Selayaknya kota wisata, Pokhara tetap ramai oleh para pejalan, termasuk wisatawan lokal yang menikmati hari libur mereka. Dan kepadatan manusia semakin terasa ketika kami mendekati area sekitar dermaga, dimana ratusan masyarakat lokal hendak berziarah ke Kuil Tal Barahi yang berada di tengah danau Phewa.
Sesuai rencana hari itu kami bermaksud mengunjungi Peace Pagoda atau Shanti Stupa yang terletak di puncak bukit Ananda. Sebuah jalur trekking yang berada di sebelah utara bukit sengaja kami pilih, agar dapat merasakan sedikit suasana petualangan di hari itu. Namun, untuk mencapainya kami harus menyeberangi danau Phewa terlebih dahulu.
Cukup mudah untuk menemukan perahu yang dapat mengangkut kami ke titik awal trekking. Karena begitu sampai di dermaga, puluhan tukang perahu telah mengantri demi mengantarkan setiap penyewa yang bermaksud berkeliling atau menyeberangi danau.
Tukang perahu bermarga Gurung yang membawa kami, membagikan sedikit cerita tentang pasukan Gurkha. Yaitu para tentara dari beberapa suku asli Nepal -termasuk Gurung– yang terkenal sebagai petempur alami nan agresif, berani, dan ulet di medan laga.
Pada awalnya, pasukan Gurkha bertempur melawan Imperium Britania Raya yang berusaha menguasai Hindustan hingga ke garis batas Himalaya di Kerajaan Nepal, yang dibangun oleh Prithvi Narayan Shah. Namun, kegigihan dan keberanian pasukan Gurkha sangat sulit untuk ditembus, yang mengakibatkan banyaknya kerugian di pihak Imperium Britania Raya. Sejarah panjang pertempuran yang berdarah-darah itu berakhir setelah ditandatanganinya traktat perdamaian di Sigauli pada tahun 1816.
Menyadari akan potensi pasukan Gurkha sebagai petempur yang menjanjikan, akhirnya Imperium Britania Raya, memutuskan untuk menyewa mereka sebagai pasukan bayaran. Bahkan, hingga kini kebiasaan tersebut masih berlangsung. Bergelombang pemuda terbaik dan paling berani dari Nepal, setiap tahunnya dikirimkan untuk menjadi pasukan kontrak yang mengisi satuan tempur Kerajaan Inggris, dan beberapa negara persemakmurannya.

Ratu Elizabeth II dari Kerajaan Inggris, sedang menginspeksi Kesatuan Pasukan Gurkha. (sumber: vanityfair.it)
Pasukan Gurkha dikenal akan kemahirannya dalam bertempur menggunakan khukri -sejenis belati atau golok dengan lengkungan khas-. Dalam suatu kesempatan di kemudian hari, saya sempat menyaksikan bagaimana khukri tersebut digunakan untuk menebas leher seekor kerbau hingga putus dalam sekali ayunan.
Bagi sebagian pemuda Nepal, bergabung menjadi pasukan Gurkha adalah sebuah anugerah tersendiri. Selain menaikkan status sosial, mereka juga dapat memperbaiki tingkat ekonomi keluarga. Mengingat Nepal merupakan sebuah negara miskin, dimana lahan pekerjaan yang layak, cukup sulit untuk didapatkan di dalam negeri.
Namun, untuk dapat menjadi pasukan Gurkha bukanlah hal yang mudah. Serangkaian ujian berat -baik fisik maupun tertulis-, harus dijalani oleh pemuda-pemuda yang berminat menjadi bagiannya. Salah satu ujian fisik yang khas bagi calon pasukan Gurkha adalah Doko Test. Yaitu berlari pada lerengan Himalaya sembari membawa batu seberat 25 kg yang ditempatkan pada ransel bambu khas Nepal yang disangkutkan pada kepala.

Cuplikan film dokumenter ‘Who will be a Gurkha/Gurka School’ besutan sutradara Kesang Tseten (Shunyata Film) ini menggambarkan seperti apa berat dan besarnya harapan pemuda Nepal yang ingin bergabung dalam Kesatuan Pasukan Gurkha. (sumber: factualforasia.com)
Tak sampai 30 menit waktu yang dibutuhkan untuk menyeberang dari dermaga hingga ke titik awal trekking. Sebelum berpisah, sang tukang perahu sempat menunjukkan arah tanjakan yang akan membawa kami menyusuri punggungan bukit Ananda hingga mencapai Peace Pagoda yang berada di atasnya.
Jalur trekking tersebut berupa undakan dan jalan setapak sederhana, yang diperkeras dengan bebatuan pada permukaannya. Disusun membelah hutan yang cukup rimbun, dan menyisakan sinar matahari hingga temaram. Walau tak banyak penanda khusus yang mengarahkan setiap pejalan, rasanya kemungkinan untuk tersesat pada jalur tersebut sangatlah kecil.
Dan meskipun puncak bukit Ananda tak terlalu tinggi, tetap saja tanjakan yang hanya menyisakan sedikit area datar tersebut sanggup menguras tenaga. Tak ada warung ataupun kedai di sepanjang jalur trekking itu, sehingga rasanya perbekalan air minum adalah sesuatu yang wajib dibawa. Selama trekking, sesekali kami berhenti pada area-area istirahat sederhana yang ada. Sepertinya perancang jalur trekking tersebut tahu, pada bagian mana tenaga kami telah cukup terkuras dan membutuhkan rehat sejenak.
Setelah satu jam perjalanan, akhirnya kami dapat melihat tubuh pagoda berwarna putih, yang tersembul samar dari balik rerimbunan hutan berbalut halimun. Sementara pemandangan kota Pokhara dan danau Phewa di kejauhan, berada pada sisi sebaliknya.
Perjumpaan Nichidatsu Fujii -seorang pendeta Buddha asal Jepang pendiri Ordo Nipponzan Myohoji Daisanga– dengan Mahatma Gandhi pada tahun 1931, telah menginspirasi dirinya untuk mendedikasikan hidupnya bagi gerakan anti kekerasan. Terlebih setelah rakyat Jepang menjadi korban akibat jatuhnya dua bom atom, masing-masing di kota Hiroshima dan Nagasaki pada akhir perang dunia kedua.
Pada tahun 1947, Fujii mulai merintis pembangunan Peace Pagoda yang direncanakan akan dibangun di seluruh dunia, sebagai sarana untuk mempromosikan perdamaian dan perjuangan tanpa kekerasan. Meskipun diprakarsai olehnya yang beragama Buddha, namun ia berharap bahwa Peace Pagoda nantinya dapat menjadi pengingat serta tempat perziarahan lintas kepercayaan, bagi seluruh manusia yang mencintai perdamaian dalam kehidupan.
Semangat perdamaian yang disebar melalui Peace Pagoda tersebut akhirnya sampai juga ke Nepal, yang kebetulan memiliki penganut Buddha dalam jumlah signifikan. Tercatat hingga tahun 2000, Nepal memiliki 2 dari 82 buah Peace Pagoda yang ada di seluruh dunia. Satu di antaranya dibangun di Pokhara, sedang yang lainnya di Lumbini, tempat kelahiran Siddharta Gautama.
Shanti Stupa atau Peace Pagoda yang dibangun di Nepal, khususnya yang berada di Pokhara, memiliki sejarah sendiri yang cukup panjang sejak sepertiga akhir abad keduapuluh. Dimulai sejak Fujii meletakkan batu pondasinya dengan menyemayamkan relik suci Buddha Sakyamuni di puncak bukit Ananda, Pokhara, pada tanggal 12 September 1973.
Pada 28 September 1973, patung kelahiran Siddharta dibangun mengiringi aula persembahyangan, wihara, dan guest house di sana. Namun pada 31 Juli 1974, ketika pagoda telah mencapai tinggi sekitar 10.5 meter, keseluruhan bangunan yang berada di kompleks tersebut dihancurkan oleh pemerintah, dengan alasan penyesuaian terhadap rencana pembangunan kota. Walaupun begitu, Fujii meramalkan meskipun pagoda dan bangunan-bangunan pendukungnya telah dihancurkan, suatu saat nanti Peace Pagoda di Pokhara tersebut akan kembali berdiri.
Delapan belas tahun kemudian, ramalan Fujii terbukti. Ketika pada 21 September 1992, Perdana Menteri Nepal Girija Prasad Koirala datang langsung ke bukit Ananda, dan meletakkan kembali batu pondasi Peace Pagoda, sebagai tanda berlanjutnya pembangunan pagoda tersebut di Pokhara.
Dengan dibantu oleh arahan dari pendeta Morioka Sonin dari Jepang, akhirnya Peace Pagoda tersebut selesai dibangun, dan diresmikan pada 30 Oktober 1999 oleh Girija Prasad Koirala yang saat itu telah berganti jabatan menjadi Ketua Kongres Nepal dan Mantan Perdana Menteri Kehormatan. Peace Pagoda di Pokhara, merupakan yang pertama dibangun di Nepal, dan menjadi yang ke 71 dari seluruh Peace Pagoda yang telah dibangun di dunia pada saat itu.
Secara teknis Peace Pagoda di bukit Ananda, memiliki tinggi 34 meter, dengan keliling 103 meter. Tiga belas tingkatan yang berada pada ketinggian 6 meter akhir stupanya yang bersepuh keemasan, merupakan simbolisasi dari tiga belas kosmos. Dan pada bagian kemuncaknya disematkan sebuah batu kristal berukuran besar dari Sri Lanka.
Bangunan Peace Pagoda didominasi oleh warna putih, dan dikelilingi aksen keemasan pada empat ceruk yang berisi patung Buddha. Masing-masing patung tersebut merupakan persembahan dari beberapa negara berbeda:

(dari kiri ke kanan, searah jarum jam): Patung Buddha di sisi Timur dari Jepang, sisi Barat dari Sri Lanka, sisi Utara dari Thailand, dan sisi Selatan dari Nepal.
Suasana di bangunan utama Peace Pagoda, sangat berbeda dari kebanyakan tempat yang disucikan di seluruh Nepal. Karena pada umumnya tempat-tempat tersebut riuh oleh kegiatan manusia, baik peziarah maupun wisatawan yang ingin menyaksikan keunikannya. Namun di Peace Pagoda waktu serasa melambat, dan bebunyian meluruh bersama angin.

