“Rindu yang menancap di lidah bisa menjadi energi kuat bagi seseorang untuk mengunjungi kampung halaman.”
Saya memiliki banyak alasan untuk pulang ke Kudus. Karena di sana, tersimpan begitu banyak memori masa lalu yang menyenangkan. Masa kecil tanpa beban, hingga kala remaja yang manis untuk dikenang.
Dan dari sekian banyak alasan yang membuat saya ingin kembali ke sana, adalah segudang kuliner khas Kudus yang selalu menggugah selera. Yang hanya bisa saya nikmati di kota itu. Bukan hanya karena rasanya yang spesifik, melainkan juga isi penyusunnya yang mungkin agak jarang tersedia di tempat lain.
Dalam kunjungan yang sangat singkat di awal bulan Februari 2016 lalu, saya memburu kuliner-kuliner berikut demi menuntaskan rindu pada si Kota Kretek.
Sulit mendeskripsikan padanan rasa yang tepat untuk menggambarkan kuliner satu ini. Secara penampilan mungkin mirip dengan lontong atau ketupat sayur. Namun secara rasa sangat berbeda, karena lentog sangat spesifik.
Lentog yang berarti lontong ini umumnya disantap pada pagi hingga siang hari. Terdiri atas potongan lontong yang disiram oleh kuah jangan gori atau sayur nangka muda, dilengkapi potongan telur pindang, opor tahu, kani atau santan kental gurih, serta taburan bawang goreng. Yang kesemuanya disajikan pada piring berlapis daun pisang.
Kuliner ini rasanya gurih, dan cocok sebagai pembuka hari. Pertemuannya dengan alas daun pisang menguarkan aroma khas tradisional nan sedap dan menggoda.
Bagi mereka yang menyukai citarasa pedas, maka tersedia dua jenis olahan cabai sebagai penyedap rasa. Yang pertama adalah kukusan cabai rawit utuh yang telah direndam dalam kuah santan sayur nangka muda. Dan yang kedua adalah sambal yang terbuat dari hasil tumbukan cabai rawit, bawang putih, dan terasi, yang ditumis dan kemudian disiram dengan kuah opor tahu. Mau coba yang mana? Tergantung selera. Kalau saya, lebih suka yang pertama.
Lentog yang terkenal di Kudus adalah Lentog Tanjung, karena pada awalnya kuliner ini lahir dan dipopulerkan oleh pedagang dari desa Tanjungkarang di Kecamatan Jati. Namun, saat ini lentog juga telah dijual di beberapa tempat lainnya di luar desa tersebut. Selain Lentog Tanjung yang umumnya berada pada sekitaran Wisma Haji di Jalan R. Agil Kusumadya, warung lentog yang berada di area GOR Wergu Wetan juga merupakan salah satu yang paling terkenal di seantero kota.
Bagi saya, sarapan pagi dengan lentog adalah sebuah pembuka wajib bagi kunjungan melepas rindu pada Kota Kudus.
Soto merupakan salah satu signature dish Indonesia, yang secara umum merupakan sup berkuah dengan isian yang beragam. Hampir setiap daerah yang memiliki soto, menghadirkan kekhasannya masing-masing. Begitu pula dengan Kudus, yang memiliki sotonya sendiri.
Meskipun soto Kudus ada yang dijual dengan suwiran daging ayam, namun salah satu kekhasan soto Kudus asli adalah penggunaan daging kerbau sebagai sumber proteinnya. Pemanfaatan daging kerbau berakar pada anjuran Sunan Kudus kepada pengikut-pengikutnya untuk menghormati saudara-saudara mereka yang beragama Hindu. Dimana sapi merupakan hewan yang disucikan umat Hindu, sehingga sang Sunan melarang pengikutnya untuk menyembelih hewan tersebut meskipun dihalalkan dalam Islam, serta menggantikannya dengan kerbau.

Menara Kudus, sebuah bangunan peninggalan Sunan Kudus yang melambangkan akulturasi dan harmonisasi agama Islam dengan Hindu-Buddha yang saat itu masih dominan dianut masyarakat sekitar.
Soto Kudus memiliki kuah yang bening tanpa santan, cenderung manis, dan terkadang memiliki citarasa pedas samar yang datang dari tumbukan lada dan jahe. Soto ini disajikan secara khas pada sebuah mangkuk yang berukuran relatif kecil, dicampurkan langsung bersama nasi, dengan isian kecambah, rajangan seledri, potongan daging kerbau, dan taburan bawang putih goreng yang agak masif. Tak lupa, perasan beberapa iris jeruk nipis dan sambal juga ditambahkan demi memperkaya rasa.
Citarasa kaldu kerbau yang gurih dan manis, serta bawang putih goreng adalah salah satu kekhasannya yang paling menempel di lidah. Dan karena ukuran mangkuk hidangnya yang kecil, maka biasanya saya minimal menghabiskan dua porsi soto dalam sekali kunjungan.
Oh iya, untuk menambah keseruan dalam menyantapnya, soto Kudus biasanya ditemani oleh beberapa kuliner pelengkap lainnya, seperti: sate kerang, sate telur puyuh, otak goreng tepung, jeroan goreng, dan perkedel kentang. Lezat khan? Tapi hati-hati, kolesterol bisa melonjak, jika tak pandai mengontrol diri.
Terdapat banyak warung soto Kudus yang terkenal di seantero kota, di antaranya adalah Soto Kudus Pak Ramidjan, Soto Kudus Pak Denuh, atau bisa juga memilih dari beberapa pedagang soto di Taman Bojana pada samping kantor Kabupaten.
Saran saya, kalau kalian ke Kudus dan berniat mencoba soto khas kota ini, maka pilihlah yang menggunakan daging kerbau, karena belum tentu kalian menemukannya di kota lain.
Selain soto, sate khas Kudus juga menggunakan daging kerbau sebagai bahan utamanya. Dan jika pada umumnya daging yang digunakan untuk sate adalah ditusukkan mentah-mentah dan kemudian dibakar. Maka sate kerbau di Kudus melalui proses yang sedikit berbeda.
Daging kerbau memiliki tekstur dan serat otot yang lebih kasar, jika dibandingkan dengan daging sapi. Namun, pengolahan yang dilakukan dalam penyiapan sate ini membuatnya lebih lunak saat disantap. Biasanya daging kerbau yang akan dijadikan sate terlebih dahulu ditumbuk, lalu dicampurkan dengan beberapa bumbu serta bahan lainnya, sebelum ditusukkan dan dibakar di atas bara.
Sate daging kerbau khas Kudus memiliki rasa manis berempah serta lembut di lidah, yang dihidangkan bersama kuah bumbu kacang encer bercampur serundeng. Bagi mereka yang membutuhkan citarasa pedas, maka dapat ditambahkan sedikit sambal cabai rawit rebus ke dalam bumbu kacangnya sebelum disantap.
Warung sate kerbau di Jalan Menara, tepat di samping kompleks Masjid Al Aqsha dan Makam Sunan Kudus, adalah salah tempat yang paling bisa menuntaskan kerinduan saya pada kuliner ini. Tak ada yang berubah pada warung tersebut, bahkan setelah 20 tahun saya meninggalkan kota itu. Citarasa yang mereka sajikan, masih sama seperti dua dekade yang lalu.
Saya tidak tahu apakah sejatinya olahan tahu ini benar-benar asli Kudus. Karena seingat saya, tahu telur justru baru menanjak kepopulerannya pada awal tahun 90an. Kuliner ini dijajakan oleh para pedagang pada setiap malam di sepanjang Jalan Sunan Kudus, dari batas timur Kali Gelis hingga menjelang alun-alun Kota Kudus Simpang Tujuh.
Secara penampilan, tahu telur ini mirip dengan tahu gimbal yang dikenal di Semarang. Berupa potongan tahu yang disajikan bersama beberapa kerat lontong atau nasi, lalu ditambahkan telur dadar dan kecambah, untuk kemudian disiram oleh bumbu kacang. Namun, yang sangat jelas membedakan keduanya adalah dari bumbunya. Dimana tahu telur dari Kudus sangat kental dalam penggunaan bawang putih. Pedas gurih tahu bumbu yang dihasilkan oleh bawang putihnya dapat bertahan hingga beberapa saat di rongga mulut.
Warung tahu telur yang umumnya mengambil konsep lesehan, membuat kuliner satu ini cocok dijadikan pengisi makan malam yang santai. Mengobrol santai sembari makan malam selalu menyenangkan, bukan?
Jika melihat penampilannya sekilas, mungkin sego pindang atau nasi pindang ini mirip dengan rawon. Karena memang ditambahkan biji keluak (Pangium edule) ke dalam campuran kuahnya. Hanya saja, warna kuah nasi pindang tidak segelap rawon, melainkan kecoklatan. Mungkin ini terjadi karena adanya penambahan santan pada kuahnya, sehingga mengencerkan warna keluak yang kehitaman.
Nasi pindang memiliki citarasa gurih dengan aksen manis yang lembut. Disajikan pada sebuah piring yang dilapisi daun, dengan komposisi nasi yang disiram kuah pindang berlebih, berisikan potongan daging kerbau serta godong so atau daun melinjo muda, dan taburan bawang putih goreng.
Kuliner khas Kudus ini paling sedap disantap dalam keadaan panas. Dan seperti layaknya soto Kudus, nasi pindang juga umum disajikan bersama pelengkap semacam rambak atau kerupuk kulit, jeroan goreng, sate telur puyuh, dan perkedel.

