Sebenarnya perjalanan itu diinisiasi oleh promo tiket yang digelar oleh maskapai Lufthansa, sebagai bagian dari pengenalan rute penerbangan Jakarta – Frankfurt ~yang sayangnya saat ini telah ditutup~.
Rute penerbangan tersebut mengharuskan armada Lufthansa untuk transit beberapa saat di Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA), sebelum terbang secara nonstop ke Jerman. Namun, karena waktu perjalanan yang saya dapatkan adalah berada pada jam penerbangan terakhir, maka saya baru mendarat di KLIA sekitar pukul 23.00 waktu setempat.
Karena keterbatasan waktu, saya memilih untuk langsung mengunjungi Melaka pada keesokan harinya dengan bus paling pertama dari bandara.
Jelas jam kedatangan di bandara dan keberangkatan kembali ke Melaka menempatkan saya pada posisi tanggung untuk menginap di dalam kota Kuala Lumpur. Sehingga, demi efisiensi dan penghematan, saya memutuskan untuk bermalam di bandara daripada di dalam kota.
Pilihan bermalam di bandara sepertinya juga jamak dihadapi oleh banyak traveler lainnya. Dengan beragam alasan tentunya. Mulai dari efisiensi, jarak waktu transit dan perjalanan kembali yang sempit, hingga alasan keamanan seperti yang pernah saya alami di India.
Meskipun seringkali hal ini sulit untuk dihindari, namun banyak traveler yang merasa kurang yakin untuk mengambilnya. Keamanan dan kemudahan menjadi faktor pertimbangan, sementara kenyamanan adalah faktor lain yang tak perlu diperdebatkan, meskipun hampir pasti menjadi pertimbangan utama.

Fasilitas aerotrain di Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA), yang menghubungkan pintu kedatangan dan keberangkatan dengan terminal utama.
Dengan semakin berkembangnya pelayanan dalam dunia penerbangan, bandara juga terkena imbas kemajuan yang luar biasa. Saat ini hampir seluruh bandara di dunia berlomba untuk masuk ke dalam jajaran yang terbaik. Setidaknya kenyamanan serta keamanan menjadi salah satu hal yang mengalami peningkatan pesat. Jadi tak usah khawatir, kini mampir seluruh bandara utama di dunia, cukup nyaman untuk diinapi dalam waktu tertentu.
Namun demikian, tetap ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, agar opsi ini dapat dilakukan dengan nyaman.

Lounge-lounge macam ini pun dapat dijadikan tempat menginap dan beristirahat yang nyaman. Gratis pula.
Mungkin tips-tips di atas tidak dapat diterapkan pada semua bandara, terutama yang memiliki jam operasional singkat per harinya. Namun begitu hal-hal tersebut dapat diterapkan pada ratusan bandara besar lain di dunia, yang mungkin kalian singgahi sebagai titik kedatangan dan keberangkatan di antara perjalanan petualangan kalian menjelajahi bumi.
Selamat mencoba!
Tepat 1 tahun yang lalu, pada tanggal 30 April 2015, BARTZAP.COM mulai saya rintis. Dengan menanyangkan ulang beberapa tulisan saya yang pernah dimuat pada media cetak, dan beberapa artikel yang saya pindahkan dari ‘rumah lama’. Dan kemudian, secara bertahap saya berusaha untuk konsisten mengunggah artikel-artikel baru yang disarikan dari perjalanan saya selama ini.
Jujur, awalnya saya tidak membayangkan keriuhan macam apa yang akan saya alami dalam mengisi ‘rumah yang baru’ ini. Tujuan saya saat itu, hanyalah untuk melawan lupa.
Ternyata BARTZAP.COM memberikan banyak hal-hal baru dalam kehidupan saya dalam waktu satu tahun terakhir. Mulai dari jejaring pertemanan yang semakin luas, ilmu yang berkualitas, hingga petualangan seru semacam menerabas alas.
Petualangan terakhir dan yang paling berkesan bagi saya adalah, ketika saya berhasil menapaki Himalaya seorang diri melalui jalur Annapurna pada tanggal 7-22 April 2016. Dimana modalnya saya dapatkan dari lomba penulisan blog yang saya ikuti atas nama BARTZAP.COM
Maka sebagai rasa syukur atas perjalanan BARTZAP.COM dalam waktu satu tahun terakhir, dan keselamatan serta kelancaran dalam menjejakkan kaki di Annapurna, saya ingin berbagi sedikit #OlehOlehdariHimalaya
Tapi karena oleh-olehnya tidak banyak, maka saya akan membagikannya bagi yang mau saja, dengan sedikit usaha. Tidak susah kok. Intinya saya cuma membutuhkan saran dan masukan yang membangun, serta bantuan untuk mengenalkan BARTZAP.COM ke dalam jejaring kalian.
Dan berikut adalah #OlehOlehdariHimalaya yang akan saya bagikan untuk lima orang dari kalian yang beruntung:
Untuk komentar serta feedback paling kreatif dan membangun:
1 (satu) orang pemenang akan mendapatkan 1 Paket Oleh-oleh Himalaya, berupa: 1 buah pictorial book Nepal, 1 buah pictorial calendar Nepal 2017, 1 bungkus Nepali Tea, dan 1 set handmade Himalayan Soap.
Untuk Lucky Draw:
2 orang pemenang pertama masing-masing akan mendapatkan 1 Paket Oleh-oleh Annapurna, berupa: 1 buah pictorial book (Explore Nepal atau Pokhara and The Annapurnas), dan 1 bungkus Nepali Tea.
2 orang pemenang kedua masing-masing akan mendapatkan 1 Paket Oleh-oleh Machhapuchhare, berupa: 1 buah pictorial calendar Nepal 2017, dan 1 set handmade Himalayan Soap.
Bagaimana cara untuk mendapatkannya? Kalian bisa simak pada rincian tata cara dan aturannya di bawah ini:
1. Follow media sosial yang berhubungan dengan BARTZAP.COM (yang sesuai dengan media sosial yang kalian miliki):
* Facebook Fanspage: www.facebook.com/bartzap
* Twitter: @BaRTZap
* Instagram: BaRTZap
* Steller: BaRTZap
2. Berikan komentar dan feedback bagi kemajuan BARTZAP.COM ke depannya, pada kolom komentar di bawah artikel ini, dengan tak lupa mencantumkan data diri kalian dan media sosial yang kalian miliki. Contohnya:
* Nama: Fulan bin Falun
* Facebook: http://www.facebook.com/fulanfalun
* Twitter: @fulanfalun
* Feedback: Menurut saya BARTZAP.COM sudah bagus, cuma masih kurang jalan-jalan dibayarin sponsornya. Kalau saya bayarin mau gak?
Saya akan memilih satu pemenang yang memberikan komentar serta feedback paling kreatif dan membangun.
3. Untuk dapat menuliskan feedback, tentunya kalian harus melihat-lihat BARTZAP.COM terlebih dahulu. Jika kalian bukan pengunjung aktif, kalian bisa membaca secara acak beberapa tulisan yang pernah saya buat dan mengamati tampilan serta segala hal yang berhubungan dengan BARTZAP.COM untuk kalian berikan masukan.
4. Bagikan tautan artikel ini di media sosial kalian dengan hashtag #bartzap #OlehOlehdariHimalaya dengan menggunakan narasi yang menarik. Ajak teman, saudara, pacar, guru, bapak, ibu dan calon mertua untuk ikut juga dalam giveaway ini. Jangan lupa mention saya di @BaRTZap (Twitter), atau Bartian BaRT Rachmat (Facebook).
5.Setiap share yang kalian lakukan akan menjadi nomor undian khusus bagi kalian dalam ajang lucky draw. Jadi, jika kalian membagikan di Facebook dan Twitter sekaligus, maka kalian akan mendapatkan dua kesempatan untuk terundi. Empat orang pemenang akan diambil dengan menggunakan random/drawing generator.
6. Ajang giveaway #OleholehdariHimalaya ini akan berlangsung hingga tanggal 14 Mei 2016 pukul 23.59, dan akan saya umumkan pemenangnya, paling cepat pada tanggal 18 Mei 2016 pukul 23.59 di bagian bawah dari artikel ini.
Yuk ikutan! Saya tunggu yaaaa
KATEGORI PERTAMA: Untuk komentar serta feedback paling kreatif dan membangun.
NOMINASI:
HADIAH: 1 Paket Oleh-oleh Himalaya, berupa: 1 buah pictorial book Nepal, 1 buah pictorial calendar Nepal 2017, 1 bungkus Nepali Tea, dan 1 set handmade Himalayan Soap.
PEMENANG: Dani Rachmat.
KATEGORI KEDUA: Lucky Draw dengan menggunakan online draw generator RandomPicker.
PESERTA & SYARAT SAH: Semua pengunjung yang telah meninggalkan komentar dan masukan di kolom komentar, serta membagikan tautan ajang giveaway ini di media sosial yang mereka miliki, dengan menyertakan hashtag #bartzap #OleholehdariHimalaya.
HADIAH:
2 orang pemenang pertama masing-masing akan mendapatkan 1 Paket Oleh-oleh Annapurna, berupa: 1 buah pictorial book (Explore Nepal atau Pokhara and The Annapurnas), dan 1 bungkus Nepali Tea.
2 orang pemenang kedua masing-masing akan mendapatkan 1 Paket Oleh-oleh Machhapuchhare, berupa: 1 buah pictorial calendar Nepal 2017, dan 1 set handmade Himalayan Soap.
2 ORANG PEMENANG @ 1 PAKET OLEH-OLEH ANNAPURNA:
2 ORANG PEMENANG @ 1 PAKET OLEH-OLEH MACHHAPUCHHARE:
Selamat kepada para pemenang, semoga suka dengan oleh-oleh dari saya!
Mohon segera kirimkan info data diri (nama lengkap dan nomor telepon) kalian serta alamat pengiriman hadiahnya melalui email: [email protected], dengan judul email Pemenang Giveaway #OleholehdariHimalaya
Saya juga ingin mengucapkan terimakasih kepada peserta lainnya, atas kesediaan kalian untuk meluangkan waktu dan mengikuti ajang giveaway yang sederhana ini. Meskipun belum dapat oleh-oleh jangan berkecil hati ya, buat saya kalian semua JUARA! Komentar dan masukkan kalian benar-benar berharga, asik-asik pula.
Mohon doanya ya, semoga bartzap.com ke depannya lebih banyak rejeki, sehingga bisa menggelar ajang giveaway dengan hadiah yang lebih banyak dan menggoda😀
Sekali lagi, selamat dan terimakasih yaaaaaa ….
Menurut saya, itinerary yang baik adalah yang efisien secara pergerakan, lengkap dalam mencatat detail, mudah dicerna, dan gampang dipetakan kembali di dalam kepala. Dan, karena budget merupakan salah satu hal yang menjadi pertimbangan dasar dalam penyusunan itinerary, biasanya hal ini secara otomatis saya kelola juga di dalamnya.
Kebingungan yang seringkali dihadapi oleh sebagian orang dalam penyusunan itinerary adalah bagaimana cara memulainya, melengkapi detailnya, serta hal-hal apa saja yang perlu dipertimbangkan dan dimasukkan ke dalamnya.
Berikut ini saya akan berbagi tentang beberapa tips dan alur kerja yang biasa saya gunakan ketika menyusun itinerary dan budget perjalanan. Sebagai contoh, saya akan menggunakan itinerary dari perjalanan tunggal saya selama 17 hari ke India pada bulan Februari 2015 lalu.
Ini adalah tahapan pertama yang selalu saya lakukan. Di dalamnya saya mencatatkan tanggal, berapa banyak hari yang akan dikonsumsi, kota-kota yang akan dikunjungi, peta pergerakan, serta detail besar lainnya.