Pemandangan pelataran kompleks , dilihat dari balkon utama Peace Pagoda. Pemandangan kota Pokhara dan danau Phewa di kejauhan, terhalang oleh tebalnya kabut hari itu.
Seorang pendeta berbaju putih sederhana dengan penutup kepala berbentuk caping, berjalan halus dan lambat mengelilingi stupa. Sembari mendaraskan mantra yang lirih, ia sesekali mengingatkan siapapun yang menghasilkan kegaduhan dan laku yang tidak pada tempatnya. Sikapnya teramat halus dan sopan setiap kali melakukan itu, seolah mengisyaratkan jika segala sesuatu yang kurang tepat dapat diluruskan dengan cara yang damai.
Dan itu, adalah pesan utama yang ingin disampaikan kepada semua. Pesan damai dari Pokhara untuk dunia.
Tepat 1 tahun yang lalu, pada tanggal 30 April 2015, BARTZAP.COM mulai saya rintis. Dengan menanyangkan ulang beberapa tulisan saya yang pernah dimuat pada media cetak, dan beberapa artikel yang saya pindahkan dari ‘rumah lama’. Dan kemudian, secara bertahap saya berusaha untuk konsisten mengunggah artikel-artikel baru yang disarikan dari perjalanan saya selama ini.
Jujur, awalnya saya tidak membayangkan keriuhan macam apa yang akan saya alami dalam mengisi ‘rumah yang baru’ ini. Tujuan saya saat itu, hanyalah untuk melawan lupa.
Ternyata BARTZAP.COM memberikan banyak hal-hal baru dalam kehidupan saya dalam waktu satu tahun terakhir. Mulai dari jejaring pertemanan yang semakin luas, ilmu yang berkualitas, hingga petualangan seru semacam menerabas alas.
Petualangan terakhir dan yang paling berkesan bagi saya adalah, ketika saya berhasil menapaki Himalaya seorang diri melalui jalur Annapurna pada tanggal 7-22 April 2016. Dimana modalnya saya dapatkan dari lomba penulisan blog yang saya ikuti atas nama BARTZAP.COM
Maka sebagai rasa syukur atas perjalanan BARTZAP.COM dalam waktu satu tahun terakhir, dan keselamatan serta kelancaran dalam menjejakkan kaki di Annapurna, saya ingin berbagi sedikit #OlehOlehdariHimalaya
Tapi karena oleh-olehnya tidak banyak, maka saya akan membagikannya bagi yang mau saja, dengan sedikit usaha. Tidak susah kok. Intinya saya cuma membutuhkan saran dan masukan yang membangun, serta bantuan untuk mengenalkan BARTZAP.COM ke dalam jejaring kalian.
Dan berikut adalah #OlehOlehdariHimalaya yang akan saya bagikan untuk lima orang dari kalian yang beruntung:
Untuk komentar serta feedback paling kreatif dan membangun:
1 (satu) orang pemenang akan mendapatkan 1 Paket Oleh-oleh Himalaya, berupa: 1 buah pictorial book Nepal, 1 buah pictorial calendar Nepal 2017, 1 bungkus Nepali Tea, dan 1 set handmade Himalayan Soap.
Untuk Lucky Draw:
2 orang pemenang pertama masing-masing akan mendapatkan 1 Paket Oleh-oleh Annapurna, berupa: 1 buah pictorial book (Explore Nepal atau Pokhara and The Annapurnas), dan 1 bungkus Nepali Tea.
2 orang pemenang kedua masing-masing akan mendapatkan 1 Paket Oleh-oleh Machhapuchhare, berupa: 1 buah pictorial calendar Nepal 2017, dan 1 set handmade Himalayan Soap.
Bagaimana cara untuk mendapatkannya? Kalian bisa simak pada rincian tata cara dan aturannya di bawah ini:
1. Follow media sosial yang berhubungan dengan BARTZAP.COM (yang sesuai dengan media sosial yang kalian miliki):
* Facebook Fanspage: www.facebook.com/bartzap
* Twitter: @BaRTZap
* Instagram: BaRTZap
* Steller: BaRTZap
2. Berikan komentar dan feedback bagi kemajuan BARTZAP.COM ke depannya, pada kolom komentar di bawah artikel ini, dengan tak lupa mencantumkan data diri kalian dan media sosial yang kalian miliki. Contohnya:
* Nama: Fulan bin Falun
* Facebook: http://www.facebook.com/fulanfalun
* Twitter: @fulanfalun
* Feedback: Menurut saya BARTZAP.COM sudah bagus, cuma masih kurang jalan-jalan dibayarin sponsornya. Kalau saya bayarin mau gak?
Saya akan memilih satu pemenang yang memberikan komentar serta feedback paling kreatif dan membangun.
3. Untuk dapat menuliskan feedback, tentunya kalian harus melihat-lihat BARTZAP.COM terlebih dahulu. Jika kalian bukan pengunjung aktif, kalian bisa membaca secara acak beberapa tulisan yang pernah saya buat dan mengamati tampilan serta segala hal yang berhubungan dengan BARTZAP.COM untuk kalian berikan masukan.
4. Bagikan tautan artikel ini di media sosial kalian dengan hashtag #bartzap #OlehOlehdariHimalaya dengan menggunakan narasi yang menarik. Ajak teman, saudara, pacar, guru, bapak, ibu dan calon mertua untuk ikut juga dalam giveaway ini. Jangan lupa mention saya di @BaRTZap (Twitter), atau Bartian BaRT Rachmat (Facebook).
5.Setiap share yang kalian lakukan akan menjadi nomor undian khusus bagi kalian dalam ajang lucky draw. Jadi, jika kalian membagikan di Facebook dan Twitter sekaligus, maka kalian akan mendapatkan dua kesempatan untuk terundi. Empat orang pemenang akan diambil dengan menggunakan random/drawing generator.
6. Ajang giveaway #OleholehdariHimalaya ini akan berlangsung hingga tanggal 14 Mei 2016 pukul 23.59, dan akan saya umumkan pemenangnya, paling cepat pada tanggal 18 Mei 2016 pukul 23.59 di bagian bawah dari artikel ini.
Yuk ikutan! Saya tunggu yaaaa
KATEGORI PERTAMA: Untuk komentar serta feedback paling kreatif dan membangun.
NOMINASI:
HADIAH: 1 Paket Oleh-oleh Himalaya, berupa: 1 buah pictorial book Nepal, 1 buah pictorial calendar Nepal 2017, 1 bungkus Nepali Tea, dan 1 set handmade Himalayan Soap.
PEMENANG: Dani Rachmat.
KATEGORI KEDUA: Lucky Draw dengan menggunakan online draw generator RandomPicker.
PESERTA & SYARAT SAH: Semua pengunjung yang telah meninggalkan komentar dan masukan di kolom komentar, serta membagikan tautan ajang giveaway ini di media sosial yang mereka miliki, dengan menyertakan hashtag #bartzap #OleholehdariHimalaya.
HADIAH:
2 orang pemenang pertama masing-masing akan mendapatkan 1 Paket Oleh-oleh Annapurna, berupa: 1 buah pictorial book (Explore Nepal atau Pokhara and The Annapurnas), dan 1 bungkus Nepali Tea.
2 orang pemenang kedua masing-masing akan mendapatkan 1 Paket Oleh-oleh Machhapuchhare, berupa: 1 buah pictorial calendar Nepal 2017, dan 1 set handmade Himalayan Soap.
2 ORANG PEMENANG @ 1 PAKET OLEH-OLEH ANNAPURNA:
2 ORANG PEMENANG @ 1 PAKET OLEH-OLEH MACHHAPUCHHARE:
Selamat kepada para pemenang, semoga suka dengan oleh-oleh dari saya!
Mohon segera kirimkan info data diri (nama lengkap dan nomor telepon) kalian serta alamat pengiriman hadiahnya melalui email: [email protected], dengan judul email Pemenang Giveaway #OleholehdariHimalaya
Saya juga ingin mengucapkan terimakasih kepada peserta lainnya, atas kesediaan kalian untuk meluangkan waktu dan mengikuti ajang giveaway yang sederhana ini. Meskipun belum dapat oleh-oleh jangan berkecil hati ya, buat saya kalian semua JUARA! Komentar dan masukkan kalian benar-benar berharga, asik-asik pula.
Mohon doanya ya, semoga bartzap.com ke depannya lebih banyak rejeki, sehingga bisa menggelar ajang giveaway dengan hadiah yang lebih banyak dan menggoda😀
Sekali lagi, selamat dan terimakasih yaaaaaa ….
Namun, bisa jadi itu adalah kesempatan terakhir kami selama di Nepal untuk dapat menikmati cahaya pagi pertama yang menimpa jajaran Himalaya, dan menyembulkan puncak-puncak Annapurna, Machapuchare, serta Dhaulagiri. Kami tak mau menyia-nyiakannya. Itu adalah kesempatan langka.
Pagi masih gulita ketika akhirnya kami bergabung bersama puluhan pejuang fajar yang memadati Sarangkot View Point. Uap-uap yang mengepul dari lubang hidung dan mulut, serta gemeretak halus dari gigi-gigi yang menggigil meningkahi suasana di tempat itu. Kami terduduk rapi pada undakan yang menghadap langsung ke arah gemunung yang tampak samar. Beberapa orang mencoba mengatur tripod dan kamera pada posisi terbaiknya sembari menahan dingin. Sementara kami berdua memilih tetap duduk merapatkan diri, serta menenggelamkan tangan pada kantung jaket yang lebih hangat.
Kemuncak Himalaya yang tersaput salju di kejauhan belum terbentuk jelas. Hanya siluetnya yang nampak gagah berlatar langit fajar yang cerah tanpa gemintang . Sementara berlapis-lapis kabut yang mengambang pada kaki-kakinya, membentuk samudera halimun yang menenggelamkan puncak-puncak kota, desa, serta aliran sungai.

Matahari mulai terbit di Himalaya Range Annapurna, bersamaan dengan kabut yang menipis pada kaki-kakinya.
Dan ketika semburat lembayung pertama hadir di angkasa, suara-suara rana kamera yang terbuka menambahkan keriuhan baru. Halus dan bergantian. Berusaha merekam kegagahan Himalaya yang mulai disingkap fajar.
Namun kemeriahan itu tak berlangsung lama, segera setelah matahari meninggi tempat itu mulai sepi. Para pengunjung yang kebanyakan datang dari penginapan yang jauh, segera kembali untuk sarapan pagi. Sementara kami yang memiliki kamar tak jauh dari view point, memilih untuk tinggal beberapa saat sembari berjemur menghangatkan diri.
Ram telah menunggu di penginapan, dan segera menawarkan sarapan begitu kami tiba. Satu set menu dhal bhaat bagi kami masing-masing. Menu yang agak berat, namun sesuai untuk pagi yang dingin seperti itu.
Kami sempat berbincang-bincang sejenak dengan Ram sembari sarapan di atas balkon. Ia menceritakan tentang pengalamannya bekerja selama beberapa tahun di timur tengah, yang meskipun menjanjikan penghasilan yang lebih besar namun tak membuatnya betah. Ia memilih untuk kembali ke Nepal dan mengelola penginapan –Mountain View Lodge– yang bersahaja di Sarangkot. Lebih tenang dan dekat dengan keluarga, ujarnya.

Saya, Ram dan keluarganya di Mountain View Lodge milik mereka. Meskipun sederhana, tapi WiFi dan masakan mereka juara.
Meskipun ketenangan di Sarangkot menyenangkan, kami tak berniat menghabiskan waktu lebih lama di sana pagi itu. Karena rasanya tak ada lagi yang bisa kami lakukan selain bermalas-malasan di desa tersebut. Kami memilih untuk segera turun ke Pokhara, dan menghabiskan waktu yang lebih santai di sana.
Dengan sebuah taksi yang telah dipesankan oleh Ram, kami turun ke arah Danau Phewa, segera setelah menyelesaikan sarapan pagi.

Hotel Lakefront Pokhara yang terletak di pinggir Danau Phewa. (source)
Hotel Lakefront adalah penginapan kami selanjutnya. Meskipun saya memilihnya secara cermat dengan memperhatikan ulasan dan gambar yang dipajang di booking.com, namun saya sama sekali tak mengira jika hotelnya memang sebagus itu.
Kami mendapatkan sebuah kamar yang terletak di lantai dua, dilengkapi dengan sebuah balkon yang terbuka ke arah taman dan menghadap danau Phewa. Dari tempat itu, kami dapat bersantai menikmati pemandangan bukit dan gunung yang saling berbaris mengelilingi badan air yang menjadi kebanggaan Pokhara. Sementara selaput salju yang menutup puncak-puncak Himalaya mengintip samar di kejauhan.
Hotel tersebut masih baru. Bahkan kami dapat mencium aroma cat yang menguar samar dari dinding-dindingnya. Kamar mandinya didominasi oleh keramik berwarna putih, dengan saluran air panas yang mumpuni. Sebuah televisi layar datar multi channel terpasang pada dindingnya, dimana saya sempat menemukan sebuah tayangan film bersubtitle bahasa Indonesia. Rupanya, salah satu siaran dari Indonesia tertangkap oleh jaringan parabola di kota tersebut.

Kamar twin dengan balkon, yang kami tempati di Hotel Lakefront. (source)
Tak hanya itu. Sebelumnya, pengelola hotel yang menyambut kami di lobby langsung mengajak berbincang dalam bahasa Melayu, begitu tahu kami berasal dari Indonesia. Rupanya ia pernah bekerja dan memiliki urusan perniagaan di Malaysia. Karena masih satu rumpun bahasa, maka kami tak menemui kesulitan untuk berkomunikasi lebih lanjut dengannya. Ia juga berbaik hati menjelaskan beberapa hal tentang Pokhara, dan apa yang bisa kami nikmati, serta lakukan selama berada di kota tersebut.

Hotel Lakefront di malam hari. (source)
Meskipun secara ukuran Pokhara adalah kota terbesar kedua di Nepal, dan merupakan salah satu tujuan wisata paling diminati di negeri tersebut, namun keadaan Pokhara sangatlah kontras jika dibandingkan dengan Kathmandu atau kota-kota lainnya. Saya merasakan suasana yang lebih santai di sana. Terlepas dari nyatanya geliat pariwisata yang sangat hidup di kota tersebut, Pokhara sangatlah menyenangkan untuk dieksplorasi, bahkan dengan berjalan kaki sekalipun.
Siang itu, kami mulai menikmati Pokhara dengan menyusuri tepian Danau Phewa, yang kebetulan tembusan jalur pejalan kakinya terletak tak jauh dari hotel yang kami inapi. Danau air tawar terbesar kedua di Nepal tersebut memiliki luas kurang lebih 5,23 km persegi, dan terletak pada ketinggian 742 mdpl, dengan kedalaman rata-rata 8 meter dan titik terdalamnya adalah 24 meter.
Secara fungsi, Danau Phewa sebenarnya ditujukan untuk menunjang pembangkit listrik yang modulnya diletakkan di bagian selatan badan air tersebut. Namun, dalam kenyataannya danau tersebut merupakan ikon pariwisata yang sangat penting bagi Pokhara. Selain itu, juga menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat sekitar yang berprofesi sebagai nelayan ikan air tawar. Bahkan, masakan ikan air tawar merupakan salah satu menu yang selalu direkomendasikan pada berbagai rumah makan di sana.
Pada sepanjang jalur pejalan kaki yang terletak di pinggir Danau Phewa, kami menjumpai puluhan kafe serta rumah makan yang dirancang memiliki ruang terbuka yang menghadap langsung ke arah danau. Meskipun beberapa di antaranya terkesan sederhana, namun rata-rata terisi penuh oleh para turis asing yang menghabiskan waktu untuk bersantai sembari bersantap atau sekedar minum beer.
Kami sendiri pada akhirnya singgah pada sebuah kafe yang memiliki bangunan berbentuk dasar segi delapan dan beratapkan dedaunan semacam sirap. Travelmate saya memilih menghabiskan waktu di sana untuk membaca buku yang dibawanya dari Indonesia, sedangkan saya justru terlelap di atas bean bag bersama hembusan sepoi-sepoi angin lembah yang menyapu danau dan melenakan.
“Besok kita trekking ke Peace Pagoda yuk?”, ajak saya begitu terbangun dari tidur, sembari menunjukkan siluet bangunan tersebut yang terletak di atas bukit Ananda, dan terlihat langsung dari tempat kami bersantai.
Selain Peace Pagoda yang bisa dicapai melalui sisi danau. Pokhara juga memiliki Kuil Tal Barahi yang berada pada sebuah pulau buatan di tengah Danau Phewa. Dan meskipun kuil berloteng dua ini dibangun untuk pemujaan dewa Wisnu, namun seringkali penganut Buddha juga terlihat bersembahyang di sana. Kuil ini merupakan salah satu refleksi kerukunan umat beragama di Nepal yang majemuk, baik dari segi ras maupun kepercayaan.