Sate Kerang, Paru Goreng, Sate Telur Puyuh, dan Otak Goreng. Teman pelengkap bagi Nasi Pindang dan Soto Kudus.
Pujasera Taman Bojana di samping kantor Kabupaten Kudus menjadi sentra pedagang nasi pindang ini. Tapi saya dan keluarga memiliki warung langganan yang berada di Jalan Sunan Kudus, tak jauh dari tepi barat Kali Gelis dan salah satu rumah kembar Nitisemito yang merupakan konglomerat rokok kretek ternama di masa kolonial. Dan warung tersebut adalah favorit mendiang kakek saya.
Bagi saya pribadi, mengunjungi Kudus tanpa mencicipi nasi pindang tentu terasa kurang.
*****
Saya tak tahu apakah saya akan bosan seandainya kembali tinggal di Kudus, dan menyantap kuliner-kulinernya secara rutin. Namun pastinya, rindu yang menancap di lidah bisa menjadi energi kuat bagi seseorang untuk mengunjungi kampung halaman.
Bagaimana dengan kalian?
Setelah lima hari mengikuti sertifikasi personel laboratorium di PPT Migas Cepu, saya berniat menghabiskan akhir pekan di kawasan kota tua Semarang, yang juga dikenal sebagai The Little Netherland, sebelum kembali ke Jakarta.

Aston Semarang Hotel and Convention Center, hanya berjarak sekitar 500 meter dari Stasiun Semarang Tawang.
Sebelumnya saya pernah mendengar jika Aston Semarang Hotel and Convention Centre yang akan saya inapi, memang terletak pada kawasan kota tua, namun saya tak menyangka jika hotel itu ternyata sangat dekat sekali letaknya dari Stasiun Semarang Tawang. Tak sampai lima menit berkendara pun, saya sudah tiba di hotel berbintang empat tersebut.
Sugeng Rawuh ing Semarang
Ibarat lagu wajib kota, alunan instrumentalia Gambang Semarang kembali menyambut saya, begitu menjejakkan kaki di lobby Hotel Aston Semarang yang berdesain modern dan luas, dengan mezzanine yang dihubungkan oleh tangga setengah terpilin sebagai tingkap peneduhnya. Sebuah lampu kristal mewah berukuran besar tergantung di dekat tangganya, yang semakin memperkuat kesan elegan dari ruang penyambutan tamu tersebut.

Kedatangan saya disambut oleh seorang resepsionis berbusana kebaya Semarangan, yang dengan sangat ramah dan sigap menguruskan administrasi check in. Setelah menerima informasi tentang beberapa hal yang berhubungan dengan hotel, saya bergegas menuju kamar di lantai lima, untuk memulai akhir pekan saya di kota itu.
Hotel Bintang Empat di Little Netherland
Aston Semarang Hotel and Convention Centre memiliki total 157 kamar yang terbagi dalam sembilan lantai, dengan dua buah guest elevator yang menjadi alat angkut tamu dari satu lantai ke lantai lainnya. Ada beberapa kategori kamar yang disediakan oleh hotel berbintang empat ini, yaitu: Superior, Deluxe, Junior Suite, Executive Suite, dan sebagai puncak layanan mewahnya adalah sebuah Penthouse yang terletak di lantai paling atas.
Masing-masing kamar memiliki jendela dengan pemandangan lepas ke arah kota dan atau pelabuhan.

Selain itu, hotel ini juga memiliki sembilan jenis ruang pertemuan. Dimana Crystal Ballroom yang merupakan aula pertemuan terluasnya memiliki ukuran 513 m persegi, yang mampu menampung hingga 922 orang. Ruang-ruang pertemuan tersebut terletak di lantai dua, tepat di atas Mezzanine Lounge yang biasanya digunakan untuk pertemuan-pertemuan informal dalam skala kecil dan casual.
Kamar Nyaman dan WiFi Super Cepat
Sebuah kamar berjenis superior twin dengan luas lantai 24 m persegi, saya pilih selama menginap di hotel tersebut. Jendelanya yang besar memungkinkan cahaya dari luar menerangi kamar yang saya inapi, sementara imaji kota Semarang dari ketinggian menjadi pemandangan pelengkap kamar. Saya paling suka kamar dengan jendela dan pemandangan seperti ini, karena jika malam tiba saya dapat menatap pemandangan kerlap kerlip lampu kota, sebelum masuk ke dunia mimpi.

Begitu sampai di kamar, saya segera merebahkan diri di atas ranjang yang empuk dan berlapis linen putih super bersih. Sembari melepas lelah, saya mengeskplor 47 channel hiburan yang tersambung ke televisi layar datar yang menjadi fasilitas kamar. Lagi, dan lagi alunan Gambang Semarang menjadi pembuka layar begitu televisi saya nyalakan.
Selain sarana hiburan tersebut, kamar yang saya inapi juga dilengkapi dengan sebuah meja tulis panjang bersama sebuah kursi nyaman berdesain kontemporer, yang dirancang ergonomis sehingga membuat siapapun betah untuk beraktifitas di sana. Sementara sebuah lemari pendingin minibar dan ketel elektrik tersedia tak jauh darinya.

Satu hal yang saya sukai dari kamar tersebut adalah tersedianya colokan listrik dalam jumlah yang cukup memadai dan tersebar di beberapa tempat. Dalam dunia serba digital dimana gadget menjadi pelengkap hidup sehari-hari, ini adalah fasilitas wajib sebuah inapan. Sudah barang tentu juga akses WiFi. Ini super wajib! Dan harus diakui Hotel Aston Semarang sangat memperhatikan urusan ini.
Meskipun mereka membagi password WiFi nya dalam dua kategori -yaitu untuk di kamar dan di area publik-, namun akses WiFi yang mereka sediakan sungguh bagus, cepat, dan dapat diandalkan sepanjang waktu. Terhitung saya sempat meng-upgrade Operating System MacBook saya dalam waktu yang cukup singkat, ketika menginap di sana.

