Nepal (13): The Garden of Dreams

Pernah pada suatu masa dalam perjalanannya, kekuatan perdana menteri Kerajaan Nepal beserta kroninya jauh lebih berkuasa daripada sang raja. Bahkan suksesi perdana menteri bukan ditentukan oleh titah raja, kesepakatan parlemen, ataupun suara demokratis rakyat. Melainkan diwariskan berdasarkan garis keturunan.

Hampir sepanjang 105 tahun, sejak  1846 hingga 1951, perdana menteri yang berasal dari Dinasti Rana menjadi bayang-bayang pekat dan kuat dalam tahta raja-raja Nepal yang berasal dari Dinasti Shah. Mengubah status raja, hanya berperan sebagai kepala negara tanpa kuasa yang berarti.

Meskipun tiran, Dinasti Rana meninggalkan banyak jejak pencapaian arsitektural. Dan satu di antaranya adalah Garden of Dreams di Kaiser Mahal.

Garden of Dreams.

Rani Pokhari: Kolam untuk Sang Ratu

Kami meninggalkan Basantapur, sebelum kegelapan senja yang dingin menelan relung-relung kunonya. Sore itu kami memutuskan untuk tidak menggunakan kendaraan apapun, melainkan berjalan kaki untuk kembali ke penginapan yang berada pada area Thamel, agar kami dapat menyesap lebih dalam aroma ibukota yang disaput debu itu.

Basantapur – Kathmandu Durbar Square.

Dengan berbekal peta yang kami dapatkan dari hotel, kami menyusuri liku demi liku Kathmandu yang padat. Hampir tak ada daerah yang benar-benar sunyi. Rasanya sore itu, semua orang tumpah ke atas ruas jalan kota. Terutama lapangan parade Tundhikel dan Ratna Park yang dipadati oleh ribuan warga lokal yang menghabiskan waktu dalam kemeriahan pasar dadakan yang menjajakan segala macam barang.

Saya sempat menandai letak Masjid Jame’ dan Masjid Kashmiri yang berada di tenggara serta timur laut Rani Pokhari, dan mengapit keberadaan menara jam Ghanta Ghar.

Berbicara tentang Rani Pokhari, ini adalah salah satu monumen arsitektural peninggalan dinasti Malla, yang pernah menguasai Lembah Kathmandu dalam kurun lebih dari 600 tahun lamanya. Reservoir air buatan seluas 25.200 meter persegi tersebut, dibangun pada tahun 1670 Masehi, dalam masa kekuasaan Raja Pratap Malla.

Rani Pokhari. Terlihat Kuil Matrikeshwor Mahadev yang berwarna putih di tengah kolam, dan Menara Jam Ghanta Ghar di seberangnya. (source)

Sang raja membangun kolam raksasa ini, demi menghibur ratunya yang sedang mengalami duka mendalam setelah ditinggal salah seorang putranya yang tewas akibat diinjak oleh seekor gajah. Konon kolam ini disucikan oleh air yang berasal dari tempat-tempat suci serta sungai-sungai yang berkuala di Nepal dan India, di antaranya adalah dari Gosaikunda, Muktinath, Badrinath, dan Kedarnath.

Sebuah kuil yang dipersembahkan bagi Matrikeshwor Mahadev -sebuah perwujudan Shiva– dibangunkan pada bagian tengah badan air raksasa itu, dilengkapi oleh sebuah jembatan batu sebagai penghubung dengan sisi kolam. Sedangkan empat kuil lainnya dibangun pada keempat pojok kolam, yaitu: kuil Bhairava di barat laut dan timur laut, kuil Mahalaksmi di tenggara, dan kuil Ganesha di bagian barat daya.

Sayangnya, kami tak dapat masuk dan mengunjungi bagian tengah kolam. Karena pagar yang melingkupinya hanya dibuka setahun sekali pada saat puncak perayaan festival Chhat atau Tihar. Yaitu, sebuah acara tahunan yang mirip dengan festival cahaya Deepavali di India, namun dengan variasi lokal Nepal yang kental.

The Garden of Dreams: Taman Enam Musim

Jika London memiliki The Mall yang berlapis cat merah ibarat karpet penyambutan di depan Buckingham Palace, maka Kathmandu memiliki Durbar Marg yang tepat menusuk jantung mantan Istana Kerajaan Nepal, Narayan Hiti.

Istana Narayan Hiti. (source)

Dapat dikatakan Durbar Marg adalah kawasan elit Kathmandu. Dimana gerai-gerai butik ternama, hotel paling mewah, franchise restoran internasional, hingga pusat perbelanjaan yang paling mahal berjajar pada sepanjang jalan tersebut. Kondisinya sangatlah kontras dengan bagian lain ibukota Nepal itu.

Pada sisi-sisinya, deretan lampu dapat menyala terang benderang tanpa sungkan menunjukkan krisis energi yang melanda negeri. Aspal yang melapisi badan jalannya pun relatif lebih mulus, dengan ruas jalan yang jauh lebih lebar daripada di tempat lain. Siapapun yang melewatinya, pasti akan merasakan sensasi Kathmandu yang berbeda.

***

Tepat pada bundaran yang menjadi akhir dari Durbar Marg, kami berbelok tajam ke barat, mengarah ke Thamel. Namun, sebelum sampai di kawasan padat wisatawan itu, pandangan saya tertumbuk pada dinding bata merah dengan gerbang neoklasik berwarna putih gading.