Perahu-perahu di Danau Phewa, bukit Ananda, dan pulau Kuil Tal Barahi. Coba tebak yang mana pulau kuilnya?
Kebetulan hari itu bertepatan dengan malam natal, dan Pokhara ikut larut dalam perayaan kelahiran sang mesiah dari Betlehem. Sungguh, awalnya saya merasa aneh karena bisa melihat kemeriahan natal di negeri mayoritas Hindu tersebut, mengingat jumlah pengikut kristiani di negeri itu sangatlah sedikit. Namun, saya bisa memahami karena memang kota tersebut telah bertahun-tahun menjadi salah satu tujuan liburan natal bagi turis-turis asing dari barat.
Kemeriahan natal sangat terasa dari banyaknya hiasan yang menyemarakkan suasana kota, termasuk ratusan kerlip lampu-lampu kecil yang menghiasi toko-toko serta bendera-bendera yang melayang di atas jalan-jalan utama. Bahkan pelayan toko-toko souvenir yang kami sambangi pada saat senja, selalu membuka dan menutup kunjungan kami dengan ucapan Merry Christmast!, terlepas dari mereka tidak tahu bahwa sesungguhnya kami adalah pejalan-pejalan muslim.
Namun, hal terbaik dan paling menyenangkan dari kemeriahan saat itu adalah banyaknya diskon yang digelar oleh resto-resto yang beroperasi di Pokhara. Termasuk steak house yang kami kunjungi pada saat makan malam. Dimana kami menghabiskan potongan besar steak daging kerbau -atau mungkin daging Yak– yang lezat dan gurih, di tengah dinginnya udara Pokhara pada akhir bulan Desember 2013.
Sesuai rencana, hari itu kami akan berpindah menuju Pokhara. Kota terbesar kedua di Nepal yang berada pada ketinggian 800 mdpl. Menurut informasi, kota itu mempunyai beberapa titik terbaik untuk mengamati Himalaya dari jarak yang lebih dekat. Terutama wilayah Annapurna yang legendaris.
Maka, Pokhara menjadi harapan kami selanjutnya akan sang ancala.
Meskipun gambar bus turis yang akan membawa kami ke Pokhara, sudah saya lihat di brosur hotel sejak dua hari sebelumnya, saya tetap berusaha untuk tak menempatkan harapan yang terlalu tinggi. Segalanya bisa terjadi di Nepal. Apalagi tipuan foto di setiap brosur wisata adalah satu hal yang jamak terjadi di seluruh dunia.
Namun bolehlah, pagi itu bus turis yang kami jumpai cukup menyenangkan. Meski tak terlalu mewah, namun kondisinya cukup baik. Bahkan jika dibandingkan dengan bus-bus antarkota di sekitar Jakarta. Dan untungnya, bus tersebut tidak seperti angkutan massal yang digunakan oleh penduduk lokal. Dimana para penumpang dijejalkan ibarat sarden dalam kaleng.
Bus itu berbangku deret dua-dua, dengan kursi yang empuk dan cukup luas menampung lebar tubuh kami. Sandaran kursinya pun terasa ergonomis. Dan selain nyaman, bus yang saya tumpangi juga berangkat sesuai jadwal. Tepat jam tujuh pagi, kami meninggalkan Kathmandu.
Sebenarnya jarak antara Kathmandu dan Pokhara tidaklah terlalu jauh. Jika dibandingkan, mungkin setara dengan jarak antara Jakarta dan Bandung. Namun, untuk jarak sepanjang itu kabarnya kami akan menghabisakan waktu selama tujuh jam perjalanan.
Pemandangan Kathmandu yang sesak, berdebu, dengan segala macam kabel yang bersaling-silang di udara, segera berganti ketika bus mulai memasuki area luar kota. Kumpulan rumah penduduk semakin merenggang satu sama lain. Himpunannya memisah bagai koloni bakteri yang berkelompok-kelompok di atas cawan petri.
Turunan demi turunan menghiasi jam-jam awal perjalanan, karena kami meluncur dari Kathmandu yang berada pada ketinggian 1400 mdpl. Di situlah saya mulai menemukan alasan tentang mengapa waktu tempuh antara dua kota tersebut sangatlah lama.
Kondisi jalanan Nepal tidak sebaik Indonesia. Meskipun jalan yang kami lalui tak dihiasi lubang-lubang menganga, namun strukturnya tak memungkinkan untuk dipacu kendaraan dalam kecepatan tinggi. Selain itu lebarnya pun tak seberapa, sehingga setiap kali dua kendaraan saling berpapasan, maka kecepatannya harus sedikit diturunkan untuk menghindari senggolan.
Bayangan akan tujuh jam perjalanan yang membosanankan segera sirna, begitu bus tiba pada area yang lebih rendah. Tembok-tembok bukit dan pegunungan hijau mengapit di hampir sepanjang jalan. Puncak-puncaknya tak dapat kami lihat karena tertutup oleh arakkan kabut yang bergumpal-gumpal. Di sisi lain, jurang-jurang dalam berisi sungai lebar dengan aliran berwarna coklat muda hingga hijau toska turut mengiringi. Dan sesekali terlihat jembatan suspensi panjang menghubungkan satu sisi sungai dengan seberangnya.
Saya menyarankan kepada siapapun yang menempuh jalur darat dari Kathmandu menuju Pokhara, untuk duduk di sisi kanan, karena itu adalah sisi terbaik untuk menikmati semua pemandangan tersebut. Begitupun sebaliknya, jika mengarah kembali ke Kathmandu.
Di separuh waktu perjalanan, kami sempat singgah pada sebuah rest area, serta menghabiskan makan siang pada sisi sungai. Saya menandaskan sepiring penuh masakan Nepal nan sedap, sembari menatap aliran riam yang bergemuruh dari hulu lelehan salju. Sementara bayang-bayang halus kemuncak Himalaya yang terbalut putih mulai terlihat di kejauhan.
Sebuah taksi membawa kami dari Pokhara Bus Station menuju desa Sarangkot yang berada pada ketinggian 1600 mdpl. Pada sepanjang perjalanan, berkali-kali kami melemparkan pandangan ke arah Himalaya yang berdiri dalam jarak yang lebih dekat dari sebelumnya. Ia gagah, ibarat benteng raksasa. Tinggi menjulang dengan lekuk-lekuk hitamnya yang tajam, dimahkotai lapisan salju abadi pada puncak-puncaknya yang jarang dilalui manusia.
Penginapan sederhana yang kami sewa hari itu pun turut memanjakan hasrat akan Himalaya. Sebuah kamar yang dilengkapi perapian, kami dapatkan pada bagian rooftop. Dari balkonnya yang luas kami dapat mengintip sebagian puncak-puncak atap dunia. Sementara tumpukan pegunungan, danau Phewa, dan liukan sungai melingkupi kota Pokhara yang berada jauh di bawah. Bersama matahari yang semakin condong ke arah horison, semua itu berubah menjadi siluet jingga. Sempurna!

Tipikal senja di Pokhara, dilihat dari desa Sarangkot. (source)
“Kalian beruntung, karena hari ini cerah. Kalian bisa menikmati senja terbaik sembari memandangi Annapurna, Dhaulagiri, dan Machapuchare dari atas sana!”, ujar Ram, sang pengelola penginapan, sembari menunjukkan arah view point yang berada agak sedikit di atas kami.
Meskipun tanjakan menuju Sarangkot View Point itu tak seberapa panjang, namun kecuramannya cukup membuat napas kami menderu-deru setelah lima menit pendakian kecil. Mungkin juga itu disebabkan oleh karena kami yang terlalu bersemangat ingin menatap Himalaya.
Kami tak banyak berkata-kata, selain bertukar kekaguman setelah sampai di sana.
“Akhirnyaaa, Himalaya!”
Kala itu adalah salah satu senja terbaik yang pernah saya nikmati seumur hidup. Karena sebelumnya saya sudah menikmati beribu-ribu senja di perkotaan, beratus-ratus senja di lautan, dan berpuluh-puluh senja sembari menatap horison dari tepi pantai. Namun senja yang menenggelamkan pegunungan bersalju itu adalah yang pertama kalinya. Pun, ia adalah Himalaya yang super megah.
Berjuta-juta tahun yang lalu ia adalah bagian dari samudra, sementara saat itu kami menatapnya sebagai salah satu bagian dari daratan tertinggi di muka bumi.
Jingga senja yang halus menempa pendar-pendar keemasan pada Himalaya. Machapuchare dengan puncaknya yang lancip dikelilingi oleh multi puncak Annapurna, sementara Dhaulagiri berada jauh di sisi barat. Mereka meremang bersama, diiringi desauan angin yang menyapu lembah. Tak ada suara riuh, hanya bisikan yang kami gumamkan setiap kali butuh bertukar kata.
Dan ketika gelap telah sempurna menenggelamkan Himalaya, kami mengamati bulir-bulir halus bara muncul di kejauhan. Kontras memerah di atas karpet salju yang telah kelam.
“Itu apa ya? Titik api?”, tanya travelmate saya.
“Mungkin. Atau bisa jadi itu lampu-lampu para pendaki. Mereka yang sedang menuju Annapurna.”, jawab saya sembari menduga.
“Ah, aku mau kesana.”
“Aku juga. Dan insya Allah, aku akan segera kesana. Ke Annapurna!”
*****
Pada saat tulisan ini saya siapkan, saya juga sedang mempersiapkan keberangkatan saya ke Annapurna, yang rencananya akan saya lakukan pada bulan April 2016. Pemantapan itinerary, pembelian tiket, pemesanan akomodasi, semua sudah selesai. Tinggal latihan fisik dan persiapan peralatan yang masih berlangsung.
Perjalanan ini merupakan bagian dari impian saya untuk Solo Trekking ke Annapurna, yang berhasil saya dapatkan modalnya dari memenangkan lomba menulis pada Cross|Over Writing Competition yang diadakan pada akhir tahun 2015 lalu.
Doakan ya, semoga saya tetap selamat dan segalanya lancar. Sehingga bisa berbagi cerita tentang perjalanan itu nantinya. Amiin.
Hampir sepanjang 105 tahun, sejak 1846 hingga 1951, perdana menteri yang berasal dari Dinasti Rana menjadi bayang-bayang pekat dan kuat dalam tahta raja-raja Nepal yang berasal dari Dinasti Shah. Mengubah status raja, hanya berperan sebagai kepala negara tanpa kuasa yang berarti.
Meskipun tiran, Dinasti Rana meninggalkan banyak jejak pencapaian arsitektural. Dan satu di antaranya adalah Garden of Dreams di Kaiser Mahal.

Garden of Dreams.
Kami meninggalkan Basantapur, sebelum kegelapan senja yang dingin menelan relung-relung kunonya. Sore itu kami memutuskan untuk tidak menggunakan kendaraan apapun, melainkan berjalan kaki untuk kembali ke penginapan yang berada pada area Thamel, agar kami dapat menyesap lebih dalam aroma ibukota yang disaput debu itu.

Basantapur – Kathmandu Durbar Square.
Dengan berbekal peta yang kami dapatkan dari hotel, kami menyusuri liku demi liku Kathmandu yang padat. Hampir tak ada daerah yang benar-benar sunyi. Rasanya sore itu, semua orang tumpah ke atas ruas jalan kota. Terutama lapangan parade Tundhikel dan Ratna Park yang dipadati oleh ribuan warga lokal yang menghabiskan waktu dalam kemeriahan pasar dadakan yang menjajakan segala macam barang.
Saya sempat menandai letak Masjid Jame’ dan Masjid Kashmiri yang berada di tenggara serta timur laut Rani Pokhari, dan mengapit keberadaan menara jam Ghanta Ghar.
Berbicara tentang Rani Pokhari, ini adalah salah satu monumen arsitektural peninggalan dinasti Malla, yang pernah menguasai Lembah Kathmandu dalam kurun lebih dari 600 tahun lamanya. Reservoir air buatan seluas 25.200 meter persegi tersebut, dibangun pada tahun 1670 Masehi, dalam masa kekuasaan Raja Pratap Malla.

Rani Pokhari. Terlihat Kuil Matrikeshwor Mahadev yang berwarna putih di tengah kolam, dan Menara Jam Ghanta Ghar di seberangnya. (source)
Sang raja membangun kolam raksasa ini, demi menghibur ratunya yang sedang mengalami duka mendalam setelah ditinggal salah seorang putranya yang tewas akibat diinjak oleh seekor gajah. Konon kolam ini disucikan oleh air yang berasal dari tempat-tempat suci serta sungai-sungai yang berkuala di Nepal dan India, di antaranya adalah dari Gosaikunda, Muktinath, Badrinath, dan Kedarnath.
Sebuah kuil yang dipersembahkan bagi Matrikeshwor Mahadev -sebuah perwujudan Shiva– dibangunkan pada bagian tengah badan air raksasa itu, dilengkapi oleh sebuah jembatan batu sebagai penghubung dengan sisi kolam. Sedangkan empat kuil lainnya dibangun pada keempat pojok kolam, yaitu: kuil Bhairava di barat laut dan timur laut, kuil Mahalaksmi di tenggara, dan kuil Ganesha di bagian barat daya.
Sayangnya, kami tak dapat masuk dan mengunjungi bagian tengah kolam. Karena pagar yang melingkupinya hanya dibuka setahun sekali pada saat puncak perayaan festival Chhat atau Tihar. Yaitu, sebuah acara tahunan yang mirip dengan festival cahaya Deepavali di India, namun dengan variasi lokal Nepal yang kental.
Jika London memiliki The Mall yang berlapis cat merah ibarat karpet penyambutan di depan Buckingham Palace, maka Kathmandu memiliki Durbar Marg yang tepat menusuk jantung mantan Istana Kerajaan Nepal, Narayan Hiti.