Contoh gambaran besar itinerary ke India.
Informasi tentang kota-kota yang dikunjungi, saya dapatkan dari hasil riset melalui internet. Dan untuk lebih membantu agar itinerary tersebut lebih mudah terpetakan di dalam kepala, biasanya saya menambahkan peta ke dalamnya yang saya ambil dari googlemaps.
Secara pribadi saya jarang menggunakan buku panduan -kecuali buku tersebut relatif baru-, melainkan langsung membaca blog atau pengalaman para pejalan lainnya yang dibagikan dalam forum-forum maupun website-website ulasan semacam www.tripadvisor.com.
Karena menurut saya, informasi dalam sumber-sumber tersebut jauh lebih valid dan up to date. Selain itu, narasumbernya juga bisa saya tanyai secara langsung jika diperlukan.
Tahap selanjutnya adalah dengan memecah dan menambahkan detail yang lebih terperinci dari masing-masing hari yang sudah dirancang pada tahap sebelumnya, termasuk sampai ke detail waktunya. Bagi saya, semakin detail semakin baik.
Dan demi mempermudah, semua itu saya susun dalam bentuk tabel.

Contoh detail itinerary perjalanan ke India.
Tabel tersebut biasanya terbagi atas beberapa kolom, yaitu: hari, kota, tanggal, kegiatan, waktu, aktifitas, transportasi, akomodasi, dan kolom catatan pelengkap.
Kolom hari, kota, dan tanggal, jelas merupakan bawaan dari tahap sebelumnya, sedangkan kolom waktu merupakan detail pertama yang akan menjelaskan bagaimana pembagian waktu dalam satu hari. Untuk sebagian orang mungkin ini terkesan mengikat, namun sesungguhnya ini hanyalah cara untuk memberikan gambaran bagaimana suatu hari akan dihabiskan. Tentang pelaksanaannya, biasanya saya sangat fleksibel. Tergantung situasi dan kondisi. Kecuali jika waktu itu dikerjakan untuk hal-hal yang krusial semacam perpindahan dari satu kota ke kota lainnya.
Kolom aktifitas menjelaskan tentang apa yang akan saya lakukan. Untuk hal-hal krusial dan spesifik biasanya saya tuliskan apa adanya sesuai dengan kegiatannya. Misalnya: perkiraan perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya, atau mengunjungi objek wisata dan atraksi tertentu.

