Pada akhir shalat subuh yang beku, saya menyelipkan doa agar dapat melihat Himalaya. Karena sejak kedatangan kami di Nepal, tak sedikitpun lekuknya yang dapat kami nikmati. Saputan debu tebal yang mengisi angkasa selama berhari-hari, telah menghalangi kami dari menikmati pemandangan agung itu.
Sesuai rencana, hari itu kami akan berpindah menuju Pokhara. Kota terbesar kedua di Nepal yang berada pada ketinggian 800 mdpl. Menurut informasi, kota itu mempunyai beberapa titik terbaik untuk mengamati Himalaya dari jarak yang lebih dekat. Terutama wilayah Annapurna yang legendaris.
Maka, Pokhara menjadi harapan kami selanjutnya akan sang ancala.
Meskipun gambar bus turis yang akan membawa kami ke Pokhara, sudah saya lihat di brosur hotel sejak dua hari sebelumnya, saya tetap berusaha untuk tak menempatkan harapan yang terlalu tinggi. Segalanya bisa terjadi di Nepal. Apalagi tipuan foto di setiap brosur wisata adalah satu hal yang jamak terjadi di seluruh dunia.
Namun bolehlah, pagi itu bus turis yang kami jumpai cukup menyenangkan. Meski tak terlalu mewah, namun kondisinya cukup baik. Bahkan jika dibandingkan dengan bus-bus antarkota di sekitar Jakarta. Dan untungnya, bus tersebut tidak seperti angkutan massal yang digunakan oleh penduduk lokal. Dimana para penumpang dijejalkan ibarat sarden dalam kaleng.
Bus itu berbangku deret dua-dua, dengan kursi yang empuk dan cukup luas menampung lebar tubuh kami. Sandaran kursinya pun terasa ergonomis. Dan selain nyaman, bus yang saya tumpangi juga berangkat sesuai jadwal. Tepat jam tujuh pagi, kami meninggalkan Kathmandu.
Sebenarnya jarak antara Kathmandu dan Pokhara tidaklah terlalu jauh. Jika dibandingkan, mungkin setara dengan jarak antara Jakarta dan Bandung. Namun, untuk jarak sepanjang itu kabarnya kami akan menghabisakan waktu selama tujuh jam perjalanan.
Pemandangan Kathmandu yang sesak, berdebu, dengan segala macam kabel yang bersaling-silang di udara, segera berganti ketika bus mulai memasuki area luar kota. Kumpulan rumah penduduk semakin merenggang satu sama lain. Himpunannya memisah bagai koloni bakteri yang berkelompok-kelompok di atas cawan petri.
Turunan demi turunan menghiasi jam-jam awal perjalanan, karena kami meluncur dari Kathmandu yang berada pada ketinggian 1400 mdpl. Di situlah saya mulai menemukan alasan tentang mengapa waktu tempuh antara dua kota tersebut sangatlah lama.
Kondisi jalanan Nepal tidak sebaik Indonesia. Meskipun jalan yang kami lalui tak dihiasi lubang-lubang menganga, namun strukturnya tak memungkinkan untuk dipacu kendaraan dalam kecepatan tinggi. Selain itu lebarnya pun tak seberapa, sehingga setiap kali dua kendaraan saling berpapasan, maka kecepatannya harus sedikit diturunkan untuk menghindari senggolan.
Bayangan akan tujuh jam perjalanan yang membosanankan segera sirna, begitu bus tiba pada area yang lebih rendah. Tembok-tembok bukit dan pegunungan hijau mengapit di hampir sepanjang jalan. Puncak-puncaknya tak dapat kami lihat karena tertutup oleh arakkan kabut yang bergumpal-gumpal. Di sisi lain, jurang-jurang dalam berisi sungai lebar dengan aliran berwarna coklat muda hingga hijau toska turut mengiringi. Dan sesekali terlihat jembatan suspensi panjang menghubungkan satu sisi sungai dengan seberangnya.
Saya menyarankan kepada siapapun yang menempuh jalur darat dari Kathmandu menuju Pokhara, untuk duduk di sisi kanan, karena itu adalah sisi terbaik untuk menikmati semua pemandangan tersebut. Begitupun sebaliknya, jika mengarah kembali ke Kathmandu.
Di separuh waktu perjalanan, kami sempat singgah pada sebuah rest area, serta menghabiskan makan siang pada sisi sungai. Saya menandaskan sepiring penuh masakan Nepal nan sedap, sembari menatap aliran riam yang bergemuruh dari hulu lelehan salju. Sementara bayang-bayang halus kemuncak Himalaya yang terbalut putih mulai terlihat di kejauhan.