Istana Narayan Hiti. (source)
Dapat dikatakan Durbar Marg adalah kawasan elit Kathmandu. Dimana gerai-gerai butik ternama, hotel paling mewah, franchise restoran internasional, hingga pusat perbelanjaan yang paling mahal berjajar pada sepanjang jalan tersebut. Kondisinya sangatlah kontras dengan bagian lain ibukota Nepal itu.
Pada sisi-sisinya, deretan lampu dapat menyala terang benderang tanpa sungkan menunjukkan krisis energi yang melanda negeri. Aspal yang melapisi badan jalannya pun relatif lebih mulus, dengan ruas jalan yang jauh lebih lebar daripada di tempat lain. Siapapun yang melewatinya, pasti akan merasakan sensasi Kathmandu yang berbeda.
***
Tepat pada bundaran yang menjadi akhir dari Durbar Marg, kami berbelok tajam ke barat, mengarah ke Thamel. Namun, sebelum sampai di kawasan padat wisatawan itu, pandangan saya tertumbuk pada dinding bata merah dengan gerbang neoklasik berwarna putih gading.
Dari seberang jalan, saya dapat membaca jalinan huruf penandanya yang ditatahkan pada sebuah panel berwarna kuning keemasan. Ah rupanya itu dia, tempat yang sudah masuk ke dalam agenda saya.
“Kita mampir ke Garden of Dreams yuk!”, ajak saya pada travelmate yang mengangguk antusias tanpa penolakan.

Gerbang masuk dan penanda Garden of Dreams.
Seperti diketahui, dalam 105 tahun kekuasaannya di Kerajaan Nepal, Dinasti Rana banyak sekali menghasilkan istana-istana serta bangunan megah yang pada umumnya bergaya eropa. Terutama dalam langgam neoklasik dan barok.
Istana-istana yang dimiliki oleh Dinasti Rana biasanya berwarna putih, dengan aksen jendela raksasa bergaya Perancis. Mereka dipertegas oleh kolom-kolom megah bergaya Yunani, dengan ruangan yang terbagi dalam empat sayap, dan dilengkapi oleh sebuah halaman terbuka di bagian tengah untuk keperluan upacara keagamaan maupun seremonial lainnya.

Singha Durbar atau Istana Singa di tahun 1927. Salah satu bangunan istana paling ambisius di Asia. Kini difungsikan sebagai gedung pusat pemerintahan Republik Nepal. (source)

(kiri) Perdana Menteri Chandra Shamsher Jang Bahadur Rana. (kanan) Field Marshall Sir Kaisher Shamsher Jang Bahadur Rana. (source)
Begitu pula dengan Kaiser Mahal yang dibangun pada tahun 1895 oleh Perdana Menteri kelima dari Dinasti Rana, Maharaja Sir Chandra Shamsher Jang Bahadur Rana, bagi putra ketiganya Field Marshall Sir Kaiser Shamsher Jang Bahadur Rana.
Demi melengkapi istana tersebut, atas arahan Kishore Narshingh pada tahun 1920 dibangunlah sebuah taman di dekatnya, dengan enam buah paviliun terpisah, yang dipersembahkan bagi enam musim yang dimiliki Nepal, yaitu: Basanta (musim semi), Ghrisma (musim panas), Barkha (musim penghujan/monsoon), Sharad (musim gugur), Hemanta (pra musim dingin), dan Shishira (musim dingin).

Ruang perpustakaan di dalam Kaiser Mahal. (source)

Denah The Garden of Dreams saat ini.
Meskipun karena enam paviliun tersebut, taman itu dikenal sebagai Garden of Six Seasons, namun pada akhirnya julukan Garden of Dreams lah yang paling melekat padanya hingga kini.
Pada masanya Garden of Dreams dikenal sebagai salah satu taman yang paling canggih dan menarik, namun sayangnya kini hanya setengah dari luas taman aslinya saja yang masih dapat kita nikmati. Karena ia sempat terbengkalai paska kejatuhan Dinasti Rana di Nepal pada awal tahun 1950an, dan baru pada medio tahun 2000an Garden of Dreams direnovasi oleh Pemerintah Nepal atas sokongan dana dari Pemerintah Austria.
***
Garden of Dreams ibarat oase di tengah Kathmandu yang padat dan gersang. Segalanya berubah begitu melewati gerbangnya. Rerimbunan daun yang hijau seolah menyambut kedatangan kami. Sementara dahan pepohonan yang menjalin di sisi dalam dindingnya, menjadi peredam segala kebisingan kota yang menyeruak liar ke dalam gendang telinga.
Taman berlanggam neoklasik dan bergaya Edwardian itu dihiasi dengan berbagai macam perlengkapan yang sangat terinspirasi oleh cita rasa eropa. Mulai dari paviliun, beranda, pergola, pilar-pilar balkon, jambangan, kandang burung, air mancur, kolam-kolam, hingga amphitheater.

Beranda dan pavilion di Garden of Dreams.
Serasa bermimpi. Kami tak mempercayai jika di dalam Kathmandu yang riuh dapat menemukan tempat sepermai itu. Yang tenang, rimbun, subur, ditingkahi gemercik air, dan terbebas dari tumpukan debu. Mungkin, itu sebabnya ia diurapi sebagai Garden of Dreams.
Senja itu kami menghabiskan waktu dengan bersantai pada amphitheater yang dilengkapi oleh alas-alas serta bantal untuk lesehan dan merebahkan diri. Sembari memanfaatkan akses WiFi yang disediakan oleh taman, kami membicarakan banyak hal. Tentang luka di masa lalu, impian perjalanan kami selanjutnya, hingga obsesi yang masih ingin kami kejar dalam hidup.

Salah satu paviliun di Garden of Dreams yang kini berfungsi sebagai restoran.

Kolam dan amphitheater tempat bersantai di sudut Garden of Dreams.
Entahlah. Saya merasa, saat itu adalah masa paling santai dalam rentang perjalanan kami di Nepal. Sehingga kami dapat membicarakan hal-hal yang mungkin sebelumnya terlalu pribadi untuk diungkapkan. Dan jika saja esok kami tak harus mengejar bus paling pagi ke Pokhara, serta dingin yang membalut tak membekukan sendi, mungkin kami akan terus bertahan di dalamnya.
Akhirnya, bersama gemintang yang mulai memayungi Garden of Dreams, kami kembali pada riuhnya Thamel.
Saya pikir perjalanan itu akan berlangsung sedikit lama, mengingat jaraknya cukup lumayan di atas peta. Namun, entah karena saya terlalu menikmatinya atau memang sang supir mengambil jalur terbaik, akhirnya kami sampai pada sebuah daerah yang berjarak lebih lapang antara satu bangunan dengan lainnya.

Atap-atap pagoda bertingkat Meru, susun menyusun menguasai pandangan. Puncaknya yang menyimpan memori usia, terlihat kontras di muka langit yang bersih. Kuil-kuil berukir itu dominan mengisi area plaza yang luas, sementara sebuah bangunan putih tinggi berlanggam eropa menjadi penyeling yang tak kalah mencolok mata.
Ah ini dia rupanya, Basantapur. Sang Metropolis Kuno di lembah Kathmandu.
Basantapur: Kathmandu Durbar Square
Basantapur atau yang lebih dikenal sebagai Kathmandu Durbar Square (Nepali: Basantapur Darbar Kshetra), merupakan salah satu dari tiga alun-alun kerajaan yang terdapat di lembah Kathmandu. Dua lainnya adalah di Bhaktapur dan Patan (Lalitpur).
Alun-alun kerajaan ini dipenuhi oleh kuil-kuil, kompleks istana kerajaan, patung-patung yang disucikan, dan juga Kumari Ghar yang merupakan kediaman sang living-goddess Kumari.
Sejarah alun-alun kerajaan ini kemungkinan sudah dimulai sejak abad 3 Masehi, pada periode bangsa Licchavi. Sementara Raja Sankharadev dipercaya sebagai raja pertama yang membangun istana pada area tersebut di sekitar abad 10 Masehi.
Ketika dinasti Malla berhasil menguasai kota Kathmandu pada kisaran abad 4 hingga 5 Masehi, Raja Ratna Malla menjadikan istana-istana pada area itu sebagai kompleks istana utama kerajaannya. Bahkan ketika Raja Prithvi Narayan Shah berhasil mendirikan Kerajaan Nepal Bersatu pada tahun 1769 Masehi, ia memilih Kathmandu Durbar Square sebagai kompleks istananya dibandingkan Bhaktapur ataupun Lalitpur.

Seluruh keturunan dinasti Shah berkuasa dan menempati area itu, hingga pada tahun 1896 mereka memindahkan kompleks istana kebangsawanan ke Istana Narayan Hiti, di ujung Durbar Marg, dekat Thamel.
Meskipun begitu, selanjutnya Basantapur tetap menjadi pusat upacara-upacara resmi kerajaan, termasuk penobatan dua di antara tiga raja terakhir dari dinasti Shah. Yaitu Raja Birendra Bir Bikram Shah pada tahun 1975, dan Raja Gyanendra Bir Bikram Shah pada tahun 2001 yang menutup Nepal sebagai kerajaan Hindu terakhir di dunia.
Pada tanggal 25 April 2015, sebuah gempa besar yang menimpa Nepal ikut meluluhlantakkan area ini. Banyak bangunan-bangunan kunonya yang bersejarah hancur lebur dan rata hingga menyentuh dasarnya, termasuk pula kompleks istana kerajaannya.

Basantapur paska gempa. (www.theguardian.com)
Saya merasa cukup beruntung karena sempat mengunjungi tempat ini, pada bulan Desember 2013, jauh-jauh hari sebelum bala itu terjadi. Foto-foto yang saya hasilkan saat itu, mungkin merupakan salah satu dokumentasi terakhir dari pusat metropolis kerajaan kuno ini.
Beberapa bangunan yang hancur di antaranya adalah kuil Trilokya Mohan Narayan, kuil Narayan Vishnu, kuil Krishna (Chasin Dega), dan Maju Deval (Maju Dega) termasuk sikhara putih yang berdiri di depan tangga utamanya.

Kuil Maju Deval (Maju Dega) dan sikhara putihnya, kini tinggal sejarah.
Selain itu Gaddi Baihak yang bergaya eropa juga turut mengalami kerusakan yang cukup parah. Bangunan istana berwarna putih itu didirikan pada tahun 1908,di masa pemerintahan Perdana Menteri Sri Chandra Shamsher Jang Bahadur Rana, ketika Raja Prithvi Bir Bikram Shah berkuasa.
Meskipun yang tertera pada inkripsi adalah seperti itu, pada kenyataannya sangatlah berbeda. Pada kisaran tahun 1846 hingga 1951, penguasa Kerajaan Nepal yang sesungguhnya bukanlah raja, melainkan sang perdana menteri.

Di masa itu, raja hanyalah lambang negara yang hampir tak memiliki kekuasaan sedikitpun. Perdana menteri menguasai hampir segala aspek yang berkaitan dengan perikehidupan kerajaan termasuk hukum. Bahkan suksesi perdana menteri diserahkan berdasarkan garis keturunan, dimana dinasti Rana lah yang memonopoli hak tersebut. Hal ini tentu saja menimbulkan konflik yang berkepanjangan di dalam tubuh kerajaan.
Puncaknya adalah ketika pada awal tahun 1950an raja yang berkuasa kala itu -Raja Tribhuvan– dan seluruh anggota keluarganya melarikan diri ke India, karena merasa terancam keselamatannya dalam kekisruhan politik melawan kekuatan perdana menteri. Satu-satunya keluarga raja yang tertinggal kala itu adalah Pangeran Gyanendra yang baru berusia 3 tahun.
Anehnya, meskipun secara de facto perdana menteri bisa saja merebut tahta raja, ia justru tidak melakukannya, melainkan mendudukkan sang pangeran cilik sebagai raja pengganti.

Setelah beberapa usaha perundingan, Raja Tribhuvan akhirnya bersedia pulang ke Kathmandu dan menduduki tahtanya kembali, menggantikan cucunya.
Ironisnya, di kemudian hari Raja Gyanendra kembali naik tahta sebagai Raja Nepal ke 12, menggantikan kakaknya -Raja Birendra– dan kemenakanannya -Raja Dipendra– yang tewas dalam tragedi pembantaian keluarga bangsawan di Istana Narayan Hiti.
Namun pada 28 Mei 2008 akibat konflik menahun yang kompleks, Kerajaan Nepal kemudian dibubarkan atas kehendak rakyat, dan berubah bentuk menjadi Republik Federal Sekuler hingga kini.
Basantapur sebagai Pusat Gaul
Alun-alun kerajaan itu ibarat kuala manusia. Hampir tak ada sudut-sudutnya yang benar-benar sunyi siang itu, meskipun kami masih bisa dengan leluasa mengeksplor bagian-bagiannya tanpa terganggu.
Undakan pada kaki-kaki kuil hampir selalu terisi oleh pengunjung yang melepas lelah, atau mereka memang sengaja menyasarnya untuk bercengkrama. Begitu pula dengan puncak-puncak restoran yang disulap menjadi area makan terbuka, yang menyajikan panorama jantung Kathmandu dari ketinggian. Untungnya, kami masih bisa menemukan beberapa kursi kosong pada restoran yang berada tepat di sebelah barat Kuil Narayan Vishnu.