Dari seberang jalan, saya dapat membaca jalinan huruf penandanya yang ditatahkan pada sebuah panel berwarna kuning keemasan. Ah rupanya itu dia, tempat yang sudah masuk ke dalam agenda saya.

“Kita mampir ke Garden of Dreams yuk!”, ajak saya pada travelmate yang mengangguk antusias tanpa penolakan.

Gerbang masuk dan penanda Garden of Dreams.

Seperti diketahui, dalam 105 tahun kekuasaannya di Kerajaan Nepal, Dinasti Rana banyak sekali menghasilkan istana-istana serta bangunan megah yang pada umumnya bergaya eropa. Terutama dalam langgam neoklasik dan barok.

Istana-istana yang dimiliki oleh Dinasti Rana biasanya berwarna putih, dengan aksen jendela raksasa bergaya Perancis. Mereka dipertegas oleh kolom-kolom megah bergaya Yunani, dengan ruangan yang terbagi dalam empat sayap, dan dilengkapi oleh sebuah halaman terbuka di bagian tengah untuk keperluan upacara keagamaan maupun seremonial lainnya.

Singha Durbar atau Istana Singa di tahun 1927. Salah satu bangunan istana paling ambisius di Asia. Kini difungsikan sebagai gedung pusat pemerintahan Republik Nepal. (source)

(kiri) Perdana Menteri Chandra Shamsher Jang Bahadur Rana. (kanan) Field Marshall Sir Kaisher Shamsher Jang Bahadur Rana. (source)

Begitu pula dengan Kaiser Mahal yang dibangun pada tahun 1895 oleh Perdana Menteri kelima dari Dinasti Rana, Maharaja Sir Chandra Shamsher Jang Bahadur Rana, bagi putra ketiganya Field Marshall Sir Kaiser Shamsher Jang Bahadur Rana.

Demi melengkapi istana tersebut, atas arahan Kishore Narshingh pada tahun 1920 dibangunlah sebuah taman di dekatnya, dengan enam buah paviliun terpisah, yang dipersembahkan bagi enam musim yang dimiliki Nepal, yaitu: Basanta (musim semi), Ghrisma (musim panas), Barkha (musim penghujan/monsoon), Sharad (musim gugur), Hemanta (pra musim dingin), dan Shishira (musim dingin).

Ruang perpustakaan di dalam Kaiser Mahal. (source)

Denah The Garden of Dreams saat ini.

Meskipun karena enam paviliun tersebut, taman itu dikenal sebagai Garden of Six Seasons, namun pada akhirnya julukan Garden of Dreams lah  yang paling melekat padanya hingga kini.

Pada masanya Garden of Dreams dikenal sebagai salah satu taman yang paling canggih dan menarik, namun sayangnya kini hanya setengah dari luas taman aslinya saja yang masih dapat kita nikmati. Karena ia sempat terbengkalai paska kejatuhan Dinasti Rana di Nepal pada awal tahun 1950an, dan baru pada medio tahun 2000an Garden of Dreams direnovasi oleh Pemerintah Nepal atas sokongan dana dari Pemerintah Austria.

***

Garden of Dreams ibarat oase di tengah Kathmandu yang padat dan gersang. Segalanya berubah begitu melewati gerbangnya. Rerimbunan daun yang hijau seolah menyambut kedatangan kami. Sementara dahan pepohonan yang menjalin di sisi dalam dindingnya, menjadi peredam segala kebisingan kota yang menyeruak liar ke dalam gendang telinga.

Taman berlanggam neoklasik dan bergaya Edwardian itu dihiasi dengan berbagai macam perlengkapan yang sangat terinspirasi oleh cita rasa eropa. Mulai dari paviliun, beranda, pergola, pilar-pilar balkon, jambangan, kandang burung, air mancur, kolam-kolam, hingga amphitheater.

Beranda dan pavilion di Garden of Dreams.

Serasa bermimpi. Kami tak mempercayai jika di dalam Kathmandu yang riuh dapat menemukan tempat sepermai itu. Yang tenang, rimbun, subur, ditingkahi gemercik air, dan terbebas dari tumpukan debu. Mungkin, itu sebabnya ia diurapi sebagai Garden of Dreams.

Senja itu kami menghabiskan waktu dengan bersantai pada amphitheater yang dilengkapi oleh alas-alas serta bantal untuk lesehan dan merebahkan diri. Sembari memanfaatkan akses WiFi yang disediakan oleh taman, kami membicarakan banyak hal. Tentang luka di masa lalu, impian perjalanan kami selanjutnya, hingga obsesi yang masih ingin kami kejar dalam hidup.

Salah satu paviliun di Garden of Dreams yang kini berfungsi sebagai restoran.

Kolam dan amphitheater tempat bersantai di sudut Garden of Dreams.

Entahlah. Saya merasa, saat itu adalah masa paling santai dalam rentang perjalanan kami di Nepal. Sehingga kami dapat membicarakan hal-hal yang mungkin sebelumnya terlalu pribadi untuk diungkapkan. Dan jika saja esok kami tak harus mengejar bus paling pagi ke Pokhara, serta dingin yang membalut tak membekukan sendi, mungkin kami akan terus bertahan di dalamnya.

Akhirnya, bersama gemintang yang mulai memayungi Garden of Dreams, kami kembali pada riuhnya Thamel.