Selayaknya kota wisata, Pokhara tetap ramai oleh para pejalan, termasuk wisatawan lokal yang menikmati hari libur mereka. Dan kepadatan manusia semakin terasa ketika kami mendekati area sekitar dermaga, dimana ratusan masyarakat lokal hendak berziarah ke Kuil Tal Barahi yang berada di tengah danau Phewa.
Sesuai rencana hari itu kami bermaksud mengunjungi Peace Pagoda atau Shanti Stupa yang terletak di puncak bukit Ananda. Sebuah jalur trekking yang berada di sebelah utara bukit sengaja kami pilih, agar dapat merasakan sedikit suasana petualangan di hari itu. Namun, untuk mencapainya kami harus menyeberangi danau Phewa terlebih dahulu.
Cukup mudah untuk menemukan perahu yang dapat mengangkut kami ke titik awal trekking. Karena begitu sampai di dermaga, puluhan tukang perahu telah mengantri demi mengantarkan setiap penyewa yang bermaksud berkeliling atau menyeberangi danau.
Tukang perahu bermarga Gurung yang membawa kami, membagikan sedikit cerita tentang pasukan Gurkha. Yaitu para tentara dari beberapa suku asli Nepal -termasuk Gurung– yang terkenal sebagai petempur alami nan agresif, berani, dan ulet di medan laga.
Pada awalnya, pasukan Gurkha bertempur melawan Imperium Britania Raya yang berusaha menguasai Hindustan hingga ke garis batas Himalaya di Kerajaan Nepal, yang dibangun oleh Prithvi Narayan Shah. Namun, kegigihan dan keberanian pasukan Gurkha sangat sulit untuk ditembus, yang mengakibatkan banyaknya kerugian di pihak Imperium Britania Raya. Sejarah panjang pertempuran yang berdarah-darah itu berakhir setelah ditandatanganinya traktat perdamaian di Sigauli pada tahun 1816.
Menyadari akan potensi pasukan Gurkha sebagai petempur yang menjanjikan, akhirnya Imperium Britania Raya, memutuskan untuk menyewa mereka sebagai pasukan bayaran. Bahkan, hingga kini kebiasaan tersebut masih berlangsung. Bergelombang pemuda terbaik dan paling berani dari Nepal, setiap tahunnya dikirimkan untuk menjadi pasukan kontrak yang mengisi satuan tempur Kerajaan Inggris, dan beberapa negara persemakmurannya.

Ratu Elizabeth II dari Kerajaan Inggris, sedang menginspeksi Kesatuan Pasukan Gurkha. (sumber: vanityfair.it)
Pasukan Gurkha dikenal akan kemahirannya dalam bertempur menggunakan khukri -sejenis belati atau golok dengan lengkungan khas-. Dalam suatu kesempatan di kemudian hari, saya sempat menyaksikan bagaimana khukri tersebut digunakan untuk menebas leher seekor kerbau hingga putus dalam sekali ayunan.
Bagi sebagian pemuda Nepal, bergabung menjadi pasukan Gurkha adalah sebuah anugerah tersendiri. Selain menaikkan status sosial, mereka juga dapat memperbaiki tingkat ekonomi keluarga. Mengingat Nepal merupakan sebuah negara miskin, dimana lahan pekerjaan yang layak, cukup sulit untuk didapatkan di dalam negeri.
Namun, untuk dapat menjadi pasukan Gurkha bukanlah hal yang mudah. Serangkaian ujian berat -baik fisik maupun tertulis-, harus dijalani oleh pemuda-pemuda yang berminat menjadi bagiannya. Salah satu ujian fisik yang khas bagi calon pasukan Gurkha adalah Doko Test. Yaitu berlari pada lerengan Himalaya sembari membawa batu seberat 25 kg yang ditempatkan pada ransel bambu khas Nepal yang disangkutkan pada kepala.

Cuplikan film dokumenter ‘Who will be a Gurkha/Gurka School’ besutan sutradara Kesang Tseten (Shunyata Film) ini menggambarkan seperti apa berat dan besarnya harapan pemuda Nepal yang ingin bergabung dalam Kesatuan Pasukan Gurkha. (sumber: factualforasia.com)
Tak sampai 30 menit waktu yang dibutuhkan untuk menyeberang dari dermaga hingga ke titik awal trekking. Sebelum berpisah, sang tukang perahu sempat menunjukkan arah tanjakan yang akan membawa kami menyusuri punggungan bukit Ananda hingga mencapai Peace Pagoda yang berada di atasnya.
Jalur trekking tersebut berupa undakan dan jalan setapak sederhana, yang diperkeras dengan bebatuan pada permukaannya. Disusun membelah hutan yang cukup rimbun, dan menyisakan sinar matahari hingga temaram. Walau tak banyak penanda khusus yang mengarahkan setiap pejalan, rasanya kemungkinan untuk tersesat pada jalur tersebut sangatlah kecil.
Dan meskipun puncak bukit Ananda tak terlalu tinggi, tetap saja tanjakan yang hanya menyisakan sedikit area datar tersebut sanggup menguras tenaga. Tak ada warung ataupun kedai di sepanjang jalur trekking itu, sehingga rasanya perbekalan air minum adalah sesuatu yang wajib dibawa. Selama trekking, sesekali kami berhenti pada area-area istirahat sederhana yang ada. Sepertinya perancang jalur trekking tersebut tahu, pada bagian mana tenaga kami telah cukup terkuras dan membutuhkan rehat sejenak.
Setelah satu jam perjalanan, akhirnya kami dapat melihat tubuh pagoda berwarna putih, yang tersembul samar dari balik rerimbunan hutan berbalut halimun. Sementara pemandangan kota Pokhara dan danau Phewa di kejauhan, berada pada sisi sebaliknya.
Perjumpaan Nichidatsu Fujii -seorang pendeta Buddha asal Jepang pendiri Ordo Nipponzan Myohoji Daisanga– dengan Mahatma Gandhi pada tahun 1931, telah menginspirasi dirinya untuk mendedikasikan hidupnya bagi gerakan anti kekerasan. Terlebih setelah rakyat Jepang menjadi korban akibat jatuhnya dua bom atom, masing-masing di kota Hiroshima dan Nagasaki pada akhir perang dunia kedua.
Pada tahun 1947, Fujii mulai merintis pembangunan Peace Pagoda yang direncanakan akan dibangun di seluruh dunia, sebagai sarana untuk mempromosikan perdamaian dan perjuangan tanpa kekerasan. Meskipun diprakarsai olehnya yang beragama Buddha, namun ia berharap bahwa Peace Pagoda nantinya dapat menjadi pengingat serta tempat perziarahan lintas kepercayaan, bagi seluruh manusia yang mencintai perdamaian dalam kehidupan.
Semangat perdamaian yang disebar melalui Peace Pagoda tersebut akhirnya sampai juga ke Nepal, yang kebetulan memiliki penganut Buddha dalam jumlah signifikan. Tercatat hingga tahun 2000, Nepal memiliki 2 dari 82 buah Peace Pagoda yang ada di seluruh dunia. Satu di antaranya dibangun di Pokhara, sedang yang lainnya di Lumbini, tempat kelahiran Siddharta Gautama.
Shanti Stupa atau Peace Pagoda yang dibangun di Nepal, khususnya yang berada di Pokhara, memiliki sejarah sendiri yang cukup panjang sejak sepertiga akhir abad keduapuluh. Dimulai sejak Fujii meletakkan batu pondasinya dengan menyemayamkan relik suci Buddha Sakyamuni di puncak bukit Ananda, Pokhara, pada tanggal 12 September 1973.
Pada 28 September 1973, patung kelahiran Siddharta dibangun mengiringi aula persembahyangan, wihara, dan guest house di sana. Namun pada 31 Juli 1974, ketika pagoda telah mencapai tinggi sekitar 10.5 meter, keseluruhan bangunan yang berada di kompleks tersebut dihancurkan oleh pemerintah, dengan alasan penyesuaian terhadap rencana pembangunan kota. Walaupun begitu, Fujii meramalkan meskipun pagoda dan bangunan-bangunan pendukungnya telah dihancurkan, suatu saat nanti Peace Pagoda di Pokhara tersebut akan kembali berdiri.
Delapan belas tahun kemudian, ramalan Fujii terbukti. Ketika pada 21 September 1992, Perdana Menteri Nepal Girija Prasad Koirala datang langsung ke bukit Ananda, dan meletakkan kembali batu pondasi Peace Pagoda, sebagai tanda berlanjutnya pembangunan pagoda tersebut di Pokhara.
Dengan dibantu oleh arahan dari pendeta Morioka Sonin dari Jepang, akhirnya Peace Pagoda tersebut selesai dibangun, dan diresmikan pada 30 Oktober 1999 oleh Girija Prasad Koirala yang saat itu telah berganti jabatan menjadi Ketua Kongres Nepal dan Mantan Perdana Menteri Kehormatan. Peace Pagoda di Pokhara, merupakan yang pertama dibangun di Nepal, dan menjadi yang ke 71 dari seluruh Peace Pagoda yang telah dibangun di dunia pada saat itu.
Secara teknis Peace Pagoda di bukit Ananda, memiliki tinggi 34 meter, dengan keliling 103 meter. Tiga belas tingkatan yang berada pada ketinggian 6 meter akhir stupanya yang bersepuh keemasan, merupakan simbolisasi dari tiga belas kosmos. Dan pada bagian kemuncaknya disematkan sebuah batu kristal berukuran besar dari Sri Lanka.
Bangunan Peace Pagoda didominasi oleh warna putih, dan dikelilingi aksen keemasan pada empat ceruk yang berisi patung Buddha. Masing-masing patung tersebut merupakan persembahan dari beberapa negara berbeda:

(dari kiri ke kanan, searah jarum jam): Patung Buddha di sisi Timur dari Jepang, sisi Barat dari Sri Lanka, sisi Utara dari Thailand, dan sisi Selatan dari Nepal.
Suasana di bangunan utama Peace Pagoda, sangat berbeda dari kebanyakan tempat yang disucikan di seluruh Nepal. Karena pada umumnya tempat-tempat tersebut riuh oleh kegiatan manusia, baik peziarah maupun wisatawan yang ingin menyaksikan keunikannya. Namun di Peace Pagoda waktu serasa melambat, dan bebunyian meluruh bersama angin.