Kumpulan pengunjung di depan kuil Shiva Parvati (kanan) dan kuil Narayan Vishnu (kiri).

Menara Basantapur (paling tinggi di kiri) kehilangan dua lantai teratasnya pada gempa 25 April 2015, namun kondisinya masih mungkin untuk direnovasi.

Meskipun gerombolan turis hampir selalu terlihat dimana-mana, namun pengunjung lokal yang menghabiskan waktu di Basantapur pun tak kalah banyak jumlahnya. Pusat kota tua itu ibarat tempat gaul paling asyik di seantero Kathmandu. Perpanduan antara masa kini dan romantika masa lalu yang misterius.
Bagi penggemar budaya dan sejarah, Basantapur ibarat perpustakaan yang menyimpan sejuta kisah. Setiap hal yang ditempatkan di sana memiliki tarikh nya masing-masing. Kadang ia nyata, bagian dari ajaran agama, atau tak jarang juga legenda berbalut mitos yang masih dipercaya hingga abad ini.

Patung Hanoman (kiri) dan Kala Bhairava (kanan) di Basantapur.
Kala Bhairava adalah salah satunya, relief perwujudan Shiwa dalam bentuk paling mengerikannya itu sering dijadikan sebagai saksi pada kasus-kasus yang menyangkut integritas seseorang. Konon, jika seseorang bersaksi atau bersumpah palsu di hadapan relief ini, maka yang bersangkutan akan tertimpa musibah atau kematian dalam waktu dekat.
Namun, dari semua kisah yang ada, maka sang living-goddess Kumari lah yang paling menarik untuk ditelusuri.
Kumari Ghar: Istana Sang Dewi
Sinkretisme di Nepal mencapai bentuk yang paling harmonis. Selama bertahun-tahun seorang gadis cilik dari keluarga Buddha Vajrayana (Bajracharya) dipuja oleh kaum Hindu sebagai Dewi Kumari, dimana prosesi penujuman serta audisinya yang berat sepenuhnya dilakukan oleh para biksu Buddha. Kumari yang berasal dari kata kaumarya yang berarti perawan, dipercaya merupakan titisan dari Dewi Taleju.
Dewi Kumari biasanya adalah seorang gadis cilik pra akil balik. Sepanjang menyandang gelar tersebut, ia akan tinggal pada sebuah istana khusus, dimana ia hanya boleh mengkonsumsi makanan-makanan tertentu saja. Kehidupannya penuh dengan pujaan dan kehormatan termasuk limpahan harta, bahkan raja dan keluarganyapun turut memujanya. Kakinya tak diperkenankan menyentuh tanah, sehingga setiap kali kemunculannya ia akan sepenuhnya ditandu, menaiki kereta suci, atau menjejakkan kakinya pada nampan-nampan emas sebagai alas.
Uniknya, ada beberapa Dewi Kumari yang hidup di Nepal. Namun Dewi Kumari dari Kathmandu lah yang paling utama dan terbanyak pemujanya.
Kumari Ghar atau Istana Dewi Kumari terletak di salah satu sudut Basantapur, tepat di tikungan pada sebelah selatan balkon Gaddi Baihak yang ditunjang oleh kolom-kolom tinggi bergaya Yunani.

Istana sang dewi sendiri berwujud sebuah bangunan bergaya Newari berlantai tiga, dengan dinding yang terbuat dari batu bata merah terbuka. Ukir-ukiran jhyas menjadi aksen pelengkap yang menghiasi pintu serta jendela-jendelanya. Sepasang patung singa berwarna putih dan berhias menjadi penjaga pada pintu masuk utamanya. Dan sebagai lambang keberuntungan, tiki jhyas (kerawang jendela) berpola burung merak terlihat pada beberapa jendela.

Seperti arsitektur Newari pada umumnya, setelah melewati pintu utama dan sampai pada bagian dalam istana, maka kita akan tiba pada sebuah taman terbuka di area tengahnya. Sekeliling daerah itu dilingkupi oleh teras-teras berpenyangga kayu berukir. Dan jendela-jendela lain yang memiliki detail rumit menyembul dari sisi lantai-lantai selanjutnya.

Area taman itu terasa dingin, karena matahari hampir tak bisa meloloskan sinarnya secara langsung kesana. Perputaran bumi di bulan Desember, hanya menyisakan biasan sinar yang menyorot dari sisi selatan.
Seorang pemuda lokal menunjuk pada salah satu jendela berukir di atas.
“Terkadang Dewi Kumari mengintip dari jendela itu, dan jika kau tak sengaja melihatnya juga, maka bersiaplah untuk keberuntungan yang tak terduga dalam hidupmu”, ujarnya.
Ia melanjutkan, jika banyak orang yang datang ke Kumari Ghar hanya untuk mengharapkan perjumpaan singkat dan tak terduga itu. Demi keberuntungan, dan hal lain yang mereka percayai.
Namun begitu pada setiap bulan September setiap tahunnya digelar festival Indra Jatra, dimana pada saat itu Dewi Kumari akan muncul ke muka umum dalam pakaian kebesarannya dan digotong dalam tandu kencana.
Ribuan orang akan menghadiri upacara tersebut demi melihat sang dewi dan meminta berkatnya. Dahulu, sang dewi akan memberkati raja yang sedang berkuasa, namun kini tradisi tersebut dilanjutkan dengan memberikan berkat kepada Presiden dan Perdana Menteri Nepal.
Sedemikian bertuahnya sang dewi, hingga kesempurnaan menjadi persyaratan yang harus disandangnya.
Battis Lakshana atau tiga puluh dua kesempurnaan adalah dasarnya, yang secara puitis disampaikan bahwa ia harus memiliki leher bak cangkang kerang, tubuh seperti pohon banyan, bulu mata selentik sapi, paha sekuat kijang, dada selayaknya singa dan suara yang lembut serta jelas seperti bebek.
Maka, ketika sekali saja seorang Kumari mengalami sakit berat atau setetes darah mengalir keluar dari tubuhnya -termasuk tamu bulanannya- gugurlah kedewiannya. Ia akan kembali menjadi manusia biasa yang tak lagi menuai puja.
Meskipun pemerintah memiliki kebijakan memberikan uang pensiun kepada mantan Dewi Kumari, namun kehidupan baru mereka seringkali tak mudah. Selain harus kembali menyesuaikan diri dengan kehidupan tanpa pujaan dan keistimewaan, biasanya mereka juga sulit mendapatkan jodoh. Karena banyak pria yang percaya, jika menikahi seorang mantan Dewi Kumari akan mengundang bahaya, termasuk kematian segera.

The au Lait?
Matahari semakin meredup, dan bayangan kami yang jatuh di atas batu-batu Basantapur mulai kehilangan kontrasnya. Namun, pusat metropolis kuno itu tak kunjung sunyi. Aliran manusia masih saja datang dan pergi silih berganti.

Kami yang lelah setelah seharian trekking menyusuri Kathmandu, mendaki dan menuruni ratusan tangga di Swayambhunath, serta mengitari Basantapur dan menyelam dalam kisah-kisah di baliknya, merasa perlu merehatkan diri. Himalayan Java Café yang tampil mentereng menjadi tempat berlabuh kaki-kaki kami selanjutnya.
“Semahal apa ya nongkrong di café a la Starbuck nya Nepal ini?”, tanya kami pada diri sendiri.
Ah ternyata kami tak salah, meskipun terpoles mewah untuk ukuran Nepal, harga makanan dan minuman di café tersebut terbilang murah. Rasanya pun sedap.

Himalayan Java Coffee dan pemandangan yang tersaji dari balik jendelanya.
Sambil menyeruput kehangatan minuman yang mengaliri tubuh, kami menikmati sore yang eksotis dari balik jendela. Menatap lautan pengunjung yang memasuki alun-alun kerajaan melalui Gangga Path, dengan latar belakang Menara Basantapur yang agung menjulang.


Udara kamar di Himalayan Travellers Inn jauh lebih manusiawi dibandingkan penginapan-penginapan kami sebelumnya. Semalam, tanpa perjuangan melawan beku saya dapat tidur lelap tanpa terganggu. Dan pagi itu saya memutuskan untuk mandi, demi menghangatkan diri di bawah kucuran air panas.
City Trekking over Kathmandu
Kami menghabiskan sarapan di taman terbuka, sembari mengagumi kepulan uap pekat yang menyeruak setiap kali napas terhembus dan berbicara. Begitu pula uap yang membubung dari cangkir-cangkir teh madu jahe yang kami pesan. Untuk kami yang terbiasa hidup di kehangatan udara tropis, ini adalah hiburan langka. Norak ya?
Hari itu agenda kami padat. Hampir sepanjang hari akan dihabiskan mengeksplor spot-spot wajib bagi para first-timer di Kathmandu. Karena esok hari, bus paling pagi akan membawa kami ke Pokhara.

Objek pertama yang akan kami kunjungi adalah Swayambhunath, sebuah stupa Buddha Bermata Ketiga lainnya yang dibangun di lembah Kathmandu. Keistimewaannya adalah ia terletak pada sebuah puncak bukit, yang dari atasnya para pengunjung dapat mengamati serakan kepadatan kota nan eksotis.
Dengan berbekal ingatan visual dari googlemaps yang saya lihat pada waktu meriset perjalanan ini, peta sederhana, dan penanda -yang kami harap akan mudah ditemui di sepanjang jalan-, kami memutuskan untuk berjalan kaki demi mencapai stupa istimewa itu.

Jalur trekking dari Thamel ke Swayambhunath.
Keriuhan kota segera menyambut, begitu kami keluar dari jalan kecil yang menjadi pelindung penginapan. Kendaraan-kendaraan yang beberapa diantaranya dipenuhi aksara Devanagari berlomba-lomba menyusur aspal yang tak lagi rata.
Terselip di antaranya mobil-mobil dan motor desain terbaru, yang tak seberapa jumlahnya, turut bersaing dalam keriuhan itu. Serta salakkan klakson sesekali bersahutan, melengkapi kesibukan pagi.
Kami menyusuri trotoar yang cukup untuk berjalan beriringan. Dan sesekali lebih menepi ketika trotoar hilang disapu pinggiran jalan, yang berganti menjadi tumpukan puing, kaki lima, ataupun pelebaran jalan seketika yang digunakan oleh kendaraan menyalip satu dan lainnya.
Bangunan yang kami lalui berselang-seling dalam gaya. Mulai dari gedung-gedung terbaru yang tak seberapa tinggi, arsitektural Newari berbata merah yang diakseni kayu berukir, hingga bangunan dengan cat dan semen terkupas yang menyeruakkan bata-bata pembentuk dari balik kulitnya.

Wajah lain Kathmandu yang lebih dalam kami lewati. Di antaranya adalah rumah-rumah kumuh yang berdesakkan di sisi sungai Vishnumati yang berair coklat dan tak tampak laju mengalir.
Dari atas jembatan yang melintasinya, saya melihat beberapa ekor burung elang melayang anggun dalam bentangan sayapnya yang kokoh membelah udara. Di Jakarta, mungkin elang itu sudah menjadi sasaran tembak para pemburu amatir yang kehabisan target buru, atau disergap oleh para kolektor fauna.
Beberapa penanda dwi bahasa menuntun kami ke arah stupa istimewa. Dalam bayangan saya, seharusnya kuil itu mudah teramati karena letaknya yang tinggi dan dikelilingi bukit penuh tanaman hijau. Namun ternyata, tumpukan bangunan Kathmandu lebih menguasai bidang pandang. Sehingga, dengan segenap percaya kami mengikuti kemana penanda itu mengarah.
Setelah melewati jalanan yang lebih kecil, tanpa alas aspal, dan menghamburkan debu setiap kali kendaraan melaluinya, penanda lain menuntun kami hingga mencapai pelataran luas dengan gerbang yang dipenuhi oleh lampu-lampu persembahan pada kaki-kakinya. Pun beberapa sadhu, pengemis, biksu, peziarah, hingga turis berada di sana. Pasti ini tempatnya, tak salah lagi.

Kini di depan kami terbentang ratusan anak tangga yang mendaki bukit, dan dilingkupi pepohonan peneduh nan rindang.
Itulah dia, tangga menuju Swayambhunath!
Vajra and The Gilded Stupa of Swayambhu
Stupa bermata ketiga itu terletak pada puncak bukit. Ada dua jalan untuk mencapainya: yang pertama melalui undakan tangga di sebelah timur, dan yang kedua melalui pintu masuk di barat daya yang dapat dicapai dengan mobil. Tapi undakan tangganya merupakan jalur paling favorit, kecuali jika pengunjung memiliki masalah dengan kaki dan persendian.
Kebetulan kami sampai di bagian timur bukit, sehingga mau tak mau tangga itu adalah satu-satunya jalur yang harus kami tempuh.
Undakan tangga yang jumlahnya 365 buah itu dibuka dengan apitan patung-patung Buddha, serta relief yang menggambarkan kehidupan masa lalunya. Termasuk relief Maya Devi, ibunda Siddharta Gautama, yang sedang menggenggam cabang pohon ketika melahirkannya.

