“Rindu yang menancap di lidah bisa menjadi energi kuat bagi seseorang untuk mengunjungi kampung halaman.”
Saya memiliki banyak alasan untuk pulang ke Kudus. Karena di sana, tersimpan begitu banyak memori masa lalu yang menyenangkan. Masa kecil tanpa beban, hingga kala remaja yang manis untuk dikenang.
Dan dari sekian banyak alasan yang membuat saya ingin kembali ke sana, adalah segudang kuliner khas Kudus yang selalu menggugah selera. Yang hanya bisa saya nikmati di kota itu. Bukan hanya karena rasanya yang spesifik, melainkan juga isi penyusunnya yang mungkin agak jarang tersedia di tempat lain.
Dalam kunjungan yang sangat singkat di awal bulan Februari 2016 lalu, saya memburu kuliner-kuliner berikut demi menuntaskan rindu pada si Kota Kretek.
Sulit mendeskripsikan padanan rasa yang tepat untuk menggambarkan kuliner satu ini. Secara penampilan mungkin mirip dengan lontong atau ketupat sayur. Namun secara rasa sangat berbeda, karena lentog sangat spesifik.
Lentog yang berarti lontong ini umumnya disantap pada pagi hingga siang hari. Terdiri atas potongan lontong yang disiram oleh kuah jangan gori atau sayur nangka muda, dilengkapi potongan telur pindang, opor tahu, kani atau santan kental gurih, serta taburan bawang goreng. Yang kesemuanya disajikan pada piring berlapis daun pisang.
Kuliner ini rasanya gurih, dan cocok sebagai pembuka hari. Pertemuannya dengan alas daun pisang menguarkan aroma khas tradisional nan sedap dan menggoda.
Bagi mereka yang menyukai citarasa pedas, maka tersedia dua jenis olahan cabai sebagai penyedap rasa. Yang pertama adalah kukusan cabai rawit utuh yang telah direndam dalam kuah santan sayur nangka muda. Dan yang kedua adalah sambal yang terbuat dari hasil tumbukan cabai rawit, bawang putih, dan terasi, yang ditumis dan kemudian disiram dengan kuah opor tahu. Mau coba yang mana? Tergantung selera. Kalau saya, lebih suka yang pertama.
Lentog yang terkenal di Kudus adalah Lentog Tanjung, karena pada awalnya kuliner ini lahir dan dipopulerkan oleh pedagang dari desa Tanjungkarang di Kecamatan Jati. Namun, saat ini lentog juga telah dijual di beberapa tempat lainnya di luar desa tersebut. Selain Lentog Tanjung yang umumnya berada pada sekitaran Wisma Haji di Jalan R. Agil Kusumadya, warung lentog yang berada di area GOR Wergu Wetan juga merupakan salah satu yang paling terkenal di seantero kota.
Bagi saya, sarapan pagi dengan lentog adalah sebuah pembuka wajib bagi kunjungan melepas rindu pada Kota Kudus.
Soto merupakan salah satu signature dish Indonesia, yang secara umum merupakan sup berkuah dengan isian yang beragam. Hampir setiap daerah yang memiliki soto, menghadirkan kekhasannya masing-masing. Begitu pula dengan Kudus, yang memiliki sotonya sendiri.
Meskipun soto Kudus ada yang dijual dengan suwiran daging ayam, namun salah satu kekhasan soto Kudus asli adalah penggunaan daging kerbau sebagai sumber proteinnya. Pemanfaatan daging kerbau berakar pada anjuran Sunan Kudus kepada pengikut-pengikutnya untuk menghormati saudara-saudara mereka yang beragama Hindu. Dimana sapi merupakan hewan yang disucikan umat Hindu, sehingga sang Sunan melarang pengikutnya untuk menyembelih hewan tersebut meskipun dihalalkan dalam Islam, serta menggantikannya dengan kerbau.
Menara Kudus, sebuah bangunan peninggalan Sunan Kudus yang melambangkan akulturasi dan harmonisasi agama Islam dengan Hindu-Buddha yang saat itu masih dominan dianut masyarakat sekitar.
Soto Kudus memiliki kuah yang bening tanpa santan, cenderung manis, dan terkadang memiliki citarasa pedas samar yang datang dari tumbukan lada dan jahe. Soto ini disajikan secara khas pada sebuah mangkuk yang berukuran relatif kecil, dicampurkan langsung bersama nasi, dengan isian kecambah, rajangan seledri, potongan daging kerbau, dan taburan bawang putih goreng yang agak masif. Tak lupa, perasan beberapa iris jeruk nipis dan sambal juga ditambahkan demi memperkaya rasa.
Citarasa kaldu kerbau yang gurih dan manis, serta bawang putih goreng adalah salah satu kekhasannya yang paling menempel di lidah. Dan karena ukuran mangkuk hidangnya yang kecil, maka biasanya saya minimal menghabiskan dua porsi soto dalam sekali kunjungan.
Oh iya, untuk menambah keseruan dalam menyantapnya, soto Kudus biasanya ditemani oleh beberapa kuliner pelengkap lainnya, seperti: sate kerang, sate telur puyuh, otak goreng tepung, jeroan goreng, dan perkedel kentang. Lezat khan? Tapi hati-hati, kolesterol bisa melonjak, jika tak pandai mengontrol diri.
Terdapat banyak warung soto Kudus yang terkenal di seantero kota, di antaranya adalah Soto Kudus Pak Ramidjan, Soto Kudus Pak Denuh, atau bisa juga memilih dari beberapa pedagang soto di Taman Bojana pada samping kantor Kabupaten.
Saran saya, kalau kalian ke Kudus dan berniat mencoba soto khas kota ini, maka pilihlah yang menggunakan daging kerbau, karena belum tentu kalian menemukannya di kota lain.
Selain soto, sate khas Kudus juga menggunakan daging kerbau sebagai bahan utamanya. Dan jika pada umumnya daging yang digunakan untuk sate adalah ditusukkan mentah-mentah dan kemudian dibakar. Maka sate kerbau di Kudus melalui proses yang sedikit berbeda.
Daging kerbau memiliki tekstur dan serat otot yang lebih kasar, jika dibandingkan dengan daging sapi. Namun, pengolahan yang dilakukan dalam penyiapan sate ini membuatnya lebih lunak saat disantap. Biasanya daging kerbau yang akan dijadikan sate terlebih dahulu ditumbuk, lalu dicampurkan dengan beberapa bumbu serta bahan lainnya, sebelum ditusukkan dan dibakar di atas bara.
Sate daging kerbau khas Kudus memiliki rasa manis berempah serta lembut di lidah, yang dihidangkan bersama kuah bumbu kacang encer bercampur serundeng. Bagi mereka yang membutuhkan citarasa pedas, maka dapat ditambahkan sedikit sambal cabai rawit rebus ke dalam bumbu kacangnya sebelum disantap.
Warung sate kerbau di Jalan Menara, tepat di samping kompleks Masjid Al Aqsha dan Makam Sunan Kudus, adalah salah tempat yang paling bisa menuntaskan kerinduan saya pada kuliner ini. Tak ada yang berubah pada warung tersebut, bahkan setelah 20 tahun saya meninggalkan kota itu. Citarasa yang mereka sajikan, masih sama seperti dua dekade yang lalu.
Saya tidak tahu apakah sejatinya olahan tahu ini benar-benar asli Kudus. Karena seingat saya, tahu telur justru baru menanjak kepopulerannya pada awal tahun 90an. Kuliner ini dijajakan oleh para pedagang pada setiap malam di sepanjang Jalan Sunan Kudus, dari batas timur Kali Gelis hingga menjelang alun-alun Kota Kudus Simpang Tujuh.
Secara penampilan, tahu telur ini mirip dengan tahu gimbal yang dikenal di Semarang. Berupa potongan tahu yang disajikan bersama beberapa kerat lontong atau nasi, lalu ditambahkan telur dadar dan kecambah, untuk kemudian disiram oleh bumbu kacang. Namun, yang sangat jelas membedakan keduanya adalah dari bumbunya. Dimana tahu telur dari Kudus sangat kental dalam penggunaan bawang putih. Pedas gurih tahu bumbu yang dihasilkan oleh bawang putihnya dapat bertahan hingga beberapa saat di rongga mulut.
Warung tahu telur yang umumnya mengambil konsep lesehan, membuat kuliner satu ini cocok dijadikan pengisi makan malam yang santai. Mengobrol santai sembari makan malam selalu menyenangkan, bukan?
Jika melihat penampilannya sekilas, mungkin sego pindang atau nasi pindang ini mirip dengan rawon. Karena memang ditambahkan biji keluak (Pangium edule) ke dalam campuran kuahnya. Hanya saja, warna kuah nasi pindang tidak segelap rawon, melainkan kecoklatan. Mungkin ini terjadi karena adanya penambahan santan pada kuahnya, sehingga mengencerkan warna keluak yang kehitaman.
Nasi pindang memiliki citarasa gurih dengan aksen manis yang lembut. Disajikan pada sebuah piring yang dilapisi daun, dengan komposisi nasi yang disiram kuah pindang berlebih, berisikan potongan daging kerbau serta godong so atau daun melinjo muda, dan taburan bawang putih goreng.
Kuliner khas Kudus ini paling sedap disantap dalam keadaan panas. Dan seperti layaknya soto Kudus, nasi pindang juga umum disajikan bersama pelengkap semacam rambak atau kerupuk kulit, jeroan goreng, sate telur puyuh, dan perkedel.
Sate Kerang, Paru Goreng, Sate Telur Puyuh, dan Otak Goreng. Teman pelengkap bagi Nasi Pindang dan Soto Kudus.
Pujasera Taman Bojana di samping kantor Kabupaten Kudus menjadi sentra pedagang nasi pindang ini. Tapi saya dan keluarga memiliki warung langganan yang berada di Jalan Sunan Kudus, tak jauh dari tepi barat Kali Gelis dan salah satu rumah kembar Nitisemito yang merupakan konglomerat rokok kretek ternama di masa kolonial. Dan warung tersebut adalah favorit mendiang kakek saya.
Bagi saya pribadi, mengunjungi Kudus tanpa mencicipi nasi pindang tentu terasa kurang.
*****
Saya tak tahu apakah saya akan bosan seandainya kembali tinggal di Kudus, dan menyantap kuliner-kulinernya secara rutin. Namun pastinya, rindu yang menancap di lidah bisa menjadi energi kuat bagi seseorang untuk mengunjungi kampung halaman.
Bagaimana dengan kalian?