Hotel Aston Semarang juga mendesain lemari serta rak baju dengan gaya yang unik. Sebuah pintu geser dirancang berfungsi ganda sebagai cermin, yang dengan menggesernya saya dapat mengakses rak atau gantungan baju dan safe deposit box sesuai kebutuhan.
Kamar mandinya meskipun tidak terlalu luas, namun tata ruangnya tidak menyulitkan pengguna. Walaupun tidak dilengkapi oleh shower station khusus, namun ada sebuah anti slip mat yang dapat dipasangkan pada lantai bath tub, sehingga meningkatkan keamanan bagi siapapun yang ingin mandi dengan menggunakan shower.

Jade Café dan Area Bersantai di Lantai Tiga
Setelah matahari agak sedikit bergulir ke barat, saya pergi menuju kolam renang yang berada di lantai tiga, untuk bersantai menanti senja dan mendinginkan diri.
Kolam tersebut terletak pada satu area yang sama dengan fitness center, Seruni Spa, dan tepat berada di samping luar Jade Café and Resto yang dirancang sebagai all day dining place.

Meskipun pemisah antara café dan kolam renang, berupa jendela-jendela kaca berukuran besar, namun kenyamanan para pengguna kolam sedikit terlindungi dengan adanya lapisan-lapisan buram yang ditempel pada permukaan kaca. Memang kedalaman maksimumnya hanya 150 cm, dan ukurannya tidak terlalu besar, namun kolam renang berair sejuk ini cocok untuk dijadikan sebagai tempat pelepas penat dari hawa kota Semarang yang panas, terutama pada waktu sore hari.

Selama dua hari berturut-turut saya menikmati sarapan pagi di Jade Café and Resto. Menu sarapan yang mereka sediakan termasuk beragam dan berlimpah.
Mulai dari buah-buahan segar, beraneka salad, sushi, buah kering, hingga flavored yoghurt yang diletakkan pada cold station. Lalu ada deretan menu Western, dan menu tradisional, beraneka pastry, kue-kue jajan pasar, serta beragam jenis minuman segar. Tak salah jika acara sarapan pagi merupakan salah satu momen favorit saya selama berada di sana.


The Most Strategic Hotel in Town
Selama tinggal di Hotel Aston Semarang, saya tidak pernah merasa mati gaya, karena letak hotel ini yang sangat strategis. Hanya dengan melangkahkan kaki, saya sudah bisa menikmati romantisme Little Netherland yang kaya akan bangunan-bangunan era kolonial Belanda nan kental. Gereja Blenduk, Kafe Spiegel, Tekodeko Koffiehuis , Taman Srigunting dengan pasar loaknya yang unik, Kantor Pos Besar, dan Tonggak Titik Nol Semarang adalah beberapa spot menarik yang bisa dicapai dengan mudah dari hotel tanpa berkendara.
Sementara pusat kota Semarang modern, Pecinan, Kauman, ataupun spot-spot bersejarah lainnya seperti Tugu Muda, Klenteng Sam Po Kong dan bangunan Lawang Sewu yang fenomenal, dapat dicapai dalam waktu singkat dengan berkendara, karena hotel ini terletak pada jalan utama yang aksesnya cukup lancar. Bahkan dalam hitungan kurang dari 30 menit pun, saya sudah dapat mencapai Bandara Internasional Ahmad Yani yang terletak di daerah Kali Banteng.
Bagi saya menginap di Hotel Aston Semarang yang berada di kawasan kota tua, merupakan salah satu pengalaman akhir pekan terbaik di kota tersebut. Dan seperti biasa, saya melakukan pemesanan kamar melalui Agoda.com demi jaminan harga terbaik, serta kualitas rekomendasi yang terpercaya.
Aston Semarang Hotel and Convention Center
Jl. M.T. Haryono no. 1,
Semarang 50000,
Jawa Tengah, Indonesia.
Phone: +62 24 3566 869
Fax: +62 24 3566 878
email: [email protected]
http://semarang.astonhotelsasia.com
Keberadaan situs biorock terluas di dunia, karang-karang dangkal, posisinya yang lebih dekat ke surga snorkeling dan penyelaman Taman Nasional Bali Barat -juga Lovina-, serta suasananya yang lebih tenang, menjadi beberapa alasan yang membuat Pemuteran layak untuk diperhitungkan.
Ibarat harta karun ajaib, Bali adalah sebuah destinasi wisata di Indonesia yang tak ada habis-habisnya meskipun digali berulangkali. Selalu ada saja hal-hal menarik yang baru, atau belum tersentuh di pulau yang dihunjami ribuan pura ini. Bahkan setelah berpuluh-puluh tahun melalui masa booming kunjungan wisata, masih ada sisi-sisi pulau ini yang tetap alami dan menarik minat wisatawan untuk berkunjung. Salah satunya adalah Pemuteran.
Sejatinya Pemuteran adalah sebuah desa nelayan kecil, yang terletak di bagian barat laut pulau dewata. Berjarak sekitar 130 km dari Bandara Ngurah Rai Denpasar, tempat ini bisa dicapai dengan 3-4 jam berkendara, melalui bagian tengah pulau Bali yang mempesona.
Berbeda dari pantai-pantai lain yang lebih terkenal di sisi selatan, Pemuteran tak memiliki hamparan pasir putih dengan sapuan kuas laut berwarna biru menggoda. Melainkan berpasir coklat hitam, yang membuat laut di Pemuteran lebih kelam jika dilihat dari bibir pantai. Tak ada dentuman musik hingar bingar, selayaknya Kuta yang riuh hingga tengah malam. Ataupun surfer-surfer yang memamerkan tubuh atletis mereka yang gosong terbakar matahari.
Meski tanpa pasir putih dan gulungan ombak, Pemuteran memiliki sisi-sisi yang menarik untuk dinikmati. Keberadaan situs biorock terluas di dunia, karang-karang dangkal, posisinya yang lebih dekat ke surga snorkeling dan penyelaman Taman Nasional Bali Barat -juga Lovina-, serta suasananya yang lebih tenang, menjadi beberapa alasan yang membuat Pemuteran layak untuk diperhitungkan.
A Sanctuary in the Alley
Pada setiap trip penyelaman, tak ada yang lebih penting daripada istirahat pada setiap jeda (surface interval) dan merehatkan diri di malam hari setelah seharian menguras tenaga di dalam air. Pilihan tempat menginap selalu menjadi masalah krusial yang menjadi pertimbangan. Dimana kemewahan tak melulu menjadi syarat, melainkan kenyaman dan ketenangan. Arjuna Homestay di Pemuteran adalah salah satu inapan yang memenuhi syarat tersebut.
Saya menginap di tempat ini ketika melakukan penyelaman di perairan Pulau Menjangan – Taman Nasional Bali Barat dan teluk Pemuteran, pada awal April 2015 lalu. Meskipun penandanya terletak pada pinggir jalan utama, namun aslinya penginapan ini berada sedikit agak masuk ke dalam gang. Jujur pada awalnya saya sempat kecewa, karena berpikir akan menginap pada akomodasi yang lebih dekat dengan bibir pantai. Namun, begitu saya melewati gerbang penerimaannya yang terbuat dari kayu berukir, pikiran saya segera berubah. Sebuah oase tenang langsung menyita pandangan saya. This is a sanctuary in the alley!