Pemandangan pelataran kompleks , dilihat dari balkon utama Peace Pagoda. Pemandangan kota Pokhara dan danau Phewa di kejauhan, terhalang oleh tebalnya kabut hari itu.
Seorang pendeta berbaju putih sederhana dengan penutup kepala berbentuk caping, berjalan halus dan lambat mengelilingi stupa. Sembari mendaraskan mantra yang lirih, ia sesekali mengingatkan siapapun yang menghasilkan kegaduhan dan laku yang tidak pada tempatnya. Sikapnya teramat halus dan sopan setiap kali melakukan itu, seolah mengisyaratkan jika segala sesuatu yang kurang tepat dapat diluruskan dengan cara yang damai.
Dan itu, adalah pesan utama yang ingin disampaikan kepada semua. Pesan damai dari Pokhara untuk dunia.
Nama Pantai Labuana yang terletak di Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala, sebenarnya secara tak sengaja saya dapatkan ketika berselancar di dunia maya. Sebuah jurnal visual di Steller, mengenalkan saya pada pantai berpasir putih itu, yang kini tengah naik daun karena keindahannya yang baru saja terungkap ke dunia luar. Letaknya yang cukup jauh dari Kota Palu, dan tidak bersisian langsung dengan jalan raya, menyebabkan pantai ini tersembunyi selama bertahun-tahun.
Sekilas gambar tentang Pantai Labuana memang menunjukkan keelokannya. Namun ternyata perjalanan saya kesana tak hanya menyisakan kisah tentang pantai yang memiliki dermaga kayu nan instagramable, pasir putih yang sehalus tepung, dan spot-spot renang privat diantara lekuk-lekuk pantainya saja. Melainkan juga tentang keramahan Suku Kaili yang luar biasa.
Ketika saya memutuskan untuk mengunjungi Sulawesi Tengah, nama Pantai Labuana hanya saya letakkan di dalam daftar alternatif saja. Karena menurut info yang saya dapatkan pantai ini letaknya cukup jauh dari Kota Palu. Yaitu sekitar 105 km ke arah utara, yang dihubungkan oleh Jalan Trans Palu Toli-Toli. Selain itu, sekitar 1 km jalur menjelang pantai, hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki.
Namun rupanya, saya memang ditakdirkan untuk berjodoh dengan pantai cantik berpasir putih ini.
Setelah dua hari berturut-turut bermain air di Pantai Tanjung Karang Donggala, sebenarnya saya dan teman perjalanan saya memiliki rencana untuk kembali ke sana, demi mengunjungi atol yang tertunda sebelumnya. Namun, tiba-tiba kami merasa sayang jika lagi dan lagi harus kembali ke pantai tersebut. Kami ingin melihat bagian lain Sulawesi Tengah di hari terakhir kunjungan yang tersisa. Dan akhirnya kami memilih Pantai Labuana, sebagai tujuan selanjutnya.
Langit sedikit kelabu dan tak ada sinar matahari terik yang membakar kulit di hari kepergian kami ke Pantai Labuana. Bahkan udara di sepanjang perjalananpun terasa sejuk, sehingga jarak puluhan kilometer pertama yang kami tempuh menjadi menyenangkan.
Jalan Trans Palu Toli-Toli memberikan pemandangan yang berbeda dibandingkan Jalan Trans Palu Donggala yang kami lewati setiap hari pada dua hari sebelumnya. Meskipun sama-sama menyusuri pesisir Sulawesi Tengah bagian barat, Jalan Trans Palu Toli-Toli menghadirkan suasana pedesaan yang lebih menyegarkan.
Pantai-pantai berpasir hitam dan panjang mengawal kami di sebelah barat, sementara lansekap di bagian timur diisi dengan area perbukitan dan gemunung yang hijau, dengan hamparan sawah dan ladang yang luas, serta desa-desa yang dialiri oleh tubuh sungai berair jernih. Rumah warga yang bersih, sederhana, dan berhalaman luas, tampak berselang-seling dengan hutan pada sepanjang perjalanan.
Kami tergoda untuk singgah pada sebuah pantai berwajah kelabu, setelah satu jam berkendara. Walau tak berpasir putih, area pantai itu cukup luas, beriak tenang, dan dinaungi pepohonan rindang. Fatu Mapida namanya.
Pantai tersebut berada sekitar 3 meter lebih rendah daripada pintu masuknya yang terletak di sisi jalan. Di mata saya, pantai ini cukup fotogenik. Terletak pada teluk yang dibatasi oleh dinding karang nan tinggi, dengan pasir berwarna kelabu dan cenderung mengandung bebatuan yang bermassa besar. Di dekat pintu masuk terdapat karang-karang raksasa yang dapat dipanjat, dengan permukaan yang ketajamannya dapat menyayat kulit. Sementara di bagian utara justru pantainya ditutupi oleh serakan bebatuan besar yang bertindak sebagai pemecah ombak.
Meski Pantai Fatu Mapida menyambut kami dengan ramah, kami tak ingin berlama-lama di sana, karena Pantai Labuana yang menjadi tujuan kami hari itu masih terletak cukup jauh darinya.
Rangkaian tanjakan curam dan berlenggok langsung menyambut, begitu kami kembali memacu motor sewaan. Hutan Sulawesi yang lebat membatasi pada sisi kanan, sementara lereng tebing pembatas pantai di sisi kiri. Hanya ada satu dua kendaraan yang bersimpangan dengan kami, pada sepanjang jalan itu. Sungguh jalur yang sunyi. Dan kami menikmati.
Namun, belum lama kami meluncur pada jalan raya yang mulus. Tiba-tiba teman perjalanan saya melambatkan laju motor yang kami tumpangi.
“Kenapa? Kayaknya ada yang salah ya?“, saya berusaha memastikan.
“Iya nih, kayaknya ban belakangnya bocor deh. Coba cek mas!“, sahut teman perjalanan saya.
Dengan refleks saya berusaha menengok bagian bawah motor, dan meraihkan pandangan pada ban yang mulai tersok-seok di atas aspal.
“Ah iya, ban nya kempes habis! Duh!“, ujar saya mengkonfirmasi.
Kami berhenti dan mulai berdebat ringan tentang siapa yang akan tetap menaiki motor dan siapa yang harus berjalan kaki. Masing-masing dari kami menunjuk yang lainnya untuk tetap menaiki motor.
Hingga kemudian saya mengambil keputusan.
“Ok, lebih baik kamu yang tetap naik motor, dan aku yang jalan kaki! Karena aku sudah terbiasa jalan kaki jauh dan panjang selama berhari-hari kemarin di Himalaya.“, sebuah alasan dengan senjata kuat yang membuat teman seperjalanan saya manut.
“Kita balik arah lagi. Tadi aku lihat di bawah sana ada beberapa desa, siapa tahu warga di sana bisa bantu kita.“
Saya menatap resah ketika teman perjalanan saya mulai menjauh dengan motor yang dipacunya pelan. Sesungguhnya, saya tidak mempunyai ide apapun untuk keluar dari masalah itu. Ban motor yang bocor parah, pada tengah jalan di antara hutan-hutan yang sepi, tentu sebuah mimpi buruk dari perjalanan hari itu. Satu-satunya jalan keluar adalah mengganti ban tersebut. Tapi di mana, di tengah jalan sunyi macam itu?
“Tetap tenang. Tetap tenang. Positif thinking. Positif thinking!“, hanya itu yang saya gumamkan dalam hati berulang-ulang.
Tiba-tiba, seorang pengendara motor berwajah timur yang cukup angker, datang dari arah berlawanan menghentikan langkah gontai saya.
“Adik mau kemana?“, tanyanya tegas dengan logat Sulawesi Tengah yang cukup kental.
Lalu saya mulai menceritakan apa yang baru saja terjadi, sembari meningkatkan kewaspadaan akan kemungkinan buruk lainnya. Karena saya baru menyadari, jika saat itu saya sudah tak melihat teman perjalanan saya lagi. Di situ hanya ada kami berdua. Saya dan seorang asing bermotor!
“Naiklah kalau begitu, kita kejar kawanmu, dan saya antar kalian! Ada satu tempat yang bisa membantu kalian di bawah sana. Biar saya bantu.“, perintahnya.
Dengan sedikit ragu saya naik, dan mengikutinya. Tak berapa lama, kami berjumpa dengan teman perjalanan saya yang melaju pelan pada sebuah turunan. Saya memberinya isyarat dan mengatakan padanya untuk mengikuti motor yang saya tumpangi.
Pengendara motor itu kemudian bercerita pada saya, jika hari itu dia bermaksud pergi ke Palu. Kemudian ia melihat saya yang berjalan gontai dengan helm di tangan pada jalan yang sunyi, yang membuat ia berputar arah untuk menanyakan kenapa saya berjalan seorang diri pada daerah itu.
Ah itu sebabnya, mengapa ia datang dari arah yang berlawanan!
“Kira-kira ada tukang tambal ban pak di dekat sini?“, tanya saya.
“Ada, tapi agak jauh kalau jalan kaki. Makanya tadi saya ajak kamu naik motor saya.“
Dan benar saja. Ia menghentikan motornya yang saya tumpangi pada sebuah bengkel tambal ban sederhana, dan menurunkan saya di sana. Sembari menunggu teman perjalanan saya dengan motor kami, ia berbaik hati menemani.
Sebuah kebetulan, dari ceritanya akhirnya saya tahu jika ia berasal dari sebuah desa di dekat Pantai Labuana. Ia kemudian menambahkan beberapa info, tentang cara mencapai pantai itu, dan berapa lama waktu yang kira-kira kami butuhkan untuk mencapainya dari titik kami berhenti saat itu.
“Bilang saja kalian ingin pergi ke pantai pasir putih. Semua orang tahu. Pantai Labuana itu di Sirenja sudah!“, ujarnya dengan bahasa Indonesia yang sedikit terpengaruh tata bahasa setempat.
Segera setelah teman perjalanan saya tiba menyusul, sang pengendara motor yang menolong kami tadi berpamitan untuk melanjutkan perjalanannya. Namun sebelum ia melaju, kami menanyakan namanya, karena sedari awal belum sempat berkenalan.
“Nama saya Badru. Kalian lihat ini?“, ujarnya sembari menunjukkan telapak dan jemari tangan kanannya yang tanpa ibu jari.
“Ibu jari saya putus terkena tali kapal! Di Sirenja kalian sebut saja nama saya, semua orang pasti tahu.“, pungkasnya sembari tersenyum dan kemudian berpamitan untuk terakhir kalinya.
Perjumpaan dengan Pak Badru hari itu –sekali lagi– mengajarkan kepada kami, bahwa menjaga pikiran dan sikap positif di dalam perjalanan adalah sebuah hal yang penting. Bahkan dalam keadaan darurat sekalipun. Dan pertemuan itu membuat kami percaya, jika masih banyak orang-orang baik yang bersedia membantu sesama dengan ikhlas di dunia ini.
Sisa perjalanan kami hari itu sangatlah lancar. Tak ada hambatan berarti, kecuali sesekali kami perlu melambatkan diri karena melewati serangkaian acara kenduri warga yang memakan sebagian badan jalan bagi acara mereka. Selain itu, GoogleMaps yang kami percayai sepanjang hari, sempat memberikan penunjukkan yang salah, dengan mengarahkan kami untuk menembus bukit yang tak mungkin dilalui motor. Namun, setelah kami sedikit ‘melawan’ penunjukkan arah aplikasi peta tersebut, akhirnya kami sampai pada pantai berpasir putih, yang terentang di balik desa nelayan yang sederhana. Pantai Labuana Donggala!
Anehnya, matahari yang sejak pagi tersembunyi di balik awan, tiba-tiba bersinar dengan sangat cerah. Dan keterikannya segera membakar kulit. Namun, ia juga seolah ingin menampakkan keindahan pantai yang kami jumpai. Bentangan pasir putih berselang-seling pada setiap cerukan pantai yang tersembunyi di balik tebing dan bebatuan. Meskipun sedikit surut, air laut yang mengisi teluk tampak bergradasi. Hijau toska bening, menuju biru yang pekat di bagian dalam.
Sebuah dermaga kayu berdenah huruf T dengan pagar pembatas pada sisi-sisinya membuat saya yakin jika kami tak salah tempat hari itu. Dermaga yang instagramable tersebut, seolah merupakan penanda khusus akan pantai yang kami buru. Air yang surut telah memaparkan sebagian kaki-kaki dermaga dari pasir putih yang mendasarinya.
“Malam tahun baru lalu, banyak orang yang datang ke Pantai Labuana ini. Ratusan dari mereka menaiki dermaga untuk berfoto-foto, sehingga membuatnya hampir roboh karena menopang tubuh-tubuh pengunjung.“, seorang gadis penjual makanan di kedai menjelaskan kepada kami mengapa sebagian tubuh dermaga tampak doyong ke arah lautan.
Pada bagian selatan dermaga terdapat sebidang hutan bakau. Meskipun tak seberapa luas, namun kelebatan hutan itu itu cukup melindungi kulit dari sengatan matahari yang membakar. Padanya kami berlindung sementara menunggu matahari sedikit bersahabat untuk menemani berenang-renang di pantai.
Tak jauh darinya, ceruk-ceruk yang terdapat pada tebing-tebing pembatas laut membentuk gua-gua kecil. Beberapa nelayan menjelaskan, jika ada gua lain yang lebih cantik, yang dikenal sebagai Gua Cinta. Entah mengapa disebut seperti itu, namun untuk mengunjunginya kami harus menempuhnya dengan menggunakan kapal-kapal kecil milik nelayan.
Dari obrolan singkat di kedai, kami mendapat info jika sebelumnya Labuana hanyalah desa yang dipandang sebelah mata. Karena perekonomian mereka yang cenderung lebih rendah dibandingkan desa tetangganya. Bahkan jaringan listrik pun enggan menjamah. Namun, setelah keindahan pantai pasir putih terungkap, Labuana justru menjadi rebutan. Desa-desa tetangga berusaha untuk mengambil untung darinya. Semisal, menariki retribusi untuk siapapun yang melewati jalanan desa mereka demi mencapai Pantai Labuana.
Penduduk desa Labuana sendiri justru bersikap sebaliknya. Mereka tak setuju jika semua harus dikomersialisasi. Apa-apa tak harus ditukar dengan uang!
Bagi mereka, yang pada umumnya berasal dari suku Kaili, pengunjung adalah tamu. Jika mereka betah tinggal di Labuana yang sederhana, dan membatu ala kadarnya pun mereka terima. Kenyataan ini membuat saya dan teman perjalanan saya merasa terkesan dengan sikap mereka.
Mereka begitu terbuka dan mempercayai siapapun yang berkunjung ke Pantai Labuana. Jika di Pantai Tanjung Karang Donggala dan Pusat Laut, pengunjung hanya bisa berbilas sesuai takaran uang yang dibayarkan -per ember atau bak mandi-, maka di Pantai Labuana pengunjung bisa berbilas sesuka hati. Tak ada penjaga ruang bilas yang menagih uang untuk berbilas. Pengunjung cukup memasukkan uang mereka ke dalam toples plastik yang tergantung di sisi pintu ruang bilas. Kejujuran adalah modal yang dihormati suku Kaili di Labuana.
“Kalian bebas berenang di bagian mana saja. Silahkan pilih tempat yang kalian suka.“, begitu pesan mereka.
Pengunjung yang tak terlalu banyak hari itu, membuat kami serasa memiliki pantai pribadi. Berenang-renang dari satu sisi ke sisinya yang lain.
Meskipun tak ada karang-karang cantik pada dasarnya, Pantai Labuana tetap memikat. Pasir putihnya yang sehalus tepung, terasa tak terlalu lekat di kulit. Pun dasarnya landai, luas, dan tak terlalu dalam.
Jika saja hari itu masih panjang, dan jika saja esok kami tak harus kembali ke Jakarta, tentu kami ingin lebih lama berenang-renang di sana. Ah bukan kali itu, tapi mungkin kali lain kami akan kembali dan berlama-lama di Pantai Labuana.
VIDEO: Swimming at Labuana Beach – Donggala
Sebenarnya adalah runtuhan kapal Gili Raja yang menuntun saya untuk mengenal perairan Tanjung Karang Donggala lebih jauh. Menurut info, Gili Raja karam pada kedalaman sekitar 50 meter. Cukup dalam untuk ukuran penyelaman rekreasional. Sehingga untuk mengamati kemegahan kapal sepanjang 80 meter itu, seorang scuba diver yang minimal memiliki sertifikat Advanced Open Water Diver pun hanya diperbolehkan berada pada kedalaman tersebut maksimal sekitar 7-10 menit saja. Bagi saya deskripsi tentang keberadaan runtuhan kapal ini sangat membangkitkan minat petualangan.
Memang kegiatan wreck dive di runtuhan kapal yang tenggelam pada tahun 1958 tersebut, merupakan salah satu hal yang ditawarkan perairan Tanjung Karang Donggala. Walau tak semua penyelam dapat menikmatinya, dikarenakan tingkat kesulitan teknis yang ada.
Namun begitu, Tanjung Karang Donggala memiliki pesona lain yang dapat dinikmati oleh semua kalangan. Baik penyuka olahraga air, maupun mereka yang hanya lebih suka menghabiskan waktu di pinggir pantai berpasir putih, bertemankan hamparan air kebiruan yang bergelombang tenang.
Tak mungkin saya membicarakan Donggala tanpa menyertakan nama Palu. Kota yang menjadi pusat pemerintahan Propinsi Sulawesi Tengah saat ini.
Untuk mencapai Palu, saya bertolak dengan penerbangan paling pagi dari Jakarta. Dan setelah transit yang cukup singkat di Makassar, serta terbang melintasi kelebatan hutan Sulawesi yang pekat, akhirnya saya dapat melihat kota tersebut untuk pertamakalinya dari balik jendela pesawat. Kelelahan akibat tiga jam penerbangan serta merta hilang, ketika pesawat bersiap mendarat di balik cuaca cerah yang memberikan jarak pandang tak berbatas.
Untuk ukuran ibukota propinsi, Palu sangatlah sederhana. Terletak pada sebuah lembah yang menghampar dari tepi pantai Teluk Palu, hingga daerah perbukitan yang menjadi kaki-kaki gunung yang mengepungnya. Meskipun kota tersebut tampak padat, namun terlihat jika bangunan-bangunan yang mengisinya tidaklah semetropolis Makassar yang menjadi tetangganya di sebelah selatan.
Jika dibandingkan dengan perjalanan saya ke tempat-tempat lain sebelumnya, maka dapat dikatakan jika kali ini saya melakukannya di luar kebiasaan. Karena saya sama sekali tidak merisetnya dengan baik. Semua serba dadakan. Sehingga ada perasaan tak karuan, akibat gambaran yang masih remang-remang tentang Palu, Donggala, dan Sulawesi Tengah pada umumnya. Sebentuk kekhawatiran seketika meremang, ketika pesawat berputar di langit Kota Palu.
Namun semua itu segera sirna, begitu saya berjalan melalui lorong garbarata yang terhubung ke dalam tubuh terminal Bandara Mutiara SIS Al Jufri. Meskipun tak semegah Bandara Sultan Hasanuddin di Makassar, bangunan bandara kebanggaan masyarakat Sulawesi Tengah tersebut cukup memberikan impresi yang baik di mata saya.
Rancang bangunnya cukup modern, dengan atap-atap tinggi yang ditunjang oleh kolom-kolom gagah. Jalur aliran kedatangan dan keberangkatan penumpang pun terasa jelas. Selain itu suasana di dalam bandara terlihat bersih dan rapi, bahkan terasa jauh lebih menyenangkan dibandingkan dengan bandara tetangganya yang sibuk di Makassar. Namun, karena conveyor belt station yang dimilikinya tak banyak, tumpukan penumpang segera terasa setiap kali setelah sebuah penerbangan mendarat.
Dalam sejarahnya, pada awalnya bandara ini bernama Tana Masowu yang artinya berdebu. Namun kemudian atas saran Presiden Soekarno namanya diganti menjadi Mutiara. Dan pada tahun 2014 ditambahkan satu nama lagi pada bagian belakangnya, yaitu SIS (Sayid Idrus Salim) Al Jufri. Beliau adalah seorang tokoh ulama yang terkenal sebagai penyebar ajaran Islam di Indonesia Timur, yang oleh masyarakat sekitar lebih dikenal sebagai Guru Tua.
Saya sendiri sudah bersiap dengan kemungkinan tawaran angkutan ke tengah kota yang agak agresif begitu keluar dari dalam terminal bandara. Namun kenyataan yang saya temui justru berbeda. Penunggu penumpang (termasuk supir-supir taksi bandara) di Palu, sangatlah tertib. Tak ada keriuhan yang merusak mood kunjungan. Kondusif! Tanpa kesulitan, saya dapat menemui Pak Nur, yang menjadi supir jemputan yang telah dipesankan oleh staff Hotel Kampoeng Nelayan di Pantai Talise, tempat saya menginap.
Hotel yang saya pesan sebagai tempat menginap selama tinggal di Palu terletak pada tepi Pantai Talise, tak jauh dari Kampung Nelayan. Meskipun dipisahkan oleh dua ruas jalan raya, hotel ini berhadapan langsung dengan Teluk Palu. Sehingga dari aula makannya yang terletak pada lantai dua, saya bisa menikmati pemandangan laut dan gemunung yang mengurung kota dan aliran semilir angin yang melintasinya.
Hotel ini hanya terdiri dari 16 kamar, yang berada pada sebuah kompleks kecil dengan tatanan taman yang lebih mirip suasana villa-villa privat di Bali. Kamarnya cukup bersih, berlantai kayu parket, dengan interior kontemporer berdesain minimalis dan masih terasa baru. Kebetulan jendela yang saya miliki menghadap ke arah lautan yang melintasi area parkir.