Sebuah taksi membawa kami dari Pokhara Bus Station menuju desa Sarangkot yang berada pada ketinggian 1600 mdpl. Pada sepanjang perjalanan, berkali-kali kami melemparkan pandangan ke arah Himalaya yang berdiri dalam jarak yang lebih dekat dari sebelumnya. Ia gagah, ibarat benteng raksasa. Tinggi menjulang dengan lekuk-lekuk hitamnya yang tajam, dimahkotai lapisan salju abadi pada puncak-puncaknya yang jarang dilalui manusia.
Penginapan sederhana yang kami sewa hari itu pun turut memanjakan hasrat akan Himalaya. Sebuah kamar yang dilengkapi perapian, kami dapatkan pada bagian rooftop. Dari balkonnya yang luas kami dapat mengintip sebagian puncak-puncak atap dunia. Sementara tumpukan pegunungan, danau Phewa, dan liukan sungai melingkupi kota Pokhara yang berada jauh di bawah. Bersama matahari yang semakin condong ke arah horison, semua itu berubah menjadi siluet jingga. Sempurna!
Tipikal senja di Pokhara, dilihat dari desa Sarangkot. (source)
“Kalian beruntung, karena hari ini cerah. Kalian bisa menikmati senja terbaik sembari memandangi Annapurna, Dhaulagiri, dan Machapuchare dari atas sana!”, ujar Ram, sang pengelola penginapan, sembari menunjukkan arah view point yang berada agak sedikit di atas kami.
Meskipun tanjakan menuju Sarangkot View Point itu tak seberapa panjang, namun kecuramannya cukup membuat napas kami menderu-deru setelah lima menit pendakian kecil. Mungkin juga itu disebabkan oleh karena kami yang terlalu bersemangat ingin menatap Himalaya.
Kami tak banyak berkata-kata, selain bertukar kekaguman setelah sampai di sana.
“Akhirnyaaa, Himalaya!”
Kala itu adalah salah satu senja terbaik yang pernah saya nikmati seumur hidup. Karena sebelumnya saya sudah menikmati beribu-ribu senja di perkotaan, beratus-ratus senja di lautan, dan berpuluh-puluh senja sembari menatap horison dari tepi pantai. Namun senja yang menenggelamkan pegunungan bersalju itu adalah yang pertama kalinya. Pun, ia adalah Himalaya yang super megah.
Berjuta-juta tahun yang lalu ia adalah bagian dari samudra, sementara saat itu kami menatapnya sebagai salah satu bagian dari daratan tertinggi di muka bumi.
Jingga senja yang halus menempa pendar-pendar keemasan pada Himalaya. Machapuchare dengan puncaknya yang lancip dikelilingi oleh multi puncak Annapurna, sementara Dhaulagiri berada jauh di sisi barat. Mereka meremang bersama, diiringi desauan angin yang menyapu lembah. Tak ada suara riuh, hanya bisikan yang kami gumamkan setiap kali butuh bertukar kata.
Dan ketika gelap telah sempurna menenggelamkan Himalaya, kami mengamati bulir-bulir halus bara muncul di kejauhan. Kontras memerah di atas karpet salju yang telah kelam.
“Itu apa ya? Titik api?”, tanya travelmate saya.
“Mungkin. Atau bisa jadi itu lampu-lampu para pendaki. Mereka yang sedang menuju Annapurna.”, jawab saya sembari menduga.
“Ah, aku mau kesana.”
“Aku juga. Dan insya Allah, aku akan segera kesana. Ke Annapurna!”
*****
Pada saat tulisan ini saya siapkan, saya juga sedang mempersiapkan keberangkatan saya ke Annapurna, yang rencananya akan saya lakukan pada bulan April 2016. Pemantapan itinerary, pembelian tiket, pemesanan akomodasi, semua sudah selesai. Tinggal latihan fisik dan persiapan peralatan yang masih berlangsung.
Perjalanan ini merupakan bagian dari impian saya untuk Solo Trekking ke Annapurna, yang berhasil saya dapatkan modalnya dari memenangkan lomba menulis pada Cross|Over Writing Competition yang diadakan pada akhir tahun 2015 lalu.
Doakan ya, semoga saya tetap selamat dan segalanya lancar. Sehingga bisa berbagi cerita tentang perjalanan itu nantinya. Amiin.