Panorama area komunal Arjuna Homestay. Kolam berair bening yang dipayungi keteduhan pohon. Tenang dan menyenangkan.
Dari area penerimaan tamu, saya langsung bisa melihat bagian lain dari penginapan ini yang berada di dalam. Sebuah ruang makan yang bersandingan dengan dapur pada area semi terbuka, dengan arah pandang yang langsung menuju pada kolam renang yang dipayungi keteduhan pepohonan, membuat saya ingin segera merehatkan diri setelah berjam-jam terpaku pada kursi mobil.
Penginapan yang mulai beroperasi pada bulan Juli 2013 ini, memiliki enam belas kamar yang terletak pada sebuah bangunan memanjang berlantai dua. Kamar yang tersedia pada penginapan ini terdiri dari beberapa jenis, yaitu: double, triple dan family (untuk empat orang). Sementara paket kamar yang menyatu dengan trip penyelaman bagi para diver juga disediakan oleh penginapan yang bekerja sama dengan dive operator, Dive Concepts, yang berkantor di area Arjuna Homestay.

Kamar-kamar di Arjuna Homestay (photo: http://www.tripadvisor.co.au).
Meskipun dilengkapi oleh pendingin udara, setiap kamar langsung memiliki akses ke alam luar. Dimana pada lantai dasar teras-teras terbuka yang mengarah ke taman dan kolam renang melengkapi masing-masing kamar, sementara balkon-balkon yang dilengkapi dengan kasur santai menjadi bagian dari kamar-kamar di lantai dua.
Saya pribadi menyukai kamar pada lantai dua, karena balkonnya langsung menghadap pada barisan bukit hijau di kejauhan, yang menjadi benteng pemisah teluk Pemuteran dengan bagian lain pulau Bali di arah selatan.
Area kolam renang di Arjuna Homestay, merupakan salah satu titik penting dari inapan ini. Terletak pada taman, dengan naungan pepohonan rindang, dan dilengkapi dengan grojogan kecil yang menghadirkan suara gemericik air yang menenangkan. Kolamnya terbagi menjadi dua, bagian dangkal dan yang dalam. Dimana pada sisinya ditempatkan beberapa bean chair, serta meja kecil yang memungkinkan pengunjung untuk bersantai, bersosialisasi, sembari melepas lelah. Sementara pada sisi timur kolam, terdapat sebuah gazebo yang dilengkapi dengan massage table.
Selama menginap di Arjuna Homestay, area kolam renang ini menjadi favorit saya. Mulai dari sekedar menghabiskan waktu surface interval, hingga mengobrol dan online menikmati fasilitas WiFi yang disediakan oleh penginapan. Dan berbicara soal WiFi, akses internet yang dimiliki oleh Arjuna Homestay termasuk sangat cepat, tidak hanya pada area terbukanya saja, melainkan juga sampai ke dalam kamar.
Selain kolam renang, area makan adalah fasilitas komunal lain yang sangat menyenangkan di Arjuna Homestay. Selain fungsi utamanya, di area ini saya sering menghabiskan waktu untuk online dan menulis, selama tinggal di Pemuteran. Dan karena dikelola oleh bule Perancis, aksen-aksen eksotis bersengau, menjadi latar belakang suara yang paling sering saya dengar selama berada di tempat tersebut. Mungkin penginapan ini merupakan salah satu yang sering direkomendasikan bagi para wisatawan penutur bahasa Perancis.

Area makan (photo: http://www.arjuna-homestay.com)
Dive Concepts
Sesungguhnya, adalah Dive Concepts yang menjadi cikal bakal dari lahirnya Arjuna Homestay. Karena pada awalnya penginapan ini dibangun untuk mengakomodir operasi Dive Concepts yang ingin membuka cabang di area Pemuteran, selain kantor pertamanya yang berada di Tulamben.
Dive Concept sendiri menawarkan paket-paket wisata snorkeling dan diving, termasuk kursus bagi para wisatawan yang berminat namun belum memiliki sertifikat. Baik mereka yang memang tinggal di penginapan tersebut, maupun di penginapan lain yang berada di sekitarnya.

Selfie, setelah menyelam di perairan Pemuteran, dengan latar belakang perbukitan yang membentengi teluk.
Terlepas dari Anda ingin snorkeling, diving, atau sekedar melepaskan diri dari hiruk pikuknya pulau Bali. Maka Arjuna Homestay, adalah salah satu penginapan yang layak untuk dipertimbangkan. Memang penginapan ini agak masuk ke dalam gang, namun pantai Pemuteran yang santai serta situs biorock yang mengagumkan tersebut, bisa diakses hanya beberapa menit berjalan kaki saja dari penginapan ini.
Harganya yang terjangkau, dengan fasilitas yang baik dan bersih, serta tempatnya yang nyaman, menjanjikan sebuah kunjungan yang tak terlupakan di bagian barat laut pulau Bali yang tenang.
Arjuna Homestay Pemuteran
Jl. Arjuna, Desa Pemuteran,
Gerokgak Buleleng, Bali
+62 812 3635 1739 / +62 36 2343 7304
[email protected]
http://www.arjuna-homestay.com
Hutan tropis yang lembab dan hijau, suku Dayak pedalaman dengan rupa dan riasan uniknya, serta hijau toska perairan yang masih asing terjamah adalah gambaran Kalimantan yang saya rekam dari media-media, selain pasar terapung di Banjarmasin yang terkenal itu.
Sehingga, ketika Signatures Restaurant dari Hotel Indonesia Kempinski Jakarta menggelar Indonesian Food Promotion yang merupakan festival masakan dari lima wilayah kuliner di Indonesia, tanpa ragu-ragu saya menunjuk Kalimantan sebagai pilihan. Demi mengenal pulau satu ini lebih dekat.
Saya tiba di Hotel Indonesia Kempinski, pada jam makan siang di hari terakhir bulan Agustus 2015. Itu adalah kali pertama bagi saya menginjakkan kaki di hotel paling legendaris di Jakarta tersebut.
Meskipun sudah mengalami renovasi, namun tetap, bangunan utama hotel itu menguarkan nuansa enampuluhan yang kuat. Dingin dan gigantik. Dan saya gugup.
Namun, sambutan ramah staff penerima tamu, segera mencairkan perasaan itu. Dan semakin terasa santai begitu memasuki Signatures Restaurant.
Terletak pada lantai dasar hotel, Signatures Restaurant memiliki desain interior modern kontemporer yang menyajikan suasana makan yang menyenangkan. Atap-atap kaca disusun sedemikian rupa sehingga membebaskan cahaya matahari menghujani ruangan tanpa mengurangi kenyamanan pengunjung. Pelat-pelat logam berlubang bermotif daun menjadi separator elegan yang memisahkan area indoor dan outdoor. Sementara foto-foto duotone dari tahun enampuluhan menghiasi beberapa bagian dinding, demi menegaskan status legendarisnya. Termasuk imaji Presiden Soekarno, Marylin Monroe dan Presiden John F. Kennedy yang tercetak dalam ukuran besar.
Demi menyajikan keotentikan kuliner Kalimantan, Signatures Restaurant mendatangkan langsung Chef Meliana Christanty dari Pangkalan Bun – Kalimantan Tengah, sebagai Chef de Cuisine di minggu keempat gelaran tersebut.
Meskipun berasal dari Jawa Tengah, dan masih terasa medok aksen Jawa dalam caranya bertutur, namun chef nan ramah ini telah dikenal luas dedikasinya dalam menjaga dan mengenalkan kuliner khas Kalimantan. Terhitung beberapa resep rahasia dari suku Dayak dan kerajaan di Kalimantan ia perkenalkan pada minggu itu.
“Karena misi pribadi saya adalah memperkenalkan dan menjaga kelangsungan warisan kuliner tradisional Kalimantan”, ujarnya dalam wawancara pribadi melalui whatsapp beberapa hari kemudian bersama saya.
Selama satu minggu penuh, ia bersama team nya menyiapkan satu jenis soup, delapan hingga sepuluh jenis main course, dua jenis masakan di carving station dan dua hingga empat jenis dessert khas Kalimantan, yang berganti-ganti setiap harinya.
Empat Sekawan Pembuka
Dengan antusiasme tinggi, saya mulai menyibak misteri Kalimantan melalui indera pencecap. Sebagai pembuka saya memilih beberapa sajian dari cold kitchen nan eksotis, yaitu Rujak Ebi Singkawang, Lawa Mentimun, Lawa Gamai, dan Landau Lauk Pare.
Lidah saya mengenal rasa manis dan masam rujak jawa pada Rujak Ebi Singkawang. Namun ada aksen gurih udang terselip di antara buah-buahan yang menjadi pengisi utamanya. Karena memang rujak ini menggunakan petis dan terasi Kalimantan. Ditambah dengan ebi goreng yang dihaluskan sebagai taburan terakhir sebelum rujak ini disajikan. Sebuah pembuka yang cocok untuk menetralkan lidah yang pahit setelah terakhir bersantap di waktu sarapan!
Lawa Gamai yang merupakan hidangan khas Kesultanan Bulungan Kalimantan Utara, menambah satu khasanah baru pada masakan berbahan rumput laut yang pernah saya coba. Selama ini saya hanya menyantap bahan ini pada minuman segar semacam es campur dan masakan Jepang.
Lawa Gamai terdiri atas rumput laut yang diberi bumbu lawa -kelapa parut sangrai tumbuk, air jeruk nipis, gula pasir, garam, dan cabai rawit merah- dengan suwiran udang galah sebagai pelengkap. Menjadikan masakan ini ibarat jembatan menuju main course yang gurih dan lebih berat. Rasanya ringan dan samar, menuntun saya lebih dalam untuk menelisik kuliner Kalimantan. Tidak ada yang berlebih. Asin, manis, asam, pedas dan gurih berpadu pada komposisi yang pas, tanpa satu mendominasi lainnya.