(atas): Suasana kompleks Hotel Kampoeng Nelayan, dilihat dari sisi luar. (bawah): Masakan di Hotel Kampoeng Nelayan. Sedap, murah, dan porsi besar. Sampai kaget waktu makanan pesanan ini muncul.

Ruang Serba Guna dan Aula Makan di lantai 2 dari Hotel Kampoeng Nelayan. Pemandangannya ke laut lepas, gemunung, dan kota Palu.
Meskipun agak jauh ke pusat kota, namun bagi saya hotel ini sangat strategis, karena letaknya dekat dengan pusat wisata warga. Setiap pagi, sore, dan malam, terutama pada hari libur, ratusan warga kota banyak yang menghabiskan waktu di tepi pantai Teluk Palu. Dan Pantai Talise termasuk salah satu yang teramai, dengan Anjungan Nusantara sebagai pusatnya. Jembatan McD (yang memiliki lengkung berbentuk huruf M dan berwarna kuning) serta masjid apung Arqam Baburrachman yang fenomenal itupun hanya berjarak sekitar lima menit berkendara dari hotel.
Saya sendiri selalu menikmati waktu-waktu yang saya habiskan setiap malam di tepi Pantai Talise. Memandang kerlap-kerlip lampu yang memenuhi bibir teluk, ditemani deburan ombak, sembari memakan jagung bakar atau jagung rebus.
Pantai Tanjung Karang, terletak di Kecamatan Banawa, yang merupakan ibukota Kabupaten Donggala. Pantai ini terletak pada pintu masuk Teluk Palu yang menyerupai tabung, sementara Pantai Talise daerah saya menginap berada pada dasar tabungnya. Keduanya berjarak kurang lebih 38.7 km dan dihubungkan oleh Jalan Trans Palu Donggala.
Dengan mengendarai motor yang saya sewa dari hotel, saya segera mengunjungi Pantai Tanjung Karang Donggala di hari pertama. Tak ada ekspektasi berlebihan yang saya simpan selama di perjalanan, selain berusaha menikmati apa adanya segala sesuatu yang ditawarkan oleh propinsi yang baru saya jejaki pertamakalinya itu.