Papan pengumuman di Howrah Juction Railway Station, dekat Kolkata.
Kolom transportasi merupakan penjelasan dari moda transportasi yang saya ambil, misalnya maskapai penerbangan yang saya pakai, atau nama kereta beserta kode perjalanannya. Di India, kode perjalanan sangatlah penting, karena terkadang papan pengumuman atau penanda menuliskan nama keretanya dalam aksara lokal yang tentu tak bisa saya baca, sementara angkanya tetap ditulis dalam angka arab, yang bisa saya identifikasi dengan cepat.
Sedangkan kolom akomodasi hanya mencatat nama tempat penginapan yang saya pesan.
Kolom terakhir merupakan catatan pelengkap, yang mencatatkan detail terakhir dari kolom-kolom sebelumnya. Seperti misalnya kode penerbangan (jika connecting flight), nama bandara, alamat lengkap dan informasi kontak penginapan, nama tempat makan, pilihan tempat wisata ataupun kegiatan, jenis kereta, serta stasiun keberangkatan dan kedatangan.
Khusus untuk negara semacam India atau Nepal yang biasanya memiliki sistem alamat yang agak rumit, saya selalu menyiapkan detail yang lebih terperinci lagi dengan mencarinya terlebih dahulu di googlemaps.
Hal ini sangat membantu terutama jika tempat yang akan kita tuju tidak berada di pinggir jalan utama, melainkan harus agak mblusuk*.
Contohnya adalah ketika saya harus mendatangi penginapan yang saya pesan di Kolkata yang ternyata agak masuk ke dalam jalan kecil, sementara pesawat yang saya tumpangi mendarat di sana pada lewat tengah malam. Untuk kasus macam ini, usahakan ada landmark tertentu yang bisa menjadi panduan, terutama jika kita harus menyebutkannya kepada warga lokal.

Detail peta menuju homestay di Kolkata.
Dari peta di atas, pada saat saya sampai di Kolkata, saya hanya menyebutkan nama daerah Landsdown dan Kolkata Motor Vehicles Dept kepada petugas di counter taksi, untuk menjelaskan kemana mereka harus mengantar saya. Setelah sampai pada daerah yang dituju, saya tinggal mengarahkan supir taksi sesuai peta yang telah saya siapkan.
Khusus untuk negara-negara yang masih memakai aksara lokal dalam kehidupan sehari-hari, biasanya saya juga menyiapkan alamat akomodasi dalam aksara-aksara tersebut, yang saya dapatkan dari website atau dari pengelola akomodasi melalui email. Sebab, di beberapa negara masih banyak orang yang lebih bisa membaca aksara lokal, dibandingkan aksara latin yang umum kita kenal.

Peta Agra dan beberapa stasiun kereta di dalamnya.
Informasi mengenai transportasi juga harus diperhatikan, demi mencegah insiden tertinggal oleh kendaraan atau salah tuju. Di sini yang harus diperhatikan adalah detail moda transportasi yang digunakan, termasuk jenisnya, kode kendaraan jika ada, titik keberangkatan, dan kedatangan.
Sebagai contoh, saya tiba di Agra dengan kereta melalui Agra Fort Railway Station yang lebih dekat ke pusat kota. Sementara, ketika saya bertolak menuju Udaipur dari kota tersebut, saya menaiki kereta melalui Agra Cantt Railway Station yang terletak agak di pinggir kota. Dimana jarak antara kedua stasiun tersebut sangat berjauhan, sementara tidak ada commuter line yang menghubungkannya satu sama lain. Bayangkan, bagaimana jika saya salah menghampiri stasiun kereta pada saat akan ke Udaipur, sementara waktunya sudah mepet. Atau, jika saya salah mendatangi stasiun kereta setelah mengalami insiden ban bocor seperti di Varanasi.
Kecuali jika kita adalah seorang multi jutawan dimana uang bukanlah masalah, maka budget adalah hal penting lainnya yang harus dikelola dengan cermat. Intinya pada tahap ini, semua harus diperhitungkan, terutama yang memang dapat kita lihat dengan jelas pos pengeluarannya.
Sedikit tips dari saya untuk mempermudah pengelolaan, pos-pos pengeluaran yang sekiranya merupakan gabungan dari satu kegiatan yang sama, namun dikerjakan selama beberapa hari atau terpisah, maka sebaiknya dicatatkan menjadi satu pada kesempatan pertama. Contoh: tiket pesawat pulang pergi dicatatkan pada perhitungan hari pertama daripada dipisah menjadi dua, atau menginap di sebuah penginapan selama beberapa hari dicatatkan pada perhitungan hari pertama daripada dibagi per harinya. Tentunya dengan tetap memberikan penjelasan pada kolom keterangan kegiatan.

Contoh detail budget perjalanan ke India.
Untuk mempermudah perhitungan total budget, saya selalu menyamakan mata uang bagi setiap dana yang dikeluarkan. Dan, jika memang ada budget yang harus kita ingat secara spesifik dalam mata uang asingnya, maka selalu saya jelaskan pada kolom keterangan kegiatannya. Contoh: Visa untuk 15 hari seharga USD25, atau tiket masuk Taj Mahal seharga INR 750.
Dan website andalan saya untuk konversi mata uang yang sering saya pakai adalah XE.com.
Khusus untuk biaya-biaya tak terduga biasanya saya hitung terakhir, setelah total budgetnya didapatkan, dengan besaran persentase antara 10% hingga 20%.
Setiap traveler tentu memiliki gaya yang berbeda-beda dalam perjalanannya. Ada yang menyukai sejarah, kuliner, petualangan di alam, tur dalam kota, hingga wisata belanja. Masing-masing preferensi tersebut akan menentukan pula referensi macam apa yang perlu dipersiapkan selama menyusun itinerary dan budget untuk sebuah perjalanan.

Qutb Minar Delhi dan Kuil Emas Amritsar, salah satu yang terunik dan menjadi pilihan dalam itinerary saya.
Namun, terkadang terlalu banyak referensi juga akan membuat kita bingung untuk menentukan mana saja yang ingin kita ambil atau kita kunjungi. Terutama jika kemudian biaya dan waktu menjadi faktor penentu tambahan.
Biasanya untuk mempermudah, saya hanya mengambil yang ‘ter’ saja. Misalnya: terkuno, terbaik, tercantik, terunik, termegah, dan sebagainya. Yang kira-kira akan membuat perjalanan saya jauh lebih berkesan.
Mungkin bagi sebagian orang itinerary yang terlalu detail akan membuat mereka merasa terkungkung dan bosan. Sementara sebagian lainnya merasa aman dengan itinerary yang well-planned. Sekali lagi ini kembali pada preferensi masing-masing traveler.
Buat saya, detail yang terperinci pada itinerary hanyalah referensi agar di lapangan nanti tidak mati gaya. Sementara, dalam pelaksanaannya saya biasanya tergantung pada situasi dan kondisi di lapangan. Tetap harus fleksibel. Karena dengan menjadi fleksibel saya sering menemukan kejutan-kejutan yang memberi warna tersendiri bagi perjalanan yang saya lakukan.
***
Secara pribadi saya lebih suka menyusun itinerary sendiri, dibandingkan menggunakan itinerary dari orang lain, untuk perjalanan yang saya lakukan. Karena dengan begitu, saya akan lebih mendapatkan jiwa dari perjalanannya. Selain itu saya merasa pertualangan dari sebuah perjalanan telah dimulai sejak saya melakukan riset dan penyusunan rencananya.