Empat pembuka khas Kalimantan yang istimewa. Dari kanan atas searah jarum jam: Lawa Mentimun, Landau Lauk Pare, Rujak Ebi Singkawang, Lawa Gamai.
Sementara Lawa Mentimun sedikit berbeda. Buah mentimun yang berkarakteristik hambar dan kaya air, diolah dengan bumbu lawa sehingga menaikkan citarasanya. Kesedapan mendera lidah, setiap kali irisan mentimun berbumbu tersebut pecah dalam kunyahan.
Dan dari semua pembuka tersebut, Landau Lauk Pare menjadi favorit saya. Normalnya saya tidak menyukai buah pare, namun demi mengenal Kalimantan dalam kesempatan yang langka itu, saya menantang diri sendiri untuk mencoba hidangan pembuka satu ini. Dimana buah pare mentah diolah dengan bumbu khusus sehingga merubah penampakannya seolah telah dalam kondisi setengah matang.
Dengan berhati-hati saya menyuap pembuka tersebut dan mengunyahnya. Tentu saja ia pahit. Getir menyebar. Namun, bumbu peramunya segera menghadirkan citarasa sedap.
Sungguh tak dinyana, dalam sekejap saya menandaskan Landau Lauk Pare. Anehnya, tak ada rasa pahit yang bertahan lama di lidah. Satu kalimat yang pantas dijadikan penyimpul dari kuliner satu ini: pahit sekejap, menyisakan sedap!
Sate Berkuah, Sambal Dayak hingga Soto Cassava
Ada sekitar sepuluh jenis main course yang dihidangkan pada hari itu. Tentu saja kalau mengikuti nafsu, saya ingin mencicipi semuanya. Dan ketika melihat jumlahnya yang cukup banyak, saya merasa harus mengatur strategi. Namun, pada akhirnya saya memilih untuk mencoba beberapa yang sekiranya paling unik saja.
“Coba Sate Ayam Melayu nya mas, unik banget lho! Saya ambilkan ya?”, tiba-tiba Chef Meliana muncul di samping saya yang sedang bingung di depan meja main course, dan mau memulai dari mana.
Dengan berbaik hati, ia mengambilkan satu porsi Sate Ayam Melayu untuk saya, sembari menjelaskan perihal tentang masakan tersebut. Sate yang berasal dari Malayu – Kalimantan Barat ini, ketika masih tertata di atas wadah saji, sekilas hampir tidak memiliki perbedaan dengan sate lainnya. Namun, ketika seporsi sate tersebut sedang dipersiapkan oleh Chef Meliana, barulah terlihat keunikannya.
Jika pada umumnya sate disajikan hanya dengan disiram bumbu kacang, kecap atau oncom -seperti Sate Maranggi Jawa Barat-, maka Sate Ayam Melayu justru dihidangkan dengan kuah kaldu.
Mangkuk sate diisi dengan potongan ketupat, lalu disiram kuah kaldu. Beberapa tusuk sate ditaruh di atasnya, lalu ditaburi potongan daun bawang segar dan bawang goreng. Setengah potongan buah jeruk limau ditambahkan, untuk penambah rasa dari kuahnya.
Sate ini selain dibuat dari daging ayam juga bisa dari daging sapi. Dan kuah kaldu yang digunakan selalu mengikuti jenis daging satenya. Di tempat aslinya, jenis jeruk yang digunakan biasanya adalah jeruk Kit Kia atau Sengkit, yang merupakan jenis jeruk sambal Pontianak.
Sate Ayam Melayu terasa manis dan berempah, karena memang dimarinasi oleh bumbu yang cukup padat, termasuk ketumbar dan perasan jeruk Kit Kia. Sementara kuah kaldunya yang diberi kayu manis dan bunga pekak, terasa gurih dengan aroma yang menggoda. Originally unique!
Pada meja yang sama dengan Sate Ayam Melayu, saya melihat sebuah cobek batu yang berisi semacam bumbu yang telah dihaluskan. Ternyata itu adalah sambal khas suku Dayak Kahayan dari Kalimantan Tengah. Sambal Dadah Belasan namanya.
“Dadah artinya bakar, dan belasan artinya terasi!”, ujar Chef Meliana menjelaskan.
Sambal yang terbuat dari cabai merah, bagian dalam daun serai, kemiri, bawang merah dan terasi ini memiliki penampilan yang semi padat dan berserat.
Bumbu penyusun sambal ini disiapkan melalui metoda yang berbeda-beda -mentah, goreng, bakar-, lalu dihaluskan menjadi satu. Setelah itu, sambal dilekatkan pada cobek tanah liat berukuran kecil dan dibakar langsung, dengan cara dibalik, di atas arang yang membara.
Pembakaran di atas arang ini selain berfungsi untuk menaikkan citarasa sambal, juga untuk memperkuat aroma terasi yang berada di dalamnya.
Biasanya sambal ini digunakan sebagai pelengkap dalam menyantap ikan atau ayam bakar. Namun, dimakan langsung dengan nasi pun sudah cukup sedap.
Saya mencoba sambal ini bersama beberapa kerat Iwak Baubar (ikan bakar) dan Iga Sapi Masak Habang a la Banjarmasin – Kalimantan Selatan, yang terhidang di carving station.
Masak habang sendiri maksudnya adalah dimasak dengan bumbu-bumbu dan cabe habang, atau cabai merah besar yang dikeringkan. Menurut Chef Meliana, biasanya yang bisa dimasak habang adalah bahan berdasar protein seperti telur ayam, telur bebek, daging sapi, daging bebek, ampela dan hati ayam atau bebek.
Meskipun dimasak dengan cabai, namun Iga Sapi Masak Habang ini tidak terlalu pedas di lidah. Bumbunya berpadu pas bersama keratan daging iga yang empuk dan juicy. Rasanya saya ingin menambah beberapa kerat daging iga ini, tapi karena masih ada beberapa jenis masakan lain yang belum saya coba, maka saya mengurungkannya.
Selanjutnya saya mencoba satu-satunya jenis soup yang dihidangkan hari itu. Soto Manggala dari Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Sesuai dengan namanya, Manggala yang berarti cassava atau singkong, maka soto jenis ini memang menggunakan umbi tanaman tersebut sebagai bahan utamanya, selain daging ayam sebagai bahan lainnya.
Di tempat asalnya, bagian ayam yang paling umum digunakan adalah kaki atau cekernya. Namun, khusus untuk di Signatures Restaurant, Chef Meliana memilih bagian dada ayam untuk dimasak dan disajikan.
Walau dibumbui dengan beberapa rempah, namun kaldu dari Soto Manggala ini terasa ringan di lidah. Kuahnya tak terlalu kental, meskipun mengandung singkong yang kaya pati. Saya sangat menyukai rasa soto ini, baik tanpa atau dengan sambal yang saya tambahkan. Dan sedikit perasan jeruk nipis, membuat soto ini terasa semakin sedap.
Bebek Masak Lo, yang merupakan masakan peranakan dari Pontianak, menjadi salah satu jenis main course yang saya coba selanjutnya.
Menurut saya, bebek adalah salah satu jenis daging yang agak tricky untuk diolah, karena seringkali terasa liat dan amis. Namun, teknik memasak yang digunakan oleh Chef Meliana, mampu menghasilkan masakan bebek yang sangat enak di lidah.