Rute dari Hotel Kampoeng Nelayan menuju Pantai Tanjung Karang Donggala di dekat Prince John Dive Resort.
Jalur yang menghubungkan Palu dengan Pantai Tanjung Karang Donggala terletak di sepanjang bibir Teluk Palu. Jalanannya lebar, dengan aspal yang relatif mulus -meskipun di beberapa tempat ada kerusakan minor-, dan cukup lengang. Kondisi jalanan ini membuat hampir semua kendaraan berpacu kencang di atasnya.
Pusat penambangan dan pengumpulan pasir terdapat pada beberapa titik di sepanjang jalur tersebut. Dan truk-truk pengangkut pasir merupakan kendaraan besar paling banyak yang terlihat melintasi daerah ini. Bagi saya, berpapasan dengan truk-truk tersebut dalam kecepatan tinggi adalah salah satu tantangan terberat selama bermotor di jalur tersebut. Karena setiap kali itu terjadi, maka ribuan butir pasir tajam melaju menghempas kulit. Terpaannya ibarat badai silika yang meninggalkan sensasi ratusan luka gigitan mikro dalam seketika.
Demi keselamatan, adalah suatu keharusan bagi pengendara motor untuk mengenakan pakaian yang tertutup, serta dilengkapi oleh masker dan pelindung mata selama melintasi jalur tersebut.
Hutan-hutan bakau eksotis juga menghiasi perjalanan dari Palu menuju Donggala. Pada pagi hingga tengah hari biasanya area ini mengalami surut, sehingga beberapa kapal kayu dapat teronggok layu di atas permukaan basah yang dihiasi oleh ratusan tunas-tunas bakau yang menyembul. Sedangkan pada lewat tengah hari, laut akan pasang dan melahirkan rawa-rawa bakau yang berair tenang.
Di Sulawesi Tengah, Tanjung Karang Donggala adalah nama yang hampir selalu direkomendasikan bagi siapapun untuk menikmati pantai. Begitupun bagi wisatawan yang datang dari luar propinsi. Sehingga tak aneh, meskipun hari telah merangkak sore pantai tersebut tetap riuh oleh pengunjung. Apalagi saat itu adalah hari pertama dari long weekend yang berlangsung selama empat hari.
Pada kunjungan pertama, saya hanya melakukan survey tentang jalur tempuhnya tadi dan spot-spot ideal yang mungkin bisa saya eksplor di keesokan hari, serta menikmati sore yang bergulir di atas pantai berpasir putih itu.
Ada beberapa pilihan kegiatan yang bisa dilakukan di Tanjung Karang Donggala. Mulai dari scuba diving yang dikelola oleh Prince John Dive Resort, snorkeling atau freediving di sekitar pantai, hingga menyewa kapal untuk mengeksplor sebuah atol yang berjarak sekitar 1 jam dari situ.
“Kalau cuma mau snorkeling saja, spot paling bagus ada di depan Prince John bang!”, ujar Midun, seorang pemuda pemilik kapal wisata yang saya kenal di pantai tersebut.
“Tapi kalau abang mau, besok bisa pergi ke atol dengan kapal saya. Sebaiknya pagi, karena kalau sore begini pulau pasirnya sudah tenggelam.”
Sebenarnya kami bersepakat untuk mengunjungi atol di keesokan hari. Namun karena saya bangun terlambat, akhirnya ia berangkat bersama wisatawan lain. Dan saya memilih untuk melakukan snorkeling dan freediving tepat di depan dive resort yang disarankan.
Pagi itu adalah hari keberuntungan saya. Karena Pantai Tanjung Karang Donggala lebih lengang dari hari sebelumnya. Air pun lebih surut, yang membuat pasir putih pantai terkupas lebih luas. Sebuah tenda yang berada di depan Prince John Dive Resort saya pilih sebagai shelter untuk menaruh barang-barang bawaan. Saya suka suasananya yang tenang tanpa gangguan.
Melihat pelabuhan yang tak jauh darinya, saya berpikir jika pemandangan bawah laut Tanjung Karang Donggala akan biasa-biasa saja. Hanya tipikal pantai tepi kota dengan gugusan karang yang tak sehat dan dihuni oleh banyak bulu babi penanda polusi. Dan ternyata saya salah besar!
Pantai Tanjung Karang Donggala memiliki air yang cukup jernih, dan tenang. Dasarnya landai hingga 10 meter lepas dari bibir pantai, dan kemudian sudut kecuramannya mulai bertambah setelahnya. Tak sampai 5 meter dari bibir pantai, gugusan karang-karang sehat sudah mulai terlihat. Bentuk dan warnanya bermacam-macam, baik soft coral maupun hard coral. Beberapa gugusan karang buatan juga saya temukan di area ini. Sementara puluhan jenis ikan, yang berenang tunggal maupun dalam kelompok juga terlihat sibuk di antaranya.
Gugusan karang tadi membatasi area pantai yang dangkal dengan lautan yang lebih dalam. Sampai pada titik ini, dasar laut yang berpasir putih masih terlihat dengan jelas. Saya perkirakan visibility kala itu mencapai 10 hingga 15 meter.
Selintas saya berpikir, jika tempat ini juga ideal untuk dijadikan wilayah penanaman biorock.
Air yang tenang, tak jauh dari bibir pantai, visibility yang bagus, dan pemandangan bawah laut yang indah menjadikan area ini sebagai tempat berlatih freediving yang ideal bagi saya. Dan tentu saja, saya tak melewatkan kesempatan ini, untuk sesekali mengasah kembali kemampuan tersebut. Sementara travelmate saya lebih memilih untuk menikmati keindahan Tanjung Karang Donggala dengan cara bersnorkeling.
Secara pribadi, saya merasa belum puas dengan kunjungan selama dua hari ke Tanjung Karang Donggala pada waktu itu. Suatu hari nanti, saya ingin kembali ke sana. Mengeksplornya lebih lama dan lebih dalam.
Dan tentu saja, saya masih menyimpan impian saya untuk menyaksikan kemegahan Gili Raja.
Video ini menggambarkan lebih lengkap tentang keseruan yang bisa dilakukan di Tanjung Karang Donggala:
Sebenarnya perjalanan itu diinisiasi oleh promo tiket yang digelar oleh maskapai Lufthansa, sebagai bagian dari pengenalan rute penerbangan Jakarta – Frankfurt ~yang sayangnya saat ini telah ditutup~.
Rute penerbangan tersebut mengharuskan armada Lufthansa untuk transit beberapa saat di Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA), sebelum terbang secara nonstop ke Jerman. Namun, karena waktu perjalanan yang saya dapatkan adalah berada pada jam penerbangan terakhir, maka saya baru mendarat di KLIA sekitar pukul 23.00 waktu setempat.
Karena keterbatasan waktu, saya memilih untuk langsung mengunjungi Melaka pada keesokan harinya dengan bus paling pertama dari bandara.
Jelas jam kedatangan di bandara dan keberangkatan kembali ke Melaka menempatkan saya pada posisi tanggung untuk menginap di dalam kota Kuala Lumpur. Sehingga, demi efisiensi dan penghematan, saya memutuskan untuk bermalam di bandara daripada di dalam kota.
Pilihan bermalam di bandara sepertinya juga jamak dihadapi oleh banyak traveler lainnya. Dengan beragam alasan tentunya. Mulai dari efisiensi, jarak waktu transit dan perjalanan kembali yang sempit, hingga alasan keamanan seperti yang pernah saya alami di India.
Meskipun seringkali hal ini sulit untuk dihindari, namun banyak traveler yang merasa kurang yakin untuk mengambilnya. Keamanan dan kemudahan menjadi faktor pertimbangan, sementara kenyamanan adalah faktor lain yang tak perlu diperdebatkan, meskipun hampir pasti menjadi pertimbangan utama.

Fasilitas aerotrain di Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA), yang menghubungkan pintu kedatangan dan keberangkatan dengan terminal utama.
Dengan semakin berkembangnya pelayanan dalam dunia penerbangan, bandara juga terkena imbas kemajuan yang luar biasa. Saat ini hampir seluruh bandara di dunia berlomba untuk masuk ke dalam jajaran yang terbaik. Setidaknya kenyamanan serta keamanan menjadi salah satu hal yang mengalami peningkatan pesat. Jadi tak usah khawatir, kini mampir seluruh bandara utama di dunia, cukup nyaman untuk diinapi dalam waktu tertentu.
Namun demikian, tetap ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, agar opsi ini dapat dilakukan dengan nyaman.

Lounge-lounge macam ini pun dapat dijadikan tempat menginap dan beristirahat yang nyaman. Gratis pula.
Mungkin tips-tips di atas tidak dapat diterapkan pada semua bandara, terutama yang memiliki jam operasional singkat per harinya. Namun begitu hal-hal tersebut dapat diterapkan pada ratusan bandara besar lain di dunia, yang mungkin kalian singgahi sebagai titik kedatangan dan keberangkatan di antara perjalanan petualangan kalian menjelajahi bumi.
Selamat mencoba!
Tepat 1 tahun yang lalu, pada tanggal 30 April 2015, BARTZAP.COM mulai saya rintis. Dengan menanyangkan ulang beberapa tulisan saya yang pernah dimuat pada media cetak, dan beberapa artikel yang saya pindahkan dari ‘rumah lama’. Dan kemudian, secara bertahap saya berusaha untuk konsisten mengunggah artikel-artikel baru yang disarikan dari perjalanan saya selama ini.
Jujur, awalnya saya tidak membayangkan keriuhan macam apa yang akan saya alami dalam mengisi ‘rumah yang baru’ ini. Tujuan saya saat itu, hanyalah untuk melawan lupa.
Ternyata BARTZAP.COM memberikan banyak hal-hal baru dalam kehidupan saya dalam waktu satu tahun terakhir. Mulai dari jejaring pertemanan yang semakin luas, ilmu yang berkualitas, hingga petualangan seru semacam menerabas alas.
Petualangan terakhir dan yang paling berkesan bagi saya adalah, ketika saya berhasil menapaki Himalaya seorang diri melalui jalur Annapurna pada tanggal 7-22 April 2016. Dimana modalnya saya dapatkan dari lomba penulisan blog yang saya ikuti atas nama BARTZAP.COM
Maka sebagai rasa syukur atas perjalanan BARTZAP.COM dalam waktu satu tahun terakhir, dan keselamatan serta kelancaran dalam menjejakkan kaki di Annapurna, saya ingin berbagi sedikit #OlehOlehdariHimalaya
Tapi karena oleh-olehnya tidak banyak, maka saya akan membagikannya bagi yang mau saja, dengan sedikit usaha. Tidak susah kok. Intinya saya cuma membutuhkan saran dan masukan yang membangun, serta bantuan untuk mengenalkan BARTZAP.COM ke dalam jejaring kalian.
Dan berikut adalah #OlehOlehdariHimalaya yang akan saya bagikan untuk lima orang dari kalian yang beruntung:
Untuk komentar serta feedback paling kreatif dan membangun:
1 (satu) orang pemenang akan mendapatkan 1 Paket Oleh-oleh Himalaya, berupa: 1 buah pictorial book Nepal, 1 buah pictorial calendar Nepal 2017, 1 bungkus Nepali Tea, dan 1 set handmade Himalayan Soap.
Untuk Lucky Draw:
2 orang pemenang pertama masing-masing akan mendapatkan 1 Paket Oleh-oleh Annapurna, berupa: 1 buah pictorial book (Explore Nepal atau Pokhara and The Annapurnas), dan 1 bungkus Nepali Tea.
2 orang pemenang kedua masing-masing akan mendapatkan 1 Paket Oleh-oleh Machhapuchhare, berupa: 1 buah pictorial calendar Nepal 2017, dan 1 set handmade Himalayan Soap.
Bagaimana cara untuk mendapatkannya? Kalian bisa simak pada rincian tata cara dan aturannya di bawah ini:
1. Follow media sosial yang berhubungan dengan BARTZAP.COM (yang sesuai dengan media sosial yang kalian miliki):
* Facebook Fanspage: www.facebook.com/bartzap
* Twitter: @BaRTZap
* Instagram: BaRTZap
* Steller: BaRTZap
2. Berikan komentar dan feedback bagi kemajuan BARTZAP.COM ke depannya, pada kolom komentar di bawah artikel ini, dengan tak lupa mencantumkan data diri kalian dan media sosial yang kalian miliki. Contohnya:
* Nama: Fulan bin Falun
* Facebook: http://www.facebook.com/fulanfalun
* Twitter: @fulanfalun
* Feedback: Menurut saya BARTZAP.COM sudah bagus, cuma masih kurang jalan-jalan dibayarin sponsornya. Kalau saya bayarin mau gak?
Saya akan memilih satu pemenang yang memberikan komentar serta feedback paling kreatif dan membangun.
3. Untuk dapat menuliskan feedback, tentunya kalian harus melihat-lihat BARTZAP.COM terlebih dahulu. Jika kalian bukan pengunjung aktif, kalian bisa membaca secara acak beberapa tulisan yang pernah saya buat dan mengamati tampilan serta segala hal yang berhubungan dengan BARTZAP.COM untuk kalian berikan masukan.
4. Bagikan tautan artikel ini di media sosial kalian dengan hashtag #bartzap #OlehOlehdariHimalaya dengan menggunakan narasi yang menarik. Ajak teman, saudara, pacar, guru, bapak, ibu dan calon mertua untuk ikut juga dalam giveaway ini. Jangan lupa mention saya di @BaRTZap (Twitter), atau Bartian BaRT Rachmat (Facebook).
5.Setiap share yang kalian lakukan akan menjadi nomor undian khusus bagi kalian dalam ajang lucky draw. Jadi, jika kalian membagikan di Facebook dan Twitter sekaligus, maka kalian akan mendapatkan dua kesempatan untuk terundi. Empat orang pemenang akan diambil dengan menggunakan random/drawing generator.
6. Ajang giveaway #OleholehdariHimalaya ini akan berlangsung hingga tanggal 14 Mei 2016 pukul 23.59, dan akan saya umumkan pemenangnya, paling cepat pada tanggal 18 Mei 2016 pukul 23.59 di bagian bawah dari artikel ini.
Yuk ikutan! Saya tunggu yaaaa
KATEGORI PERTAMA: Untuk komentar serta feedback paling kreatif dan membangun.
NOMINASI:
HADIAH: 1 Paket Oleh-oleh Himalaya, berupa: 1 buah pictorial book Nepal, 1 buah pictorial calendar Nepal 2017, 1 bungkus Nepali Tea, dan 1 set handmade Himalayan Soap.
PEMENANG: Dani Rachmat.
KATEGORI KEDUA: Lucky Draw dengan menggunakan online draw generator RandomPicker.
PESERTA & SYARAT SAH: Semua pengunjung yang telah meninggalkan komentar dan masukan di kolom komentar, serta membagikan tautan ajang giveaway ini di media sosial yang mereka miliki, dengan menyertakan hashtag #bartzap #OleholehdariHimalaya.
HADIAH:
2 orang pemenang pertama masing-masing akan mendapatkan 1 Paket Oleh-oleh Annapurna, berupa: 1 buah pictorial book (Explore Nepal atau Pokhara and The Annapurnas), dan 1 bungkus Nepali Tea.
2 orang pemenang kedua masing-masing akan mendapatkan 1 Paket Oleh-oleh Machhapuchhare, berupa: 1 buah pictorial calendar Nepal 2017, dan 1 set handmade Himalayan Soap.
2 ORANG PEMENANG @ 1 PAKET OLEH-OLEH ANNAPURNA:
2 ORANG PEMENANG @ 1 PAKET OLEH-OLEH MACHHAPUCHHARE:
Selamat kepada para pemenang, semoga suka dengan oleh-oleh dari saya!
Mohon segera kirimkan info data diri (nama lengkap dan nomor telepon) kalian serta alamat pengiriman hadiahnya melalui email: [email protected], dengan judul email Pemenang Giveaway #OleholehdariHimalaya
Saya juga ingin mengucapkan terimakasih kepada peserta lainnya, atas kesediaan kalian untuk meluangkan waktu dan mengikuti ajang giveaway yang sederhana ini. Meskipun belum dapat oleh-oleh jangan berkecil hati ya, buat saya kalian semua JUARA! Komentar dan masukkan kalian benar-benar berharga, asik-asik pula.
Mohon doanya ya, semoga bartzap.com ke depannya lebih banyak rejeki, sehingga bisa menggelar ajang giveaway dengan hadiah yang lebih banyak dan menggoda😀
Sekali lagi, selamat dan terimakasih yaaaaaa ….
Namun sayangnya, citra buram tentang kemiskinan, kesemrawutan, serta beberapa berita yang terkait dengan keamanan India, sering membuat nyali para traveler yang ingin mencoba untuk mengeksplorasinya menjadi ciut. Padahal India adalah sebuah negara yang eksotis, dimana pengalaman dalam menjelajahinya akan memperkaya jiwa.
Saya harus mengakui, bahwa berjalan-jalan di India tidaklah mudah. Bahkan jika itu dilakukan secara berkelompok sekalipun. Apalagi jika dilakukan secara solo dan independen. Dibutuhkan sebuah keberanian dan kenekadan tertentu untuk melakukannya.
Namun, itu bukan berarti tak mungkin, karena saya sudah membuktikannya. Jika mau, kalian pun dapat melakukannya. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar petualangan kalian di India dapat berjalan dengan lancar. Berikut ini adalah beberapa tips solo traveling ke India dari saya, yang mungkin bisa bermanfaat bagimu.