Undakan-undakan awal terasa sangat landai, dan diselingi lantai batu selebar 2 hingga 1.5 meter setiap lima undakan. Namun seiring dengan curamnya bukit, maka undakannya pun semakin menanjak tajam.
Menjelang bagian tangga teratas, tepat sebelum ticket booth, terdapat lima pasang arca hewan yang mengapit undakan, yaitu: Garuda, Burung Merak, Kuda, Gajah, dan Singa. Menurut kepercayaan, hewan-hewan ini merupakan wahana atau kendaraan Dhyani Buddha.

Vajra raksasa di depan undakan Swayambhunath.
Sebuah Vajra raksasa keemasan menyambut kami, begitu berhasil menyelesaikan pendakian singkat undakan demi undakan tadi. Ia adalah senjata yang digunakan sebagai objek ritual untuk melambangkan kekuatan intan yang tak terhancurkan, dan halilintar yang tak terkalahkan.
Dikisahkan dalam Swayambhu Purana, dahulunya lembah Kathmandu adalah sebuah danau yang ditumbuhi oleh teratai. Lalu oleh Manjushri -sang Boddhisattva Kebijaksanaan dan Ilmu Pengetahuan- danau tersebut dikeringkan, dan teratai pada danau itu menjelma menjadi bukit, sementara puncak bunganya berubah menjadi Swayambhunath, stupa bermata ketiga dengan puncak emasnya. Dari legenda itulah nama Swayambhu berasal, yang artinya adalah terbentuk dengan sendirinya.
Swayambhu Purana sendiri merupakan sebuah kitab suci umat Buddha yang menceritakan terbentuk dan berkembangnya lembah Kathmandu. Selain itu, kitab tersebut juga mencatatkan informasi tentang Buddha pertama dan kedua dalam Buddhisme.

Sementara menurut tarikh Nepal Gopalarajavamsavali (Gopu) dicatatkan bahwa Swayambhunath ditemukan oleh Raja Vrsadeva pada sekitar abad kelima Masehi. Ini diperkuat dengan ditemukannya prasasti batu yang menyatakan bahwa Raja Manadeva -cicit dari Raja Vrsadeva– memerintahkan pemugaran stupa tersebut pada tahun 640 Masehi.
Kabarnya pada abad ketiga sebelum Masehi, Kaisar Ashoka pernah mengunjungi situs tersebut, dan membangun sebuah kuil, yang diruntuhkan di kemudian hari.
Meskipun stupa ini merupakan kuil Buddha, namun umat Hindu Nepal juga mensucikannya. Bahkan penguasa lembah Kathmandu, Raja Pratap Malla lah yang tercatat memerintahkan pembangunan undakan batu di bagian timur stupa tersebut pada abad ketujuh belas Masehi.

Saya jadi teringat, pada sebuah kalimat yang diucapkan oleh Roshan ketika memandu saya di Bhaktapur: “Di Nepal, umat Hindu dapat beribadah di kuil Buddha, meskipun tidak sebaliknya. Karena pada dasarnya, orang tua Siddharta adalah juga beragama Hindu.”
Jika dilihat dari bentuk dasarnya, meskipun dalam skala lebih kecil, Swayambhunath memiliki kemiripan dengan Boudhanath. Begitupun secara filosofis, termasuk tiga belas tingkatan pada stupanya yang melambangkan tingkatan pencerahan. Dan juga dengan adanya lima Dhyani Buddha yang ditempatkan pada lima tempat mengelilingi stupa. Dan konon bagian tengah stupanya yang disebut Harmika, dilapisi oleh 20 kg emas.

Detail salah satu torana, pada dasar puncak stupa.
Selain kemiripan itu, Swayambhunath memiliki lima torana pentagonal yang terpasang pada empat sisi stupa, dengan imaji yang terukir pada permukaan emasnya. Dalam Hinduisme, torana merupakan hiasan pada bagian pintu masuk rumah yang berfungsi untuk menarik hati Dewi Lakshmi, sang penguasa kemakmuran. Sementara dalam Buddhisme, torana adalah pintu gerbang keramat pada arsitektural mereka.
The Monkey Temple and Over Hill View Point
Swayambunath juga dikenal sebagai kuil kera, karena banyaknya kera yang disucikan, yang hidup berkeliaran di sekitarnya. Dalam Swayambhu Purana diceritakan dahulu ketika menemukan daerah itu Manjushri berambut pendek. Namun, kemudian ia memanjangkannya hingga banyak kutu yang bersarang pada kulit kepalanya. Dipercaya jika kemudian kutu-kutu tersebut berubah menjadi kera.




Puluhan atau mungkin ratusan kera jenis Rhesus Macaque (Macaca mulatta) terlihat hidup berkeliaran di sana. Seolah telah terbiasa, mereka tidak terlalu mempedulikan kehadiran manusia atau hewan lain di sekitarnya. Mereka bermain, berlari, bersaing memperebutkan makanan, hingga memanjat ke puncak-puncak bangunan suci yang tersebar di pelataran Swayambhu.

Sebagai mana layaknya kuil Buddha bergaya Tibet, di sekeliling stupa Swayambhu terdapat roda-roda doa yang diukiri oleh mantra Om Mani Padme Hum. Para peziarah, yang umumnya merupakan orang-orang keturunan Tibet, terlihat melakukan kora sembari memutar roda-roda bermantra tersebut. Sementara kami para turis, tenggelam dalam keasikan mengamati mereka dan detail-detail yang memenuhi pelataran kuil.

Kompleks Swayambhunath sendiri merupakan salah satu contoh sinkretisme atau juga mungkin harmonisasi antara dua agama besar yang tumbuh berkembang di lembah Kathmandu, yaitu Hinduisme dan Buddhisme.


Kuil Harathi beraliran Hindu, di kompleks Swayambhunath.
Karena selain stupa Swayambhu dan vajra nya yang berlapis emas, yang mewakili agama Buddha. Pada areal kompleks itu juga terdapat bangunan lain yang disucikan oleh umat Hindu, di antaranya adalah dua kuil Hindu bergaya Sikhara yang dibangun oleh Raja Pratap Malla pada tahu 1646 Masehi. Dan juga kuil Harati, yang biasanya dikunjungi oleh para orang tua demi meminta perlindungan bagi anak-anak mereka dari serangan pagebluk.
Sebagai salah satu kompleks kuil paling terkenal di lembah Kathmandu, tentu berbagai macam pedagang souvenir menjadi bagian yang juga tak terpisahkan dari keseharian Swayambhu. Hanya saja, menurut saya para pedagang di sini -bahkan mungkin di seluruh Nepal- bukan type yang agresif dan pemaksa. Sehingga kami sebagai turis, merasa nyaman selama mengeksplor kompleks Swayambhu.




Setelah berkeliling mengamati detail pada kompleks kuil, kami memutuskan untuk beristirahat pada viewpoint yang berada di bagian timur stupa. Di tempat itu kami mengamati Kathmandu dari ketinggian, yang rapat oleh bangunan persegi dan kubus-kubus bertumpuk. Kepadatan kota nan eksotis itu terlihat samar di balik kabut debu, yang telah menguasai udara selama beberapa minggu.
Kami mencoba menebak, dimana kira-kira letak Kathmandu Durbar Square. Karena kesanalah kami akan menuju setelah itu, untuk melihat salah satu metropolis kuno dan seorang dewi yang tetap hidup serta dipuja hingga abad ke duapuluh satu ini. Basantapur dan Kumari!

Kompleks Swayambhunath termasuk salah satu yang mengalami kerusakan akibat gempa pada 25 April 2015 yang menimpa Nepal. Meskipun stupa utama Swayambhu dapat menyintas dari bencana tersebut, namun beberapa bangunan di sekitarnya mengalami kerusakan yang cukup serius. Dan tulisan ini merupakan dokumentasi dari kompleks tersebut, jauh sebelum bencana itu menimpanya.
23 Desember 2013. Senja hari. Kami tercenung. Pada ia yang gagah ibarat benteng raksasa. Menjulang melebihi gemunung kebiruan, dan membentang ibarat naga terlelap. Rautnya keras dalam hitam, bersama lekuk-lekuk usia yang tajam. Bermahkotakan salju berpendar keemasan, ditimpa semburat senja nan jingga. Ialah aalaya, tempat kediaman abadi, bagi sang hima (salju).
Saya berkaca-kaca, membayangkan keagungan Tuhan yang dengan kuasa-Nya telah menggulung samudra, hingga menjadi raja tertinggi dari segala daratan. Himalaya!

Puncak-puncak range Annapurna Pegunungan Himalaya, pada senja itu. Dilihat dari desa Sarangkot. Desember 2013.
Pada senja itu, kami tak banyak bicara. Hanya menikmati momen yang sebelumnya bahkan tak pernah kami impikan. Menatap langsung pegunungan agung itu pada negeri yang jauh. Dari sebuah desa sepi bernama Sarangkot, dalam wilayah Pokhara, Nepal.
Ketika gelap semakin pekat, puncak-puncak Himalaya membentuk siluet bermega. Dan titik-titik bara melepuh pada kulitnya. Satu titik, lalu dua, menjadi tiga dan berakhir dalam himpunan.
“Kira-kira itu cahaya apa ya?”, tanya travelmate saya.
“Hmm mungkin lampu-lampu mereka yang sedang menuju puncak?”, saya pun tak pasti, “Aku ingin kesana juga suatu saat, menginjak salju dan punggungan Himalaya“
Annapurna: Road to Himalaya
Hampir dua tahun setelah senja itu, saya masih menyimpan hasrat yang sama. Ingin kembali ke Nepal dan trekking pada salah satu range Himalaya. Namun karena beberapa alasan, hal itu selalu tertunda. Yang terakhir kali adalah ketika gempa hebat pada bulan April 2015, meluluhlantakkan sebagian negeri itu. Saya dan beberapa teman yang merencanakan pergi, memutuskan untuk menunda. Namun, setelah kini negeri itu kembali stabil, teman-teman saya justru memilih mundur dari perjalanan itu. Tinggallah saya seorang diri.
Namun hasrat itu masih sama. Keinginan saya tetap kuat. Saya ingin kembali kesana.

Saya menatap menatap Annapurna, dari desa Sarangkot, Pokhara. Berharap suatu saat bisa mendekatinya.
Semesta mendukung! Dalam riset-riset perjalanan yang tetap saya lakukan, saya menemukan jika sebenarnya Himalaya menawarkan beberapa kemudahan untuk trekking. Tak harus dilakukan bersama orang lain. Seorang diri pun memungkinkan. Salah satunya adalah pada jalur trekking Annapurna.
Memang Annapurna tak setinggi Everest, ia yang kesepuluh terjangkung di dunia. Hanya berdiri hingga ketinggian 8091 mdpl. Namun Annapurna memiliki jalur trekking yang sangat legendaris. Tak terlalu panjang, hanya berkisar sekitar 106 km, yang bisa ditempuh dalam waktu tujuh hari perjalanan pulang pergi. Perjalanan menuju Annapurna Base Camp dapat di-organize secara mandiri, sirkuitnya terbuka hampir sepanjang tahun, dengan pemandangan pedesaan Nepal yang eksotis serta puluhan tea-house (hotel sederhana yang dikelola penduduk lokal) yang banyak terdapat di sepanjang jalurnya.
Saya merasakan semangat yang membuncah ketika mengetahui semua itu. Namun, ada satu hal yang akan menjadi tantangan baru bagi saya, yaitu solo trekking. Itu artinya saya akan melakukannya seorang diri. Memang perjalanan solo bukanlah sesuatu yang baru bagi saya, ini mungkin akan menjadi yang kedua setelah perjalanan solo saya ke India pada February 2015 lalu.
Solo trekking jelas berbeda. Nantinya selama berhari-hari saya akan berjalan seorang diri, menyusuri jalur yang membelah belantara Nepal dengan puncak-puncak bersalju yang mengintip di kejauhan. Namun ada yang mengatakan jika perjalanan solo itu sebenarnya tak ada, karena kita pasti akan selalu bertemu dengan orang-orang baru yang akan mewarnai perjalanan itu. Dan saya mempercayainya.
Jadi rasanya tak ada yang perlu saya risaukan, yang terpenting sekarang adalah perencanaannya!
Planning and Itinerary
Jelas, saya harus mengurus ijin memasuki Nepal melalui fasilitas Visa on Arrival begitu sampai di Bandara Tribhuvan Kathmandu. Saya merencanakan untuk mengambil visa selama 15 hari, dengan ongkos USD 25. Dan selanjutnya akan mengurus trekking permit sembari melepas lelah di ibukota nan eksotis itu. Ah, kinipun saya sudah merindukan riuhnya Thamel! (kawasan traveler di Kathmandu).
Satu hari adalah lebih dari cukup untuk beristirahat, melengkapi kebutuhan logistik dan mengurus trekking permit yang berkisar NPR 4000, di Kathmandu.
Keesokan harinya saya akan langsung melanjutkan perjalanan menuju Pokhara dengan menggunakan bus. Sebenarnya jarak Kathmandu – Pokhara tidaklah terlalu jauh, kurang lebihnya setara dengan jarak Jakarta – Bandung. Namun karena medan dan kondisi jalannya, jalur itu dapat memakan waktu tempuh selama tujuh jam perjalanan. Tapi saya yakin tak akan bosan, dan tak sabar untuk menyusuri jalur itu kembali untuk ketiga kalinya.
Nantinya saya dapat beristirahat di Pokhara, bersantai di tepi danau Phewa, sembari mengecek persiapan terakhir sebelum trekking pada keesokan hari.
Manajemen waktu dan tenaga adalah kunci dari solo trekking ini. Kedisplinan menjadi penentu dari perencanaan yang sudah disiapkan. Saya harus memastikan bahwa setiap harinya berpindah dari satu titik menuju titik lain sesuai dengan rencana perjalanan yang ada.
Di hari pertama menuju Annapurna Base Camp, saya akan berkendara dari Pokhara menuju Phedi, yang menjadi titik awal trekking. Dari situ trekking akan dimulai menuju Pothana (1860 mdpl), melalui desa Dhampus (1650 mdpl). Yang saya perkirakan akan memakan waktu 4 jam perjalanan. Sebuah tea house bernama Fishtail Lodge akan menjadi tempat saya bermalam, di balik keteduhan puncak Machhapuchchhare.
Chhomrong (2136 mdpl) akan menjadi titik terakhir yang saya tuju pada hari kedua. Perjalanan hari kedua mungkin akan menjadi salah satu trekking dengan waktu tempuh terlama, sekitar 6 hingga 7 jam perjalanan. Namun begitu saya yakin bahwa bentangan alam yang saya susuri akan sangat menghibur. Berupa lembah sungai Modi yang berair bening dan deras, yang diapit tebing-tebing hijau dengan puncak salju di kejauhan. Dan, menyeberangi sungai itu melalui jembatan suspensi dari kayu, akan menjadi pengalaman tersendiri yang seru untuk dicoba.