Dimasak dengan api kecil dalam waktu lama bersama bumbu yang diantaranya adalah bawang putih, lengkuas, dan mushroom soy sauce, menjadikan daging bebek pada masakan ini terasa lembut serta tak berbau amis.
Menurut saya, secara umum masakan pembuka dan main course Kalimantan memiliki rasa yang ringan. Meskipun menggunakan banyak rempah, terkadang rasanya tidaklah setegas masakan dari wilayah lain seperti Sumatra, Jawa, Bali atau Sulawesi. Namun, begitu mungkin di sinilah letak daya tarik masakan Kalimantan. Samar dan misterius seperti tanahnya.
Dua Sejoli Penutup
Perut saya memang belum terasa penuh, namun saya memutuskan untuk segera berpindah ke menu penutup, karena saya tak ingin selera di lidah saya menjadi turun akibat kekenyangan. Saya melangkah ke meja dessert dan melihat-lihat apa yang sudah disiapkan hari itu.
Semangkuk Bubur Gunting dan seporsi Es Sarang Burung Walet tampak segar menggoda, dan cocok untuk dijadikan penutup makan, pada siang itu.
Bubur Gunting terdiri dari guntingan cakue goreng yang dicampurkan pada bubur kacang hijau kupas yang agak encer dan dimasak dengan daun pandan sebagai pengharum. Bubur yang memiliki pengaruh peranakan Tionghoa ini disajikan tanpa es dan dalam suhu ruang. Meskipun isi dari bubur ini tidak asing bagi saya, namun cara penyajiannya adalah sesuatu yang baru. Saya menikmatinya pelan-pelan, sembari membuat catatan kecil pada notebook.
Sesuai dengan namanya, Es Sarang Burung Walet seharusnya memang berisi sarang burung yang terkenal mahal tersebut. Tapi, akibat dari harganya yang cukup tinggi di pasaran, maka siang itu serutan agar jelly dijadikan sebagai penggantinya. Namun begitu kesegaran menu penutup satu ini tetap menyenangkan. Bersama dengan potongan buah longan dan jujube atau kurma merah, serutan agar jelly berpadu dalam kesegaran es dan cairan gula yang manis.
Lengkap sudah acara makan saya siang itu.
Tak terasa hampir tiga jam saya berada di Signatures. Staff restaurant tampak mulai berbenah, merapikan kembali beberapa sisi ruangan untuk acara makan nanti malam. Saya segera berkemas. Merapikan photogears dan notebook, yang menjadi senjata saya siang itu.
Sebelum pulang saya sempat bertemu kembali dengan Chef Meliana di area penerimaan tamu. Kami berbincang sejenak dan saya menyempatkan diri untuk membuat profile-portrait nya.
“Kalau perlu info lebih detail, jangan sungkan kontak saya ya. Boleh lewat whatsapp!”, pesannya ramah.
Ia menekankan bahwa besar harapannya agar kami para blogger dapat membantu untuk memperkenalkan masakan khas Kalimantan, yang mulai terancam punah keberadaan dan keotentikannya. Terlebih dengan mulai banyaknya kerusakan alam yang mengancam bahan-bahan alami dan endemik yang diperlukan bagi masakan khas daerah tersebut. Bagi saya, ini adalah salah satu pesan mendalam dari acara makan, siang itu.
Dalam rangka memperingati ulang tahunnya yang ke 53 dan ulang tahun ke 70 Republik Indonesia, Hotel Indonesia Kempinski Jakarta menggelar acara Indonesian Food Promotion. Dimana beberapa masakan Indonesia terpilih dan otentik dari lima wilayah kuliner yang berbeda diperkenalkan selama lima minggu berturut-turut, oleh para chef yang telah berpengalaman dan memiliki dedikasi dalam pelestarian masakan khas Indonesia.
Indonesian Food Promotion ini digelar mulai tanggal 5 Agustus hingga 8 September 2015. Bagi Anda yang berminat untuk mencicipi kekayaan Indonesia ini, masih ada tiga hari tersisa, dimana Chef dan ‘Duta Besar Kuliner Indonesia’ Petty Elliott akan memimpin langsung team nya untuk menyajikan masakan khas dari Sulawesi dan Maluku.
Karena tempat terbatas, jangan lupa lakukan reservasi terlebih dahulu ke Signatures Restaurant pada nomor kontak (021) 2358 3898!
Dengan hanya berbekal iPhone, saya berusaha mendokumentasikannya.
Lokasi yang Strategis
Ketika mengunjungi Solo untuk pertamakalinya di bulan Agustus 2014, saya memilih tinggal di Rumah Turi. Cuplikan gambar beberapa sudutnya yang rimbun oleh pepohonan hijau, menarik minat saya sejak awal melihatnya di internet.
Sepertinya akan menjadi satu paduan kontras yang menarik, jika saya bisa mengeksplor kota Solo seharian dan kemudian beristirahat di penginapan yang memberikan kesejukan suasana pedesaan, tanpa perlu menempuh jarak yang jauh ke pinggiran kota.
Rumah Turi berada pada jantung kota dan dekat dengan pusat perbelanjaan Solo Paragon, serta memiliki akses yang mudah untuk mencapai tempat-tempat wisata menarik dan situs sejarah di Solo. Sementara Stasiun Solo Balapan dan Bandara Adi Sumarmo bisa ditempuh hanya dalam waktu duapuluh menit berkendara.
Meskipun harus melalui jalan perumahan penduduk untuk mencapainya, namun penginapan ini relatif mudah untuk ditemukan.
Friendly, Greeny, and Homy
Koneksi saya dengan keriuhan kota serasa langsung terputus begitu tiba di Rumah Turi. Meja penerimaan tamu yang berada pada area semi terbuka hijau, memberikan saya rasa santai dan nyaman. Ditambah lagi dengan keramahan a la Jawa yang bersahabat dari petugas resepsionis. Saya merasa diterima di rumah teman, sesuai dengan motto mereka: It’s a home where guests are always welcome as good friends.
Tampaknya Rumah Turi sengaja didesain untuk memberikan suasana tempat istirahat yang nyaman, dengan memadukan unsur alami tradisional dan sentuhan kontemporer. Diresmikan pada tahun 2008, langsung oleh Walikota Solo saat itu Joko Widodo (kini Presiden Republik Indonesia), Rumah Turi mengklaim sebagai boutique hotel yang pertama dan satu-satunya yang berkonsep eco-friendly di kota Solo.
Pepohonan hijau tampak mendominasi seluruh bangunan. Mulai dari pot-pot kecil yang dimanfaatkan sebagai separator berbentuk taman vertikal, tanaman bersulur yang dijadikan pergola pada jembatan penghubung, hingga rerumputan yang ditumbuhkan pada dak atap-atap teras kamar. Sebuah pot berisi flora air dan menjadi kolam kecil yang selalu meluapkan isinya, memperdengarkan gemericik air yang menambah kesejukan serta ketenangan bagi siapapun yang mendengarnya.
Bangunan Rumah Turi sendiri memiliki desain minimalis masa kini, yang didominasi oleh warna coklat dan menggunakan unsur kayu sebagai penambah aksen. Terdiri dari dua lantai yang berisi kamar-kamar, kantor dan ruang logistik, sebuah ruang makan dan dapur, serta area duduk terbuka hijau.