Potongan perjalanan ke India, hasil riset itinerary selama beberapa minggu.
Menyusun itinerary bisa dikatakan susah-susah gampang. Karena memang untuk itu kita harus menginvestasikan sejumlah waktu demi mengumpulkan informasi, melakukan riset, serta menatanya dalam tabulasi yang informatif. Namun jika dinikmati, proses ini sangatlah menyenangkan.
Jadi, sudah siap untuk menyusun itinerary perjalananmu selanjutnya?
WordPress.com dalam 2015 Annual Report nya melaporkan bahwa selama tahun ini bartzap.com telah dikunjungi oleh pengunjung dari 73 negara, dimana tiga besarnya diisi oleh pengunjung dari Indonesia, Amerika Serikat, dan Malaysia. Dan meskipun blog ini didominasi oleh artikel dalam bahasa Indonesia, saya sempat menemukan beberapa fakta jika blog ini dinikmati pula dengan cara disulihbahasakan dengan menggunakan aplikasi sulihbahasa online.
Walau artikel The Ancient Metropolis and The Living Goddes merupakan tulisan yang mendatangkan pengunjung terbanyak dalam sehari, namun secara rata-rata dalam beberapa bulan terakhir, artikel Suatu Siang di Griya Jenderal Yani merupakan tulisan yang menduduki ranking tertinggi dalam tahun ini.
Secara pribadi saya agak terkejut, karena sedari awal saya telah mengambil resiko dengan lebih banyak menggunakan pendekatan sejarah yang agak kental bagi artikel-artikel yang saya buat. Sementara saya menyadari bahwa tulisan mengenai sejarah biasanya merupakan materi yang kurang diminati oleh banyak orang.
Dengan pendekatan tersebut, hingga saat ini bartzap.com telah mengalami peningkatan pageviews/month sebesar 65 kali lipat, dan peningkatan visitors/month sebesar 1025 kali lipat, jika dibandingkan dengan delapan bulan yang lalu.
Keseriusan dalam mengelola blog ini, juga telah memberikan beberapa pencapaian tersendiri bagi saya. Dimana melalui artikel berjudul Spring Across India: An Overland Journey dan Solo Trekking to Annapurna, saya berhasil memenangkan Cross|Over Writing Competition yang membuat saya dapat memiliki sebuah action cam impian serta modal yang cukup untuk menyusuri salah satu punggungan Himalaya segera. Sedangkan artikel berjudul Mengenal Kopi di MesaStila berhasil mendapat urutan kedua terbaik pada Java Travel Journalism Class 2015 belum lama ini.
Mungkin pencapaian ini belum merupakan sebuah prestasi yang fantastis jika dibandingkan dengan rekan-rekan travel blogger lainnya. Namun begitu sebagai pengelola saya tetap ingin bersyukur, dan mengucapkan terimakasih kepada semua pembaca bartzap.com yang telah dengan setia meluangkan waktu untuk mengunjungi blog ini. Baik yang seringkali hanya berperan sebagai silent reader, maupun yang selalu aktif meninggalkan jejak pada setiap kunjungan. Terutama kepada lima rekan blogger saya yang luar biasa: Gara, Bama, Rifqy, Yayan, dan mbak Indah.
Saya menyadari dalam usianya yang belum lagi genap setahun ini, masih banyak hal yang harus dibenahi pada bartzap.com, baik dari segi konten, tampilan, hingga aksesibilitas.
Oleh karenanya, saya akan sangat menghargai setiap masukan yang diberikan demi kemajuan blog ini, baik yang dituliskan secara langsung pada kolom komentar di bawah, atau disampaikan secara pribadi melalui [email protected]
Sekali lagi terimakasih untuk dukungannya selama tahun 2015, dan semoga tahun 2016 menjadi masa yang lebih baik lagi bagi pencapaian kita semua. Amiiin.
Saya mempunyai satu kisah, yang terjadi pada sekitar medio tahun 1997. Waktu itu adalah pertamakalinya saya menginjakkan kaki di pulau Bali. Yang kebetulan berbarengan dengan teman-teman sekolah -karena memang trip tersebut di-organize oleh pihak sekolah- sebagai bagian dari rangkaian acara study tour. Apalagi yang wajib dilakukan di Bali jika bukan berbasah-basah di pantai?
Ketika sedang seru-serunya bermain di pantai, tiba-tiba salah seorang teman saya bergegas lari keluar dari air. Usut punya usut, ternyata celana dalam kertas (disposable underwear) yang ia kenakan sobek akibat terkena air dan kegiatan yang ia lakukan. Sementara celana pelapis luar yang ia pakai terlalu tipis untuk sanggup menutupi “apa yang seharusnya tetap tertutup”. Karuan saja, ia menjadi bulan-bulanan candaan kami semua.
Nah, itu adalah salah satu contoh betapa pentingnya peranan underwear, terutama ketika kita sedang melakukan traveling. Apalagi jika aktifitas yang kita lakukan melibatkan gerak fisik yang cukup ekstrim. Sayangnya, terlepas dari fungsingnya yang sangat penting, masih banyak traveler yang menganggap sepele tentang ini.
Berikut adalah sedikit tips dari saya, tentang bagaimana cara memilih underwear -khusus untuk pria- yang sesuai untuk traveling:
Bahan adalah Kunci
Bahan dasar dari underwear yang kita pilih harus disesuaikan dengan musim, lokasi, dan aktifitas yang kita lakukan. Konsepnya sebenarnya mudah, kembalikan pada kenyamanan alami tubuh.
Jika kita melakukan perjalanan pada daerah panas dengan kegiatan yang cukup aktif, maka pilih underwear yang bahannya dapat menyerap keringat, namun juga tetap memberikan rasa sejuk, dan mudah kering. Campuran antara katun dan lycra, biasanya adalah yang terbaik. Sementara jika kita melakukan perjalanan pada daerah yang dingin atau menyelam, maka underwear yang sanggup menahan panas tubuh adalah sebuah keharusan. Seperangkat long john adalah salah satu contoh investasi yang tepat, jika kita bepergian ke daerah dingin atau bersalju.
Selain didasarkan pada kenyamanan tubuh, bahan-bahan underwear masa kini telah banyak yang dikembangkan untuk mempermudah para traveler. Contohnya adalah yang menggunakan teknologi dry fit, dimana underwear tersebut akan sangat mudah kering setelah pencucian. Sehingga, kita tidak perlu membawa banyak stock ketika sedang traveling. Pakai yang satu, cuci yang lain!
Saya sudah mengalaminya sendiri, ketika melakukan solo traveling ke India selama 17 hari. Underwear berteknologi dry fit sangat bermanfaat dan memudahkan. Bayangkan, untuk perjalanan selama itu, saya hanya membawa sepasang underwear saja, yang saya pakai dan cuci bergantian setiap harinya. Bahkan pada saat India sedang dalam masa musim dingin seperti itu, saya cukup mengeringkannya di dalam kamar saja dalam waktu singkat. Selain itu, underwear dry fit pada umumnya sangat ringkas ketika harus dilipat, dibandingkan jenis lainnya.
Menurut saya, ketika sedang traveling dalam jangka panjang, memiliki sepasang underwear yang mudah kering, adalah jauh lebih praktis daripada menggantungkan diri pada disposable underwear.
Jangan lupa, perhatikan pula bahan karet yang digunakan pada bagian pinggang, karena ada sebagian bahan yang dapat menimbulkan iritasi dan alergi pada orang-orang tertentu.
Model yang Nyaman dan Sesuai Bentuk Tubuh
Sebenarnya model underwear dikembalikan pada preferensi masing-masing orang, tergantung kebiasaan. Namun, tetap ada beberapa model yang ketika kita salah terapkan justru akan merepotkan diri sendiri. Saya sendiri menyarankan untuk memilih model yang paling pas dalam menyangga bentuk tubuh. Brief dan boxer brief adalah dua jenis model yang paling fleksibel untuk digunakan pada berbagai macam kegiatan dan dibalik celana apapun.
Sementara, model loose boxer sebaiknya digunakan untuk celana-celana yang lebih longgar atau dijadikan sebagai pelapis kedua setelah underwear yang lebih ketat. Mungkin ada sebagian orang yang terbiasa menggunakan loose boxer di balik celana berbahan formal, namun sejatinya secara estetika akan terlihat kurang pas, karena kelebihan bahannya akan menimbulkan lipatan-lipatan permanen pada celana yang sedang dipakai. Selain itu juga, untuk kegiatan-kegiatan yang gerakannya agak ekstrim, semacam panjat tebing, canyoning, ataupun trekking pada punggungan yang terjal, model loose-boxer berpotensi untuk menghambat gerak kita.
Namun sekali lagi, ini dikembalikan pada preferensi, kebiasaan, dan bentuk tubuh masing-masing orang.
Ono Rego, Ono Rupo
Itu adalah istilah dalam bahasa Jawa, yang kurang lebih artinya: Ada Harga, Ada Rupa. Alias, semakin mahal harga barang yang kita beli, biasanya semakin baik pula kualitas dan teknologinya.
Sepengetahuan saya, tidak ada underwear mahal yang kualitas bahan dan modelnya tidak bagus. Percaya deh. Tidak ada. Tapi mahal itu juga relatif, bukan? Oke begini, saya sarankan jika kalian adalah seorang traveler aktif, investasikan sedikit modal kalian untuk membeli underwear berteknologi dry fit yang pas dengan bentuk tubuh kalian. Saya pastikan, kalian tidak akan bisa menemukan underwear macam ini di rak-rak minimarket sejuta umat, selain di mall-mall yang bersandingan dengan toko-toko peralatan outdoor gears, atau di online shop.
Berbicara tentang online shop, berbelanja underwear pada toko macam ini memberi banyak kemudahan dan kenyamanan bagi pembeli. Selain bisa leluasa memilih, pembeli juga dapat lebih nyaman untuk membandingkan satu item dengan item lainnya. Mungkin pembeli tidak dapat menyentuh item tersebut secara langsung, namun data yang cukup jelas pada bagian deskripsi akan sangat membantu pada proses pemilihan, selain itu kualitas barang yang dijual juga sudah pasti terjamin mutunya. Belum lagi, biasanya online shop juga rajin menggelar event-event yang memanjakan para pelanggan, seperti Online Revolution Zalora misalnya.