Lembah Sungai Modi (photo: Piotr Zyki, http://www.pbase.com)
Puncak-puncak Annapurna yang bersaput salju akan terlihat semakin jelas, pada hari ketiga. Melalui Deurali yang berada pada ketinggian 3100 mdpl, yang akan menjadi titik terakhir sebelum mencapai Annapurna Base Camp (4130 mdpl) di hari keempat. Trekking dari Deurali menuju Annapurna Base Camp pasti akan menjadi salah satu jalur yang paling menakjubkan selama perjalanan ini.
Bagian-bagian Himalaya yang gagah menjulang tinggi dalam balutan salju di antara jalan setapak, telah menjadi saksi ribuan pejalan yang melaluinya. Dan saya tak sabar untuk bisa segera meninggalkan jejak juga di sana.

Para trekker dan puncak Annapurna Selatan, di dekat Annapurna Base Camp. (photo: himalayasguide.com)
Saya tak tahu, apakah saya akan rela segera beranjak turun jika sudah sampai di sana. Seperti, saya yang lebih memilih didera angin musim dingin pada saat menikmatinya dari kejauhan dua tahun lalu. Mungkin saya ingin membekukan waktu di tempat itu, agar ia berjalan lambat dan saya dapat berlama-lama menikmati kemegahan Himalaya dalam jarak yang lebih dekat.
Saya tahu, setelah itu kelelahan akan melanda pada perjalanan pulang. Oleh karenanya saya merencanakan untuk bermalam dan melepas lelah di Jhinu Danda. Kabarnya di tempat itu terdapat beberapa sumber mata air panas, yang cocok untuk melemaskan otot-otot yang kaku akibat trekking berhari-hari dan suhu yang membeku. Sembari mengenang keindahan Annapurna dari Himalaya, yang baru saja berlalu.
Solo Trekking: Impian, Tantangan, dan Wujudkan!
Dokumentasi adalah salah satu hal penting yang akan menjadi penguat memori dari sebuah perjalanan, di antaranya melalui media foto. Dan salah satu kesulitan yang menantang pada saat perjalanan solo adalah ketika kita harus mendokumentasikan diri sendiri. Apalagi kini, jamannya selfie. Untuk itu gadget atau photo-gear harus mumpuni. Tapi, saya tidak akan merasa khawatir soal itu, karena saya telah memiliki action cam GoPro HERO4 yang saya dapatkan dari putaran dwi-minggu ketiga Cross|Over Writing Competition.
Saya berharap perjalanan ini bisa segera saya wujudkan. Dan pasti akan sangat menyenangkan jika saya bisa mendapatkan hadiah utama dari kompetisi penulisan tersebut, karena jumlahnya sangat pas dengan budget perjalanan yang telah saya perkirakan.
Kenapa? …. Saya sedang bermimpi?!
Ah, untuk apa takut bermimpi? Saya percaya, setiap perjalanan itu dimulai dari impian. Impian yang ditanamkan secara terus menerus, dan akan membimbing saya menuju perjalanan itu sendiri. Impian yang membuat saya bersemangat untuk mengusahakan dan mewujudkannya.
Karena hanya impianlah, yang membuat kita selalu terjaga dalam kehidupan.
Ini adalah perjalanan impian saya selanjutnya! Bagaimana denganmu?

Range Annapurna Pegunungan Himalaya, dengan puncak Machhapuchchhre (Fish Tail) dan Annapurna nya. Desember 2013.
Tulisan ini adalah jawaban saya atas tantangan final dari Cross|Over Writing Competition yang saya ikuti, demi mendapatkan hadiah utamanya. Setelah sebelumnya saya berhasil memenangkan kompetisi dwi-minggu putaran terakhir pada 13 Oktober 2015 lalu. Dan pada akhirnya tulisan ini berhasil menjadi juara pada kompetisi ini, yang akan segera mengantarkan pada impian saya: Menjelajahi Himalaya Menuju Annapurna!
Jarak antara Bhaktapur dan Kathmandu tidaklah jauh, hanya berkisar lima belas kilometer. Dalam waktu sekitar empat puluh lima menit saja, kami mulai memasuki ibukota Nepal. Badan jalan mulai menyempit, dengan bangunan yang semakin padat di sisinya. Kerapatan kendaraan, lalu lalang manusia dan keriuhan suara klakson mendominasi kota. Semua tampak lebih sibuk, menghempaskan debu-debu ke udara.
Susah saya mencari pembandingnya, kota apa yang mirip dengan Kathmandu di Indonesia. Ia terlihat lawas. Dengan beberapa bangunan kolonial yang tampak menua, terlihat di antara sesaknya kota. Suasana jalanan yang berdebu, terlihat kontras ketika beberapa mobil keluaran terbaru melintas satu dua di antaranya.
Dan akhirnya kami tiba di Thamel. Sebuah kuala bagi para traveler yang singgah di ibukota Nepal. Ia ibarat labirin sempit yang sesak. Manusia, dan aneka macam kendaraan menguasai jalanan yang tak seberapa. Sementara jajaran tempat usaha yang menandakan area traveler berhimpitan di sisinya. Pedagang souvenir, toko mountaineering, toko buku, restaurant, ATM, jasa courier, tour agent hingga penginapan, tersebar berselang seling di sepanjang lorongnya.
Dengan bantuan peta dan memori visual dari googlemaps pada saat meriset perjalanan ini beberapa waktu sebelumnya, akhirnya kami sampai di Himalayan Travellers Inn. Inilah ‘rumah’ kami selanjutnya di Kathmandu.
Himalayan Travellers Inn
Akomodasi ini tidak terletak di tengah kesibukan Thamel, melainkan agak di utara. Tak jauh dari jalan raya, yang menghubungkan labirin itu ke tengah kota. Sebuah hotel budget yang terbilang baru, karena belum lama berselang direnovasi total dari bangunan lamanya.
Di sini terasa lebih tenang, jauh dari keriuhan yang tadi kami lalui. Bangunannya berupa gedung bertingkat berwarna coklat muda, dengan puluhan jendela yang menandakan kamar-kamar terpisah. Sebuah taman berdasar kerikil yang ditumbuhi beberapa pohon rindang, berada pada bagian barat area luar. Selain berfungsi sebagai tempat untuk melepas penat, area ini juga menjadi perluasan ruang makannya.
Kami mendapatkan kamar yang cukup nyaman. Lantai berlapis karpet, sepasang twin-bed empuk berlapis linen putih bersih, serta selimut tebal. Seolah menjanjikan malam yang lebih hangat daripada dua malam lalu. Sementara kamar mandinya, meskipun interiornya agak ketinggalan jaman beberapa dekade, namun terlihat bersih dan luas. Dan yang terpenting adalah, adanya aliran air panas yang saya pastikan tidak ada masalah.
Secara umum, Himalayan Travellers Inn cukup nyaman, bersih, tenang, aman, dikelola oleh para staff yang ramah, memiliki koneksi WiFi yang bisa diandalkan dan yang terpenting harganya cukup murah, meskipun terletak di kawasan paling strategis bagi para traveler di Kathmandu. Recommended!
Setelah check in dan beristirahat sebentar, kami bergegas keluar untuk menghabiskan waktu sebelum senja datang. Menuju satu tempat, di daerah Boudha.
Boudhanath dan Mata Ketiga
Diceritakan, seorang wanita tua peternak unggas memohon sebidang tanah kepada raja yang menguasai daerah Boudha, untuk membangun sebuah stupa bagi memuliakan Sang Buddha. Raja mengabulkan permohonannya, dan menjanjikan akan memberikan tanah padanya seluas apapun yang bisa ia tutupi dengan kulit seekor kerbau.
Lalu wanita tersebut mengiris tipis-tipis kulit seekor kerbau, dan menempatkannya pada sebidang tanah sehingga membentuk lingkaran yang besar. Meskipun merasa dikalahkan secara cerdik, sang raja tetap menepati janjinya. Lalu dibangunlah stupa itu, sesuai ukuran tanah yang dihasilkan si wanita tua.
Sebuah tarikh Nepal berjudul Gopalarajavamsavali (Gopu) mencatat bahwa Boudhanath dibangun pada masa Raja Sivadeva dari bangsa Licchavi di abad ke 6 Masehi, sedangkan tarikh lainnya mencatat bahwa stupa tersebut dibangun pada masa kekuasaan Raja Manadeva di abad ke 5 Masehi. Sementara teori lain mengatakan, kemungkinan stupa ini dibangun pada abad ke 14 Masehi, setelah invasi Mughal dari India.
Saat ini Boudhanath adalah stupa bergaya Tibet yang terpopuler dan terbesar di Nepal. Bagi kalangan Buddha Tibet, stupa ini adalah yang tersuci di luar tanah mereka. Ratusan orang peziarah mengunjunginya setiap hari, hampir sepanjang tahun. Biasanya mereka melakukan ritual kora, yaitu berjalan searah jarum jam mengelilingi stupa sembari merapalkan mantra-mantra.
Jika dilihat dari udara, Boudhanath memiliki denah seperti mandala raksasa, yang merupakan diagram kosmologi Buddha. Dan selayaknya mandala bergaya Tibet pada umumnya, empat Buddha Dhyani (Buddha Kebijaksanaan) ditempatkan pada empat penjuru mata anginnya, sementara satu lainnya sebagai pusat diletakkan di tengah.
Tersebutlah, Akhsobya di timur, Amithaba di barat, Amogashiddi di utara serta Ratnasambhawa di selatan. Sedangkan Wairocana sebagai pusatnya, ditempatkan pada menara emasnya. Kelima Buddha tersebut merupakan personifikasi dari lima elemen yang ada di alam. Yaitu tanah, air, api, udara, dan eter yang direpresentasikan pada arsitekturnya.
Saya cukup terkesan dengan ukuran stupa tunggalnya yang raksasa. Yang didominasi warna putih pada keseluruhan tubuhnya, dan memiliki menara berlapis emas pada puncaknya. Bentuknya yang mengerucut ke tengah, sudah barang tentu merupakan representasi puncak Gunung Meru, yang dipercaya sebagai pusat semesta dalam kepercayaan Hindu dan Buddha.
Meskipun begitu, saya merasa bahwa Borobudur yang berbahan batu andesit jauh jauh lebih impresif. Dengan teknik ukirannya yang lebih detail, teknik perancangan dan penyatuan bebatuannya yang lebih rumit, serta ukurannya yang lebih masif.
Stupa Boudhanath dikelilingi oleh dinding bersisi enam belas, dengan lukisan pada ceruk-ceruknya. Dan memiliki gerbang-gerbang kecil untuk dimasuki. Deretan roda doa dengan pahatan mantra Om Mani Padme Hum, terpasang di sepanjang dinding pembatas itu. Dimana penggambaran Avalokiteshvara (Padmapani) menyertainya.