India Gate di Rajpath (Kingsway) Delhi dan tentara penjaga: Hampir di seluruh bagian India adalah pemandangan umum jika kita menemukan tentara-tentara berjaga dilengkapi dengan senjata laras panjang.
Jika kalian telah sampai di India. Tenanglah. Rileks saja. Nikmati India. Terima ia apa adanya. Karena itu yang terpenting.
Kunjungilah bangunan-bangunan agung peninggalan masa lalunya. Pelajari sejarahnya. Selami karya seninya. Nikmati kulinernya. Rasakan tradisi dan perpaduan multi golongannya. Jangan lupa bergaul dan berkawan dengan warga lokalnya. Dan jika kalian cukup beruntung, hadiri juga pesta adat mereka. Resapi kemeriahannya.
Saya yakin jika kalian melakukannya, segala hal buruk yang selama ini menghantui diri tentang India, akan menguap dan berubah menjadi kerinduan ketika kalian meninggalkannya. Dan solo traveling ke India akan menjadi salah satu perjalanan yang paling berkesan dalam hidup kalian.
“Rindu yang menancap di lidah bisa menjadi energi kuat bagi seseorang untuk mengunjungi kampung halaman.”
Saya memiliki banyak alasan untuk pulang ke Kudus. Karena di sana, tersimpan begitu banyak memori masa lalu yang menyenangkan. Masa kecil tanpa beban, hingga kala remaja yang manis untuk dikenang.
Dan dari sekian banyak alasan yang membuat saya ingin kembali ke sana, adalah segudang kuliner khas Kudus yang selalu menggugah selera. Yang hanya bisa saya nikmati di kota itu. Bukan hanya karena rasanya yang spesifik, melainkan juga isi penyusunnya yang mungkin agak jarang tersedia di tempat lain.
Dalam kunjungan yang sangat singkat di awal bulan Februari 2016 lalu, saya memburu kuliner-kuliner berikut demi menuntaskan rindu pada si Kota Kretek.
Sulit mendeskripsikan padanan rasa yang tepat untuk menggambarkan kuliner satu ini. Secara penampilan mungkin mirip dengan lontong atau ketupat sayur. Namun secara rasa sangat berbeda, karena lentog sangat spesifik.
Lentog yang berarti lontong ini umumnya disantap pada pagi hingga siang hari. Terdiri atas potongan lontong yang disiram oleh kuah jangan gori atau sayur nangka muda, dilengkapi potongan telur pindang, opor tahu, kani atau santan kental gurih, serta taburan bawang goreng. Yang kesemuanya disajikan pada piring berlapis daun pisang.
Kuliner ini rasanya gurih, dan cocok sebagai pembuka hari. Pertemuannya dengan alas daun pisang menguarkan aroma khas tradisional nan sedap dan menggoda.
Bagi mereka yang menyukai citarasa pedas, maka tersedia dua jenis olahan cabai sebagai penyedap rasa. Yang pertama adalah kukusan cabai rawit utuh yang telah direndam dalam kuah santan sayur nangka muda. Dan yang kedua adalah sambal yang terbuat dari hasil tumbukan cabai rawit, bawang putih, dan terasi, yang ditumis dan kemudian disiram dengan kuah opor tahu. Mau coba yang mana? Tergantung selera. Kalau saya, lebih suka yang pertama.
Lentog yang terkenal di Kudus adalah Lentog Tanjung, karena pada awalnya kuliner ini lahir dan dipopulerkan oleh pedagang dari desa Tanjungkarang di Kecamatan Jati. Namun, saat ini lentog juga telah dijual di beberapa tempat lainnya di luar desa tersebut. Selain Lentog Tanjung yang umumnya berada pada sekitaran Wisma Haji di Jalan R. Agil Kusumadya, warung lentog yang berada di area GOR Wergu Wetan juga merupakan salah satu yang paling terkenal di seantero kota.
Bagi saya, sarapan pagi dengan lentog adalah sebuah pembuka wajib bagi kunjungan melepas rindu pada Kota Kudus.
Soto merupakan salah satu signature dish Indonesia, yang secara umum merupakan sup berkuah dengan isian yang beragam. Hampir setiap daerah yang memiliki soto, menghadirkan kekhasannya masing-masing. Begitu pula dengan Kudus, yang memiliki sotonya sendiri.
Meskipun soto Kudus ada yang dijual dengan suwiran daging ayam, namun salah satu kekhasan soto Kudus asli adalah penggunaan daging kerbau sebagai sumber proteinnya. Pemanfaatan daging kerbau berakar pada anjuran Sunan Kudus kepada pengikut-pengikutnya untuk menghormati saudara-saudara mereka yang beragama Hindu. Dimana sapi merupakan hewan yang disucikan umat Hindu, sehingga sang Sunan melarang pengikutnya untuk menyembelih hewan tersebut meskipun dihalalkan dalam Islam, serta menggantikannya dengan kerbau.

Menara Kudus, sebuah bangunan peninggalan Sunan Kudus yang melambangkan akulturasi dan harmonisasi agama Islam dengan Hindu-Buddha yang saat itu masih dominan dianut masyarakat sekitar.
Soto Kudus memiliki kuah yang bening tanpa santan, cenderung manis, dan terkadang memiliki citarasa pedas samar yang datang dari tumbukan lada dan jahe. Soto ini disajikan secara khas pada sebuah mangkuk yang berukuran relatif kecil, dicampurkan langsung bersama nasi, dengan isian kecambah, rajangan seledri, potongan daging kerbau, dan taburan bawang putih goreng yang agak masif. Tak lupa, perasan beberapa iris jeruk nipis dan sambal juga ditambahkan demi memperkaya rasa.
Citarasa kaldu kerbau yang gurih dan manis, serta bawang putih goreng adalah salah satu kekhasannya yang paling menempel di lidah. Dan karena ukuran mangkuk hidangnya yang kecil, maka biasanya saya minimal menghabiskan dua porsi soto dalam sekali kunjungan.
Oh iya, untuk menambah keseruan dalam menyantapnya, soto Kudus biasanya ditemani oleh beberapa kuliner pelengkap lainnya, seperti: sate kerang, sate telur puyuh, otak goreng tepung, jeroan goreng, dan perkedel kentang. Lezat khan? Tapi hati-hati, kolesterol bisa melonjak, jika tak pandai mengontrol diri.
Terdapat banyak warung soto Kudus yang terkenal di seantero kota, di antaranya adalah Soto Kudus Pak Ramidjan, Soto Kudus Pak Denuh, atau bisa juga memilih dari beberapa pedagang soto di Taman Bojana pada samping kantor Kabupaten.
Saran saya, kalau kalian ke Kudus dan berniat mencoba soto khas kota ini, maka pilihlah yang menggunakan daging kerbau, karena belum tentu kalian menemukannya di kota lain.
Selain soto, sate khas Kudus juga menggunakan daging kerbau sebagai bahan utamanya. Dan jika pada umumnya daging yang digunakan untuk sate adalah ditusukkan mentah-mentah dan kemudian dibakar. Maka sate kerbau di Kudus melalui proses yang sedikit berbeda.
Daging kerbau memiliki tekstur dan serat otot yang lebih kasar, jika dibandingkan dengan daging sapi. Namun, pengolahan yang dilakukan dalam penyiapan sate ini membuatnya lebih lunak saat disantap. Biasanya daging kerbau yang akan dijadikan sate terlebih dahulu ditumbuk, lalu dicampurkan dengan beberapa bumbu serta bahan lainnya, sebelum ditusukkan dan dibakar di atas bara.
Sate daging kerbau khas Kudus memiliki rasa manis berempah serta lembut di lidah, yang dihidangkan bersama kuah bumbu kacang encer bercampur serundeng. Bagi mereka yang membutuhkan citarasa pedas, maka dapat ditambahkan sedikit sambal cabai rawit rebus ke dalam bumbu kacangnya sebelum disantap.
Warung sate kerbau di Jalan Menara, tepat di samping kompleks Masjid Al Aqsha dan Makam Sunan Kudus, adalah salah tempat yang paling bisa menuntaskan kerinduan saya pada kuliner ini. Tak ada yang berubah pada warung tersebut, bahkan setelah 20 tahun saya meninggalkan kota itu. Citarasa yang mereka sajikan, masih sama seperti dua dekade yang lalu.
Saya tidak tahu apakah sejatinya olahan tahu ini benar-benar asli Kudus. Karena seingat saya, tahu telur justru baru menanjak kepopulerannya pada awal tahun 90an. Kuliner ini dijajakan oleh para pedagang pada setiap malam di sepanjang Jalan Sunan Kudus, dari batas timur Kali Gelis hingga menjelang alun-alun Kota Kudus Simpang Tujuh.
Secara penampilan, tahu telur ini mirip dengan tahu gimbal yang dikenal di Semarang. Berupa potongan tahu yang disajikan bersama beberapa kerat lontong atau nasi, lalu ditambahkan telur dadar dan kecambah, untuk kemudian disiram oleh bumbu kacang. Namun, yang sangat jelas membedakan keduanya adalah dari bumbunya. Dimana tahu telur dari Kudus sangat kental dalam penggunaan bawang putih. Pedas gurih tahu bumbu yang dihasilkan oleh bawang putihnya dapat bertahan hingga beberapa saat di rongga mulut.
Warung tahu telur yang umumnya mengambil konsep lesehan, membuat kuliner satu ini cocok dijadikan pengisi makan malam yang santai. Mengobrol santai sembari makan malam selalu menyenangkan, bukan?
Jika melihat penampilannya sekilas, mungkin sego pindang atau nasi pindang ini mirip dengan rawon. Karena memang ditambahkan biji keluak (Pangium edule) ke dalam campuran kuahnya. Hanya saja, warna kuah nasi pindang tidak segelap rawon, melainkan kecoklatan. Mungkin ini terjadi karena adanya penambahan santan pada kuahnya, sehingga mengencerkan warna keluak yang kehitaman.
Nasi pindang memiliki citarasa gurih dengan aksen manis yang lembut. Disajikan pada sebuah piring yang dilapisi daun, dengan komposisi nasi yang disiram kuah pindang berlebih, berisikan potongan daging kerbau serta godong so atau daun melinjo muda, dan taburan bawang putih goreng.
Kuliner khas Kudus ini paling sedap disantap dalam keadaan panas. Dan seperti layaknya soto Kudus, nasi pindang juga umum disajikan bersama pelengkap semacam rambak atau kerupuk kulit, jeroan goreng, sate telur puyuh, dan perkedel.