Kesempatan belanja besar, pada Singles’ Day di Zalora, cuma satu hari di 11/11/15. Save the date and ‘dompet’😉
Tidak seperti outfit lainnya, underwear adalah sebuah investasi yang esensial. Kita tidak mungkin pinjam atau meminjamkannya pada orang lain, karena itu bersangkutan dengan bagian pribadi. Dan meskipun tidak terlihat langsung, sesungguhnya underwear yang nyaman dan baik akan sangat menunjang mood dan kelancaran aktifitas yang kita lakukan. Apalagi jika kita sedang traveling dalam jangka yang cukup panjang. (br)
Menulis adalah hadiah untuk diri sendiri. (Henry Miller)
17 September 2015. Pukul 10.30 pagi. Sebuah pesan singkat masuk ke dalam inbox Facebook saya, berselang beberapa menit setelah saya membagikan tautan artikel terbaru yang berjudul Au Revoir, Bhaktapur!
“Bro, gw salut sama lo, rajin banget nulis. Eh elo pernah ikutan workshop menulis gak? Gw pengen banget ngasah skill menulis gw. Gimana caranya bisa konsisten nulis di sela-sela rasa malas dan kesibukan bro?”, begitu isi pesannya.
Kejutan! Karena si pengirim pesan adalah Indra -teman lama saya-, yang beberapa tahun lalu blog pribadinya selalu menjadi salah satu bahan bacaan langganan setiap kali saya melakukan aktifitas blogwalking. Saya suka dengan caranya bercerita dan mengungkapkan opininya. Segar, mengalir apa adanya, bahkan di saat ia sedang berkontemplasi. Blog nya yang membuat saya termotivasi untuk menulis lebih baik lagi. Dan kini tiba-tiba ia meminta saran ini itu tentang menulis.
Sebenarnya dalam beberapa waktu belakangan ini, saya sering menerima beberapa pertanyaan yang kurang lebih sama jenisnya. Dan anehnya, itu berasal dari teman-teman yang sebelumnya saya ketahui mempunyai kemampuan menulis yang cukup baik.
Dari semua itu, saya menemukan benang merah bahwa mereka telah beberapa waktu vakum dari kegiatan menulis, dan sebenarnya masih menyimpan keinginan untuk kembali menuangkan idenya, namun merasa kehilangan arah. Harus mulai dari mana?
Selembar kertas kosong adalah cara Tuhan memberitahu kita betapa sulitnya menjadi Tuhan. (Sidney Sheldon)
Semua orang tahu, bahwa bangkit dari bawah untuk kedua kali atau yang kesekian kali terasa jauh lebih berat, daripada memulai untuk yang pertamakalinya. Bayangan akan kesulitan yang harus dijejak kembali, setelah pernah berada pada posisi tertentu seringkali menjadi penghalang besar. Ibarat pisau yang jarang diasah lalu menjadi berkarat, maka begitu pula dengan kegiatan menulis. Lama tak digunakan, menjadi tumpul. Ujung-ujungnya, ini memancing rasa malas.
Mungkin bukan kapasitas saya untuk menjelaskan teori serba serbi kepenulisan, karena saya pun merasa belum ada apa-apanya. Tapi setidaknya berikut ini adalah hal-hal nyata yang saya kerjakan, sehingga belakangan ini bisa mulai aktif menulis lagi, terutama melalui blog ini.
Menetapkan Motivasi Kembali
Satu-satunya motivasi saya untuk kembali menulis adalah melawan lupa. Bagaimana dengan Anda? Apa motivasi Anda untuk kembali menulis? Jika Anda tidak bisa menjelaskan secara spesifik, maka keinginan Anda untuk kembali menulis rasanya sudah cukup untuk menjadi motivasi awal. Gunakan itu.
Menemukan Minat atau Bahan Penulisan
Ketika akan memulai blog bartzap.com, saya secara spesifik memilih travel sebagai peminatan. Pilihan ini bukan semata karena saya ingin mengikuti trend atau alasan apapun. Melainkan, karena saya memiliki banyak catatan dari hobi jalan-jalan saya, yang rasanya sayang jika tidak dibagikan. Dan catatan-catatan tersebut masih bisa saya koneksikan dengan minat saya yang lain, seperti sejarah, fotografi, diving dan lain-lain.
Sebenarnya ada banyak hal yang bisa kita jadikan sebagai bahan tulisan. Sesederhana apapun kita memandang pengalaman kita, pasti ada. Pilih dan cari hal yang menjadi minat Anda, lalu tulislah. Karena menuliskan sesuatu yang kita minati itu sangat menyenangkan.
Lakukan Sekarang Juga
Kalau dua hal di atas sudah Anda dapatkan, segera pilih platform penulisan Anda. Apakah cukup di atas kertas, jurnal digital di dalam laptop atau PC, atau mungkin langsung Anda bagikan ke dunia maya melalui blog atau website. Intinya, jangan ditunda lagi. Mulai dari sekarang.
Tiga hal itulah yang membuat saya aktif menulis kembali sejak April 2015. Dan saya rasa ini adalah resep sederhana yang bisa dilakukan oleh siapapun.
Hal selanjutnya yang sering menjadi pertanyaan lanjutan adalah berkaitan dengan teknis penulisan dan penyajian. Semacam merumuskan ide, memilih kata, merangkai dan membentuk kalimat, hingga photo editing.
Hal-hal tersebut adalah sesuatu yang tidak bisa dikembalikan dalam waktu semalam. Dibutuhkan komitmen dan usaha terus-menerus, hingga kita menguasainya kembali. Kalau saya boleh sedikit melanjutkan, maka ini adalah sedikit saran yang juga saya lakukan.
Banyak Membaca
Karena tak akan bisa kita menulis, jika kita kurang membaca. Pilih bacaan yang Anda minati. Syukur-syukur berkaitan dengan minat Anda juga. Kalau saya pribadi tidak pernah membatasi jenis bacaan, selama bahasanya saya mengerti saya baca. Namun sudah barang tentu, bacaan-bacaan khusus yang menjadi minat saya menempati posisi paling banyak. Dengan banyak membaca, kita juga memiliki kesempatan untuk mengamati gaya penulisan penulis lain.
Tapi saya percaya, di antara sekian banyak teman-teman yang mengajukan pertanyaan “bagaimana caranya kembali menulis?”, mereka adalah sosok-sosok pembaca yang cukup rajin. Jadi, ini hanyalah pengingat saja.
Biasakan Menulis Sesering Mungkin
Sejak dulu, saya mempunyai buku jurnal pribadi. Yang demi kerahasiaan isinya, saya tulis dalam beberapa jenis huruf yang agak kurang biasa. Mulai dari huruf Arab Pegon, hingga aksara Hanacaraka. Begitu pula ketika saya traveling, saya membawa jurnal atau notebook kecil untuk mencatat. Atau paling sering, saya langsung memposting pada social media hal-hal menarik yang saya jumpai di perjalanan dengan narasi yang cukup menjelaskan, bukan sekedar caption-caption singkat. Ini sangat membantu ketika saya harus menuliskan ulang catatan perjalanan saya dalam bentuk tulisan yang lebih panjang.
Intinya, kapanpun, dimanapun, usahakan untuk berlatih menulis dan menulis. Apapun medianya.
Memang, kembali menulis itu bukan sesuatu yang mudah. Banyak hal yang harus dilawan. Mulai dari rasa malas, hingga ketumpulan kemampuan teknis dalam menuangkan ide, dan merangkai kata menjadi kalimat. Serta menyajikannya dalam bentuk tulisan yang nikmat.
Namun saya selalu percaya, jika kita bisa berbicara (beropini), dan suka membaca, maka kita akan sanggup menulis. Karena pada dasarnya menulis itu adalah kegiatan berbicara yang ditafsirkan kembali dalam bentuk visualisasi bahasa. Setuju?
Selamat menulis kembali! (br)
Kreatif! Hati saya menyerukannya, ketika pertama kali melihat bangunan berkubah setengah bola dengan atap bersisik trapesium berwarna putih cerah menyembul di antara desakan pencakar langit ibukota, di Jalan Gatot Subroto.
SME Tower: Rumah Kreatif Bangsa
Setelah bertahun-tahun, dengan mengunjunginya secara langsung pada minggu lalu, akhirnya saya tahu jika gedung berkubah itu adalah bagian dari kompleks SME Tower. Rumah bagi SMESCO Indonesia Company (SIC) yang didirikan pada tahun 1997. Dimana SMESCO merupakan kependekan dari Small and Medium Entreprises and Cooperatives atau dalam bahasa Indonesia disingkat menjadi KUKM (Koperasi dan Usaha Kecil Menengah).
Sesuai dengan namanya, gedung ini secara keseluruhan dibangun untuk menunjang promosi produk-produk unggulan Indonesia, terutama yang dihasilkan oleh sektor KUKM. Visi ke depannya adalah agar produk-produk kreatif bangsa tersebut dapat lebih memiliki peluang untuk dikenal dan menembus pasar Internasional.
Selain rumah bagi kegiatan SIC yang merupakan Badan Layanan Umum di bawah Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, SME Tower juga dirancang sebagai sebuah pusat perkantoran yang terintegrasi dengan gedung pertemuan, pusat pameran, area ritel dan komersial. Kompleks ini terbagi atas tiga bagian besar, yaitu: bangunan utama yang merupakan menara berlantai tujuh belas, aula eksibisi dan promenade berlantai empat yang dirancang sebagai penghubung dua area pertama tadi.
Yang paling menarik -terutama bagi orang yang suka berbelanja- dan menjadi fitur utama di dalam kompleks gedung ini adalah adanya UKM Gallery dan UKM Propinsi. Area ini menggelar produk-produk unggulan bangsa, dari sektor UKM, yang unik dan khas dengan harga yang kompetitif. Dan istimewanya lagi, produk-produk yang dijual di sini berasal dari hampir seluruh penjuru Nusantara. Dengan asal barang-barang tersebut yang datang dari tempat-tempat nan jauh, bahkan saya berpikir jika hampir keseluruhan barang yang dijual di sini sungguh murah.
Hingga tahun 2015 ini, terhitung ada sekitar 124 jenis produk, yang berasal dari 19 propinsi dan 560 UKM, yang digelar pada UKM Gallery. Beragam barang kerajinan mulai dari batik, songket, tenun, ragam aksesoris dan perhiasan, tas, perlengkapan home living, kebutuhan spa, keramik, pakaian, hingga panganan digelar di sini. Dengan visi SIC ke depan yang bermaksud membuat produk-produk tersebut sanggup go-international, maka kualitas barang yang dijual di sini sangat terjaga mutunya.
Sedangkan UKM Propinsi yang berbentuk paviliun pameran dan jualan, merupakan sebuah tempat gelaran produk-produk unggulan berbasis seni dan budaya daerah, dengan bahan berkualitas dari seluruh penjuru Indonesia. Area yang merupakan kerjasama langsung LLP-KUKM dengan pemerintah propinsi yang bersangkutan ini bertujuan agar produk-produk dari masing-masing propinsi tersebut memiliki akses yang lebih mudah untuk masuk ke pasar yang lebih luas.
Bayangkan, beberapa jenis madu hutan, hingga tanaman herbal yang biasanya sering saya dengar sulit untuk didapat, atau kalaupun ada harganya sangat mahal, di sini mereka sediakan dalam stock yang terjaga dan harga yang terjangkau. Bahkan lebih murah, daripada yang saya tahu sebelumnya.
Sebelumnya saya sering bingung, jika harus membawa teman dari luar negeri yang ingin membeli oleh-oleh khas Indonesia pada saat-saat terakhir menjelang kepulangan mereka kembali ke tanah airnya. Atau jika saya harus membawa souvenir murah tapi bagus, yang akan saya hadiahkan bagi teman-teman saya di luar negeri. Sekarang, dengan adanya SME Tower ini, saya tahu harus pergi kemana jika berhadapan dengan situasi-situasi seperti itu lagi.
O ya, UKM Gallery sendiri bertempat pada lantai dasar dan lantai dua gedung utama SME Tower. Sedangkan UKM Propinsi bertempat pada lantai tiga, sebelas, dua belas dan lima belas dari gedung yang sama. Dan fitur yang menyenangkan ini bisa diakses setiap hari di sini. Ya betul setiap hari! Dari jam 10.00 hingga 21.00 wib. Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat pada tautan SMESCO berikut ini.
SMESCO NetizenVaganza 2015
Dengan filosofi sebagai rumah kreatif bangsa, maka pada tahun 2015 ini, untuk pertamakalinya SIC menggelar acara SMESCO NetizenVaganza. Sebuah ajang ‘pestanya’ kaum netizen, dimana SIC berusaha menciptakan dan menjaring potensi-potensi kreatif anak bangsa Indonesia melalui rangkaian acara yang merangsang kreatifitas.
Perwakilan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, membuka langsung acara ini secara resmi pada tanggal 26 September 2015, di KUKM Convention Centre – SME Tower.
Rangkaian acaranya terdiri dari workshop-workshop keren dengan pembicara yang merupakan sosok-sosok yang telah dikenal kompeten dalam bidangnya. Serta sebuah lomba menulis blog dengan hadiah-hadiah yang menarik. Dan yang membuat acara ini semakin keren adalah karena terbuka untuk segala kalangan dan gratis, alias tak berbayar sepeserpun. Tapi meskipun gratis, kualitas tetap nomor satu.
Di kalangan traveler, pecinta petualangan atau pembaca buku, siapa sih yang tidak mengenal Agustinus Wibowo? Melalui buku-bukunya yang fenomenal -Selimut Debu; Garis Batas; dan Titik Nol-, Agus telah membagikan pengalamannya berpetualang menembus negeri-negeri nan eksotis di Asia Tengah, menempuh perjalanan berbahaya di daerah konflik, menantang kerasnya alam dan maut di Himalaya, membaur bersama ratusan penduduk lokal yang berbhineka di tanah nan asing, demi memenuhi hasrat petualangannya sekaligus berkontemplasi dengan cara yang tak biasa.
Banyak yang iri dengan pencapaian perjalanan yang telah dihasilkannya, seribu satu salut mungkin telah ia terima dan beberapa kesempatan perjalanan selanjutnya ke depan mungkin sedang ia persiapkan. Nah dengan semua itu, kali ini Agus membagikan pengalaman serta kemampuannya untuk menuliskan catatan perjalanan yang mengesankan.