Mantra Avalokiteshvara ‘Om Mani Padme Hum’, terukir di roda-roda doa. Para peziarah berkeliling sambil menggulir roda-roda tersebut.
Dasar stupanya sendiri berupa tiga susun platform yang semakin mengecil ke arah tengah. Yang merupakan penggambaran dari tanah. Sedangkan dasar melingkar yang menunjang badan setengah bulatnya merupakan simbolisasi dari air. Dan tepat di bagian tengahnya terdapat menara berlapis emas berbentuk dasar persegi, dengan imaji wajah dan mata Buddha pada keempat sisinya.
Sebentuk gambar menyerupai tanda tanya menggantikan penggambaran hidung di wajah tersebut. Ini adalah karakter Nepal untuk angka satu, yang melambangkan kesatuan dan satu cara untuk meraih pencerahan melalui ajaran Buddha. Sementara di bagian dahi terdapat Mata Ketiga. Sebuah simbolisasi bagi kebijaksanaan Buddha.
Ingatan saya tiba-tiba melayang kepada novel The Third Eye karya Tuesday Lobsang Rampa (Cyril Henry Hoskin), yang menceritakan tentang petualangannya di Tibet, dan mendapatkan Mata Ketiga melalui sebuah ‘operasi’ khusus yang deskripsinya membuat saya ngilu. Bayangkan saja, bagaimana jika dahimu dibor oleh sebuah alat khusus, lalu dipasangkan sejenis kayu istimewa yang akan menempel seumur hidup di sana. Tapi memang efek akhirnya membuat penasaran sih.
The instrument penetrated the bone. A very hard, clean sliver of wood had been treated by fire and herbs and was slid down so that it just entered the hole in my head. I felt a stinging, tickling sensation apparently in the bridge of my nose. It subsided and I became aware of subtle scents which I could not identify. Suddenly there was a blinding flash. For a moment the pain was intense. It diminished, died and was replaced by spirals of colour. As the projecting sliver was being bound into place so that it could not move, the Lama Mingyar Dondup turned to me and said: “You are now one of us, Lobsang. For the rest of your life you will see people as they are, and not as they pretend to be!”
Selanjutnya, pada bagian atas dasar persegi menaranya, saya melihat piramida bertingkat tiga belas, yang konon melambangkan tangga menuju pencerahan. Bentuknya yang mengerucut, merupakan simbolisasi dari api. Dimana pada bagian atasnya terdapat kanopi yang merupakan perwujudan dari udara. Dan kemuncaknya yang berlapis emas adalah perwujudan eter serta Buddha Wairocana.
Bendera berwarna warni yang bertuliskan mantra-mantra doa, terikat dari puncak menara ke arah empat penjuru angin pada beberapa utas benang. Kaum Buddha Tibet percaya, setiap kali angin berhembus dan mengepakkan lembaran bendera tersebut, maka doa yang terdapat padanya akan terlepas memberkati alam semesta.
Sore itu, Boudhanath dipenuhi banyak pengunjung. Sebagian besar adalah peziarah, yang didominasi wajah-wajah khas Tibet. Mereka berkeliling melakukan kora. Bak gelombang yang menyapu sisi-sisi stupa. Sementara kami para pelancong dapat bebas menelisik detail bangunan dan mengamati kegiatan mereka pada jarak tertentu.
Boudhanath sendiri dikelilingi oleh bangunan yang mengikuti bidang lingkarnya. Puluhan biara, toko souvenir, restaurant hingga penginapan berada pada area tersebut, yang menjalar hingga ke gang-gang kecil di sekitarnya.
Jika Bhaktapur terlihat kuno, maka area Boudhanath justru terlihat lebih kekinian. Dari atas rooftop resto La Dolce Vita, kami mengamati kemegahan stupa besar itu yang berlatar belakang kepadatan Kathmandu dan Himalaya yang samar di kejauhan. Kami menghabiskan senja disitu, sembari menyantap makan malam yang kali ini bergaya western.
Dan ketika gelap menjelang, ratusan lampu-lampu mentega dipasang mengelilingi Boudhanath. Sementara gelombang peziarah masih saja melakukan kora, serta ritual-ritual lain di sisi stupa. Pemandangan Boudhanath bahkan tetap spektakuler di dalam malam.
Namun kami tak bisa lagi berlama-lama di situ. Ujung jemari kami sudah mulai membeku, tulang pun terasa ngilu. Setelah berusaha merekam beberapa gambar lagi, kamipun berpamitan pada Mata Ketiga.
Kami mengunjungi stupa bergaya Tibet lainnya yang sangat termasyhur di Kathmandu, berada di atas bukit, bersepuh emas dan dipenuhi oleh monyet-monyet jinak. Saya akan menceritakan tentang kuil yang menjadi korban gempa Nepal April 2015 lalu tersebut, di tulisan selanjutnya. Nantikan kisahnya ya …
Penghangat ruangan? Lupakan! Itu adalah sebuah kemewahan tersendiri di Nepal. Mengingat negara itu miskin sumberdaya. Untuk kebutuhan listrik dasar semacam penerangan lampu saja mereka menghemat-hemat. Bahkan saklar-saklar lampu dipisahkan antara siang dan malam. Dimana mereka juga memanfaatkan tenaga surya pada siang hari. Apalagi penghangat ruangan yang memakan daya cukup besar. Satu-satunya hal yang bisa diandalkan adalah, adanya aliran air panas pada keran-keran air.
Entah dapat ide darimana, tiba-tiba saya melepaskan kap lampu hias pada dinding yang ada. Dan saya genggam pijaran bola lampunya.
“Ah, surgaaa!”, batin saya.
Bayangkan seberapa dinginnya malam itu, sehingga bola lampu pijar pun tak terasa panas lagi di genggaman. Aliran hangat yang menjalari tangan menghadirkan kenyaman tersendiri yang susah saya ungkapkan dengan kata-kata. Setelah beberapa saat menghangatkan diri, akhirnya saya menjumpa mimpi.
Pagi di Bhaktapur
Kami membuka pagi dengan sarapan di atas rooftop. Menyenangkan, karena bisa makan sembari menjemur diri pada keriaan sinar matahari pagi. Braful -kemenakan pemilik guesthouse– membuatkan omelette, roti panggang serta teh hangat untuk kami berdua. Sederhana, namun enak.
Itu adalah hari terakhir kami di Bhaktapur, sebelum berpindah kembali menjumpa Kathmandu. Sambil menunggu tengah hari untuk check-out, kami berencana untuk mengeksplor kota tua itu, termasuk mengunjungi National Art Gallery yang kemarin terlewati.
Keriuhan Bhaktapur langsung terasa begitu kami melewati selasar Pottery Square. Aroma dupa dan sesaji menguar ke udara di tengah keriuhan manusia yang berlalu lalang. Toko-toko souvenir hingga tukang cukur pinggir jalanpun sudah menerima pelanggan sepagi itu. Ah iya, pantas saja, itu hari Sabtu.
Dari lantai dasar tertinggi Kuil Nyatapola kami mengamati detakan kota tua itu. Taumadhi Square yang sibuk. Antrian para pemuja yang menunggu giliran di Kuil Bhairav. Sebaris Bhikuni dalam pakaian warna kunyit. Hingga turis-turis rajin yang sudah mulai menjelajah kota.
National Art Gallery dan Kisah Kelam Dinasti Shah
Kami sempat tersasar dan berputar-putar di antara labirin Bhaktapur, ketika akan menuju National Art Gallery. Untungnya beberapa siswa sekolah membantu kami untuk menunjukkan arah. O iya, di Nepal adalah jauh lebih mudah menanyakan arah atau sesuatu kepada anak sekolah. Karena rata-rata mereka memiliki kemampuan bahasa Inggris yang cukup baik. Bahkan saya sempat mengobrol dengan anak pemilik guesthouse yang baru menginjak kelas 4 sekolah dasar. Ia bercerita tentang kegiatan sekolahnya hari itu, dimana ia akan mengunjungi Kebun Raya di Kathmandu untuk mengerjakan tugas biologi nya.
National Art Gallery sendiri terletak di Bhaktapur Durbar Square, tepat di samping Gerbang Emas. Pintu masuknya diapit sepasang patung singa, jantan dan betina. Dan juga arca perwujudan Hanuman dalam kepercayaan tantra, yaitu Hanuman Bhairab yang bertangan empat. Serta sebuah arca Narasingha.
Saya teringat sebuah kisah menarik dari Roshan, sehari sebelumnya. Diceritakan ada seorang raja lalim bernama Hiranyakasipu yang amat membenci Wisnu. Berkat restu Shiwa ia menjadi kuat dan tak terkalahkan. Raja itu tak dapat dibunuh pada waktu pagi, siang atau malam. Tak dapat dibunuh oleh dewa, manusia ataupun hewan . Tak dapat dibunuh di darat, air maupun udara. Serta tak dapat dibunuh oleh senjata apapun.
Setelah berkali-kali bereinkarnasi, akhirnya Wisnu menitis sebagai awatara yang berwujud manusia berkepala singa, yaitu Narasingha. Dengan kecerdikannya, Narasingha berhasil membunuh Hiranyakasipu dengan cara merobek-robek perutnya menggunakan kuku, di atas pangkuannya.
Kisah ini juga saya dengar pada ruang arca museum Ullen Sentalu Yogyakarta. Hanya saja penampakan arca Narasingha milik Nepal jauh lebih menyeramkan, daripada arca karya seniman Indonesia.
National Art Gallery di Bhaktapur menyimpan benda-benda seni berharga, yang berkaitan dengan kekayaan budaya Nepal. Koleksinya beragam, mulai dari karya seni logam yang terbuat dari bahan perunggu, kuningan, kayu hingga batu. Berlembar-lembar gulungan lukisan tantra yang didominasi oleh bermacam-macam penggambaran Bhairawa, dan juga manuskrip dari daun palem.
Dalam gallery ini juga terdapat gambar raja-raja Nepal dari Dinasti Shah yang pernah berkuasa, kecuali raja terakhir Gyanendra yang diturunkan dari tahtanya pada tahun 2008. Sejarah dinasti ini tak kurang tragisnya. Setelah berkuasa secara turun temurun selama 200 tahun, dinasti ini berakhir dengan dibubarkannya Kerajaan Nepal melalui kesepakatan rakyat.
Tujuh tahun sebelum kerajaan dibubarkan, tepatnya pada 1 Juni 2001, sebuah pembantaian yang menelan korban seluruh anggota keluarga inti kerajaan terjadi di Istana Narayanhiti Kathmandu. Kepastian kejadian itu sendiri hingga kini masih diselubungi misteri. Berita resmi yang beredar adalah Putra Mahkota Kerajaan Nepal, Pangeran Dipendra, menghabisi seluruh anggota keluarganya dengan senapan otomatis.
Peristiwa itu menewaskan Raja Birendra, Ratu Aishwarya, Pangeran Nirajan, Putri Shruti dan beberapa bangsawan lainnya. Pangeran Dipendra sendiri kemudian menembak kepalanya dengan pistol, dan meninggal tiga hari kemudian.

Keluarga Kerajaan Nepal yang tewas pada 1 Juni 2001. (Kiri ke kanan): Pangeran Dipendra, Raja Birendra, Pangeran Nirajan, Ratu Aishwarya, Putri Shruti.
Pangeran Gyanendra yang pada saat kejadian berada di Pokhara, kemudian naik tahta menggantikan Pangeran Dipendra yang sempat diangkat sebagai raja sementara selama tiga hari. Ia yang merupakan adik dari Raja Birendra, menjadi raja di Kerajaan Hindu terakhir di dunia itu sampai dengan tahun 2008.
Uniknya, itu adalah kali kedua Pangeran Gyanendra menjabat sebagai Raja Nepal.
Pada tahun 1950 ia sempat naik tahta, ketika sang kakek -Raja Tribhuvan– melarikan diri bersama keluarganya ke India, termasuk ayahnya -Pangeran Mahendra– yang saat itu menjadi putra mahkota. Peristiwa itu dipicu oleh eskalasi kericuhan politik yang terjadi antara raja dan perdana menteri nya yang berasal dari Dinasti Rana. Setelah sang kakek kembali ke Nepal, Raja Gyanendra yang baru berusia tiga tahun diturunkan dari tahta.

(kiri): Raja Prithvi Narayan Shah, pendiri Kerajaan Nepal bersatu dan Dinasti Shah. (kanan): Raja Tribhuvan.
Si Yoghurt Raja
Hari semakin siang, dan waktu check out kami semakin dekat. Setelah puas menjelajahi Bhaktapur dan National Art Gallery, kami segera kembali ke guesthouse di area Pottery Square. Namun sebelumnya kami mampir pada sebuah restaurant untuk mencicipi salah satu panganan khas Bhaktapur. Ini dia Juju Dhau, si Yoghurt Raja!
Dimana-mana yoghurt dibuat dengan memanfaatkan simbiosis dua jenis bakteri, yaitu Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus, yang memfermentasikan susu mamalia. Keunikan Juju Dhau adalah, bahan dasarnya terbuat dari susu kerbau, bukan susu sapi, kambing atau kedelai seperti di tempat-tempat lain.
Seingat saya, Juju Dhau hanya memiliki satu macam rasa. Tak ada varian lain yang ditambahi perasa buah-buahan seperti di Indonesia. Namun begitu, memang Juju Dhau ini rasanya sungguh lezat. Susah melukiskannya, karena masamnya terlalu spesifik. Selain itu tekstur nya lebih padat.
Kesedapan Juju Dhau dari Bhaktapur ini terkenal di seantero Nepal, sehingga seringkali warga Kathmandu dan sekitarnya pun datang ke Bhaktapur hanya untuk mencecap rasanya.
Au revoir not Adieu
Ayush dan Braful telah menanti, pada saat kami datang dan bersiap check out. Sebuah taksi juga telah mereka pesankan. Sebelum berpisah kami sempat berfoto bersama, dan Ayush memberikan sepasang boneka kecil berbaju khas Newari yang bisa digantungkan di tas kami.
“These are for your luck!“, ujarnya sembari tersenyum ramah.
Barang kami yang tak seberapa jumlah dan ukurannya, segera berjejalan di dalam taksi Nepal nan mini. Begitu kami masuk, perlahan-lahan mobil kecil itu bergerak. Saya sempat menengok ke belakang. Melambaikan tangan pada Ayush dan Braful yang masih berdiri di ambang pintu guesthouse mereka. Perlahan-lahan gambaran mereka semakin mengecil bersama Pottery Square yang mulai menghilang di ujung jalan.
Au revoir, Bhaktapur!

Saya di Vatsala Durga, yang runtuh pada gempa Nepal April 2015, dan terancam tak akan bisa dibangun lagi.
Boudhanath adalah stupa bergaya Tibetan terbesar di lembah Kathmandu, di sanalah kami akan menjumpa Mata Ketiga. Baca lanjutan kisah perjalan kami di sini …