Sate Kerang, Paru Goreng, Sate Telur Puyuh, dan Otak Goreng. Teman pelengkap bagi Nasi Pindang dan Soto Kudus.
Pujasera Taman Bojana di samping kantor Kabupaten Kudus menjadi sentra pedagang nasi pindang ini. Tapi saya dan keluarga memiliki warung langganan yang berada di Jalan Sunan Kudus, tak jauh dari tepi barat Kali Gelis dan salah satu rumah kembar Nitisemito yang merupakan konglomerat rokok kretek ternama di masa kolonial. Dan warung tersebut adalah favorit mendiang kakek saya.
Bagi saya pribadi, mengunjungi Kudus tanpa mencicipi nasi pindang tentu terasa kurang.
*****
Saya tak tahu apakah saya akan bosan seandainya kembali tinggal di Kudus, dan menyantap kuliner-kulinernya secara rutin. Namun pastinya, rindu yang menancap di lidah bisa menjadi energi kuat bagi seseorang untuk mengunjungi kampung halaman.
Bagaimana dengan kalian?
Namun, bisa jadi itu adalah kesempatan terakhir kami selama di Nepal untuk dapat menikmati cahaya pagi pertama yang menimpa jajaran Himalaya, dan menyembulkan puncak-puncak Annapurna, Machapuchare, serta Dhaulagiri. Kami tak mau menyia-nyiakannya. Itu adalah kesempatan langka.
Pagi masih gulita ketika akhirnya kami bergabung bersama puluhan pejuang fajar yang memadati Sarangkot View Point. Uap-uap yang mengepul dari lubang hidung dan mulut, serta gemeretak halus dari gigi-gigi yang menggigil meningkahi suasana di tempat itu. Kami terduduk rapi pada undakan yang menghadap langsung ke arah gemunung yang tampak samar. Beberapa orang mencoba mengatur tripod dan kamera pada posisi terbaiknya sembari menahan dingin. Sementara kami berdua memilih tetap duduk merapatkan diri, serta menenggelamkan tangan pada kantung jaket yang lebih hangat.
Kemuncak Himalaya yang tersaput salju di kejauhan belum terbentuk jelas. Hanya siluetnya yang nampak gagah berlatar langit fajar yang cerah tanpa gemintang . Sementara berlapis-lapis kabut yang mengambang pada kaki-kakinya, membentuk samudera halimun yang menenggelamkan puncak-puncak kota, desa, serta aliran sungai.

Matahari mulai terbit di Himalaya Range Annapurna, bersamaan dengan kabut yang menipis pada kaki-kakinya.
Dan ketika semburat lembayung pertama hadir di angkasa, suara-suara rana kamera yang terbuka menambahkan keriuhan baru. Halus dan bergantian. Berusaha merekam kegagahan Himalaya yang mulai disingkap fajar.
Namun kemeriahan itu tak berlangsung lama, segera setelah matahari meninggi tempat itu mulai sepi. Para pengunjung yang kebanyakan datang dari penginapan yang jauh, segera kembali untuk sarapan pagi. Sementara kami yang memiliki kamar tak jauh dari view point, memilih untuk tinggal beberapa saat sembari berjemur menghangatkan diri.
Ram telah menunggu di penginapan, dan segera menawarkan sarapan begitu kami tiba. Satu set menu dhal bhaat bagi kami masing-masing. Menu yang agak berat, namun sesuai untuk pagi yang dingin seperti itu.
Kami sempat berbincang-bincang sejenak dengan Ram sembari sarapan di atas balkon. Ia menceritakan tentang pengalamannya bekerja selama beberapa tahun di timur tengah, yang meskipun menjanjikan penghasilan yang lebih besar namun tak membuatnya betah. Ia memilih untuk kembali ke Nepal dan mengelola penginapan –Mountain View Lodge– yang bersahaja di Sarangkot. Lebih tenang dan dekat dengan keluarga, ujarnya.

Saya, Ram dan keluarganya di Mountain View Lodge milik mereka. Meskipun sederhana, tapi WiFi dan masakan mereka juara.
Meskipun ketenangan di Sarangkot menyenangkan, kami tak berniat menghabiskan waktu lebih lama di sana pagi itu. Karena rasanya tak ada lagi yang bisa kami lakukan selain bermalas-malasan di desa tersebut. Kami memilih untuk segera turun ke Pokhara, dan menghabiskan waktu yang lebih santai di sana.
Dengan sebuah taksi yang telah dipesankan oleh Ram, kami turun ke arah Danau Phewa, segera setelah menyelesaikan sarapan pagi.

Hotel Lakefront Pokhara yang terletak di pinggir Danau Phewa. (source)
Hotel Lakefront adalah penginapan kami selanjutnya. Meskipun saya memilihnya secara cermat dengan memperhatikan ulasan dan gambar yang dipajang di booking.com, namun saya sama sekali tak mengira jika hotelnya memang sebagus itu.
Kami mendapatkan sebuah kamar yang terletak di lantai dua, dilengkapi dengan sebuah balkon yang terbuka ke arah taman dan menghadap danau Phewa. Dari tempat itu, kami dapat bersantai menikmati pemandangan bukit dan gunung yang saling berbaris mengelilingi badan air yang menjadi kebanggaan Pokhara. Sementara selaput salju yang menutup puncak-puncak Himalaya mengintip samar di kejauhan.
Hotel tersebut masih baru. Bahkan kami dapat mencium aroma cat yang menguar samar dari dinding-dindingnya. Kamar mandinya didominasi oleh keramik berwarna putih, dengan saluran air panas yang mumpuni. Sebuah televisi layar datar multi channel terpasang pada dindingnya, dimana saya sempat menemukan sebuah tayangan film bersubtitle bahasa Indonesia. Rupanya, salah satu siaran dari Indonesia tertangkap oleh jaringan parabola di kota tersebut.

Kamar twin dengan balkon, yang kami tempati di Hotel Lakefront. (source)
Tak hanya itu. Sebelumnya, pengelola hotel yang menyambut kami di lobby langsung mengajak berbincang dalam bahasa Melayu, begitu tahu kami berasal dari Indonesia. Rupanya ia pernah bekerja dan memiliki urusan perniagaan di Malaysia. Karena masih satu rumpun bahasa, maka kami tak menemui kesulitan untuk berkomunikasi lebih lanjut dengannya. Ia juga berbaik hati menjelaskan beberapa hal tentang Pokhara, dan apa yang bisa kami nikmati, serta lakukan selama berada di kota tersebut.

Hotel Lakefront di malam hari. (source)
Meskipun secara ukuran Pokhara adalah kota terbesar kedua di Nepal, dan merupakan salah satu tujuan wisata paling diminati di negeri tersebut, namun keadaan Pokhara sangatlah kontras jika dibandingkan dengan Kathmandu atau kota-kota lainnya. Saya merasakan suasana yang lebih santai di sana. Terlepas dari nyatanya geliat pariwisata yang sangat hidup di kota tersebut, Pokhara sangatlah menyenangkan untuk dieksplorasi, bahkan dengan berjalan kaki sekalipun.
Siang itu, kami mulai menikmati Pokhara dengan menyusuri tepian Danau Phewa, yang kebetulan tembusan jalur pejalan kakinya terletak tak jauh dari hotel yang kami inapi. Danau air tawar terbesar kedua di Nepal tersebut memiliki luas kurang lebih 5,23 km persegi, dan terletak pada ketinggian 742 mdpl, dengan kedalaman rata-rata 8 meter dan titik terdalamnya adalah 24 meter.
Secara fungsi, Danau Phewa sebenarnya ditujukan untuk menunjang pembangkit listrik yang modulnya diletakkan di bagian selatan badan air tersebut. Namun, dalam kenyataannya danau tersebut merupakan ikon pariwisata yang sangat penting bagi Pokhara. Selain itu, juga menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat sekitar yang berprofesi sebagai nelayan ikan air tawar. Bahkan, masakan ikan air tawar merupakan salah satu menu yang selalu direkomendasikan pada berbagai rumah makan di sana.
Pada sepanjang jalur pejalan kaki yang terletak di pinggir Danau Phewa, kami menjumpai puluhan kafe serta rumah makan yang dirancang memiliki ruang terbuka yang menghadap langsung ke arah danau. Meskipun beberapa di antaranya terkesan sederhana, namun rata-rata terisi penuh oleh para turis asing yang menghabiskan waktu untuk bersantai sembari bersantap atau sekedar minum beer.
Kami sendiri pada akhirnya singgah pada sebuah kafe yang memiliki bangunan berbentuk dasar segi delapan dan beratapkan dedaunan semacam sirap. Travelmate saya memilih menghabiskan waktu di sana untuk membaca buku yang dibawanya dari Indonesia, sedangkan saya justru terlelap di atas bean bag bersama hembusan sepoi-sepoi angin lembah yang menyapu danau dan melenakan.
“Besok kita trekking ke Peace Pagoda yuk?”, ajak saya begitu terbangun dari tidur, sembari menunjukkan siluet bangunan tersebut yang terletak di atas bukit Ananda, dan terlihat langsung dari tempat kami bersantai.
Selain Peace Pagoda yang bisa dicapai melalui sisi danau. Pokhara juga memiliki Kuil Tal Barahi yang berada pada sebuah pulau buatan di tengah Danau Phewa. Dan meskipun kuil berloteng dua ini dibangun untuk pemujaan dewa Wisnu, namun seringkali penganut Buddha juga terlihat bersembahyang di sana. Kuil ini merupakan salah satu refleksi kerukunan umat beragama di Nepal yang majemuk, baik dari segi ras maupun kepercayaan.