Ada tiga pilihan jenis kamar yang tersedia di Rumah Turi. Yaitu Sereh sebanyak delapan kamar; Wuni yang memiliki indoor-garden juga sebanyak delapan kamar; serta Kemuning yang merupakan jenis kamar terluas, sejumlah dua kamar saja.
Saya memilih tinggal di kamar jenis Sereh, yang merupakan jenis kamar terhemat. Namun begitu, kamar itu sangatlah nyaman. Ranjangnya bersih dan empuk. Sebuah meja tulis gantung berdesain apik yang terbuat dari kayu, terpasang memanjang di bawah televisi yang berisi bermacam-macam saluran hiburan. Kamar mandinya yang didominasi oleh keramik dan peralatan berwarna putih terlihat bersih, sementara saluran air panas pada showernya juga berfungsi dengan baik. Sebuah lemari gantung serta meja kayu yang modern, ditempatkan tepat di depan pintu kamar mandi, cukup untuk menampung sementara bawaan saya selama perjalanan.
Sesuai dengan konsep eco-friendly nya, lampu utama kamar yang saya tempati menggunakan LED yang hemat energi.
Ruang Makan Bernuansa Taman
Ruang makan tempat bersantap di Rumah Turi, adalah surga lainnya. Lantai, meja makan dan tempat duduknya terbuat dari kayu. Jendelanya yang berbukaan lebar selalu dibuka, sementara salah satu sisi dindingnya berupa separator taman vertikal yang langsung mengarah ke area terbuka di luar. Satu lemari berbentuk kotak-kotak bersusun, berisi koleksi buku-buku dan bacaan lainnya membuat saya semakin betah berlama-lama makan di ruangan tersebut.
Sarapan yang disediakan oleh penginapan ini bukanlah buffet, melainkan ada beberapa menu yang dapat dipesan sehari sebelumnya. Saya memilih Nasi Liwet Solo sebagai salah satu pilihan sarapan selama tinggal di Rumah Turi. Sepiring sedang buah-buahan dan segelas jus segar, dijadikan tambahan pada setiap sarapan yang saya pesan.
Suara cicitan burung peliharaan dan gemericik air pancuran, hijaunya tanaman pembatas, serta udara segar yang mengalir bebas keluar masuk ruang makan, membuat saya merasa sedang bersantap di taman, pada setiap kali sarapan.
Taman Gantung dan Sahabat Seketika
Satu bagian menarik yang dimiliki oleh penginapan ini adalah, sebuah area duduk semi terbuka yang terletak pada lantai atas. Saya menyebutnya Taman Gantung.
Bentuknya mirip rumah kaca yang ada pada film-film barat. Terletak pada lantai atas, dengan atap yang terbuat dari fiber glass tembus cahaya, serta sisi-sisinya terbuka dan ditumbuhi tanaman sulur sebagai pergola. Sebuah meja dan beberapa tempat duduk, disediakan di situ. Saya sempat duduk-duduk sembari menikmati horison kota Solo yang dipenuhi oleh bangunan di kejauhan. Tak ada orang lain. Hanya saya, dan sayup-sayup gemericik air dari pancuran dan kolam di lantai bawah yang menemani.
Bukan Solo namanya, jika tak ada orang-orang yang berbudi bahasa lemah lembut serta ramah. Kehangatan para staff yang bertugas di Rumah Turi sangat mengesankan saya. Ketika malam hari saya menanyakan letak apotik terdekat untuk membeli obat batuk, salah seorang staff menawarkan diri untuk membelikan obat sementara saya bisa tetap beristirahat di kamar. Kemudian keesokannya staff lainnya menanyakan agenda saya hari itu, dan memberikan saran serta petunjuk jalan bagi saya yang ingin mengeksplor Solo seorang diri.
Namun, seperti kata pepatah: tak ada gading yang tak retak. Ada beberapa hal dari Rumah Turi yang menurut saya bisa menjadi room-for-improvement. Seperti misalnya sambungan WiFi nya yang sering tersendat dan kurang baik ketika di dalam kamar, lampu utama kamarnya yang terlalu temaram, dan desain kamar mandi nya yang perlu sedikit diperbaharui.
Terlepas dari itu semua, waktu yang saya habiskan di Rumah Turi cukup menyenangkan. Saya merekomendasikan bagi siapapun yang ingin berkunjung ke Solo, dan membutuhkan sebuah inapan yang berbeda, bersahabat, nyaman namun tetap hemat, maka Rumah Turi adalah jawabannya.
Rumah Turi
The first and only Eco-friendly Boutique Hotel in Solo
Jl. Srigading II no. 12 Turisari,
Solo 57139,
Jawa Tengah, Indonesia.
Phn : 62 271 736606
Fax : 62 271 712928
email : [email protected]
http://www.rumahturi.com
Sebagai orang yang lahir di Yogyakarta dan jatuh cinta pada kota tersebut, maka menyantap gudeg menjadi agenda yang tidak boleh saya lewatkan setiap kali mengunjunginya. Bayangan akan kesedapan hidangan tersebut menjadi salah satu pengikat erat yang membuat saya ingin mengunjungi Yogyakarta lagi dan lagi.
Gudeg bukan hanya sekedar masakan, melainkan juga simbol yang mempersatukan banyak kalangan, karena ia bisa dinikmati mulai dari warung-warung kaki lima hingga resto-resto besar yang tertata rapi. Dan mungkin juga, masakan ini menjadi salah satu menu yang dihidangkan di atas meja makan Sultan Yogyakarta.
Namun begitu, sering terbersit dalam benak saya, rasa penasaran: seperti apakah sejatinya hidangan para Sultan dan keluarga Kesultanan Yogyakarta?
Atau, apakah ada menu-menu khusus yang dihidangkan di Bangsal Andrawina Istana?
Bale Raos: Royal Cuisine Restaurant
Secara tidak sengaja, akhirnya saya menemukan jawabannya ketika melakukan #RoadTrip #deJava yang saya jalani bersama tiga blogger lainnya –Bama, Badai, dan James-, pada pertengahan Ramadhan di tahun 2015 ini. Info yang kami dapat, menyebutkan bahwa sebuah resto bernama Bale Raos konon menghidangkan menu-menu khusus yang menjadi favorit para Sultan Yogyakarta, mulai dari Sri Sultan HB VII hingga Sri Sultan HB X.
Resto tersebut terletak pada bagian selatan Keraton Kesultanan Yogyakarta, tidak jauh dari Pasar Ngasem.
Sebuah pelataran parkir luas berbenteng tembok putih yang tampak masih bagian dari istana, langsung menyambut para tamu yang akan bersantap di Bale Raos. Gerbang resto Bale Raos sendiri terletak di bagian barat pelataran parkir, dengan penanda yang cukup jelas, berhiaskan lambang Kesultanan Yogyakarta, dan beberapa kuncup teratai sebagai ornamennya.
Dua buah taman berbentuk sangkar besar berisi tumbuhan dan beberapa unggas hias serta pergola menjadi pembuka jalan menuju bagian utama Bale Raos.
Resto tersebut terdiri dari dua area makan semi terbuka berbentuk pendopo yang saling berhadapan, dan sebuah area makan dalam bangunan tertutup yang terletak di tengah. Kesemuanya bercorak joglo, dengan didominasi warna hijau tua, sebagai lambang kesultanan Islam.