Agustinus Wibowo membagikan ilmu penulisan perjalanan yang mengesankan dalam workshop Travel Writing.
Siapa yang tidak tergiur untuk berkesempatan menyerap langsung ilmu penulisan tersebut dari Agus? Secara gratis pula!
Selama dua hari berturut-turut ruangan workshop travel writing yang dipandunya, selalu penuh dan meriah. Para peserta workshop dengan tekun mengikuti presentasi interaktif yang disiapkan Agus, dan hampir tak ada jeda dari satu penanya ke penanya selanjutnya pada sesi tanya jawab. Dengan sabar dan jawaban yang cerdas pula, Agus melayani setiap keingintahuan yang ditanyakan.
Meskipun lebih banyak bertindak sebagai pengamat, saya menyerap banyak ilmu dari workshop tersebut. Beberapa bagian mencerahkan, dan menginspirasi saya yang belakangan mulai menekuni dunia penulisan perjalanan ini.
Selanjutnya ada uni Raiyani Muharramah, seorang travel photographer yang telah memiliki nama dan kompeten dalam bidang pendokumentasian perjalanan. Cobalah googling namanya, lalu lihat koleksi karya-karya yang telah dihasilkannya dalam beberapa tahun belakangan. Pasti Anda semua tak akan meragukan kemampuannya dalam menguasai kamera dan menciptakan imaji yang hidup dalam diam. Beberapa pelosok Nusantara yang indah, semakin tak terbantahkan pesonanya melalui melalui tangan dingin uni nah ramah ini.
Namun kali ini, uni Raiyani membagikan ilmunya dalam bidang still life photography. Apakah ini di luar kemampuannya? Tentu saja tidak. Dalam skala tertentu, still life photography juga menjadi kemampuan khusus yang harus dikuasai seorang traveler. Katakanlah, jika seorang traveler harus mengabadikan artefak-artefak unik yang harus diceritakannya, atau detail-detail kecil dari barang-barang kerajinan yang masih butuh dipaparkan ke masyarakat luas. Tentu saja, kemampuan still life photography lah yang mengambil peran.