Perahu-perahu di Danau Phewa, bukit Ananda, dan pulau Kuil Tal Barahi. Coba tebak yang mana pulau kuilnya?
Kebetulan hari itu bertepatan dengan malam natal, dan Pokhara ikut larut dalam perayaan kelahiran sang mesiah dari Betlehem. Sungguh, awalnya saya merasa aneh karena bisa melihat kemeriahan natal di negeri mayoritas Hindu tersebut, mengingat jumlah pengikut kristiani di negeri itu sangatlah sedikit. Namun, saya bisa memahami karena memang kota tersebut telah bertahun-tahun menjadi salah satu tujuan liburan natal bagi turis-turis asing dari barat.
Kemeriahan natal sangat terasa dari banyaknya hiasan yang menyemarakkan suasana kota, termasuk ratusan kerlip lampu-lampu kecil yang menghiasi toko-toko serta bendera-bendera yang melayang di atas jalan-jalan utama. Bahkan pelayan toko-toko souvenir yang kami sambangi pada saat senja, selalu membuka dan menutup kunjungan kami dengan ucapan Merry Christmast!, terlepas dari mereka tidak tahu bahwa sesungguhnya kami adalah pejalan-pejalan muslim.
Namun, hal terbaik dan paling menyenangkan dari kemeriahan saat itu adalah banyaknya diskon yang digelar oleh resto-resto yang beroperasi di Pokhara. Termasuk steak house yang kami kunjungi pada saat makan malam. Dimana kami menghabiskan potongan besar steak daging kerbau -atau mungkin daging Yak– yang lezat dan gurih, di tengah dinginnya udara Pokhara pada akhir bulan Desember 2013.
Sesuai rencana, hari itu kami akan berpindah menuju Pokhara. Kota terbesar kedua di Nepal yang berada pada ketinggian 800 mdpl. Menurut informasi, kota itu mempunyai beberapa titik terbaik untuk mengamati Himalaya dari jarak yang lebih dekat. Terutama wilayah Annapurna yang legendaris.
Maka, Pokhara menjadi harapan kami selanjutnya akan sang ancala.
Meskipun gambar bus turis yang akan membawa kami ke Pokhara, sudah saya lihat di brosur hotel sejak dua hari sebelumnya, saya tetap berusaha untuk tak menempatkan harapan yang terlalu tinggi. Segalanya bisa terjadi di Nepal. Apalagi tipuan foto di setiap brosur wisata adalah satu hal yang jamak terjadi di seluruh dunia.
Namun bolehlah, pagi itu bus turis yang kami jumpai cukup menyenangkan. Meski tak terlalu mewah, namun kondisinya cukup baik. Bahkan jika dibandingkan dengan bus-bus antarkota di sekitar Jakarta. Dan untungnya, bus tersebut tidak seperti angkutan massal yang digunakan oleh penduduk lokal. Dimana para penumpang dijejalkan ibarat sarden dalam kaleng.
Bus itu berbangku deret dua-dua, dengan kursi yang empuk dan cukup luas menampung lebar tubuh kami. Sandaran kursinya pun terasa ergonomis. Dan selain nyaman, bus yang saya tumpangi juga berangkat sesuai jadwal. Tepat jam tujuh pagi, kami meninggalkan Kathmandu.
Sebenarnya jarak antara Kathmandu dan Pokhara tidaklah terlalu jauh. Jika dibandingkan, mungkin setara dengan jarak antara Jakarta dan Bandung. Namun, untuk jarak sepanjang itu kabarnya kami akan menghabisakan waktu selama tujuh jam perjalanan.
Pemandangan Kathmandu yang sesak, berdebu, dengan segala macam kabel yang bersaling-silang di udara, segera berganti ketika bus mulai memasuki area luar kota. Kumpulan rumah penduduk semakin merenggang satu sama lain. Himpunannya memisah bagai koloni bakteri yang berkelompok-kelompok di atas cawan petri.
Turunan demi turunan menghiasi jam-jam awal perjalanan, karena kami meluncur dari Kathmandu yang berada pada ketinggian 1400 mdpl. Di situlah saya mulai menemukan alasan tentang mengapa waktu tempuh antara dua kota tersebut sangatlah lama.
Kondisi jalanan Nepal tidak sebaik Indonesia. Meskipun jalan yang kami lalui tak dihiasi lubang-lubang menganga, namun strukturnya tak memungkinkan untuk dipacu kendaraan dalam kecepatan tinggi. Selain itu lebarnya pun tak seberapa, sehingga setiap kali dua kendaraan saling berpapasan, maka kecepatannya harus sedikit diturunkan untuk menghindari senggolan.
Bayangan akan tujuh jam perjalanan yang membosanankan segera sirna, begitu bus tiba pada area yang lebih rendah. Tembok-tembok bukit dan pegunungan hijau mengapit di hampir sepanjang jalan. Puncak-puncaknya tak dapat kami lihat karena tertutup oleh arakkan kabut yang bergumpal-gumpal. Di sisi lain, jurang-jurang dalam berisi sungai lebar dengan aliran berwarna coklat muda hingga hijau toska turut mengiringi. Dan sesekali terlihat jembatan suspensi panjang menghubungkan satu sisi sungai dengan seberangnya.
Saya menyarankan kepada siapapun yang menempuh jalur darat dari Kathmandu menuju Pokhara, untuk duduk di sisi kanan, karena itu adalah sisi terbaik untuk menikmati semua pemandangan tersebut. Begitupun sebaliknya, jika mengarah kembali ke Kathmandu.
Di separuh waktu perjalanan, kami sempat singgah pada sebuah rest area, serta menghabiskan makan siang pada sisi sungai. Saya menandaskan sepiring penuh masakan Nepal nan sedap, sembari menatap aliran riam yang bergemuruh dari hulu lelehan salju. Sementara bayang-bayang halus kemuncak Himalaya yang terbalut putih mulai terlihat di kejauhan.
Sebuah taksi membawa kami dari Pokhara Bus Station menuju desa Sarangkot yang berada pada ketinggian 1600 mdpl. Pada sepanjang perjalanan, berkali-kali kami melemparkan pandangan ke arah Himalaya yang berdiri dalam jarak yang lebih dekat dari sebelumnya. Ia gagah, ibarat benteng raksasa. Tinggi menjulang dengan lekuk-lekuk hitamnya yang tajam, dimahkotai lapisan salju abadi pada puncak-puncaknya yang jarang dilalui manusia.
Penginapan sederhana yang kami sewa hari itu pun turut memanjakan hasrat akan Himalaya. Sebuah kamar yang dilengkapi perapian, kami dapatkan pada bagian rooftop. Dari balkonnya yang luas kami dapat mengintip sebagian puncak-puncak atap dunia. Sementara tumpukan pegunungan, danau Phewa, dan liukan sungai melingkupi kota Pokhara yang berada jauh di bawah. Bersama matahari yang semakin condong ke arah horison, semua itu berubah menjadi siluet jingga. Sempurna!

Tipikal senja di Pokhara, dilihat dari desa Sarangkot. (source)
“Kalian beruntung, karena hari ini cerah. Kalian bisa menikmati senja terbaik sembari memandangi Annapurna, Dhaulagiri, dan Machapuchare dari atas sana!”, ujar Ram, sang pengelola penginapan, sembari menunjukkan arah view point yang berada agak sedikit di atas kami.
Meskipun tanjakan menuju Sarangkot View Point itu tak seberapa panjang, namun kecuramannya cukup membuat napas kami menderu-deru setelah lima menit pendakian kecil. Mungkin juga itu disebabkan oleh karena kami yang terlalu bersemangat ingin menatap Himalaya.
Kami tak banyak berkata-kata, selain bertukar kekaguman setelah sampai di sana.
“Akhirnyaaa, Himalaya!”
Kala itu adalah salah satu senja terbaik yang pernah saya nikmati seumur hidup. Karena sebelumnya saya sudah menikmati beribu-ribu senja di perkotaan, beratus-ratus senja di lautan, dan berpuluh-puluh senja sembari menatap horison dari tepi pantai. Namun senja yang menenggelamkan pegunungan bersalju itu adalah yang pertama kalinya. Pun, ia adalah Himalaya yang super megah.
Berjuta-juta tahun yang lalu ia adalah bagian dari samudra, sementara saat itu kami menatapnya sebagai salah satu bagian dari daratan tertinggi di muka bumi.
Jingga senja yang halus menempa pendar-pendar keemasan pada Himalaya. Machapuchare dengan puncaknya yang lancip dikelilingi oleh multi puncak Annapurna, sementara Dhaulagiri berada jauh di sisi barat. Mereka meremang bersama, diiringi desauan angin yang menyapu lembah. Tak ada suara riuh, hanya bisikan yang kami gumamkan setiap kali butuh bertukar kata.
Dan ketika gelap telah sempurna menenggelamkan Himalaya, kami mengamati bulir-bulir halus bara muncul di kejauhan. Kontras memerah di atas karpet salju yang telah kelam.
“Itu apa ya? Titik api?”, tanya travelmate saya.
“Mungkin. Atau bisa jadi itu lampu-lampu para pendaki. Mereka yang sedang menuju Annapurna.”, jawab saya sembari menduga.
“Ah, aku mau kesana.”
“Aku juga. Dan insya Allah, aku akan segera kesana. Ke Annapurna!”
*****
Pada saat tulisan ini saya siapkan, saya juga sedang mempersiapkan keberangkatan saya ke Annapurna, yang rencananya akan saya lakukan pada bulan April 2016. Pemantapan itinerary, pembelian tiket, pemesanan akomodasi, semua sudah selesai. Tinggal latihan fisik dan persiapan peralatan yang masih berlangsung.
Perjalanan ini merupakan bagian dari impian saya untuk Solo Trekking ke Annapurna, yang berhasil saya dapatkan modalnya dari memenangkan lomba menulis pada Cross|Over Writing Competition yang diadakan pada akhir tahun 2015 lalu.
Doakan ya, semoga saya tetap selamat dan segalanya lancar. Sehingga bisa berbagi cerita tentang perjalanan itu nantinya. Amiin.
Banyak orang yang tidak menyadari jika harga tiket masuk Grand Palace yang lumayan mahal itu, sebenarnya menjadi satu paket dengan tiket masuk ke dalam kompleks Istana Dusit. Mungkin pula gemerlap Grand Palace yang mempesona, membuat mereka berpikir itu adalah puncak dari segala keagungan yang dimiliki sang raja. Sehingga Istana Dusit tak akan sanggup menandinginya.
Namun jangan salah, justru kompleks Istana Dusit menyimpan detail pelengkap lainnya tentang apa yang dimiliki oleh Raja Siam dan keluarganya.
Perjalanan besar ke Eropa Raja Siam Rama V Chulalongkorn di tahun 1897 yang pada awalnya bertujuan untuk menilai kemajuan pendidikan para putranya dan menjalin persahabatan dengan bangsa Eropa, justru menginspirasi dirinya untuk membangun sebuah istana baru, akibat bertambah sesaknya lingkup tempat tinggalnya di Grand Palace.
Karena istana agung tersebut terus tumbuh berkembang demi mengakomodir kebutuhan administrasi pemerintahan, dan bertambahnya anggota keluarga kerajaan akibat gaya hidup poligami sang raja.
Ia mengkonsepkan sebuah kompleks istana yang dikelilingi oleh taman-taman rindang dan luas, serta kanal-kanal sebagai pemisah.
Sebuah tempat dimana ia dan keluarganya dapat menghabiskan hari-hari yang jauh lebih berkualitas, daripada di Grand Palace yang pengap dan panas.
Nama Suan Dusit yang berarti Taman Surgawi dipilihnya untuk istana barunya itu. Namun, dengan semakin sempurnanya istana tersebut sebagai tempat tinggal permanen bersama keluarga, ia merubah nama kompleks istana itu menjadi Wang Dusit yang berarti Kediaman Surgawi.
Selama beberapa waktu, kompleks Istana Dusit kemudian menjadi tempat tinggal resmi Raja dan keluarganya. Terhitung Raja Rama V Chulalongkorn dan keluarga dua putra suksesornya, yaitu Raja Rama VI Vajiravudh dan Raja Rama VII Prajadhipok juga pernah tinggal di kompleks istana surgawi itu.
Begitu pula dengan cucunya yang menjadi penguasa Thailand saat ini, yaitu Raja Rama IX Bhumibol Adulyadej, yang memilih Chitralada Royal Villa sebagai kediamannya, setelah sebelumnya sang kakak Ananda Mahidol yang bergelar Raja Rama VIII tewas secara misterius di Aula Singgasana Boromphiman yang merupakan bagian dari Grand Palace.
Terlepas dari Chitralada Royal Villa yang saat ini masih berfungsi sebagai tempat kediaman resmi raja Thailand, kompleks Istana Dusit yang terdiri atas tiga belas bangunan inti, kini lebih difungsikan sebagai area pameran yang menyimpan sejarah keluarga serta kekayaan kerajaan yang bernilai tinggi. Dan dua di antaranya, yang sangat memukau perhatian saya adalah Vimanmek Mansion dan Aula Singgasana Ananta Samakhom.
Saya mengunjungi Vimanmek Mansion pertamakali pada tahun 2010, bertepatan dengan kunjungan saya yang pertama ke kota Bangkok. Istana yang diklaim sebagai bangunan kayu jati terbesar di dunia itu sungguh memukau saya, sehingga saya kembali mengunjunginya untuk yang kedua kalinya pada tahun 2014.
Kunjungan yang pertama terasa sangat cepat, karena saya masuk bersama rombongan tur kecil yang dipimpin oleh seorang pemandu. Dengan bahasa Inggris beraksen Thai yang kental, pemandu itu menjelaskan secara detail tentang apa saja yang kami lalui di dalam istana kayu jati itu. Kami tak dapat berlama-lama untuk mengagumi apa yang ada, karena rombongan selanjutnya sudah menanti giliran di belakang.
Maka, saya merasa beruntung ketika kembali mengunjunginya di awal tahun 2014. Karena pada waktu itu saya dapat masuk ke dalamnya, tanpa bergabung dalam rombongan tur. Namun sayangnya, ada beberapa ruangan yang tak bisa saya akses seperti pada kunjungan yang pertama. Padahal saya ingin mengamati detailnya lebih lekat. Di antaranya adalah ruang tidur raja yang terletak pada bagian oktagonal istana.
Vimanmek Mansion merupakan tempat tinggal permanen pertama yang dibangun di dalam kompleks Istana Dusit pada tahun 1900. Atas perintah langsung Raja Chulalongkorn, bangunan Mundhat Ratanarot Mansion dari Istana Chudhadut di Koh Sri Chang, Chonburi, dibongkar dan dibangun ulang di kompleks Istana Dusit di bawah pengawasan Pangeran Narisra Nuwadtiwongse.
Setelah bangunan ini diresmikan pada tangal 27 Maret 1901, Raja Chulalongkorn segera berpindah dari Grand Palace, dan menempatinya selama lima tahun. Sebelum kemudian ia pindah ke Ambara Villa hingga akhirnya hayatnya di tahun 1910. Setelah kematiannya, istana kayu jati ini dikosongkan, dan semua anggota keluarga kerajaan kembali pindah ke Grand Palace.
Menjelang berakhirnya kekuasaan Raja Rama VI Vajiravudh, ia mempersilahkan salah satu istrinya, yaitu Ratu Indrasakdi Sachi untuk tinggal di Vimanmek Mansion hingga sang raja mangkat. Sementara Raja Rama VII Prajadhipok yang menjadi penggantinya, justru memfungsikan istana tersebut sebagai fasilitas penyimpanan Biro Rumah Tangga Kerajaan.
Namun pada tahun 1981, Ratu Sirikit yang merupakan istri dari Raja Bhumibol Adulyadej, menginisiasi untuk mengubah fungsi Vimanmek Mansion menjadi bangunan pameran yang dipersembahkan demi mengenang kejayaan hidup dan pencapaian Raja Chulalongkorn. Karena, ia dikenal sebagai raja pembaharu yang berhasil mengantarkan Siam memasuki dunia modern, serta dengan kebijakannya membuat negeri tersebut terhindar dari sistem kolonialisasi bangsa barat.
Berbeda dari Grand Palace yang sangat kental dengan arsitektur Thai dan Khmer klasik, maka Vimanmek Mansion sarat dengan pengaruh barat yang sangat popular pada awal abad 20. Bangunannya terbagi atas dua sayap bersudut, yang masing-masing memiliki panjang 60 meter dan tinggi 20 meter. Terdiri dari tiga lantai, kecuali bagian tempat tinggal Raja Chulalongkorn yang berbentuk oktagonal dan berlantai empat.
Setiap pengunjung yang akan memasuki Vimanmek Mansion, terlebih dahulu harus meletakkan semua barang bawaannya termasuk kamera, telepon genggam, dan gadget lainnya, di dalam loker khusus yang telah disediakan. Dan demi menjaga bagian dalam istana yang terbuat dari kayu jati itu, semua alas kaki pun harus dilepas. Saya sangat tidak menyarankan untuk melanggar aturan tersebut, karena meskipun secara attitude orang Thai termasuk sopan, namun mereka dapat menindak dengan sangat tegas pada setiap pelanggar peraturan.

