainnya. Pangeran Dipendra sendiri kemudian menembak kepalanya dengan pistol, dan meninggal tiga hari kemudian.

Keluarga Kerajaan Nepal yang tewas pada 1 Juni 2001. (Kiri ke kanan): Pangeran Dipendra, Raja Birendra, Pangeran Nirajan, Ratu Aishwarya, Putri Shruti.
Pangeran Gyanendra yang pada saat kejadian berada di Pokhara, kemudian naik tahta menggantikan Pangeran Dipendra yang sempat diangkat sebagai raja sementara selama tiga hari. Ia yang merupakan adik dari Raja Birendra, menjadi raja di Kerajaan Hindu terakhir di dunia itu sampai dengan tahun 2008.
Uniknya, itu adalah kali kedua Pangeran Gyanendra menjabat sebagai Raja Nepal.
Pada tahun 1950 ia sempat naik tahta, ketika sang kakek -Raja Tribhuvan– melarikan diri bersama keluarganya ke India, termasuk ayahnya -Pangeran Mahendra– yang saat itu menjadi putra mahkota. Peristiwa itu dipicu oleh eskalasi kericuhan politik yang terjadi antara raja dan perdana menteri nya yang berasal dari Dinasti Rana. Setelah sang kakek kembali ke Nepal, Raja Gyanendra yang baru berusia tiga tahun diturunkan dari tahta.

(kiri): Raja Prithvi Narayan Shah, pendiri Kerajaan Nepal bersatu dan Dinasti Shah. (kanan): Raja Tribhuvan.
Si Yoghurt Raja
Hari semakin siang, dan waktu check out kami semakin dekat. Setelah puas menjelajahi Bhaktapur dan National Art Gallery, kami segera kembali ke guesthouse di area Pottery Square. Namun sebelumnya kami mampir pada sebuah restaurant untuk mencicipi salah satu panganan khas Bhaktapur. Ini dia Juju Dhau, si Yoghurt Raja!
Dimana-mana yoghurt dibuat dengan memanfaatkan simbiosis dua jenis bakteri, yaitu Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus, yang memfermentasikan susu mamalia. Keunikan Juju Dhau adalah, bahan dasarnya terbuat dari susu kerbau, bukan susu sapi, kambing atau kedelai seperti di tempat-tempat lain.
Seingat saya, Juju Dhau hanya memiliki satu macam rasa. Tak ada varian lain yang ditambahi perasa buah-buahan seperti di Indonesia. Namun begitu, memang Juju Dhau ini rasanya sungguh lezat. Susah melukiskannya, karena masamnya terlalu spesifik. Selain itu tekstur nya lebih padat.
Kesedapan Juju Dhau dari Bhaktapur ini terkenal di seantero Nepal, sehingga seringkali warga Kathmandu dan sekitarnya pun datang ke Bhaktapur hanya untuk mencecap rasanya.
Au revoir not Adieu
Ayush dan Braful telah menanti, pada saat kami datang dan bersiap check out. Sebuah taksi juga telah mereka pesankan. Sebelum berpisah kami sempat berfoto bersama, dan Ayush memberikan sepasang boneka kecil berbaju khas Newari yang bisa digantungkan di tas kami.
“These are for your luck!“, ujarnya sembari tersenyum ramah.
Barang kami yang tak seberapa jumlah dan ukurannya, segera berjejalan di dalam taksi Nepal nan mini. Begitu kami masuk, perlahan-lahan mobil kecil itu bergerak. Saya sempat menengok ke belakang. Melambaikan tangan pada Ayush dan Braful yang masih berdiri di ambang pintu guesthouse mereka. Perlahan-lahan gambaran mereka semakin mengecil bersama Pottery Square yang mulai menghilang di ujung jalan.
Au revoir, Bhaktapur!

Saya di Vatsala Durga, yang runtuh pada gempa Nepal April 2015, dan terancam tak akan bisa dibangun lagi.
Boudhanath adalah stupa bergaya Tibetan terbesar di lembah Kathmandu, di sanalah kami akan menjumpa Mata Ketiga. Nantikan lanjutan kisah perjalanan ini …



















Pingback: Nepal (8): Dusk in the City of Newar | BARTZAP.COM
Melihat fotonya jadi miris kalo inget gempa Nepal >.<
Aku kudu belajar banyak ambil foto nih dari mas Bart atau mas Aldi. Kadang suka gregetan kalo liat foto kece kayak gini hahaha. Aaakkk.
LikeLike
Iya Yan, dan banyak tempat yang ada di foto ini sekarang udah gak ada lagi, karena hancur ditelan gempa.
Hehehe, boleh boleh kapan-kapan kita share. Aku juga masih belajar kok :-)
Makasih ya Yan ,,,
LikeLike
aku penasaran sama yoghurtnya, enak gak? :D
LikeLike
Enak, lezat. Biasanya aku gak terlalu suka yoghurt plain, tapi yang ini aku suka banget.
LikeLike
Aku harus baca lengkap nih tulisan Nepal kamu
LikeLike
Silahkan mbak, mumpung baru sampai di edisi sembilan. Soalnya gak tau bakal sampai berapa seri, ini aja baru hari sampai di permulaan hari ketiga, dari sembilan hari perjalanan. Semoga betah yaa.
Makasih sebelumnya :-)
LikeLike
Waduh……bakalan bersambung trus ya haha
LikeLike
Iya mbak, nyambungnya santai kok, disambi sama yang lainnya juga hehe
LikeLike
Bart, patung Narasingha yang di Ullen Sentalu itu di bagian yang mana ya? Apa yang di sekeliling taman yang deket ruang yang ada lukisan besar perempuan Jawa itu? Aku kok lupa..
Btw Juju Dhau penampilannya menggoda selera banget! :)
LikeLike
Itu lho Bam, di bagian akhir, yang arca-arca nya ditaruh di selasar dekat taman. Ingat gak, si mbak guide nya cerita tentang Hiranyakasipu yang tidak bisa dibunuh pada pagi, siang dan malam. Akhirnya dibunuh pada saat senja oleh Wisnu.
Bangeeet! Kalian harus coba ya, kalau nanti sempat mampir ke Bhaktapur. Sempatkan aja Bam, deket kok dari Kathmandu. Kalian bisa day trip, dijamin gak nyesel liat Bhaktapur (semoga). Meskipun udah gak seutuh ini lagi ya.
LikeLike
Reblogged this on konviktion.
LikeLike
Cita-cita yang belom bisa kesampaian sampai sekarang. Itu sarapan di rooftop pasti enak banget yah dengan pemandangan yang tidak biasa.
LikeLiked by 1 person
Semoga bisa kesampaian segera, amiin. Iya kak, orang Nepal dan India kayaknya demen sama acara-acara di rooftop macam itu hehe
LikeLike
Saya baru saja pulang dari nonton film Everest di bioskop. Di sana sedikit terekam geliat Nepal lewat kota Kathmandu, Lalu saya teringat tentang gempanya, dan tulisan mas Bart di sini.
Tahukah betapa inginnya saya ke sana? hahahaha
LikeLike
Habis komen, coba lihat-lihat lagi seperti ada yang mengganjal sama foto-fotonya. Voila! Foto keenam pada sub-judul “Pagi di Bhaktapur”, ada mbak yang cantik lagi sembahyang *lah fokusnya kok mesti ke sana* :D :D
Terus yang foto bareng sama Ayush itu, sumpah deh kalau belum kenal kayaknya Mas Bart udah kayak mendukung sama wajah Cina/Mongolnya :D
LikeLike