Uni Raiyani Muharramah (tengah, berbaju dan kerudung biru) bersama peserta workshop Still Life Photography, selepas acara.
Uni Raiyani tak hanya memaparkan sejumlah teori fotografi dan melayani sesi tanya jawab. Dengan interaktif ia juga memandu dan menggelar lomba kecil, dimana para peserta langsung mempraktekkan ilmu yang baru saja mereka dapatkan untuk mengabadikan barang-barang kerajinan yang ada di UKM Propinsi. Lomba yang berlangsung singkat itu diikuti dengan antusiasme yang tinggi, mereka tak mempedulikan nominal hadiahnya, melainkan tetap berpartisipasi dengan riang gembira.
Pada awal diciptakan, hampir semua social media hanyalah merupakan sebuah jalur untuk berinteraksi dengan sesama atau bersilaturahmi. Sebuah rumah untuk berbagi kisah kehidupan, opini, hingga mengolah polemik. Satu dekade lalu, mungkin hanya sedikit orang yang berpikir bahwa social media memiliki potensi untuk memberikan keuntungan secara materi bagi para penggunanya. Namun kini, ia telah tumbuh secara nyata menjadi jalur pengisi pundi-pundi uang bagi yang mengelolanya. Tapi tak semua orang memiliki ilmu atau ide untuk mengoptimalisasinya.
Yeyen Nursjid, seorang pelaku bisnis online, dengan sangat gamblang membagikan pengalamannya pada sesi workshop Monetize Your SocMed. Ia yang berangkat hanya dari pengguna social media aktif dan selalu ‘membagikan’ apa-apa yang dipakainya yang merupakan karyanya sendiri, kini telah menjelma menjadi salah seorang pelaku bisnis online yang layak diperhitungkan. Saking menjajikannya, bahkan ia sampai rela melepaskan karirnya yang telah cukup tinggi di kantornya, demi fokus dalam mengelola bisnis online tersebut. Melalui brand Amayra dan mengoptimalisasikan penggunaan social media, ia yakin akan sanggup tumbuh sebagai wirausahawati yang gesit menyesuaikan dengan tuntutan jaman.
Dengan pengalaman dan keluwesan kemampuan presentasinya, Yeyen Nursjid mengelola dinamika ruang workshopnya dengan sangat baik. Bahasa yang lugas dan bergaya pop, serta contoh-contoh dari kisah nyatanya menjadi kekuatan yang mengikat para peserta di dalam ruangan. Sesi tanya jawab pun berlangsung dengan cukup seru. Mulai dari pertanyaan mendasar dari para pemula, hingga pertanyaan yang lebih advance dari para pelaku yang telah mulai menjalaninya. Sungguh, kelas yang menarik.
Youtube bagi sebagian besar orang, mungkin hanya menjadi media untuk mencari penghiburan. Ribuan video dalam durasi singkat hingga sepanjang film tersedia di dalamnya, yang bisa kita nikmati sepanjang akses internet cukup mumpuni. Sama keadaannya dengan social media, ternyata ia juga bisa dioptimalisasi untuk menjadi media kreatif yang menghasilkan uang. Tapi tentu saja, perlakuannya agak sedikit berbeda. Karena membuat video itu bukan urusan gampang.
Jika Anda cukup aktif dalam mengikuti perkembangan dunia maya dalam negeri, tentu pernah mendengar kontroversi dari vlog (video-log) yang dihasilkan oleh Sascha Stevenson. Seorang wanita bule yang menikah dengan pemuda Indonesia, dan lalu menciptakan banyak vlog kritik sosial atau reaksinya terhadap budaya Indonesia. Tentu saja, melalui kacamatanya, vlog tentang Indonesia yang dihasilkan Sascha terasa segar, menggelitik namun terkadang juga ‘vulgar’ secara intelektual. Dengan keunikannya itu, ribuan orang telah menjadi pelanggan channel Youtube nya.
Vlog yang dihasilkannya hampir selalu ditonton oleh ratusan ribu orang, yang ternyata ini memberikan keuntungan secara materi baginya. Tentu sepadan dengan jerih payahnya dalam menciptakan setiap vlog yang ‘cerdas’ tersebut.
Dalam NetizenVaganza tahun ini, SIC mengundang Sascha untuk menjadi salah satu pembicara. Dengan cukup jenaka dan segar, Sascha membagikan pengalamannya dalam workshop yang diikuti oleh puluhan peserta. Ia memaparkan tips-tips dan pengalamannya selama berkecimpung dalam mengolah channel Youtube nya. Termasuk, dengan sedikit malu ia membagikan karya-karya pertamanya yang menurutnya tak lagi layak tonton. Karena terkesan cukup iseng dan acak.
Namun yang bisa saya tangkap dari workshopnya, secara garis besar adalah: tak ada karya yang bagus tanpa melewati karya yang jelek, dan setiap usaha yang kita rintis dengan passion tanpa lelah pasti akan menghasilkan sesuatu yang besar di kemudian hari.
Memang workshop-workshop keren tersebut hanya berlangsung dua hari pada tanggal 26-27 September 2015. Namun, bagi Anda yang melewatkannya, bukan berarti Anda tak memiliki kesempatan untuk mendapatkan ‘rejeki’ dari gelaran NetizenVaganza ini.
Masih ada satu kesempatan lagi, yaitu melalui lomba menulis blog dengan tema: Local Brand Lebih Keren.
Lomba ini akan berlangsung hingga tanggal 20 Oktober 2015. Anda cukup lakukan riset kecil-kecilan dan menuangkan ide untuk memajukan local brand Indonesia dalam bentuk tulisan di blog. Cukup mudah khan? Hadiahnya pun lumayan, mulai dari laptop, smart phone hingga uang tunai. Detailnya bisa dilihat pada gambar di bawah ini.
SIC sendiri merencanakan untuk menjadikan NetizenVaganza sebagai ajang tahunan, demi menjaga keberlangsungan filosofinya sebagai rumah kreatif bangsa. So, yang tahun ini belum bisa ikut serta, bisa mengikutinya tahun depan. Infonya bisa dipantau pada website resmi SMESCO Indonesia atau melalui akun twitter @SmescoIndonesia.
Sampai juga di ajang NetizenVaganza tahun depan ya. Semoga!
Silahkan dibaca tulisan rekan-rekan blogger saya lainnya tentang SMESCO Indonesia dan event ini pada tautan-tautan berikut:
Atrasina Adlina — Belajar Sambil Jajan di Smesco Vaganza
Chocky Sihombing — Smesco Netizen Vaganza 2015
Citra Rahman — Belajar Travel Writing dengan Agustinus Wibowo di Smesco Netizen Vaganza
Cumilebay — Tambah Ilmu Keliling Nusantara di Smesco
Donna Imelda — Monetize Your Socmed Sebuah Catatan dari Smesco Netizen Vaganza
Evi Indrawanto — Smesco Art Fest dan Netizen Vaganza 2015
Farchan Noor Rachman — Smesco Netizen Vaganza
Gara P.W. — SmescoNV Jejak-Jejak Kaya Ilmu
Hendra Fu — Bertabur Cerita di Smesco Netizen Vaganza 2015
Katerina S. — Belajar Peka Pada Konsep Originality
Lenny Lim — Travel Writing Bersama Agustinus Wibowo
Meidiana Kusuma — Smesco Netizen Vaganza 2015
Nurul Noe — Saatnya Pakai Local Brand Agar Lebih Keren
Olive Bendon — SmescoNV 2015
Putri Normalita — Kekayaan Budaya & Kerajinan Nusantara di Smesco
Belajar Menulis dan Vlogging
Salman Faris — Pesta Warga di Smesco Netizen Vaganza
Shinta Ries — Smesco Indonesia Lokal Brand Lebih Keren
Taufan Gio — Ada Apa di Smesco Netizen Vaganza 2015
Winda Krisnadefa — Menjaring Ilmu di Smesco Netizen