Ruang Perpustakaan di dalam Vimanmek Mansion. (sumber: http://www.vimanmek.com)
Sejauh yang saya ingat, lantai Vimanmek Mansion merupakan kayu jati berpelitur yang cukup licin, kecuali pada bagian-bagian yang terlapisi oleh karpet-karpet tebal. Nuansa Eropa sangat terasa pada bagian dalamnya, begitu pula dengan barang-barang yang menghiasinya.
Saya mengingat ruang makan raja yang terdiri atas delapan kursi, yang konon masing-masing dilapisi oleh kulit dari seekor buaya. Sementara peralatan-peralatan perak, keramik, kristal, serta gading tersebar hampir di setiap ruangan.

Salah satu ruang aula di dalam Vimanmek Mansion. (sumber: http://www.vimanmek.com)
Foyer serta tangga utama pada bagian kedatangan sebelah timur menyiratkan keterbukaan pemikiran Raja Chulalongkorn yang tidak khawatir terhadap dunia barat. Jika saja tak ada lukisan gambar diri sang raja bersama salah satu permaisurinya –Savang Vadhana-, mungkin saya akan lebih merasa sedang berada dalam bangunan istana bangsa barat dibandingkan bangsa timur. Begitu pula dengan ruang belajar, perpustakaan, aula singgasana, ruang makan, hingga kamar pribadi raja. Semuanya dirancang dengan pengaruh barat yang sangat kental.
Namun begitu, citarasa Thai juga tetap disisipkan melalui detail-detail lainnya, seperti pada kain-kain pelapis ranjang, dining-set di dalam kamar tidur, serta baju-baju yang dikenakan oleh raja dan keluarganya pada lukisan-lukisan yang menghiasi dinding istana.
Dari semua bangunan yang berada di kompleks Istana Dusit, maka Aula Singgasana Ananta Samakhom ini adalah yang paling memukau. Tidak hanya dari segi arsitekturnya saja, melainkan juga semua koleksi yang berada di dalamnya.
Meskipun pembangunannya dimulai pada masa pemerintahan Raja Chulalongkorn di tahun 1907, aula singgasana ini sendiri baru selesai dibangun pada masa pemerintahan Raja Vajiravudh yang menggantikannya.
Bangunan yang dikerjakan selama delapan tahun dan menghabiskan dana hingga 15 juta baht ini, mengadaptasi langgam Neo Classic dan Italian Renaissance, dimana pualamnya diimpor langsung dari Carrera, Italia.
Aula singgasana ini, dirancang oleh Mario Tamagno dan Annibale Rigotti dalam konstruksi rotunda pualam bertingkat dua, dimana ukirannya dikerjakan oleh Vittorio Novi dan Rudolfo Nolli. Bangunan ini memiliki dimensi tinggi kurang lebih 49,5 meter, lebar 49,5 meter dan panjang 112,5 meter. Yang dilingkupi oleh sebuah kubah raksasa di bagian tengah, dan enam buah kubah kecil lain yang mengelilinginya.
Sementara lukisan pada dinding dan kubah yang menghiasi bagian dalam Ananta Samakhom dikerjakan oleh Galileo Chini dan Carlo Riguli yang merupakan pelukis istana yang mengabdi pada Raja Chulalongkorn. Lukisan yang dikerjakan oleh dua seniman tersebut, menggambarkan sejarah dinasti Chakri sejak Raja Rama I hingga Raja Rama VI.
Raja Rama I digambarkan pada kubah bagian utara, dalam adegan ketika ia memimpin pasukannya kembali ke Siam setelah mengalahkan pasukan Khmer, dan kemudian dinobatkan sebagai raja Siam pertama. Kemudian di kubah bagian timur digambarkan kontribusi Raja Rama II dan Rama III pada seni, yang memerintahkan pembangunan Kuil Kerajaan. Dan di kubah bagian selatan digambarkan Raja Rama V yang menghapus sistem perbudakan.
Ada pula lukisan tentang Raja Rama IV yang dikelilingi oleh berbagai pemimpin agama di kubah bagian barat, sebagai penggambaran atas sokongan beliau terhadap berbagai macam agama yang dianut di Siam. Sedangkan lukisan pada bagian tengah aula menggambarkan tugas-tugas kerajaan yang diemban oleh Raja Rama V dan Rama VI.
Selain itu pada bagian dinding balkon kubah utama terdapat lukisan wanita Eropa memegang karangan bunga, yang merepresentasikan dedikasi tinggi terhadap tugas-tugas kerajaan. Sementara daun-daun palem gemerlapan di bawahnya merupakan perlambang kejayaan dan kemenangan.

Detail pada balkon kubah utama yang menggambarkan wanita dengan karangan bunga, dan palem-palem keemasan.
Dalam sejarahnya, setelah monarki absolut Siam tumbang pada masa pemerintahan Raja Prajadhipok di tahun 1932, aula singgasana ini sempat beralih fungsi menjadi gedung parlemen. Hingga kemudian dikembalikan lagi kepada Raja Bhumibol Adulyadej sebagai bagian dari kompleks Istana Dusit, setelah gedung parlemen yang baru berdiri di bagian utara aula singgasana Ananta Samakhom.
Dan sejak tahun 2008, aula singgasana ini resmi beralih fungsi menjadi museum bagi karya-karya seni kerajaan yang dikelola oleh Queen Sirikit Institute.
Serupa dengan Vimanmek Mansion, setiap pengunjung yang akan memasuki aula singgasana inipun diharuskan untuk meninggalkan barang bawaannya dalam sebuah loker khusus. Dan karena aula singgasana ini dianggap sebagai bagian dari istana, maka standar pakaian yang digunakan oleh pengunjung pun diterapkan. Seperti misalnya harus menggunakan baju yang sopan dan tertutup; serta larangan menggunakan baju tanpa lengan, celana pendek, celana selutut, dan jeans robek. Bahkan wanita yang menggunakan celana panjang pun dianggap kurang sopan. Dan untuk itu, mereka juga menyediakan kain yang dapat digunakan oleh pengunjung tanpa dipungut bayaran.
Yang saya suka dari fasilitas museum ini adalah adanya digital audio guide yang disediakan bagi pengunjung. Jadi setelah melewati gerbang metal detector, dan pemeriksaan oleh petugas di pintu masuk, maka kita dapat meminjam perangkat pemandu tersebut di sebuah konter yang telah disiapkan. Perangkat yang berbentuk seperti pesawat telepon itu berisi keterangan audio dalam berbagai macam bahasa internasional, salah satunya adalah bahasa Inggris. Penggunaannya pun mudah, kita cukup menginput angka sesuai dengan nomor katalog karya seni yang sedang kita nikmati. Maka setelah itu, kita dapat mendengarkan segala macam info tentangnya, sembari mengamati detail benda yang kita hadapi.

Busabok Mala. (sumber: http://www.artsofthekingdom.com)
Koleksi yang mengisi museum ini di antaranya adalah: Busabok Mala atau Singgasana Raja Siam yang merupakan replika dari Busabok Mala Maha Chakraphat Piman yang ditempatkan di Aula Singgasana Amarin Vinichai di Grand Palace. Meskipun replika, namun bahan penyusunnya terbuat dari emas dan perak yang bertabur berlian, dengan motif tumbuhan dan hewan-hewan mitologi. Singgasana beratap dan diapit oleh payung bertingkat ini, dirancang agar cukup diduduki oleh raja pada posisi yang cukup tinggi di aulanya. Hampir keseluruhan badan singgasana ini dipenuhi oleh ukiran yang sangat rumit. Konon diperlukan waktu satu tahun dengan melibatkan 285 seniman untuk menyelesaikan karya satu ini.
Selain itu adapula Wanares Bovorn Asana, yang juga merupakan singgasana raja. Hanya saja bentuknya lebih mirip kursi berdudukan kaki tanpa atap. Desainnya juga istimewa, dimana terdapat puluhan patung garuda berlapis emas menyangga dudukan sang raja, dengan puluhan lembaran daun emas berukir yang mengelilinginya.

Panel kayu jati berukir. (sumber: http://www.artsofthekingdom.com)
Sebuah panel kayu jati berukir juga tak bisa lepas dari pengamatan saya. Ukurannya yang besar dan tinggi menjulang, sudah pasti menyita perhatian. Ukiran rumit yang menceritakan kehidupan di hutan Himavan serta cuplikan cerita rakyat Thai Sangthong, ditatahkan di atasnya dengan sangat detail. Selain itu juga ada tiga panel lainnya yang terbuat dari emas dengan relief kisah Ramayana di atasnya.
Model dari perahu raja bernama Sri Prapasorachai juga ditempatkan di dalam museum ini. Kapal tersebut aslinya dibuat pada masa Raja Rama I, namun kemudian hancur akibat bom pada masa perang dunia kedua. Dan hanya menyisakan haluannya saja, yang kini disimpan di Museum Nasional Bangkok.
Replika berukuran panjang 3,24 meter tersebut berisikan sebuah singgasana beratap dengan tujuh payung bertingkat lima. Yang keseluruhannya terbuat dari emas bertabur berlian, dan enamel berwarna yang melapisi bentuk Haera -mahluk mitologi setengah naga setengah buaya- yang mengisi bagian haluan. Selain itu juga ada dua model lainnya, yang merupakan replika dari perahu raja Sri Suphannahongse dan Suban Mongkol yang tak kalah indahnya.
Meskipun saya bukan pengamat seni yang baik, namun saya sangat menikmati kunjungan di museum satu ini. Karena begitu banyaknya benda seni yang menarik, baik dari segi rancangan, materi penyusun, tingkat kerumitan, hingga ukurannya. Tentu, akan menghabiskan waktu yang cukup lama jika berusaha melahap semua informasi yang berada di belakang masing-masing koleksi. Maka dengan panduan katalog, saya memilih benda-benda yang menjadi highlight dari museum ini.
Saya rasa kompleks Istana Dusit dan semua hal yang digelar di dalamnya pantas untuk dimasukkan ke dalam agenda kunjungan selama berada di Bangkok. Terlebih jika sebelumnya kita telah mengunjungi Grand Palace dengan tiket terusannya yang lumayan harganya. Kapan lagi khan bisa melihat lebih detail warisan pusaka raja-raja Siam? Mumpung ada di Bangkok!
*Semua foto interior Ananta Samakhom adalah milik Arts of Kingdom Thailand.