Meja-meja berbentuk persegi dan memanjang, tertata rapi lengkap dengan peralatan makan serta serbet-serbet putihnya yang bersih. Terlihat beberapa figur pasangan mempelai Jawa dan Krobongan penanda kesuburan pada salah satu bagian joglo. Sementara alunan gending Jawa terdengar sayup-sayup melalui pengeras suara.
Awalnya kami merasa grogi dengan pengaturan resto tersebut yang terkesan formal, namun sambutan pelayan yang ramah segera mencairkan suasana tersebut.
Seperti halnya yang terjadi di banyak tempat makan selama bulan Ramadhan di Indonesia, sore itu Bale Raos menawarkan paket buffet yang menurut kami cukup murah. Rp 60.000/kepala, all you can eat! Namun, setelah kami melihat menu yang dihidangkan di meja buffet, akhirnya kami memutuskan untuk mengambil paket a la carte saja, karena dengan begitu kami bisa lebih bebas dalam mengeksplor menu yang mereka sediakan.
Dari Beer hingga Burung Muda
Saya yang sudah terbiasa dengan beragam masakan Jawa, sore itu merasa seperti tersesat begitu membuka buku menunya. Nama-nama masakan yang ditawarkan -meskipun beberapa dalam bahasa Jawa yang bisa saya pahami- terasa sangat baru. Bahkan beberapa, mengundang senyum kecil bagi saya.
Untungnya, buku menu yang disediakan cukup informatif, dengan deskripsi serta foto yang menggugah selera dan rasa penasaran yang lebih dalam.
Saya memulai dengan memesan Beer Jawa, sebuah minuman yang saya percaya cocok sebagai pelepas dahaga setelah seharian berpuasa, dan Songgo Buwono yang menemaninya sebagai menu pembuka.
Meskipun menyandang nama beer, namun aslinya minuman ini tidak mengandung alkohol. Melainkan diramu dari rempah-rempah yang terdiri dari Sereh, Kulit Kayu Secang, Mesoyi, Kayu Manis, Kapulaga, Jeruk Nipis, Cengkeh, Jahe dan gula batu. Konon, minuman ini sengaja diciptakan oleh Sri Sultan HB VIII sebagai jawaban atas kebiasaan bangsa barat meminum beer pada masa kolonial. Hanya saja bedanya, Beer Jawa ini berkhasiat menyehatkan tubuh, alih-alih memabukkan.
Diekstrak secara tradisional dan dikocok dengan metoda seperti layaknya bartender mempersiapkan minuman, maka hasil akhirnya terciptalah sebuah minuman yang warnanya mirip dengan beer, lengkap dengan selapis buih yang menutup bagian atasnya.
Sementara Songgo Buwono adalah makanan pembuka yang terdiri dari adonan roti mirip kue sus, berisi ragout daging sapi dan potongan telur pindang, dilengkapi dengan saus kuning telur, serta dihidangkan dengan acar ketimun, irisan tomat dan selada segar.
Sebagai menu makan utama, pertama-tama saya memilih masakan yang menjadi favorit Sri Sultan HB IX, yaitu Bebek Suwar Suwir. Yang ternyata, diciptakan sendiri oleh beliau. Sultan yang juga gemar memasak tersebut, menciptakan menu berbahan dasar bebek ini, ketika beliau mengikuti sebuah lomba memasak pada saat sedang berkuliah di negeri Belanda.
Daging bebek dimasak dengan kedondong, melalui sebuah teknik khusus. Sehingga kemudian terciptalah steak daging bebek yang lembut dan harum, yang dihidangkan dengan nanas dan saus kedondong parut yang segar.
Lalu saya memilih Urip-Urip Gulung, yang tampilannya eksotis namun dihidangkan dalam tatanan yang kontemporer. Sebuah menu yang terdiri dari fillet ikan lele yang digulung, lalu dipanggang dengan ramuan khusus dan disajikan dengan saus mangut kental. Perpaduan antara daging ikan yang terasapi dan saus mangutnya benar-benar sedap dan pas.
Malam itu, kami bersepakat memesan menu yang berbeda-beda sehingga bisa saling bertukar untuk mencicipi menu lainnya.
Saya mengingat kelezatan menu bernama Sanggar. Dimana irisan daging lembu yang empuk berbalut rempah, dipanggang dan dilabur santan kelapa kental, untuk kemudian dihidangkan bersama penusuk bambunya yang menyisakan aroma asap.
Lalu juga ada Singgang Ayam, yang sekilas tampilannya sangatlah mirip dengan sate ayam pada umumnya. Namun, bumbu rempah yang melapisinya benar-benar belum pernah saya temukan pada sate ayam manapun di Indonesia. Rempahnya kuat, sedap dan bertahan di lidah.
Uniknya, dalam khasanah kuliner Minang, mereka juga mengenal menu Singgang Ayam. Hanya saja bedanya, penyajiannya lebih mirip dengan ayam panggang.
Sebagai penutup saya memesan Rondo Kepomo. Semacam puding telur -mirip chawan mushi– bertekstur lembut, berwarna kecoklatan dengan rasa yang manis dan beraroma karamel, yang kemungkinan dihasilkan dari gula kelapa yang digunakan. Puding ini disajikan dalam gelas kecil, dengan topping whipped cream dan buah cherry. Ekletik. Rasa Jawa dengan tampilan Eropa.
Dan saya sempat pula mencicipi Manuk Nom, yang dipesan oleh Badai. Berdasarkan namanya yang bila disulihbahasakan ke Bahasa Indonesia berarti Burung Muda, jujur awalnya saya kaget ketika melihat wujudnya. Sungguh di luar bayangan. Alih-alih berupa daging burung, hidangan penutup ini justru berbahan dasar tape ketan hijau.
Dimana tape ketan yang telah dicampur dengan telur, gula pasir, santan dan tepung terigu ini diolah dengan cara dikukus untuk mematangkannya. Sebagai pelengkap, kemudian Manuk Nom disajikan dengan emping melinjo yang telah digoreng. Manis dan mengejutkan, untuk yang pertama kali menyantapnya.
Jangan terintimidasi dengan melihat letak lokasi, sejarah menu, serta siapa pemilik restoran ini. Karena, meskipun menunya merupakan favorit para Sultan, dan sebagian kepemilikan sahamnya dikuasai oleh keluarga Keraton Yogyakarta. Harga makanan yang ditawarkan di Bale Raos sangatlah terjangkau. Dengan kisaran dari Rp 7.500,- hingga Rp 60.000,- per porsi, dan harga rata-rata menunya adalah Rp 30.000,-
Waktu yang singkat dan kapasitas perut yang terbatas, mungkin akan menjadi beberapa faktor yang menghalangi untuk mencicipi puluhan menu yang tersisa. Namun begitu, bersantap di Bale Raos akan memberikan pengalaman tersendiri yang tak terlupakan tentang Yogyakarta. Yang juga akan mengingatkan kita, bahwa setelah sekian lama kota ini eksis, tetap selalu ada bagian-bagiannya yang masih menunggu untuk digali.
Bale Raos
Jl. Magangan Kulon no. 1, Yogyakarta 55132, Indonesia.
Telp. 0274 415550, 0274 2623035, 081804033274.
Jam Operasi: 10.00 – 22.00