The pinnacles of Grand Palace, shows magnificent works of classic art.
I always rely on my digital cameras and iPhone for documenting my journey. As they are versatile, simple and easy for me to share the results, online! But one day, I was so bored with them. There was no challenge left, since they’re so instant and became predictable.
Then, I encouraged myself to utilize my analog camera when I visited Bangkok for the second time. Nothing to lose, since I already known this city.
I used my Rangefinder camera –Yashica Electro 35 GSN with its fixed 45 mm lens-, and I exposed the beauty and the glitz of the City of Angels on my long-time-stored Kodak Portra 160 VC film.
I love to see the glamorous of Krung Thep Mahanakhon was captured perfectly in greenish vintage feel.

Thep Kinnaree, a beautiful being, half-woman half-swan that dances through the mythical Himmavanta forest. She is renowned for her excellence in singing, dancing and poetry. And become a traditional symbol of feminine beauty, grace and accomplishment.

A wing of Ananta Samakhom Throne Hall, in Dusit Palace Complex. It is the residence of many Royal Thai artworks. I often dropped my jaw when enjoyed the collections there. Magnificent!

A wing of Vimanmek Mansion. This palace is the largest teak building in the world. And was the residence of King Rama V and His Royal Family for five years prior to the completion of Amporn Satharn Villa.
Despite the presence of accidental light-leaks and soft-focus, I’m so happy with the results. And I think, I can count on my rangefinder camera in lieu of my digital gears.
I printed and kept some of them in my postcard album. I think it’s been a long time, since the last time I went to the studio and curiously waited for some pictures. It was nice to experience that feeling again.
So, when was the last time you print your captures?
Fun Facts: